Story Request : Anonim Foto : Flickr             Brak!             “Halo? Apakah masih bernafas?”             Aku perlahan memb...

Akhir

/
0 Comments


Story Request : Anonim
Foto : Flickr

            Brak!
            “Halo? Apakah masih bernafas?”
            Aku perlahan membuka mataku dan terkejut mendapati seorang lelaki asing yang secara tiba-tiba menyentuh dahiku.
            “Sudah tiga hari kamu tidak sadarkan diri. Hmm aku kesepian.”
            “Apa yang terjadi?”
 “Tiga hari yang lalu ada sebuah truk menabrak toko itu lalu jadilah seperti ini. Aku berusaha membangunkan pria itu tetapi dia tetap saja tertidur.”
Aku mengalihkan pandangan menuju pria yang sedang duduk dengan wajah yang penuh darah. Saat aku mendekat, aku terkejut karena bukannya tersentuh tanganku malah menembus tubuhnya. Aku bergidik ngeri sembari melihat kepalanya yang tiba-tiba saja terjatuh. Aku berlari terbirit-birit sembari bersembunyi di balik lelaki itu.
“Hmm. Lihatlah perlakuan orang terhadap pria itu.”
Aku mengalihkan pandangan pada seorang anak kecil yang bisa memeluk pria itu dengan mudah sembari meminta pertolongan agar pria itu dikuburkan.
Aku mendekati anak kecil itu dan berusaha menyentuh pundaknya. Namun, tetap saja tanganku menembusnya.
“Hei! Kenapa kita tidak bisa menyentuh mereka?”
“Kebingungan itulah yang aku rasakan sendirian selama kamu pingsan.”
Aku terkejut. Darimana, sejak kapan, dan apakah aku ini sebenarnya?
“Argo.”
“Lalu?”
“Perkenalkan namamu! Kamu ingin bisa menyapa mereka atau tidak!”
“Ergh. Iya. Aku Nechi.”
“Baiklah.”
Setelah aku menjawab sapaannya itu, bukannya bertindak ia malah tertidur di atas kursi taman di tengah kota. Betapa terkejutnya saat ia tertidur, tiba-tiba ada seorang pria besar yang menduduki kepalanya.
“Argo!” teriakku panik.
“Apa!”
“Kau tidak kesakitan?”
“Hei, ingatkah jika kita ini tembus pandang? Meskipun begitu ugh pakaiannya bau sekali.” ucap Argo sembari beranjak dan menjauhi pria yang mendudukinya selama beberapa detik itu.
“Argo. Aku ingin pulang.”
“Pulang?”
“Aku ingin mengetahui asal dari semua ini dan bisa kembali seperti sedia kala.”
“Hmm. Aku tidak tahu caranya.”
“Ayo kita kembali ke toko buku itu lagi”
Argo menruruti perkataanku. Kami berjalan kembali menuju toko buku itu dan mencari sesuatu disana. Kami hanya bisa menemukan puing-puing bangunan dan beberapa sobekan kertas. Saat aku mengambil sebuah buku, tiba-tiba saja Argo berteriak kesakitan. Aku panik dan langsung membuang buku yang aku pegang.
“Kamu kenapa?”
“Ah. Jangan pegang itu! Kamu ingin membunuhku?”
“Maafkan aku.”
“Apa yang kamu pegang tadi?”
“Buku”
Aku semakin bingung. Kami tidak bisa berbicara dan bersentuhan dengan orang-orang di kota ini. Ditambah Argo merasa kesakitan saat aku membawa sebuah buku. Lalu, apa kaitannya dengan kehidupan sebelum kecelakaan itu?
“Argo. Kamu pegang buku itu. Akankah aku juga merasakan kesakitan yang sama”
“Kamu gila! Itu bukan sakit biasa!”
“Cepat lakukan!”
“Tidak!”
Aku mengancamnya dengan hampir menyentuh buku itu. Pada akhirnya, Argo mau mengambil buku itu dan menutup matanya agar tak melihatku berteriak kesakitan.
Lima menit berlalu.
“Argo! Sampai kapan kamu terus berdiri seperti itu!”
“Ah. Kamu tidak apa-apa?”
“Tidak. Apa yang kamu rasakan saat aku menyentuh buku itu?”
“Aku merasa dadaku sesak, tubuhku tertusuk ribuan jarum, dan seluruh tulangku patah.”
“Kita harus cepat pecahkan ini!”
