Aku perlahan membuka mataku dan terkejut mendapati
seorang lelaki asing yang secara tiba-tiba menyentuh dahiku.
“Sudah tiga hari kamu tidak sadarkan diri. Hmm aku
kesepian.”
“Apa yang terjadi?”
“Tiga hari yang lalu ada sebuah truk menabrak
toko itu lalu jadilah seperti ini. Aku berusaha membangunkan pria itu tetapi
dia tetap saja tertidur.”
Aku
mengalihkan pandangan menuju pria yang sedang duduk dengan wajah yang penuh
darah. Saat aku mendekat, aku terkejut karena bukannya tersentuh tanganku malah
menembus tubuhnya. Aku bergidik ngeri sembari melihat kepalanya yang tiba-tiba
saja terjatuh. Aku berlari terbirit-birit sembari bersembunyi di balik lelaki
itu.
“Hmm.
Lihatlah perlakuan orang terhadap pria itu.”
Aku
mengalihkan pandangan pada seorang anak kecil yang bisa memeluk pria itu dengan
mudah sembari meminta pertolongan agar pria itu dikuburkan.
Aku
mendekati anak kecil itu dan berusaha menyentuh pundaknya. Namun, tetap saja
tanganku menembusnya.
“Hei!
Kenapa kita tidak bisa menyentuh mereka?”
“Kebingungan
itulah yang aku rasakan sendirian selama kamu pingsan.”
Aku
terkejut. Darimana, sejak kapan, dan apakah aku ini sebenarnya?
“Argo.”
“Lalu?”
“Perkenalkan
namamu! Kamu ingin bisa menyapa mereka atau tidak!”
“Ergh.
Iya. Aku Nechi.”
“Baiklah.”
Setelah
aku menjawab sapaannya itu, bukannya bertindak ia malah tertidur di atas kursi
taman di tengah kota. Betapa terkejutnya saat ia tertidur, tiba-tiba ada
seorang pria besar yang menduduki kepalanya.
“Argo!”
teriakku panik.
“Apa!”
“Kau
tidak kesakitan?”
“Hei,
ingatkah jika kita ini tembus pandang? Meskipun begitu ugh pakaiannya bau sekali.” ucap Argo sembari beranjak dan menjauhi
pria yang mendudukinya selama beberapa detik itu.
“Argo.
Aku ingin pulang.”
“Pulang?”
“Aku
ingin mengetahui asal dari semua ini dan bisa kembali seperti sedia kala.”
“Hmm.
Aku tidak tahu caranya.”
“Ayo
kita kembali ke toko buku itu lagi”
Argo
menruruti perkataanku. Kami berjalan kembali menuju toko buku itu dan mencari
sesuatu disana. Kami hanya bisa menemukan puing-puing bangunan dan beberapa
sobekan kertas. Saat aku mengambil sebuah buku, tiba-tiba saja Argo berteriak
kesakitan. Aku panik dan langsung membuang buku yang aku pegang.
“Kamu
kenapa?”
“Ah.
Jangan pegang itu! Kamu ingin membunuhku?”
“Maafkan
aku.”
“Apa
yang kamu pegang tadi?”
“Buku”
Aku
semakin bingung. Kami tidak bisa berbicara dan bersentuhan dengan orang-orang
di kota ini. Ditambah Argo merasa kesakitan saat aku membawa sebuah buku. Lalu,
apa kaitannya dengan kehidupan sebelum kecelakaan itu?
“Argo.
Kamu pegang buku itu. Akankah aku juga merasakan kesakitan yang sama”
“Kamu
gila! Itu bukan sakit biasa!”
“Cepat
lakukan!”
“Tidak!”
Aku
mengancamnya dengan hampir menyentuh buku itu. Pada akhirnya, Argo mau
mengambil buku itu dan menutup matanya agar tak melihatku berteriak kesakitan.
Lima
menit berlalu.
“Argo!
Sampai kapan kamu terus berdiri seperti itu!”
“Ah.
Kamu tidak apa-apa?”
“Tidak.
Apa yang kamu rasakan saat aku menyentuh buku itu?”
“Aku
merasa dadaku sesak, tubuhku tertusuk ribuan jarum, dan seluruh tulangku patah.”
“Kita
harus cepat pecahkan ini!”
Aku
pun menulis dua bukti terkait pria yang meninggal di toko buku dan kesakitan
Argo saat aku memegang sebuah buku.
