Seketika itu juga, gadis kecil itu tidak
mengeluarkan air matanya lagi.
Senyum merekah di wajahnya sembari sesekali
melihatku di sudut jalan. Tak menyangka dia memilih untuk mendekatiku dengan
gadis kecil yang sudah tidak asing denganku.
“Kak Saraaa!!” teriak gadis kecil itu merengek ingin
diturunkan dan kemudian merangkulku dengan manisnya.
“Haii!” teriakku pula sembari memeluknya dan
mencubit kedua pipinya dengan gemas.
“Mengapa ada di sini?”
“Aku menunggu seorang teman.”
“Laki-laki?”
“Memangnya kenapa?”
“Tidak apa-apa.”
Aku menyernyitkan dahi seketika melihat gelagaknya
yang menjadi sombong.
“Difan!!” teriak seorang wanita sebaya denganku dari
pintu keluar salon.
“Dek, ayo pulang. Kak Carmelia sudah selesai
perawatan.”
“Gak mau! Gak suka kak Carmelia! Suka kak Sara!” teriaknya
sembari terus merangkulku dengan erat.
“Dek, kamu mau pulang atau jalan kaki sendiri!”
Aku terkejut mendadak dia menjadi garang dan
menakutkan. Otomatis adik kecilnya menangis dengan tetap merangkul erat pakaianku.
“Dek, kamu turuti kata abangmu ya. Kapan-kapan kita
main bareng lagi. Oke?”
“Iya!!”
“Nggak akan ya, Ra.” bisik Difan di saat ia mengambil
adik kecilnya dari pangkuanku.
Aku menegukkan ludahku pelan sembari terus
mengalihkan pandangan dan berharap temanku segera datang.
“Eh, Ra. Maaf banget aku terlambat.” ucap Desy
temanku dari toko kue di seberang.
“Ayo pulang!” bisikku sembari menarik tangan Desy
dengan kencang hingga menjauhi sosok pria itu.
“Hey kenapa?”
“Tidak apa-apa. Aku hanya menahan panggilan alam
selama menunggumu. Aku jadi tidak tahan untuk pergi. Hi-hi.”
“Astaga! Kenapa tidak meneleponku? Aku merasa tidak
enak sekarang.”
“Tak apa. Toh, sekarang panggilan alam itu sudah
pergi.”
“Secepat itu?”
“Tentu saja.”
Begitu pandainya aku berbohong dan mengada-ngadakan
sesuatu yang tidak ada. Maafkan aku teman.
“Sara!” teriak salah satu temanku
saat membacakan voting pemilihan ketua organisasi.
Aku tak pernah mengharapkan pilihan itu teruntukku. Namun,
keyakinanku untuk mengerjakan tugas itu sangat besar. Sampai-sampai semua
temanku mendukungku untuk menjadi calon ketua umum di organisasi ini. Segala
pertanyaan diajukan padaku yang hanya bisa kujawab sesuai dengan tugas yang
telah aku lakukan di pulau kesayanganku, Papua.
“Selamat kakak.” ucap salah satu adik tingkatku yang
tiba-tiba saja hadir menemani kesendirianku.
“Haduh, pake kakak-kakak segala.”
Dia tertawa.
“Ra, kita dapat job baru. Kita diminta untuk menjadi MC di
acara temu kangen alumni fakultas ekonomi besok malam minggu.”
“Hah? Seriusan”
“Yap. Berdua sama aku. Eh, biasa MC kan?”
“Aku terakhir MC 5 tahun yang lalu, Ndra. Aduh
gimana ya!”
“Sudah gak usah terlalu dipikir. Kamu sekarang mau
atau enggak? Itu aja.”
“Iya sudah aku ambil.”
“Thanks, Ra.”
Hari-hari yang terus berusaha aku jadikan waktu
latihan MC ternyata tidak sanggup aku gunakan dengan hati-hati. Berbagai tugas
tambahan sebagai wakil ketua organisasi merenggut waktu setengah hariku hingga
tak ada lagi kata luang di kamusku. Aku syok dan seketika aku terjatuh pingsan
karena tidak mau tahu pada beberapa kewajibanku.
Pakaian gaun sederhana hingga lutut dan juga
beberapa perhiasan di tubuhku seketika membuat seluruh pendatang tersenyum
kagum padaku.
