Untuk : Bernadus Surya Foto : Flickr              Ngiung-ngiung (suara ambulans)             “Kasus darurat! Kasus darurat!” teri...

Toxorychites

/
0 Comments


Untuk : Bernadus Surya
Foto : Flickr

            Ngiung-ngiung (suara ambulans)
            “Kasus darurat! Kasus darurat!” teriak Gallinipper saat melihat ada pasien berlumuran penuh darah.
            “Aedes, aku tahu kamu bisa” ucap Aegy sembari menangis.
            “Mohon tunggu di luar ruangan. Kami akan segera bertindak.”
            “Dokter!! Ini sayap yang telah saya temukan di lokasi”
            “Baik. Akan segera kami operasi.”
            Melihat kondisi Aedes, Aegy sangat tertekan. Ia hanya bisa melihat fotonya bersama Aedes. Mereka adalah saudara kembar yang sangat akrab.
            Flashback
            “Dulu, kakek pernah hampir mati saat ingin memberikan hadiah darah untuk nenekmu.”
            “Bagaimana bisa kakek hampir mati?”
            “Kakek dan enam teman kakek benar-benar merancang strategi dengan sangat hati-hati. Namun, mereka sangat kuat. Selain kuat, mereka juga memiliki kaum sebangsa kita yang ternyata hobi memangsa kaum Callidiae.”
            “Memang ada, Kek? Kaum kita yang kanibal dengan kaumnya sendiri.”
            “Tentu. Bahkan mereka lah yang merawat kakek selama kakek ada di rumah sakit.”
            Kembali normal
            Berbagai cairan diberikan pada Aedes bersamaan dengan isakan tangis yang terdengar di luar ruangan.
            “Nipper!”
            “Iya, Dok!”
            “Tolong belah perutnya. Kita harus segera mengeluarkan pendarahan di dalam”
            “Baik, Dok!”
            Nipper yang berukuran lebih besar dari kaum Callidae, menusukkan mulutnya ke bagian perut Aedes dan membelahnya bak pisau yang telah terasah setiap hari.
            “Aku selalu kagum dengan hasil sayatanmu.”
            “Terima kasih, Dok!”
            Operasi yang berjalan selama 10 jam tak membuat Toxorhy, si dokter bedah, merasa mengeluh. Ia benar-benar mempertaruhkan nafsunya yang terus keluar dalam wujud keinginannya memakan Aedes. Suatu ketika, Toxorhy mengangkat tangannya dan meminum beberapa nektar untuk menghilangkan nafsunya.
            “Anda tidak apa-apa, Dok?”
            “Tidak apa-apa. Beritahu keluarganya bahwa operasi sudah berjalan lancar.”
            “Baik, Dok. Eh sebelumnya apakah benar dokter merasa baik-baik saja?”
            “Aku tidak apa-apa, Nipper. Meski sudah bertahun-tahun menjadi dokter kaum Callidae itu, ternyata nafsuku masih saja bermain saat menatap mereka sekarat.”
            “Apa yang Anda rasakan, Dok?”
            “Entahlah aku mungkin memang pemakan nektar saja tetapi melihat Aedes aku selalu ingin meletuskan perutnya dan membuang darah yang ada di lambungnya itu. Sehingga aku bisa membawa bangkainya itu pada keluargaku dan kami bisa bersantap bersama.”
            “Oh. Anda ingat keluarga?”
            “Ya.” ucap Toxorhy sambil meneteskan air mata dan tersenyum.
            “Aku dengar saat kau kecil, Anda sudah mampu memangsa lebih dari sepuluh jentik kaum Callidae. Apakah itu benar?”
            “Ah, kau terlalu banyak tau tentang aku. Ya itu benar. Bahkan saat satu kolam, aku dan beberapa temanku menghabiskan tempat dengan memakan mereka hingga tersisa kamu berlima. Sungguh pertarungan kecil yang luar biasa saat itu.”
            “Wah, Anda sungguh hebat, Dok. Saya akan memberikan kabar baik ini pada pihak keluarga.”
            “Ya, silakan.” ucap Toxorhy sembari meminum nektar saat melihat pasiennya berbaring di atas ranjang.
            “Cukup. Aku tak mau bertarung lagi.” batin Toxorhy seraya beranjak dan memeriksa kondisi Aedes yang terlampau sangat baik dari semula.
            Pemindahan kamar sudah dilakukan. Pihak keluarga berbondong-bondong masuk untuk melihat kondisi Aedes yang sudah sadarkan diri. Aegypti memeluk Aedes erat sembari terus menangis di dekat wajahnya.
            “Kak, aku kira aku akan menjadi anak tunggal yang sendirian dan kesepian”
            “Jangan bicara begitu. Toh, aku baik-baik saja kan sekarang? Eh, ti. Setelah ini, kakak minta kosongkan ruangan ini dengan alasan aku ingin menyendiri. Sesudah mereka pergi, panggil Toxorhy dan Gallinipper kemari.”
            “Baiklah.”
            Aedes pun membalikkan tubuhnya membelakangi keluarganya. Tetesan air mata ia ajukan sembari melihat sayapnya yang terjahit semula sehingga ia bisa terbang kembali mencari makan untuk keluarganya.
            “Ada apa” ucap Toxorhy sembari menyapa tegas Aedes yang langsung saja terkejut dan membalikkan badan.
            Gallinipper merasa ketakutan dan memilih untuk berlindung di belakang Toxorhy.
            “Apa benar kalian yang menyelamatkanku?”
