Story request : Nadia Gude Foto : Flickr             Brak! Meow!             “Ket!” teriakku melihat Ket terbaring kesakitan di d...

Tanpa Kata Maaf

/
0 Comments


Story request : Nadia Gude
Foto : Flickr

            Brak! Meow!
            “Ket!” teriakku melihat Ket terbaring kesakitan di depan sebuah mobil yang terdiam.
Tanpa peduli pada sang pemilik mobil, aku langsung menggendong Ket dan berlari menuju rumah sakit hewan terdekat.
            “Mawar! Ini aku!”
            Sudah jauh aku berlari, kini harus terpaksa berhenti untuk melihat pelaku itu.
            “Ya! Aku tahu!”
            “Kenapa tidak menyapaku?”
            “Hey! Ini dalam kondisi darurat bagaimana bisa aku menyapamu!”
        “Oke. Maafkan kelalaianku. Sapalah aku terlebih dulu setelah itu aku akan mengantarmu ke rumah sakit terdekat.”
            “Gila! Bagaimana bisa kamu bertingkah melucu di saat seperti ini?”
            “Lihat, kucingmu sekarat. Kau yakin ingin merela-”
            “Oke. Hai, Alfan. Wow mobilmu bagus sekali tapi sayang kali ini ia terlihat sangat buruk setelah menabrak kucing kesayanganku.”
            “Terima kasih. Ayo masuk!”
            Aku terdiam sembari memeluk dan mencium Ket yang sedari tadi masih tidak sadarkan diri.
            “Jangan antar aku ke rumah sakit!”
            “Lah? Kenapa, War? Bukannya”
            “Fan, berhentilah bertindak bodoh! Ket adalah hewan bukan binatang! Maksudku bukan manusia!”
            “Hmm. Kenapa marah sekali.”
            “Ah!” ucapku kesal pada candaannya yang menjadi-jadi.
            Tanpa berkata apapun aku langsung turun dan memasuki rumah sakit hewan. Beruntungnya, Ket bisa ditangani dengan cepat. Kini, aku hanya bisa berdoa agar Ket bisa cepat dipulihkan.
            “Maafkan aku.”
            “Iya.”
            “Apakah masih marah?”
            “Jika masih marah, untuk apa aku mau memaafkanmu? Tolong jangan pancing emosiku lagi ya!” ucapku dengan keras sembari melihatnya mematung dengan wajah yang tak bersalah.
            Kami tidak saling bercakap satu sama lain. Aku sibuk melihat kamar Ket dioperasi dan Alfan tak jelas arah pandangannya menuju kemana.
            “Besok ada tugas?”
            “Ya ampun, Fan. Kenapa bertanya hal itu di saat seperti ini sih!”
            “Hei, War. Ketmu itu pasti sembuh. Dia hanya luka di kakinya saja tidak parah.”
            “Kenapa kamu jadi kesal?”
            “Aku benci melihat wanita terlalu khawatir”
            “Ya sudahlah. Kamu tidak harus menemaniku terus menerus kan?”
            “Tidak. Ini sudah jadi tanggung jawabku karena sudah membuatmu sedih.”
            Aku terdiam sembari tak lagi berminat untuk berbicara apapun dengan Alfan. Dia memang sangat menyebalkan tetapi selalu ada kata yang membuatku berhenti menyela perkataannya. Kondisi Ket yang sudah membaik meskipun harus berjalan pincang membuat hubunganku dengan Alfan lebih dekat dari sebelumnya. Entah darimana dan kapan dia menjadi sangat memperhatikanku.
            “Hai, War!” teriak Riana sahabatku dari kejauhan.
            “Hai!”
            “Gimana kondisi Ket?”
            “Beruntungnya aku, dia masih bisa terselamatkan. Hanya saja dia sekarang pincang.”
            “Malang sekali. Oh, ya. Alfan mencarimu. Dia sekarang ada di kelas.”
            “Untuk apa?”
            “Berbicara hal penting? Dia tidak memberitahukanku.”
            “Baiklah.”
            Aku pun berpisah dengan Riana dan berlari menuju kelas. Tak disangka dia sedang berada di depan kelas dengan gaya yang tidak jelas. Ternyata, dia sedang masuk dalam buku tahunan sekolah. Betapa beruntungnya dia.
            “Hai, War.”
            “Ada apa?”
            “.....”
Entah kenapa tiba-tiba dia berdiam diri dengan tatapan yang membingungkan. Aku pun ikut diam karena memang tidak tahu apa yang ingin dibicarakan. Setelah lima menit berlalu, ia tetap mengajukan tatapan yang sama.
“Kenapa sih!”
“...”
Dia lagi-lagi berdiam diri. Aku mencoba mencerna apa saja perkataan yang baru saja aku ucapkan sehingga membuatnya membisu.
            “Hai.”
            “Aku punya rencana bagus. Kemarin-”
            “Tunggu! Apa maksudmu?”
            “Huh! Aku menyapamu dengan hai tetapi jawabanmu adalah ada apa.”
            “Hmm.”
            “Kau suka mendaki?”
            “Suka.”
            “Akhir tahun, komunitasku akan mendaki di gunung Panjakan.”
            “Serius!”
            “Iya. Kamu mau ikut? Anggap saja ini sebagai permintaan maafku atas kesalahanku menabrak kucingmu.”
            “Baiklah.”
