“Kasus darurat! Kasus darurat!” teriak Gallinipper
saat melihat ada pasien berlumuran penuh darah.
“Aedes, aku tahu kamu bisa” ucap Aegy
sembari menangis.
“Mohon tunggu di luar ruangan. Kami
akan segera bertindak.”
“Dokter!! Ini sayap yang telah saya
temukan di lokasi”
“Baik. Akan segera kami operasi.”
Melihat kondisi Aedes, Aegy sangat
tertekan. Ia hanya bisa melihat fotonya bersama Aedes. Mereka adalah saudara
kembar yang sangat akrab.
Flashback
“Dulu, kakek pernah hampir mati saat
ingin memberikan hadiah darah untuk nenekmu.”
“Bagaimana bisa kakek hampir mati?”
“Kakek dan enam teman kakek
benar-benar merancang strategi dengan sangat hati-hati. Namun, mereka sangat
kuat. Selain kuat, mereka juga memiliki kaum sebangsa kita yang ternyata hobi
memangsa kaum Callidiae.”
“Memang ada, Kek? Kaum kita yang
kanibal dengan kaumnya sendiri.”
“Tentu. Bahkan mereka lah yang
merawat kakek selama kakek ada di rumah sakit.”
Kembali
normal
Berbagai cairan diberikan pada Aedes
bersamaan dengan isakan tangis yang terdengar di luar ruangan.
“Nipper!”
“Iya, Dok!”
“Tolong belah perutnya. Kita harus
segera mengeluarkan pendarahan di dalam”
“Baik, Dok!”
Nipper yang berukuran lebih besar
dari kaum Callidae, menusukkan mulutnya ke bagian perut Aedes dan membelahnya
bak pisau yang telah terasah setiap hari.
“Aku selalu kagum dengan hasil
sayatanmu.”
“Terima kasih, Dok!”
Operasi yang berjalan selama 10 jam
tak membuat Toxorhy, si dokter bedah, merasa mengeluh. Ia benar-benar
mempertaruhkan nafsunya yang terus keluar dalam wujud keinginannya memakan
Aedes. Suatu ketika, Toxorhy mengangkat tangannya dan meminum beberapa nektar
untuk menghilangkan nafsunya.
“Anda tidak apa-apa, Dok?”
“Tidak apa-apa. Beritahu keluarganya
bahwa operasi sudah berjalan lancar.”
“Baik, Dok. Eh sebelumnya apakah
benar dokter merasa baik-baik saja?”
“Aku tidak apa-apa, Nipper. Meski
sudah bertahun-tahun menjadi dokter kaum Callidae itu, ternyata nafsuku masih
saja bermain saat menatap mereka sekarat.”
“Apa yang Anda rasakan, Dok?”
“Entahlah aku mungkin memang pemakan
nektar saja tetapi melihat Aedes aku selalu ingin meletuskan perutnya dan
membuang darah yang ada di lambungnya itu. Sehingga aku bisa membawa bangkainya
itu pada keluargaku dan kami bisa bersantap bersama.”
“Oh. Anda ingat keluarga?”
“Ya.” ucap Toxorhy sambil meneteskan
air mata dan tersenyum.
“Aku dengar saat kau kecil, Anda
sudah mampu memangsa lebih dari sepuluh jentik kaum Callidae. Apakah itu benar?”
“Ah, kau terlalu banyak tau tentang
aku. Ya itu benar. Bahkan saat satu kolam, aku dan beberapa temanku
menghabiskan tempat dengan memakan mereka hingga tersisa kamu berlima. Sungguh
pertarungan kecil yang luar biasa saat itu.”
“Wah, Anda sungguh hebat, Dok. Saya
akan memberikan kabar baik ini pada pihak keluarga.”
“Ya, silakan.” ucap Toxorhy sembari
meminum nektar saat melihat pasiennya berbaring di atas ranjang.
“Cukup. Aku tak mau bertarung lagi.”
batin Toxorhy seraya beranjak dan memeriksa kondisi Aedes yang terlampau sangat
baik dari semula.
Pemindahan kamar sudah dilakukan.
Pihak keluarga berbondong-bondong masuk untuk melihat kondisi Aedes yang sudah
sadarkan diri. Aegypti memeluk Aedes erat sembari terus menangis di dekat
wajahnya.
“Kak, aku kira aku akan menjadi anak
tunggal yang sendirian dan kesepian”
“Jangan bicara begitu. Toh, aku baik-baik saja kan sekarang?
Eh, ti. Setelah ini, kakak minta kosongkan ruangan ini dengan alasan aku ingin
menyendiri. Sesudah mereka pergi, panggil Toxorhy dan Gallinipper kemari.”
“Baiklah.”
Aedes pun membalikkan tubuhnya
membelakangi keluarganya. Tetesan air mata ia ajukan sembari melihat sayapnya
yang terjahit semula sehingga ia bisa terbang kembali mencari makan untuk
keluarganya.
“Ada apa” ucap Toxorhy sembari menyapa
tegas Aedes yang langsung saja terkejut dan membalikkan badan.
Gallinipper merasa ketakutan dan
memilih untuk berlindung di belakang Toxorhy.
“Apa benar kalian yang
menyelamatkanku?”
“Tidak perlu berpura-pura peduli! Toh, semisal bukan aku yang
menyembuhkanmu kamu tidak akan pernah mau memanggil dokter seperti ini.”
