“Satu..dua..tiga..empat.
Akhirnya!” teriakku setelah menaiki beberapa anak tangga hingga sampai pada
atap.
Berbagai
wajah baru aku kenali demi mendapatkan keuntungan organisasi. Aku mencari salah
satu wajah yang aku kenali dan kudapati berada di hadapanku sembari memainkan
sebuah remote control.
“Ayo
gabung.”
“Tidak
perlu. Aku hanya memberikan ini saja.”
“Lain
kali ikut jualan ya?”
“Oke”
ucapku sembari beranjak dan membalikkan badan.
“Eka!
Kok keburu pulang?” tanya teman-temanku SMP yang ternyata berada satu kampus
denganku bersekolah.
“Ada
rapat. Iya lain kali aku mampir.”
Kedatanganku
disambut baik oleh teman-teman Ara. Pelan-pelan aku menuruni tangga dengan
melamunkan keinginanku yang tiba-tiba muncul setelah mengingat ajakan mereka.
“Aduh!”
Sial!
Aku terjatuh di satu anak tangga terakhir di lantai dasar ini. Aku bersyukur
tidak ada yang melihat tingkah konyolku ini. Saat tiba di bawah, suasana yang
awalnya sepi menjadi ramai. Mereka sedang duduk di sebuah bangku yang menyebar
kemana-mana. Namun, menggunakan satu menu makanan yang sama. Aku bingung.
Bagaimana bisa mereka mengantar makanan jika pembelinya sedang jauh? Awalnya
aku berpikir mereka akan menggunakan jasa ongkos kirim. Namun, kenyataannya
lebih menakjubkan dari itu.
“Mbak,
itu ada makanan.”
“Dimana?”
“Di
atasnya, Mbak.”
Aku
sontak melindungi kepalaku dan seketika merasakan angin semilir dari atas
kepalaku. Makanan itu dibawa oleh drone.
Begitu canggih sampai membuatku bergetar. Ternyata, makanan yang aku titipkan
memberikan keuntungan yang besar pada penjualan mereka sehingga aku mendapatkan
bonus dari itu. Aku mensyukurinya dan sembari menyantap makanan yang mereka
hidangkan.
Berbagai
pesanan tak memusingkan mereka. Bantuan drone
membantu mereka dalam segi manajemen waktu dan kualitas makanan yang masih
panas.
“Eka!
Terima kasih ya atas bantuanmu.”
“Tidak
perlu begitu. Justru aku yang seharusnya berterima kasih.”
“Ini
ongkos penjualanmu. Semua berjumlah Rp. 200.000”
“Wah.
Terima kasih. Apa kalian sudah mengambil keuntungan?”
“Tentu
sudah. Bisakah besok kamu mengirimkan ini? Makananmu sudah menjadi trending di organisasiku.”
“Baiklah.
Akan aku siapkan segera.”
Hari
yang penuh kejutan. Awalnya memang tak berniat untuk berbisnis tetapi rencana
Tuhan berkata lain. Kesempatan emas patut untuk dipetik sebelum ia terjatuh dan
tertimbun tanah agar tidak terinjak kaki orang-orang beruntung yang lain.
Tahun
ajaran pun sudah berganti. Gelar D2 sudah aku lewati. Kini, aku sedang berupaya
untuk meraih gelar S1 di kampus yang sama. Akankah aku bisa bergabung dengan
organisasi itu?
“Selamat
datang adek!”
Tak
terasa kini aku sudah menjalani masa orientasi selama enam hari. Betapa
menyebalkannya ketika seorang teman dengan umur sebaya menghinaku kecil karena
kuliah satu tahun di bawahnya.
“Aduh!”
teriakku sebal membuat semua orang tertawa.
Penampilan
akustik tak mau kalah di acara ini. Dua pemain gitar, satu pemain kahon, dan
dua penyanyi mencuri pandangku. Aku terpaku pada pemain kahon yang sudah aku
kenali sejak kegiatan penjualan itu.
Acara
tentu diakhiri dengan berfoto bersama. Tentu saja menyertakan seluruh panitia
tanpa terkecuali. Hal itu juga berlaku pada pemain kahon kesenangan
teman-temannya itu.
Tiba-tiba,
“Eh,
bukankah kamu orang yang menitipkan makanan di stan kami?”
“Iya.”
“Kamu
harus ikut organisasi ini. Akan ada banyak kejutan.”
Ya.
Memang banyak kejutan. Kejutan yang sampai sekarang aku tidak mengerti
bagaimana cara aku memulainya dulu.
“Gimana
sudah foto di backstage?”
“Sudah,
Yo.”
“Aduh
terlalu gelap ini. Malah foto yang tidak kamu perlihatkan malah bagus. Jangan
gampang minder. Percaya diri saja. Sebentar lagi ada penampilan dance siap di depan panggung, Ka.” ucap
Gio, seseorang yang mengajakku masuk ke dalam organisasi ini, dengan penuh
semangat.
“Oke!”
teriakku sembari berlari ke depan panggung
Berbagai
gaya tarian tradisional yang anggun meluluhkan ketegangan acara dengan bebauan
kebudayaan Indonesia.
Keterampilannya
menggunakan drone mampu mempercepat
pembuatan film acara. Hasil foto yang tidak dapat diragukan lagi juga
memberikannya sebuah trademark pada
kemampuannya yang harus dipertahankan.
“Sebenarnya
Gio sudah banyak bertanya pada kami tentangmu selama ini.”
“Untuk
apa?”
“Entahlah
dia hanya bertanya namamu, jurusan yang kamu ambil, dan kesibukanmu.”
“Kalian
menjawab apa?”
“Jawaban
dengan dua kata.”
“Apa
itu?”
“Tidak
tahu.”
Aku
terdiam sembari berpaling dan memasuki kelas pada awal hari.
Kekraban
setelah menjadi satu sie dalam
panitia acara Tahun Baru lalu membuat kami tim kreatif bersantap malam bersama
di sebuah cafe terkenal di kota
Malang.
“Aku
kemarin foto sunset dari atap.”
“Wow
bagus sekali. Bolehkah aku memintanya?”
“Untuk
apa? Jangan-jangan akan kamu pergunakan dengan tidak senonoh ya?”
“Hei!
Aku mengapresiasi karyamu itu. Untuk apa aku melakukannya?”
“Baiklah.”
Acara
berpindah tema tahun baru. Kini, aku kembali menjadi panitia bersama dengan Gio
dan teman-teman. Kehadiran Ara tidak lagi aku temui. Aku hanya bisa
membayangkan kejutan apa lagi yang aku dapatkan di acara baru ini. Akankah
kejutan itu berakhir dengan membahagiakanku?
“Kenapa
betah mendengarkanku bercerita masalah hidupku?”
“Selagi
aku bisa mengapa tidak aku lakukan?”
“Hmm.
Apakah itu semua karena aku terlalu mencari tahu tentangmu?”
“Mungkin
”
“Apa
yang kamu lakukan dengan petasan itu?”
Aku
terdiam dan membiarkan kesunyianku membelengguku disaat keramaian para peserta
saat menunggu angka 00:00 berlagu.
Cush!
“Aku
ingin melepaskan apa yang aku jaga sekarang agar dia bisa bahagia”
“Apa
maksudmu.”
Berakhir
dengan kebahagian yang lain ketika keduanya menemukan orang baru dalam kondisi
yang tak terbayangkan dan rahasia.