Dengan keras kepala, Mano mencoba
mencabut tongkat sesuai dengan pilihannya. Seluruh tenaga ia kerahkan tak membuat
tongkat itu bergerak. Ia memukul-mukul tongkat itu dengan tangannya hingga
bercucuran berdarah dengan hebat.
“Apa yang kamu lakukan!” teriak
seorang Raja pemilik istana dimana ia berdiri saat ini.
Mano terkejut sembari menampar diriku
bahwa aku benar-benar berada di dunia mimpiku.
“Apa yang kamu lakukan hingga
terluka?”
“Apa maksud kehadiran dua tongkat
ini. Tongkat berwarna biru sudah jelas-jelas dapat membawaku ke portal menuju
cita-citaku. Mengapa aku tidak bisa membawanya!” teriakku sembari terus menarik
tongkat itu.
“Tidak semudah itu. Lihatlah tongkat
di sebelah kananmu.”
“Apa yang menarik? Aku sudah
menjauhkannya dan aku tidak menginginkannya!”
“Nak.” ucap seorang wanita dari
balik portal pendidikan dari tongkat di sebelahku.
Aku terkejut dan menghentikan
pergerakanku. Aku melihat ibu dan ayah yang sedang menangisiku.
“Apa maksud semua ini?” tanyaku pada
raja yang sedari tadi berdiri di depanku.
“Terserah padamu. Kamu ingin memilih
cita-citamu atau membahagiakan kedua orang tuamu.”
“Pilihan macam apa itu? Kau tidak
adil! Tentu aku ingin keduanya. Kamu tidak bisa mempermainkanku seperti ini.
Aku bisa menuntutmu!”
“Tuntutlah aku. Namun, kamu tetap
harus memilih sebelum nyawamu terbangun dua jam lagi. Jika kamu tidak segera
memutuskan suatu pilihan, kamu akan kehilangan dua tongkat itu.”
“Bodoh! Kamu benar-benar bodoh! Tapi
maaf. Aku tidak selemah itu!”
“Ya. Jika kamu tidak lemah, berikan
pilihanmu padaku sekarang. Buktikan! Jangan jadi pengecut!”
Aku berdiam diri sembari melirik
pada orang tuaku yang terus meneriaki namaku. Di sisi lain, aku melihat portal
cita-cita yang penuh dengan kebahagiaan.
“Nak. Sulitkah untuk menuruti
permintaan ibu? Ibu hanya ingin kamu bisa melanjutkan studimu. Itu saja.”
“Iya, Nak. Kami rela membanting
tulang untuk membiayai pendidikanmu.”
“Aku tidak bisa.” ucapku memotong
pembicaraan mereka dan maju di depan wajah raja dengan postur tubuh yang tegak.
“Aku memilih orang tuaku!” teriakku
sembari merusak portal cita-citaku dengan melemparkan kaca ke arahnya.
Aku sakit hati. Aku depresi. Segera
setelah itu aku menatap tajam raja sembari mengancamnya.
“Kembalikan aku!” bisikku dengan
kasar.
“Dikabulkan.”
Kring...kring..
Kini aku mendengar bunyi alarm suatu
ruangan yang jelas-jelas adalah ruanganku. Aku sudah keluar dari mimpiku. Aku
terbangun dengan keringat yang deras di tubuhku. Nafasku tersengal-sengal
sembari melihat banyak lingkaran merahpertanda aku sedang dikejar oleh deadline.
Aku mengepulkan vape untuk
menenangkan tubuhku. Aneka bentuk aku hembuskan sampai memenuhi ruanganku.
Suara perut yang kelaparan tak membuatku luput dari permainan asap ini. Aku
biarkan seluruh asap itu memenuhi tubuhku hingga aku bisa tenang.
Aku melihat tongkat itu kini
terlihat pucat. Berbagai misi tertulis dalam hologram di baliknya. Tentu saja
semua tentang perkuliahan.
Aku memasuki kuliah dengan bekal tas
dan satu lembar kertas kosong. Semua teman-temanku tidak mempedulikan
kehadiranku. Begitu pula aku. Aku tidak mempedulikan siapa yang datang dan
menyapaku. Aku bukanlah Mano yang ceria. Kini, aku adalah Mano yang diam. Semua
tertawa pada sebuah tontonan video untuk mencairkan suasana kelas. Aku tidak
memperhatikannya dan sibuk melukis banyak coretan logo dan desain di laptopku.
Teguran demi teguran tak membuatku takut.
“No, sudah kerja tugas?”
“Bodo amat.” ucapku kesal sembari
meninggalkan kelas.
Aku lagi-lagi mengepulkan asap vape sembari berjalan santai melewati
lorong penuh dosen. Suatu bayangan tiba-tiba muncul dari balik tanganku dan
memunculkan wajah orang tuaku yang terus mengharapkan perubahanku.
“Sial!” umpatku sembari menghilangkan
bayangan hologram itu.
Di bawah pohon cemara, aku bersandar
dan melihat aneka jadwal perkuliahan yang sama sekali tidak menarik
perhatianku.
