Untuk : Sara Manurung Foto : Flickr “Aaa!” teriak seorang gadis kecil yang sedang kesakitan karena jatuh saat berlari mengejar Difa...

Titik Ternyaman

/
0 Comments


Untuk : Sara Manurung
Foto : Flickr

“Aaa!” teriak seorang gadis kecil yang sedang kesakitan karena jatuh saat berlari mengejar Difan.
Ya, Difan.
“Kenapa, Dek?”
“Aaaa!!”
“Hmm. Jangan lari lagi ya? Kan bisa minta tolong abang?”
Gadis kecil itu mengangguk dan meminta dirinya digendong oleh abangnya.
“Pulang?”
Gadis kecil itu menggeleng dan menunjuk seorang tukang penjual es krim yang hampir menutup dagangannya.
“Ayo ayo cepet!” ajak Difan sembari berlari menggendong adik kecilnya.
Seketika itu juga, gadis kecil itu tidak mengeluarkan air matanya lagi.
Senyum merekah di wajahnya sembari sesekali melihatku di sudut jalan. Tak menyangka dia memilih untuk mendekatiku dengan gadis kecil yang sudah tidak asing denganku.
“Kak Saraaa!!” teriak gadis kecil itu merengek ingin diturunkan dan kemudian merangkulku dengan manisnya.
“Haii!” teriakku pula sembari memeluknya dan mencubit kedua pipinya dengan gemas.
“Mengapa ada di sini?”
“Aku menunggu seorang teman.”
“Laki-laki?”
“Memangnya kenapa?”
“Tidak apa-apa.”
Aku menyernyitkan dahi seketika melihat gelagaknya yang menjadi sombong.
“Difan!!” teriak seorang wanita sebaya denganku dari pintu keluar salon.
“Dek, ayo pulang. Kak Carmelia sudah selesai perawatan.”
“Gak mau! Gak suka kak Carmelia! Suka kak Sara!” teriaknya sembari terus merangkulku dengan erat.
“Dek, kamu mau pulang atau jalan kaki sendiri!”
Aku terkejut mendadak dia menjadi garang dan menakutkan. Otomatis adik kecilnya menangis dengan tetap merangkul erat pakaianku.
“Dek, kamu turuti kata abangmu ya. Kapan-kapan kita main bareng lagi. Oke?”
“Iya!!”
“Nggak akan ya, Ra.” bisik Difan di saat ia mengambil adik kecilnya dari pangkuanku.
Aku menegukkan ludahku pelan sembari terus mengalihkan pandangan dan berharap temanku segera datang.
“Eh, Ra. Maaf banget aku terlambat.” ucap Desy temanku dari toko kue di seberang.
“Ayo pulang!” bisikku sembari menarik tangan Desy dengan kencang hingga menjauhi sosok pria itu.
“Hey kenapa?”
“Tidak apa-apa. Aku hanya menahan panggilan alam selama menunggumu. Aku jadi tidak tahan untuk pergi. Hi-hi.”
“Astaga! Kenapa tidak meneleponku? Aku merasa tidak enak sekarang.”
“Tak apa. Toh, sekarang panggilan alam itu sudah pergi.”
“Secepat itu?”
“Tentu saja.”
Begitu pandainya aku berbohong dan mengada-ngadakan sesuatu yang tidak ada. Maafkan aku teman.
            “Sara!” teriak salah satu temanku saat membacakan voting pemilihan ketua organisasi.
Aku tak pernah mengharapkan pilihan itu teruntukku. Namun, keyakinanku untuk mengerjakan tugas itu sangat besar. Sampai-sampai semua temanku mendukungku untuk menjadi calon ketua umum di organisasi ini. Segala pertanyaan diajukan padaku yang hanya bisa kujawab sesuai dengan tugas yang telah aku lakukan di pulau kesayanganku, Papua.
“Selamat kakak.” ucap salah satu adik tingkatku yang tiba-tiba saja hadir menemani kesendirianku.
“Haduh, pake kakak-kakak segala.”
Dia tertawa.
“Ra, kita dapat  job baru. Kita diminta untuk menjadi MC di acara temu kangen alumni fakultas ekonomi besok malam minggu.”
“Hah? Seriusan”
“Yap. Berdua sama aku. Eh, biasa MC kan?”
“Aku terakhir MC 5 tahun yang lalu, Ndra. Aduh gimana ya!”
“Sudah gak usah terlalu dipikir. Kamu sekarang mau atau enggak? Itu aja.”
“Iya sudah aku ambil.”
Thanks, Ra.”
Hari-hari yang terus berusaha aku jadikan waktu latihan MC ternyata tidak sanggup aku gunakan dengan hati-hati. Berbagai tugas tambahan sebagai wakil ketua organisasi merenggut waktu setengah hariku hingga tak ada lagi kata luang di kamusku. Aku syok dan seketika aku terjatuh pingsan karena tidak mau tahu pada beberapa kewajibanku.