“Eh, kamu gak papa?”
“Memangnya ada apa?”
“Kamu lupa memakai sesuatu di wajahmu? Atau memang
warnanya begitu?”
“Apa yang kamu maksud?”
“Lipstikmu. Kenapa begitu putih?”
“Aku berbenah diri sebentar.” ucapku sembari
berjalan pergi menuju kamar mandi.
Aku melihat wajahku yang sangat buruk. Aku memang
merasakan pusing yang luar biasa akibat kesibukanku kemarin. Namun, ini adalah
kewajibanku. Aku harus tetap bekerja sebagai MC hari ini.
“Ra?”
Aku terdiam sembari menatap mataku yang terlihat
berkunang-kunang.
“Ra!”
“Ya?”
“Aku boleh meminta sesuatu?”
“Apa, Ndra?”
“Duduklah di belakang panggung selama acara.”
Aku terkejut. Lalu, bagaimana tugasku sebagai MC
jika aku semalaman berada di belakang panggung?
“Apa maksudmu, Ndra?” ucapku sembari menatap Andra
yang sedang melepas jaketnya dan membenahi jas hitamnya di depan kaca.
“Aku yang ambil alih tugas MC.”
“Yang benar saja, Ndra! Kamu bisa terlalu kelelahan
jika..”
“Aku sehat. Lihat! Bahkan orang bisa berlari
terbirit-birit saat melihat wajahmu yang terlalu buruk seperti itu!”
Aku terdiam dan menatap wajahku sekali lagi di balik
cermin.
“Kabulkan permintaanku malam ini. Tolong.” ucapnya
sekali lagi sembari memohon di depanku.
“Jangan berlebihan! Baiklah aku tidak akan keluar
dari sini.”
“Terima kasih.” balasnya dengan senyum simpul dan
mengambil beberapa properti MC sembari melangkah menuju panggung.
Selamat malam
semua. Suara lantang dari
Andra menggema di dalam aula. Dia memang pandai memegang kendali suasana yang
awalnya riuh menjadi lebih damai. Aku mendamaikan diriku dengan sejenak
beristirahat di atas kursi goyang. Entah banyak orang berganti pakaian untuk
penampilan di dekatku aku tak mampu merasakannya.
Terdengar suara tawa dan teriakan di dalam aula.
Namun, lelahku benar-benar menidurkan penglihatanku meskipun masih mengaktifkan
pendengaranku.
“Gws, Ra.” ucap beberapa anak sembari menyentuh
pelan punggungku yang sedikit mati rasa.
Aku hanya bisa bersuka dalam hati tanpa daya
mengeluarkan senyum di wajahku. Acara puncak tak terasa sudah dimulai. Betapa
hebohnya perayaan fakultas ekonomi dengan mengundang salah satu artis ternama
yaitu Fourtwnty. Andra pun segera
berlari ke arah belakang panggung dan mengistirahatkan diri.
Mata yang masih berat aku buka masih saja membuatku
lemas dan tidak menyapa kehadirannya.
“Ra..” ucapnya pelan sembari menepuk tanganku dengan
jarinya.
Aku berusaha membuka mata yang masih terasa sangat
berat.
“Ra..” ucapnya sekali lagi dengan menarik kursi di
dekatku.
Aku membuka mataku yang terasa pedas dan berair sembari
memperbaiki posisi dudukku yang hampir terjatuh.
“Sukses kah?”
“Sukses. Kamu sudah dapat konsumsi?”
“Belum.”
“Kamu makan dulu ya. Maaf, aku harus kembali ke
panggung. Ada beberapa evaluasi acara. Setelah itu, aku kembali.”
Aku menerima kotak konsumsi itu dengan lemas dan
langsung menyuapkan santapan kecil di mulutku.
“Cepet sembuh, Ra.” bisiknya pelan sembari keluar
dari aula.
Aku terdiam dan baru saja menyadari bahwa Andra
sangat baik padaku hari ini.
Tergila-gila
pada kebersamaan sehingga takut akan kesendirian? Berbeda dengan Sara. Dia
malah menggilai kesendiriannya untuk mencari kebahagiaan yang nyatanya dibayar
lebih manis dari apa yang menjadi titik nyamannya.