Entri Populer
My heart feel...
This is my feeling
published on spotify : berjelajah dalam karya “Maaf, aku tidak jadi pulang. Ternyata, masih banyak urusan yang harus aku selesaik...
Segala
persiapanku untuk menyambut kedatangannya lagi-lagi kukurungkan kembali. Aku
berusaha menegarkan hati dengan ucapanku yang aku ajukan padanya.
“Iya,
selesaikan dulu urusanmu. Semoga cepat kelar ya.” balasku sembari tersenyum.
“Maaf ya. Untuk yang kesekian kali aku lagi-lagi
mengecewakanmu.” ucap Tian dengan nada sedih.
“Tidak apa-apa. Namanya juga bekerja. Aku paham kok.”
balasku membuat Tian menghela napas lega.
“Baiklah. Kamu jaga kesehatan ya di sana. Tunggu aku
pulang.” balas Tian membuatku langsung mengangguk.
“Aku akan selalu menunggumu.”
Aku pun langsung menutup teleponku. Pakaian-pakaian yang
sudah aku kemas dalam koper kembali aku gantungkan di lemariku. Aku pun menatap
kalender sembari mencoret tanggal hari ini.
“Sarah. Bersabar ya. Kamu pasti bisa.”
Aku
mempersibuk diri dengan ikut serta dalam sebuah organisasi. Kebetulan juga aku
sudah lama berkecimpung di sana dan bisa menjabat sebagai ketua. Sebuah acara
untuk anak remaja membuat organisasi kami sedikit sibuk. Kesibukan ini cukup
membuatku bisa mengalihkan pikiranku dari Tian.
“Total pengeluaran untuk
acara ini sekitar empat juta, Mbak.” ucap Tere sembari memberikan proposal yang
sudah ia kerjakan dengan teman-temannya.
“Kapan
rencana kalian mengadakan penggalangan dana?” tanyaku membuat Tere langsung duduk
di hadapanku.
“Minggu
depan, Mbak. Kebetulan juga jalanan ramai dengan perayaan ulang tahun kota
beberapa hari ini. Dengan memanfaatkan acara itu, kita bisa mendapatkan dana
yang cukup untuk menutup pencapaian dana di proposal, Mbak.” balas Tere dengan
percaya diri.
“Oke.
Apa sudah ada list barang yang akan dijual?” tanyaku sembari
terus memeriksa isi proposal yang ada di tanganku.
“Sudah,
Mbak.” balas Tere dengan tersenyum.
Aku
memeriksa berbagai persiapan yang sudah disediakan oleh mereka. Dengan bangga,
aku mengacungi jempol pada kerja keras mereka. Tentu saja, mereka tersenyum dan
semakin percaya diri karena ini.
Di
samping aku mengoordinir acara mereka, aku pun berbisinis. Berbagai macam jenis
hand cream aku kelola dan kukumpulkan sebelum aku memostingnya di
seluruh media sosialku.
“Lho, Mbak? Samean jualan
apa?” tanya Tere sembari mendekatiku dan menunjukkan salah satu postinganku.
“Jual hand
cream. Hehe” balasku malu-malu.
“Semoga
laris ya, Mbak. Aku bantu promotin deh.” ucap Tere sembari langsung
memainkan ponselnya.
“Wah, terima kasih ya.” balasku membuat Tere mengangguk.
“Gimana kabarnya Mbak sama
mas Tian?”
“Baik kok.”
“Aku
kepo deh, Mbak. Gimana sih perasaan Mbak setelah tahu ternyata
orang yang Mbak cari itu temen sendiri?”
“Ya,
kaget dan gak percaya sih awalnya. Namun, semakin ke sini Mbak merasakan
banyak perubahan dan keyakinan bahwa Mas Tian benar-benar orang yang tepat.”
“Apa
yang membuat Mbak yakin kalau Mas Tian adalah orang yang tepat?”
“Simple
sih. Ketika dia menerimaku menjadi pasangannya itu, dia selalu memegang
tanggung jawabnya dan gak pernah main-main. Meskipun masih pacaran, dia sudah
rela kerja jauh di luar kota dan memberikan keyakinan-keyakinan lain yang selalu
ia buktikan dengan tindakannya.”
“Wah!