Pakaian gaun sederhana hingga lutut dan juga beberapa perhiasan di tubuhku seketika membuat seluruh pendatang tersenyum kagum padaku.
“Eh, kamu gak papa?”
“Memangnya ada apa?”
“Kamu lupa memakai sesuatu di wajahmu? Atau memang warnanya begitu?”
“Apa yang kamu maksud?”
“Lipstikmu. Kenapa begitu putih?”
“Aku berbenah diri sebentar.” ucapku sembari berjalan pergi menuju kamar mandi.
Aku melihat wajahku yang sangat buruk. Aku memang merasakan pusing yang luar biasa akibat kesibukanku kemarin. Namun, ini adalah kewajibanku. Aku harus tetap bekerja sebagai MC hari ini.
“Ra?”
Aku terdiam sembari menatap mataku yang terlihat berkunang-kunang.
“Ra!”
“Ya?”
“Aku boleh meminta sesuatu?”
“Apa, Ndra?”
“Duduklah di belakang panggung selama acara.”
Aku terkejut. Lalu, bagaimana tugasku sebagai MC jika aku semalaman berada di belakang panggung?
“Apa maksudmu, Ndra?” ucapku sembari menatap Andra yang sedang melepas jaketnya dan membenahi jas hitamnya di depan kaca.
“Aku yang ambil alih tugas MC.”
“Yang benar saja, Ndra! Kamu bisa terlalu kelelahan jika..”
“Aku sehat. Lihat! Bahkan orang bisa berlari terbirit-birit saat melihat wajahmu yang terlalu buruk seperti itu!”
Aku terdiam dan menatap wajahku sekali lagi di balik cermin.
“Kabulkan permintaanku malam ini. Tolong.” ucapnya sekali lagi sembari memohon di depanku.
“Jangan berlebihan! Baiklah aku tidak akan keluar dari sini.”
“Terima kasih.” balasnya dengan senyum simpul dan mengambil beberapa properti MC sembari melangkah menuju panggung.
Selamat malam semua. Suara lantang dari Andra menggema di dalam aula. Dia memang pandai memegang kendali suasana yang awalnya riuh menjadi lebih damai. Aku mendamaikan diriku dengan sejenak beristirahat di atas kursi goyang. Entah banyak orang berganti pakaian untuk penampilan di dekatku aku tak mampu merasakannya.
Terdengar suara tawa dan teriakan di dalam aula. Namun, lelahku benar-benar menidurkan penglihatanku meskipun masih mengaktifkan pendengaranku.
“Gws, Ra.” ucap beberapa anak sembari menyentuh pelan punggungku yang sedikit mati rasa.
Aku hanya bisa bersuka dalam hati tanpa daya mengeluarkan senyum di wajahku. Acara puncak tak terasa sudah dimulai. Betapa hebohnya perayaan fakultas ekonomi dengan mengundang salah satu artis ternama yaitu Fourtwnty. Andra pun segera berlari ke arah belakang panggung dan mengistirahatkan diri.
Mata yang masih berat aku buka masih saja membuatku lemas dan tidak menyapa kehadirannya.
“Ra..” ucapnya pelan sembari menepuk tanganku dengan jarinya.
Aku berusaha membuka mata yang masih terasa sangat berat.
“Ra..” ucapnya sekali lagi dengan menarik kursi di dekatku.
Aku membuka mataku yang terasa pedas dan berair sembari memperbaiki posisi dudukku yang hampir terjatuh.
“Sukses kah?”
“Sukses. Kamu sudah dapat konsumsi?”
“Belum.”
“Kamu makan dulu ya. Maaf, aku harus kembali ke panggung. Ada beberapa evaluasi acara. Setelah itu, aku kembali.”
Aku menerima kotak konsumsi itu dengan lemas dan langsung menyuapkan santapan kecil di mulutku.
“Cepet sembuh, Ra.” bisiknya pelan sembari keluar dari aula.
Aku terdiam dan baru saja menyadari bahwa Andra sangat baik padaku hari ini.

Tergila-gila pada kebersamaan sehingga takut akan kesendirian? Berbeda dengan Sara. Dia malah menggilai kesendiriannya untuk mencari kebahagiaan yang nyatanya dibayar lebih manis dari apa yang menjadi titik nyamannya.



Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.
Powered By Blogger