Sudah
dua hari, kami menyusuri kota dan tidak menemukan apapun.
“Ah.
Aku lapar.”
“Aku
membawa kue di sakuku. Tunggu. Sejak kapan?” ucapku sembari memberikan kue
mufin pada Argo.
“Hmm.
Ternyata kamu adalah orang baik.”
“Terima
kasihh!” teriak seorang gadis dari kejauhan.
“Tunggu?”
Kami
pun langsung mengalihkan pandangan dan mendapati seorang anak kecil yang sedang
berlari dan memelukku.
“Kau
siapa!” teriakku ketakutan.
“Ba-ba.
Terima kasihh!” wajah yang menggemaskan meluluhkan rasa takutku.
Aku
perlahan memegang tubuh anak kecil itu. Tuing!
Aku bisa menyentuhnya.
“Argo,
coba kamu angkat anak ini.”
Argo
terlihat sangat bahagia karena dia bisa mengangkat anak kecil itu naik ke
pundaknya. Mereka kini sedang bersenang-senang.
Aku
semakin bingung dengan alur kehidupanku saat ini. Mengapa kami bisa berbicara
dengan anak itu? Namun tak bisa berbicara dengan orang lain?
Badai
berhembus sangat kencang. Aku menggenggam erat tangan Argo. Argo pun memelukku
dengan sangat kencang. Hingga tak terasa tiba-tiba aneka suara bising mengitari
lingkungan kami.
“Ciee!
Kalian pacaran ya?”
Argo
menarik tanganku dan mengajakku keluar dari kerumunan itu. Dalam sekejap, kami
bisa bercengkerama dengan manusia.
“Argo!
Apa yang sudah terjadi!” ucapku bingung sampai-sampai air mataku keluar dengan
deras tanpa henti.
“Nechi.
Tenang. Aku yakin kita sudah sampai pada titik akhir aa-” ucap Argo yang
tiba-tiba berteriak kesakitan saat di sekeliling kami muncul aneka buku raksasa
mengitari kami.
“Argo!”
ucapku sembari menyentuh tubuh Argo.
“Apa
yang terjadi!” ucap Argo sembari melihat aneka buku berdiri di depannya.
“Nechi!!”
teriak seorang lelaki yang langsung memelukku.
“Siapa
kamu?”
“Aku
adalah pasanganmu di cerita itu.”
“Cerita?
Pasangan?”
Aku
tetap tidak bisa menerima kenyataan dan terus memegang tangan Argo.
Kecelakaan yang terjadi membuat
sebuah toko buku tempat tinggal kalian hancur. Butuh waktu yang lama untuk
memulihkan buku-buku itu. Kini, kalian bisa kembali pulang dengan cerita yang
sudah kalian dapatkan dalam buku milik kalian.
“Tunggu!
Kita ini adalah tokoh fiksi?”
Argo
tiba-tiba saja menarikku.
“Nechi!
Terima kasih sudah mengembalikanku.”
“Apa
maksudmu?”
“Dialah
kekasih yang membuatku kesakitan akhir-akhir ini.” ucap Argo sembari menunjuk
seorang wanita berambut pendek yang sedang tersenyum manis pada kami.
“Tidak!”
ucapku sembari menarik Argo dan mengajakknya masuk dalam buku yang ada di
depanku.
Setengah
badanku bisa masuk tetapi Argo sama sekali tidak bisa menembusnya.
“Cukup!”
teriak Argo sembari meninggalkanku.
Argo
menggenggam erat tangan wanita berambut pendek itu dan masuk bersama ke dalam
buku berwarna merah yang kini sudah tertutup.
“Bahagialah
dengan apa yang kamu dapatkan di luar buku itu, Chi. Tapi, percayalah apa yang
tertulis dalam bukumu itu adalah cerita yang lebih menarik dan indah dari apa
yang kamu alami dengan lelaki itu.”
“Kenapa
kamu bisa sesabar itu? Tapi aku terlanjur..”
“Aku
mengerti. Aku juga mengalami hal yang sama. Namun, takdir dalam buku itu
membuatku berhenti untuk mencari wanita selain Nechi.”
Aku
pun menangis sembari menyesali pertemuan singkat yang aku alami dengan Argo.
Perlahan
namun pasti, aku pun menggenggam tangan lelaki bertubuh jangkung ini dan
memasuki bukuku bersama-sama dan merangkai sebuah cerita yang luar biasa.