Padahal kita tahunya Mas Tian itu banyak bercandanya ya, Mbak. Namun, aku
setuju sih jika ada orang yang berkata bahwa orang humoris itu bisa mengalahkan
orang romantis. Ikut salut deh sama kerja kerasnya.”
Aku
pun tertawa. Namun, tiba-tiba saja kerinduan muncul dalam hatiku. Air mata
tiba-tiba keluar dari ekor mataku. Aku pun berpura-pura membenahi rambut
panjangku sembari langsung menyeka mataku dengan cepat. Aku berhasil menyembunyikannya
di depan Tere.
Aku pun sudah menyelesaikan semua aktivitasku hari ini. Saat
sedang asik memposting aneka hand cream persediaanku, tiba-tiba nada
dering dari Tian muncul di layar ponselku.
“Haii!” sapaku dengan
sangat antusias.
“Haii. Lagi usaha apa
nih?” tanya Tian sembari mengirimkan foto produk yang aku unggah di instagramku.
“Hand
cream. Hi-hi. Iseng-iseng aja sih.” balasku membuat Tian tertawa
kecil.
“Aku
bantu promosi ya.” tawar Tian membuatku langsung mengangguk.
“Boleh
banget. Terima kasih ya.”
“Kamu
istirahat ya. Jangan sampai kecapekan. Ingat, selain kamu ngurusin bisnismu ada
lelaki yang juga harus kamu urusin.” ucap Tian manja menuai tawa dariku.
“Ha-ha iya. Selamat malam.” balasku langsung mematikan
ponselku.
Entahlah sudah berapa
banyak sticker berbentuk cinta yang sudah aku kirimkan pada sosok Tian selama
LDR ini. Namun, Tian tak pernah merasa risih dan membalas stickerku dengan
sticker yang sama setiap harinya. Apa dia tidak bosan?
Mentari kembali bersambut
dan beberapa pesan memenuhi ponselku. Tak sedikit dari teman-temanku yang
berminat pada produk yang aku jual. Aku pun harus mengantar produk itu ke rumah
mereka sampai matahari terbenam.
Setelah kelelahan menghitung
uang yang aku dapat dari penjualan hand creamku hari ini, aku pun
memanjangkan diri di sebuah salon dekat dengan rumahku. Aku menghabiskan waktu
selama tiga jam hanya untuk bersantai dengan segala perawatan rambut yang aku
terima. Uenak rek! Percoyo o ambe aku.
Setelah
selesai perawatan tiba-tiba saja ada pesan masuk. Aku mendapatkan sepuluh
pesanan hand cream baru. Aku pun segera mengantarkan pesanan
dengan berbekal tas kecil yang berisikan make up tentunya. Sebelum
aku berangkat, aku pun berkaca pada kaca spionku. Pertama-tama aku
mengoleskan lipstick terlebih dahulu dan menambahkan
beberapa powder di wajahku. Barulah setelah itu aku berangkat dan
mengantarkan pesanan dengan senyuman termanisku.
Pesanan
pun sudah berhasil kuselesaikan. Seketika pandanganku terpaku pada bandara yang
kini dekat dengan mataku. Aku teringat semasa aku mengantar Tian menuju bandara
satu tahun yang lalu. Aku harap aku bisa segera menuju bandara ini dan berjumpa
kembali dengan Tian.
Sesampainya
di rumah, aku berbaring sembari menunggu kabar Tian yang tak kunjung hadir di layar
ponselku. Aku pun tertidur.
Tok..tok..
“Sarah. Ada tamu.” ucap Ibu yang terdengar sangat keras di
telingaku.
“Sekarang
jam berapa, Ma?” balasku sembari merenggangkan badanku.
“Jam
12 lebih lima menit.” balas Ibu membuatku mengeluh.
“Hah?
Pagi pagi ada yang bertamu?”
“Sudahlah.
Ayo cepat keluar.”
“Iya,
Ma.”
Aku
pun keluar dari kamar dengan wajahku yang seadanya. Dengan mata yang masih
ingin terlelap, aku berjalan menuju ruang tamu.
“Happy
Birthday Mama!!” teriak tiga perempuan manis di depan rumahku sembari
menyanyikan lagu dengan nada yang mereka buat sendiri.
Aku
tertawa dan terkejut. Seketika itu juga, rasa kantukku hilang. Aku pun langsung
memeluk mereka dan menyuruh mereka untuk masuk sebentar ke dalam rumah.
