“Ket!” teriakku melihat Ket terbaring kesakitan di
depan sebuah mobil yang terdiam.
Tanpa peduli pada sang pemilik mobil, aku langsung
menggendong Ket dan berlari menuju rumah sakit hewan terdekat.
“Mawar! Ini aku!”
Sudah jauh aku berlari, kini harus
terpaksa berhenti untuk melihat pelaku itu.
“Ya! Aku tahu!”
“Kenapa tidak menyapaku?”
“Hey! Ini dalam kondisi darurat
bagaimana bisa aku menyapamu!”
“Oke. Maafkan kelalaianku. Sapalah
aku terlebih dulu setelah itu aku akan mengantarmu ke rumah sakit terdekat.”
“Gila! Bagaimana bisa kamu
bertingkah melucu di saat seperti ini?”
“Lihat, kucingmu sekarat. Kau yakin
ingin merela-”
“Oke. Hai, Alfan. Wow mobilmu bagus
sekali tapi sayang kali ini ia terlihat sangat buruk setelah menabrak kucing
kesayanganku.”
“Terima kasih. Ayo masuk!”
Aku terdiam sembari memeluk dan
mencium Ket yang sedari tadi masih tidak sadarkan diri.
“Jangan antar aku ke rumah sakit!”
“Lah? Kenapa, War? Bukannya”
“Fan, berhentilah bertindak bodoh!
Ket adalah hewan bukan binatang! Maksudku bukan manusia!”
“Hmm. Kenapa marah sekali.”
“Ah!” ucapku kesal pada candaannya
yang menjadi-jadi.
Tanpa berkata apapun aku langsung
turun dan memasuki rumah sakit hewan. Beruntungnya, Ket bisa ditangani dengan
cepat. Kini, aku hanya bisa berdoa agar Ket bisa cepat dipulihkan.
“Maafkan aku.”
“Iya.”
“Apakah masih marah?”
“Jika masih marah, untuk apa aku mau
memaafkanmu? Tolong jangan pancing emosiku lagi ya!” ucapku dengan keras
sembari melihatnya mematung dengan wajah yang tak bersalah.
Kami tidak saling bercakap satu sama
lain. Aku sibuk melihat kamar Ket dioperasi dan Alfan tak jelas arah
pandangannya menuju kemana.
“Besok ada tugas?”
“Ya ampun, Fan. Kenapa bertanya hal
itu di saat seperti ini sih!”
“Hei, War. Ketmu itu pasti sembuh.
Dia hanya luka di kakinya saja tidak parah.”
“Kenapa kamu jadi kesal?”
“Aku benci melihat wanita terlalu
khawatir”
“Ya sudahlah. Kamu tidak harus
menemaniku terus menerus kan?”
“Tidak. Ini sudah jadi tanggung
jawabku karena sudah membuatmu sedih.”
Aku terdiam sembari tak lagi
berminat untuk berbicara apapun dengan Alfan. Dia memang sangat menyebalkan
tetapi selalu ada kata yang membuatku berhenti menyela perkataannya. Kondisi
Ket yang sudah membaik meskipun harus berjalan pincang membuat hubunganku
dengan Alfan lebih dekat dari sebelumnya. Entah darimana dan kapan dia menjadi
sangat memperhatikanku.
“Hai, War!” teriak Riana sahabatku
dari kejauhan.
“Hai!”
“Gimana kondisi Ket?”
“Beruntungnya aku, dia masih bisa
terselamatkan. Hanya saja dia sekarang pincang.”
“Malang sekali. Oh, ya. Alfan
mencarimu. Dia sekarang ada di kelas.”
“Untuk apa?”
“Berbicara hal penting? Dia tidak
memberitahukanku.”
“Baiklah.”
Aku pun berpisah dengan Riana dan
berlari menuju kelas. Tak disangka dia sedang berada di depan kelas dengan gaya
yang tidak jelas. Ternyata, dia sedang masuk dalam buku tahunan sekolah. Betapa
beruntungnya dia.
“Hai, War.”
“Ada apa?”
“.....”
Entah kenapa tiba-tiba dia berdiam diri dengan tatapan
yang membingungkan. Aku pun ikut diam karena memang tidak tahu apa yang ingin
dibicarakan. Setelah lima menit berlalu, ia tetap mengajukan tatapan yang sama.
“Kenapa sih!”
“...”
Dia lagi-lagi berdiam diri. Aku mencoba mencerna apa
saja perkataan yang baru saja aku ucapkan sehingga membuatnya membisu.
“Hai.”
“Aku punya rencana bagus. Kemarin-”
“Tunggu! Apa maksudmu?”
“Huh! Aku menyapamu dengan hai
tetapi jawabanmu adalah ada apa.”
“Hmm.”
“Kau suka mendaki?”
“Suka.”
“Akhir tahun, komunitasku akan
mendaki di gunung Panjakan.”
“Serius!”
“Iya. Kamu mau ikut? Anggap saja ini
sebagai permintaan maafku atas kesalahanku menabrak kucingmu.”
“Baiklah.”
“Oh, sebagai bonusnya. Satu minggu
ini, aku akan mentraktirmu makan siang dan mengantar jemputmu pulang.”