“Aku tahu kalian marah dengan
kelakuanku. Tapi, bisakah aku berbincang dengan kalian sebentar?”
“Memangnya dari tadi kau diam? Kau
terus saja bertopeng selama lima menit yang lalu!” teriak Toxorhy yang
meledak-ledak.
“Dok,
tolong atur kembali nafas Anda.”
“Berhenti
panggil aku dokter di luar pekerjaan.” bisik Toxorhy sembari mengenggam erat
tangannya sendiri.
“Oke.
Aku memanggilmu karena aku sangat berterima kasih pada kerja kerasmu, Toxorhy.”
“Aku
tanyakan lagi kepadamu. Untuk apa berterima kasih pada seorang musuh yang sudah
menghabisi keluargamu! Untuk apa? Untuk apa juga kau berterima kasih pada
seorang musuh yang telah kau bunuh?”
“Ya.
Aku memang membunuh banyak orang, Toxo. Aku tahu kamu adalah sahabat mereka.
Bahkan hanya padamu saja manusia tidak memiliki rasa benci sama sekali. Aku iri
dengan itu. Aku sangat iri! Kenapa kamu bisa mendapatkan anugerah seindah itu
sebagai seorang nyamuk! Tidak menghisap darah mereka, tidak merugikan mereka,
tidak menyebarkan penyakit disana-sini, tidak pernah mati di tangan mereka, dan
tidak pernah mati saat tersemprot cairan memabukkan yang mereka punya. Terutama
kau Gallinipper! Kau memang penghisap darah sepertiku. Namun, kamu sama sekali
tidak mati saat cairan itu menyerangmu.”
“Kau
minta maaf tapi kau juga marah? Memang kaum Callidae aneh!” teriak Toxorhy
sembari keluar dari ruangan dengan kasar.
“Apa
yang kamu lakukan padanya, Kak?” tanya Aegypti yang mulai ketakutan pada
situasi.
“Aku,
Albo, Pheles, Culex, Hema, dan Manso menyerang banyak manusia hingga mencapai
18.000 jiwa yang dinyatakan meninggal. Mendengar hal ini, Toxorhy dan
kawan-kawannya berniat untuk menghabisi kami. Karena kerakusan itulah, mereka
sangat membenci kami. Beberapa dari kami mati karena perasaan remeh yang kami
rasakan saat melihat kaum pemakan nektar itu ternyata mampu membunuh kami
dengan sadisnya. Ditambah gallinipper hadir untuk menyerang kami dengan mulut
gergajinya. Selain itu, aku juga menculik keluarganya dan aku sekap di genangan
kolam kotor hingga meninggal.”
“Kau
benar-benar jahat, Kak!” ucap Aegypti sembari memukul tubuh Aedes yang hanya
bisa terdiam mematung pada sosok Gallinipper yang masih berdiri di depannya.
“Kau
tahu? Toxorhy selalu ingin memakanmu selama proses operasi beberapa menit yang
lalu itu.”
Aedes
tercengang sembari menatap fokus pada Gallinipper yang terlihat tidak takut
lagi menatapnya.
“Dia
sangat benci mendapatkan pasien kaum Callidae tetapi tak pernah memakan mereka
saat pembedahan.”
Aegypti
perlahan mengarahkan kepalanya pada Gallinipper yang membersihkan ujung
mulutnya yang terdapat bekas darah.
“Aku
bahkan berpikir dengan Toxorhy menjadi dokter kaummu, dia bisa membasmi kaummu
untuk tidak lagi menciptakan ribuan kasus kematian gila yang diciptakan oleh
kaummu di dunia manusia. Namun, dia tidak melakukannya.”
Aedes
yang awalnya hanya terdiam, ia menjadi sangat membeku hingga air mata tak lagi
bisa ia bendung.
“Aku
sangat menghargai permintaan maafmu tadi. Tapi itu bukanlah obat yang bisa
mengobati rasa sakit hati yang Toxorhy rasakan saat ini. Mungkin dia memang
sangat membencimu dan tidak mau berbicara denganmu sama sekali. Tapi ingatlah,
dia tetap akan selalu menyelamatkan kaummu dan tidak akan lagi menciptakan
pertempuran yang mengatasnamakan keluarganya lagi. Namun, ia akan tetap menjadi
pelindung di dunia manusia.”
“Terima
kasih. Kamu sudah sabar berbicara denganku.”
“Baiklah,
aku permisi. Aedes dan Aegypti kita adalah satu kaum tetapi berbeda kemampuan.
Jika kalian tetap merendahkanku karena aku tak mampu membunuh sesuatu yang aku
hisap tolong renungkanlah lagi. Karena setiap perkataan yang bertujuan untuk memamerkan
kehebatan dari fisikmu itu malah terlihat seperti kelemahan besar yang kamu
tunjukkan pada lawanmu.” ucap Gallinipper sembari keluar dari ruangan.
Flashback
“Wah.
Mereka sungguh hebat, Kek. Jika aku sebesar Toxorhy, aku pasti akan memakan
mereka yang lebih kecil dari aku.”
“Ha-ha.
Meskipun kami musuh, Kakek tetap akan memujinya dari jauh. Meski dia tidak
mendengar Kakek, Kakek akan memperkenalkan pada semua cucu dan anak Kakek bahwa
Toxorhy adalah seekor nyamuk yang sangat baik dan luar biasa.”
Rendahkan segala kehebatan dan kekuatanmu
dengan kemurahan hati dan kebuasan yang bijak dalam perkataanmu.