            “Tidak perlu berpura-pura peduli! Toh, semisal bukan aku yang menyembuhkanmu kamu tidak akan pernah mau memanggil dokter seperti ini.”
            “Aku tahu kalian marah dengan kelakuanku. Tapi, bisakah aku berbincang dengan kalian sebentar?”
            “Memangnya dari tadi kau diam? Kau terus saja bertopeng selama lima menit yang lalu!” teriak Toxorhy yang meledak-ledak.
            “Dok, tolong atur kembali nafas Anda.”             
            “Berhenti panggil aku dokter di luar pekerjaan.” bisik Toxorhy sembari mengenggam erat tangannya sendiri.
            “Oke. Aku memanggilmu karena aku sangat berterima kasih pada kerja kerasmu, Toxorhy.”
            “Aku tanyakan lagi kepadamu. Untuk apa berterima kasih pada seorang musuh yang sudah menghabisi keluargamu! Untuk apa? Untuk apa juga kau berterima kasih pada seorang musuh yang telah kau bunuh?”
            “Ya. Aku memang membunuh banyak orang, Toxo. Aku tahu kamu adalah sahabat mereka. Bahkan hanya padamu saja manusia tidak memiliki rasa benci sama sekali. Aku iri dengan itu. Aku sangat iri! Kenapa kamu bisa mendapatkan anugerah seindah itu sebagai seorang nyamuk! Tidak menghisap darah mereka, tidak merugikan mereka, tidak menyebarkan penyakit disana-sini, tidak pernah mati di tangan mereka, dan tidak pernah mati saat tersemprot cairan memabukkan yang mereka punya. Terutama kau Gallinipper! Kau memang penghisap darah sepertiku. Namun, kamu sama sekali tidak mati saat cairan itu menyerangmu.”
            “Kau minta maaf tapi kau juga marah? Memang kaum Callidae aneh!” teriak Toxorhy sembari keluar dari ruangan dengan kasar.
            “Apa yang kamu lakukan padanya, Kak?” tanya Aegypti yang mulai ketakutan pada situasi.
            “Aku, Albo, Pheles, Culex, Hema, dan Manso menyerang banyak manusia hingga mencapai 18.000 jiwa yang dinyatakan meninggal. Mendengar hal ini, Toxorhy dan kawan-kawannya berniat untuk menghabisi kami. Karena kerakusan itulah, mereka sangat membenci kami. Beberapa dari kami mati karena perasaan remeh yang kami rasakan saat melihat kaum pemakan nektar itu ternyata mampu membunuh kami dengan sadisnya. Ditambah gallinipper hadir untuk menyerang kami dengan mulut gergajinya. Selain itu, aku juga menculik keluarganya dan aku sekap di genangan kolam kotor hingga meninggal.”
            “Kau benar-benar jahat, Kak!” ucap Aegypti sembari memukul tubuh Aedes yang hanya bisa terdiam mematung pada sosok Gallinipper yang masih berdiri di depannya.
            “Kau tahu? Toxorhy selalu ingin memakanmu selama proses operasi beberapa menit yang lalu itu.”
            Aedes tercengang sembari menatap fokus pada Gallinipper yang terlihat tidak takut lagi menatapnya.
            “Dia sangat benci mendapatkan pasien kaum Callidae tetapi tak pernah memakan mereka saat pembedahan.”
            Aegypti perlahan mengarahkan kepalanya pada Gallinipper yang membersihkan ujung mulutnya yang terdapat bekas darah.
            “Aku bahkan berpikir dengan Toxorhy menjadi dokter kaummu, dia bisa membasmi kaummu untuk tidak lagi menciptakan ribuan kasus kematian gila yang diciptakan oleh kaummu di dunia manusia. Namun, dia tidak melakukannya.”
            Aedes yang awalnya hanya terdiam, ia menjadi sangat membeku hingga air mata tak lagi bisa ia bendung.
            “Aku sangat menghargai permintaan maafmu tadi. Tapi itu bukanlah obat yang bisa mengobati rasa sakit hati yang Toxorhy rasakan saat ini. Mungkin dia memang sangat membencimu dan tidak mau berbicara denganmu sama sekali. Tapi ingatlah, dia tetap akan selalu menyelamatkan kaummu dan tidak akan lagi menciptakan pertempuran yang mengatasnamakan keluarganya lagi. Namun, ia akan tetap menjadi pelindung di dunia manusia.”
            “Terima kasih. Kamu sudah sabar berbicara denganku.”
            “Baiklah, aku permisi. Aedes dan Aegypti kita adalah satu kaum tetapi berbeda kemampuan. Jika kalian tetap merendahkanku karena aku tak mampu membunuh sesuatu yang aku hisap tolong renungkanlah lagi. Karena setiap perkataan yang bertujuan untuk memamerkan kehebatan dari fisikmu itu malah terlihat seperti kelemahan besar yang kamu tunjukkan pada lawanmu.” ucap Gallinipper sembari keluar dari ruangan.
            Flashback
            “Wah. Mereka sungguh hebat, Kek. Jika aku sebesar Toxorhy, aku pasti akan memakan mereka yang lebih kecil dari aku.”
            “Ha-ha. Meskipun kami musuh, Kakek tetap akan memujinya dari jauh. Meski dia tidak mendengar Kakek, Kakek akan memperkenalkan pada semua cucu dan anak Kakek bahwa Toxorhy adalah seekor nyamuk yang sangat baik dan luar biasa.”

            Rendahkan segala kehebatan dan kekuatanmu dengan kemurahan hati dan kebuasan yang bijak dalam perkataanmu.
           




Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.
Powered By Blogger