Entah apa yang membuatnya seperti
ini, aku jujur bahagia apalagi seseorang itu adalah Alfan. Ya. Seseorang yang
sudah kuingin sejak lama. Selama satu minggu ini, memang benar Alfan
menraktirku dan mengantar jemputku. Namun, sesuatu hal mengganjal pikiranku
saat Alfan berhasil memenangkan perlombaan fotografi sekolah.
“War, maaf ya. Di perlombaanku
kemarin, aku mengirimkan fotomu.”
“Maksudnya?”
“Ya. Karena pada saat aku menraktir
dan mengantar jemputmu, aku memotret semua tingkah lakumu dan aku kumpulkan
untuk perlombaanku kemarin.”
“Tidak apa-apa. Memangnya, apa tema
fotografimu?”
“Tentang perempuan manis.”
Aku kepanasan. Tanpa basa-basi, aku
langsung membuka botol minumanku yang isinya tinggal setengah dan perlahan aku
meminumnya. Nyatanya itu tidak menolong rasa senangku. Kini, aku hanya bisa
mengalihkan pandangan dan kembali dengan keadaan tenang yang menjadi tidak
tenang sekarang.
“Ya. Kamu memang manis, War. Apa aku
harus berbohong?”
“Te- Terima kasih.”
“Bersiaplah. Besok kita akan
mendaki.”
“Baiklah.”
Segala persiapan telah aku
persiapkan. Banyak ransel raksasa yang aku bawa dan juga pengaman anti makhluk
halus dan serangga. Selain itu, aku juga membawa kamera dan ponsel tentunya.
Setelah semuanya siap, aku berjaga di depan rumah sembari menunggu jemputan
Alfan. Dengan kerennya, Alfan menjemputku dengan motor tril. Merasa tidak
percaya dengan kecepatan motor Alfan, aku memilih untuk meminta bantuan untuk
naik ke motor tingginya itu. Tak menyangka, kini aku sangat dekat dengan Alfan.
“Pegang ini. Nanti tolong berikan
sebagai tiket masuk.”
“Baiklah, Fan.”
Setengah perjalanan berlalu. Kini,
hanya tersisa hembusan angin saja yang berbicara.
“Aku senang dengan situasi ini.”
“Iya.”
“Sebentar lagi kita sampai. Persiapkan
benar tiket itu.”
“Iya. Siap!”
Sampainya di gunung Panjakan, aku
langsung memberikan tiket masuk pada petugas dan langsung diarahkan menuju
puncak dengan mobil tril separuh jalan.
Suara tawa tiba-tiba muncul dari
balik badanku. Aku bergidik ngeri dan langsung berlari mendekati Alfan. Aku
terkejut melihat Alfan yang membawa secarik foto dan membuatnya tersenyum di
perjalanan.
“Foto siapa, Fan?”
“Ah, bukan apa-apa.” ucap Alfan
dengan wajahnya yang memerah tanpa berani menatapku.
Apakah itu fotoku atau foto orang
lain? Namun, karena kondisi ini aku menjadi 100% yakin bahwa foto itu adalah
wajahku.
“War. Menurutmu, seberapa besar
perempuan itu bisa dikatakan manis?”
“Ya. Dari senyumnya dan ketulusannya
saat berbuat sesuatu pada orang lain.”
“Meskipun aku tak pernah dekat
dengan dia?”
“Maksudmu?”
“Jangan bilang siapa-siapa.” ucap
Alfan membuatku mengangguk.
Tak disangka, foto yang dia bawa
adalah foto Riana, sahabatku. Aku sangat terpuruk dan berusaha tegar dengan
bersikap biasa padanya.
“Entahlah. Sejak mengenalmu, aku
jadi terkesima dengan sahabatmu.”
“Apa yang dia lakukan sampai-sampai
membuatmu terkesima?”
“Dia menemaniku menjaga ibu di rumah
sakit. Dia juga mau mendengarkan keluh kesahku. Dan hebatnya, dia juga bisa
merawat ibu hingga sembuh. Meskipun begitu, aku selalu tidak mempedulikan
keberadaannya. Namun kini, aku sadar bahwa memang dia sangat tulus.”
“Untuk apa mengajakku mendaki?”
“Untuk meyakinkan diriku bahwa
memang Riana yang menjadi pilihanku.”
“Kenapa tidak mengajak, Riana?”
“Dia tidak akan bisa menerimaku.”
“Kenapa?”
“Karena aku tahu dia adalah
sahabatmu. Maka dari itu, biarkan aku terkecimpung pada perasaan ini tanpa
butuh pembalasan darinya. Aku juga tidak mau menyakitimu.”
Semua perkataan manis itu hanya
berujung di bibirnya saja. Setelah kelulusan, aku tidak menemukan Riana dan
juga Alfan. Namun, di saat aku beranjak pulang, aku melihat mereka sedang
bermain petasan di depan kosan. Aku baru saja ingat bahwa hari ini adalah ulang
tahunku dan juga hari terbaikku. Terbaik karena waktu dalam sekejap bisa
mengambil sahabat dan juga teman baruku tanpa tahu kata maaf.