Story request : Wintang E.P Foto : Flickr “Satu..dua..tiga..empat. Akhirnya!” teriakku setelah menaiki beberapa anak tangga hingga ...

Lepas

/
0 Comments


Story request : Wintang E.P
Foto : Flickr

“Satu..dua..tiga..empat. Akhirnya!” teriakku setelah menaiki beberapa anak tangga hingga sampai pada atap.
Berbagai wajah baru aku kenali demi mendapatkan keuntungan organisasi. Aku mencari salah satu wajah yang aku kenali dan kudapati berada di hadapanku sembari memainkan sebuah remote control.
“Ayo gabung.”
“Tidak perlu. Aku hanya memberikan ini saja.”
“Lain kali ikut jualan ya?”
“Oke” ucapku sembari beranjak dan membalikkan badan.
“Eka! Kok keburu pulang?” tanya teman-temanku SMP yang ternyata berada satu kampus denganku bersekolah.
“Ada rapat. Iya lain kali aku mampir.”
Kedatanganku disambut baik oleh teman-teman Ara. Pelan-pelan aku menuruni tangga dengan melamunkan keinginanku yang tiba-tiba muncul setelah mengingat ajakan mereka.
“Aduh!”
Sial! Aku terjatuh di satu anak tangga terakhir di lantai dasar ini. Aku bersyukur tidak ada yang melihat tingkah konyolku ini. Saat tiba di bawah, suasana yang awalnya sepi menjadi ramai. Mereka sedang duduk di sebuah bangku yang menyebar kemana-mana. Namun, menggunakan satu menu makanan yang sama. Aku bingung. Bagaimana bisa mereka mengantar makanan jika pembelinya sedang jauh? Awalnya aku berpikir mereka akan menggunakan jasa ongkos kirim. Namun, kenyataannya lebih menakjubkan dari itu.
“Mbak, itu ada makanan.”
“Dimana?”
“Di atasnya, Mbak.”
Aku sontak melindungi kepalaku dan seketika merasakan angin semilir dari atas kepalaku. Makanan itu dibawa oleh drone. Begitu canggih sampai membuatku bergetar. Ternyata, makanan yang aku titipkan memberikan keuntungan yang besar pada penjualan mereka sehingga aku mendapatkan bonus dari itu. Aku mensyukurinya dan sembari menyantap makanan yang mereka hidangkan.
Berbagai pesanan tak memusingkan mereka. Bantuan drone membantu mereka dalam segi manajemen waktu dan kualitas makanan yang masih panas.
“Eka! Terima kasih ya atas bantuanmu.”
“Tidak perlu begitu. Justru aku yang seharusnya berterima kasih.”
“Ini ongkos penjualanmu. Semua berjumlah Rp. 200.000”
“Wah. Terima kasih. Apa kalian sudah mengambil keuntungan?”
“Tentu sudah. Bisakah besok kamu mengirimkan ini? Makananmu sudah menjadi trending di organisasiku.”
“Baiklah. Akan aku siapkan segera.”
Hari yang penuh kejutan. Awalnya memang tak berniat untuk berbisnis tetapi rencana Tuhan berkata lain. Kesempatan emas patut untuk dipetik sebelum ia terjatuh dan tertimbun tanah agar tidak terinjak kaki orang-orang beruntung yang lain.
Tahun ajaran pun sudah berganti. Gelar D2 sudah aku lewati. Kini, aku sedang berupaya untuk meraih gelar S1 di kampus yang sama. Akankah aku bisa bergabung dengan organisasi itu?
“Selamat datang adek!”
Tak terasa kini aku sudah menjalani masa orientasi selama enam hari. Betapa menyebalkannya ketika seorang teman dengan umur sebaya menghinaku kecil karena kuliah satu tahun di bawahnya.
“Aduh!” teriakku sebal membuat semua orang tertawa.
Penampilan akustik tak mau kalah di acara ini. Dua pemain gitar, satu pemain kahon, dan dua penyanyi mencuri pandangku. Aku terpaku pada pemain kahon yang sudah aku kenali sejak kegiatan penjualan itu.
Acara tentu diakhiri dengan berfoto bersama. Tentu saja menyertakan seluruh panitia tanpa terkecuali. Hal itu juga berlaku pada pemain kahon kesenangan teman-temannya itu.
Tiba-tiba,
“Eh, bukankah kamu orang yang menitipkan makanan di stan kami?”
“Iya.”
“Kamu harus ikut organisasi ini. Akan ada banyak kejutan.”
Ya. Memang banyak kejutan. Kejutan yang sampai sekarang aku tidak mengerti bagaimana cara aku memulainya dulu.
“Gimana sudah foto di backstage?”
“Sudah, Yo.”
“Aduh terlalu gelap ini. Malah foto yang tidak kamu perlihatkan malah bagus. Jangan gampang minder. Percaya diri saja. Sebentar lagi ada penampilan dance siap di depan panggung, Ka.” ucap Gio, seseorang yang mengajakku masuk ke dalam organisasi ini, dengan penuh semangat.
“Oke!” teriakku sembari berlari ke depan panggung
Berbagai gaya tarian tradisional yang anggun meluluhkan ketegangan acara dengan bebauan kebudayaan Indonesia.
Keterampilannya menggunakan drone mampu mempercepat pembuatan film acara. Hasil foto yang tidak dapat diragukan lagi juga memberikannya sebuah trademark pada kemampuannya yang harus dipertahankan.
“Sebenarnya Gio sudah banyak bertanya pada kami tentangmu selama ini.”
“Untuk apa?”
“Entahlah dia hanya bertanya namamu, jurusan yang kamu ambil, dan kesibukanmu.”
“Kalian menjawab apa?”
“Jawaban dengan dua kata.”
“Apa itu?”
“Tidak tahu.”
Aku terdiam sembari berpaling dan memasuki kelas pada awal hari.
Kekraban setelah menjadi satu sie dalam panitia acara Tahun Baru lalu membuat kami tim kreatif bersantap malam bersama di sebuah cafe terkenal di kota Malang.
“Aku kemarin foto sunset dari atap.”
“Wow bagus sekali. Bolehkah aku memintanya?”
“Untuk apa? Jangan-jangan akan kamu pergunakan dengan tidak senonoh ya?”
“Hei! Aku mengapresiasi karyamu itu. Untuk apa aku melakukannya?”
“Baiklah.”
Acara berpindah tema tahun baru. Kini, aku kembali menjadi panitia bersama dengan Gio dan teman-teman. Kehadiran Ara tidak lagi aku temui. Aku hanya bisa membayangkan kejutan apa lagi yang aku dapatkan di acara baru ini. Akankah kejutan itu berakhir dengan membahagiakanku?
“Kenapa betah mendengarkanku bercerita masalah hidupku?”
“Selagi aku bisa mengapa tidak aku lakukan?”
“Hmm. Apakah itu semua karena aku terlalu mencari tahu tentangmu?”
“Mungkin ”
“Apa yang kamu lakukan dengan petasan itu?”
Aku terdiam dan membiarkan kesunyianku membelengguku disaat keramaian para peserta saat menunggu angka 00:00 berlagu.
Cush!
“Aku ingin melepaskan apa yang aku jaga sekarang agar dia bisa bahagia”
“Apa maksudmu.”
Berakhir dengan kebahagian yang lain ketika keduanya menemukan orang baru dalam kondisi yang tak terbayangkan dan rahasia.



Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.
Powered By Blogger