“Buka
dong, Ma!” pinta Emilia sembari duduk di sampingku.
Oh
ya, mereka memang kerap memanggilku dengan sebutan Mama. Entah apa alasannya.
“Wah,
terang bulan favoritku! Makasih rek!” ucapku dengan senyuman merona di
wajahku.
“Sama-sama
Ma. Sayang Mama! Mana Papa, Ma?” tanya Ertha sembari menatapku.
“Hapeku lowbatt belum
aku cek.”
“Ya
udah. Ma, kami pulang dulu. Dada!” teriak Leoni membuatku tersenyum.
Mendengar langkah kaki mereka yang sudah pergi, membuatku
langsung merebahkan diri dan kembali tertidur.
Pagi pun bersambut. Aku
segera bersih diri dan memperindah wajahku untuk bersiap berangkat menuju tempat
organisasiku.
Sesampainya aku di ruang organisasiku,
berbagai ucapan telah aku terima dari teman lama dan juga teman-teman baruku.
Ucapan Tian tentu tidak
luput dari ponselku. Dia memposting tiga fotoku dengan
pengejaan Happy Birthday Sarah dengan sederhana. Aku tersenyum
dan mengucapkan terima kasih pada semua teman yang memberikan ucapan dan aku
berharap mereka akan mendapatkan berkat atas semua permohonan baiknya untukku.
“Mbak,
apakah sudah selesai?”
Pesan
dari adikku membuatku beranjak dan membalasnya.
“Sudah,
Dek. Kenapa?”
“Ayo
pulang.”
Tanpa
bertanya apapun, aku langsung berpamitan dengan teman-temanku dan menuju rumah.
Di rumah, aku melihat papa, mama, dan adik sedang mempersiapkan makan malam
dengan banyak santapan rumah dan tak lupa kue tart dengan lilin yang berbentuk
angka 21. Nikmat mana yang bisa kau dustakan apalagi setelah menerima kejutan
kecil dari keluarga.
Di
bawah meja makanku, aku melihat ada sebuah paket yang berasal dari Tian. Dia memberikanku
kado berupa parfum kesukaanku. Ya, lagi-lagi ini kejutan kedua setelah ketiga
perempuan manis itu.
Hari
spesial yang cukup panjang telah berlalu. Kini aku kembali tidur dan bermain
dengan mimpiku.
Pagi
pun telah datang. Aku yang merasa lelah membuatku mengurungkan niatku untuk
bangun. Tiba-tiba saja ponselku berdering. Aku pun mengangkatnya tetapi dengan
kesadaranku yang masih sepuluh persen.
“Aku
pulang.” ucap seseorang di balik ponsel yang aku genggam.
“Siapa?”
tanyaku dengan lemas.
“Rah,
aku pulang. Sekarang aku sudah ada di bandara.”
“Ini
siapa?”
“Tian.”
Aku segera membuka mata dan
mendapati aku sedang bercakap dengan Tian. Dengan segera, aku langsung bersiap
dengan make up seadanya dan menuju ke bandara.
Sesampainya aku di bandara,
aku tak melihat sosok Tian. Namun, tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pundakku
pelan dari belakang.
“Tian!”
teriakku sembari mengajukan pelukan padanya.
Tian
tersenyum sumringah saat melihatku.
“Mm.
Rah. Kamu percaya nggak kalau aku bisa romantis?” tanya Tian sembari meletakkan
kopernya.
“Sebenarnya
tidak. Memangnya kenapa?”
“Mengapa
tidak percaya?”
“Ya,
melihat tingkahmu yang selalu humoris dan serius. Itulah alasannya.”
“Kalau
aku beri ini, kamu bisa bilang aku romantis?”
Sekotak
berisi cincin membuatku sontak terdiam.
“Aku
bener-bener serius dengan perempuan bernama Sarah. Karena itulah aku rela
bekerja jauh-jauh agar aku bisa cepat membahagiakanmu.”
Aku
kembali menitikkan air mata dan pelukan secara tiba-tiba aku ajukan kembali.
Aku tak menyangka Tian juga menyeka matanya karena melihatku sebahagia ini.
Aku
segera memberikan tanganku yang diberi cincin oleh lelaki ini.
“Tunggu
aku. Kita akan benar-benar siap setelah ini.”
“Pasti.”
Romantis banget ini mah. Couple goals....
BalasHapus