Aku pun menulis dua bukti terkait pria yang meninggal di toko buku dan kesakitan Argo saat aku memegang sebuah buku.
Sudah dua hari, kami menyusuri kota dan tidak menemukan apapun.
Ah. Aku lapar.”
“Aku membawa kue di sakuku. Tunggu. Sejak kapan?” ucapku sembari memberikan kue mufin pada Argo.
“Hmm. Ternyata kamu adalah orang baik.”
“Terima kasihh!” teriak seorang gadis dari kejauhan.
“Tunggu?”
Kami pun langsung mengalihkan pandangan dan mendapati seorang anak kecil yang sedang berlari dan memelukku.
“Kau siapa!” teriakku ketakutan.
“Ba-ba. Terima kasihh!” wajah yang menggemaskan meluluhkan rasa takutku.
Aku perlahan memegang tubuh anak kecil itu. Tuing! Aku bisa menyentuhnya.
“Argo, coba kamu angkat anak ini.”
Argo terlihat sangat bahagia karena dia bisa mengangkat anak kecil itu naik ke pundaknya. Mereka kini sedang bersenang-senang.
Aku semakin bingung dengan alur kehidupanku saat ini. Mengapa kami bisa berbicara dengan anak itu? Namun tak bisa berbicara dengan orang lain?
Badai berhembus sangat kencang. Aku menggenggam erat tangan Argo. Argo pun memelukku dengan sangat kencang. Hingga tak terasa tiba-tiba aneka suara bising mengitari lingkungan kami.
“Ciee! Kalian pacaran ya?”
Argo menarik tanganku dan mengajakku keluar dari kerumunan itu. Dalam sekejap, kami bisa bercengkerama dengan manusia.
“Argo! Apa yang sudah terjadi!” ucapku bingung sampai-sampai air mataku keluar dengan deras tanpa henti.
“Nechi. Tenang. Aku yakin kita sudah sampai pada titik akhir aa-” ucap Argo yang tiba-tiba berteriak kesakitan saat di sekeliling kami muncul aneka buku raksasa mengitari kami.
“Argo!” ucapku sembari menyentuh tubuh Argo.
“Apa yang terjadi!” ucap Argo sembari melihat aneka buku berdiri di depannya.
“Nechi!!” teriak seorang lelaki yang langsung memelukku.
“Siapa kamu?”
“Aku adalah pasanganmu di cerita itu.”
“Cerita? Pasangan?”
Aku tetap tidak bisa menerima kenyataan dan terus memegang tangan Argo.
Kecelakaan yang terjadi membuat sebuah toko buku tempat tinggal kalian hancur. Butuh waktu yang lama untuk memulihkan buku-buku itu. Kini, kalian bisa kembali pulang dengan cerita yang sudah kalian dapatkan dalam buku milik kalian.
“Tunggu! Kita ini adalah tokoh fiksi?”
Argo tiba-tiba saja menarikku.
“Nechi! Terima kasih sudah mengembalikanku.”
“Apa maksudmu?”
“Dialah kekasih yang membuatku kesakitan akhir-akhir ini.” ucap Argo sembari menunjuk seorang wanita berambut pendek yang sedang tersenyum manis pada kami.
“Tidak!” ucapku sembari menarik Argo dan mengajakknya masuk dalam buku yang ada di depanku.
Setengah badanku bisa masuk tetapi Argo sama sekali tidak bisa menembusnya.
“Cukup!” teriak Argo sembari meninggalkanku.
Argo menggenggam erat tangan wanita berambut pendek itu dan masuk bersama ke dalam buku berwarna merah yang kini sudah tertutup.
“Bahagialah dengan apa yang kamu dapatkan di luar buku itu, Chi. Tapi, percayalah apa yang tertulis dalam bukumu itu adalah cerita yang lebih menarik dan indah dari apa yang kamu alami dengan lelaki itu.”
“Kenapa kamu bisa sesabar itu? Tapi aku terlanjur..”
“Aku mengerti. Aku juga mengalami hal yang sama. Namun, takdir dalam buku itu membuatku berhenti untuk mencari wanita selain Nechi.”
Aku pun menangis sembari menyesali pertemuan singkat yang aku alami dengan Argo.
Perlahan namun pasti, aku pun menggenggam tangan lelaki bertubuh jangkung ini dan memasuki bukuku bersama-sama dan merangkai sebuah cerita yang luar biasa.



Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.
Powered By Blogger