            “Oh, sebagai bonusnya. Satu minggu ini, aku akan mentraktirmu makan siang dan mengantar jemputmu pulang.”
            Entah apa yang membuatnya seperti ini, aku jujur bahagia apalagi seseorang itu adalah Alfan. Ya. Seseorang yang sudah kuingin sejak lama. Selama satu minggu ini, memang benar Alfan menraktirku dan mengantar jemputku. Namun, sesuatu hal mengganjal pikiranku saat Alfan berhasil memenangkan perlombaan fotografi sekolah.
            “War, maaf ya. Di perlombaanku kemarin, aku mengirimkan fotomu.”
            “Maksudnya?”
            “Ya. Karena pada saat aku menraktir dan mengantar jemputmu, aku memotret semua tingkah lakumu dan aku kumpulkan untuk perlombaanku kemarin.”
            “Tidak apa-apa. Memangnya, apa tema fotografimu?”
            “Tentang perempuan manis.”
            Aku kepanasan. Tanpa basa-basi, aku langsung membuka botol minumanku yang isinya tinggal setengah dan perlahan aku meminumnya. Nyatanya itu tidak menolong rasa senangku. Kini, aku hanya bisa mengalihkan pandangan dan kembali dengan keadaan tenang yang menjadi tidak tenang sekarang.
            “Ya. Kamu memang manis, War. Apa aku harus berbohong?”
            “Te- Terima kasih.”
            “Bersiaplah. Besok kita akan mendaki.”
            “Baiklah.”
            Segala persiapan telah aku persiapkan. Banyak ransel raksasa yang aku bawa dan juga pengaman anti makhluk halus dan serangga. Selain itu, aku juga membawa kamera dan ponsel tentunya. Setelah semuanya siap, aku berjaga di depan rumah sembari menunggu jemputan Alfan. Dengan kerennya, Alfan menjemputku dengan motor tril. Merasa tidak percaya dengan kecepatan motor Alfan, aku memilih untuk meminta bantuan untuk naik ke motor tingginya itu. Tak menyangka, kini aku sangat dekat dengan Alfan.
            “Pegang ini. Nanti tolong berikan sebagai tiket masuk.”
            “Baiklah, Fan.”
            Setengah perjalanan berlalu. Kini, hanya tersisa hembusan angin saja yang berbicara.
            “Aku senang dengan situasi ini.”
            “Iya.”
            “Sebentar lagi kita sampai. Persiapkan benar tiket itu.”
            “Iya. Siap!”
            Sampainya di gunung Panjakan, aku langsung memberikan tiket masuk pada petugas dan langsung diarahkan menuju puncak dengan mobil tril separuh jalan.
            Suara tawa tiba-tiba muncul dari balik badanku. Aku bergidik ngeri dan langsung berlari mendekati Alfan. Aku terkejut melihat Alfan yang membawa secarik foto dan membuatnya tersenyum di perjalanan.
            “Foto siapa, Fan?”
            “Ah, bukan apa-apa.” ucap Alfan dengan wajahnya yang memerah tanpa berani menatapku.
            Apakah itu fotoku atau foto orang lain? Namun, karena kondisi ini aku menjadi 100% yakin bahwa foto itu adalah wajahku.
            “War. Menurutmu, seberapa besar perempuan itu bisa dikatakan manis?”
            “Ya. Dari senyumnya dan ketulusannya saat berbuat sesuatu pada orang lain.”
            “Meskipun aku tak pernah dekat dengan dia?”
            “Maksudmu?”
            “Jangan bilang siapa-siapa.” ucap Alfan membuatku mengangguk.
            Tak disangka, foto yang dia bawa adalah foto Riana, sahabatku. Aku sangat terpuruk dan berusaha tegar dengan bersikap biasa padanya.
            “Entahlah. Sejak mengenalmu, aku jadi terkesima dengan sahabatmu.”
            “Apa yang dia lakukan sampai-sampai membuatmu terkesima?”
            “Dia menemaniku menjaga ibu di rumah sakit. Dia juga mau mendengarkan keluh kesahku. Dan hebatnya, dia juga bisa merawat ibu hingga sembuh. Meskipun begitu, aku selalu tidak mempedulikan keberadaannya. Namun kini, aku sadar bahwa memang dia sangat tulus.”
            “Untuk apa mengajakku mendaki?”
            “Untuk meyakinkan diriku bahwa memang Riana yang menjadi pilihanku.”
            “Kenapa tidak mengajak, Riana?”
            “Dia tidak akan bisa menerimaku.”
            “Kenapa?”
            “Karena aku tahu dia adalah sahabatmu. Maka dari itu, biarkan aku terkecimpung pada perasaan ini tanpa butuh pembalasan darinya. Aku juga tidak mau menyakitimu.”
            Semua perkataan manis itu hanya berujung di bibirnya saja. Setelah kelulusan, aku tidak menemukan Riana dan juga Alfan. Namun, di saat aku beranjak pulang, aku melihat mereka sedang bermain petasan di depan kosan. Aku baru saja ingat bahwa hari ini adalah ulang tahunku dan juga hari terbaikku. Terbaik karena waktu dalam sekejap bisa mengambil sahabat dan juga teman baruku tanpa tahu kata maaf.




Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.
Powered By Blogger