Bel masuk berbunyi. Aku pun berjalan
sembari menyelesaikan tugasku dengan baik.
“Kamu meningkat pesat semester ini,
No.”
Bukannya tersenyum, aku malah
mengangguk dan langsung pergi dari tatapan dosen itu. Semua teman
terkagum-kagum oleh nilaiku yang mulai meningkat. Namun, aku tetap tidak
bahagia karena itu.
“Gila! Nilai Mano tertinggi. Dia
makan apa ya? Bisa-bisanya mengalahkan kita yang rajin kuliah.”
Aku melewati mereka yang seketika
diam saat melihatku. Aku kembali mengepulkan vape sembari membaca dan mengerjakan beberapa soal dari mata kuliah
hari ini.
“Huh. Untuk apa semua angka ini! Aku
harus membunuh mereka semua sampai pada akarnya!” batinku sembari mengerjakan
tugas-tugas memuakkan itu dengan kasar.
Tak membutuhkan waktu lama aku bisa
menyelesaikan tugas dengan luar biasa. Semua dosen menyanjungku.
“Saya melakukan itu untuk orang tua
saya. Tidak ada yang lain.”
Itulah kata-kata yang aku ucapkan
ketika banyak orang menanyakan keberhasilanku.
Perlahan-lahan aku mulai terbiasa
melakukan berbagai kegiatan yang tidak aku sukai. Aku melawannya dengan
kebencian dan berjanji untuk menghancurkan mereka sampai aku berhasil. Aku
tidak ingin angka-angka bodoh itu berhasil merenggut kebahagiaanku apalagi
kebahagiaan orang tuaku. Itulah motivasiku.
“Kamu tidak apa-apa?” ucap satu
orang wanita yang mampu meluluhkan amarahku.
“Aku tersiksa.”
“Tapi, apakah kamu bahagia jika
orang tuamu tersenyum, No?”
“Lebih dari bahagia.”
“Akankah kamu akhiri?”
“Tidak. Terima kasih.” ucapku
sembari tersenyum pada wanita bergingsul di sebelahku dan memeluknya pelan.
Tiga
tahun kemudian.
“Wow! Akhirnya bisa wisuda.”
Aku terdiam sembari membiarkan
tubuhku dirangkul oleh banyak orang. Aku terpaku melihat ibuku yang menangis
bahagia atas keberhasilanku.
Jujur, aku merasa lega sekarang.
“Terima kasih ya, Nak masih mau
mendengarkan ibu.”
Aku menguatkan diri sembari menahan
air mataku keluar. Aku benar-benar bisa membahagiakan ibuku di keadaan
terpurukku. Ayah pun menepuk pundakku tanpa bisa berkata apa-apa.
“Mas Mano selamat!” banyak
teman-temanku mengapresiasi prestasiku keluar dari kampus memuakkan ini.
Tongkat yang tiba-tiba saja bersinar
membawaku kembali ke dunia mimpi. Ya. Kini aku harus mengembalikannya ke raja.
“Terima kasih atas kesempatan itu.
Aku sekarang sudah berhasil mengembalikan senyum ibu dan ayah” ucapku membuat
raja turun dari tahta dan mendekatiku.
“Terima kasih kembali. Bagaimana
dengan cita-citamu?”
“Aku tidak ingin mengukitnya
kembali. Aku memang harus merelakan tongkat itu.”
“Namun, jika tongkat itu tidak mau
pergi bagaimana?”
Aku membelalakkan kedua mataku.
“Apa maksudmu?”
“Lihat seberapa payah kamu
menghancurkan portal dan merusak tongkat itu, dia tetap utuh dan menunggumu
disana.”
“Maksudmu, aku tetap bisa
mewujudukan cita-citaku?”
“Tentu. Kenapa tidak?”
Aku terdiam cukup lama sembari
melihat tongkat yang tiga tahun lalu berusaha aku ambil.
“Itu hadiahku. Karena kamu mau
mengorbankan keinginan pribadi untuk orang tuamu.”
Aku meneguk pelan air ludahku
sembari mencoba menarik tongkat itu.
“Kenapa semudah ini?” ucapku sembari
terkejut saat mendapati aku berhasil mencabut tongkat itu.
“Karena misimu sudah selesai. Kini,
nikmatilah perjuanganmu selanjutnya.”
“Kau mau kemana?”
“Bersembunyi. Ingatlah Mano.
Cita-cita itu seperti matahari. Walaupun kamu melupakannya, meninggalkannya,
tidak mempedulikan dia, dan tidak memiliki harapan lagi dia tetapa ada di atas
dan bersinar di belakangmu. Tidak ada kata seseorang kehilangan cita-citanya.
Aku akan menjadi matahari itu. Agar kamu ingat, kelak jika kamu merasakan beban
yang sama, kamu menjadi lebih kuat dan bisa bertahan dalam kesukaranmu untuk
kebahagiaan orang lain.”
Seketika itu, raja menghilang dan
aku kembali pada dunia baru dimana aku sedang bekerja di sebuah stasiun
televisi yang menampilkan penampilan seorang penyanyi favoritku yaitu Tulus.
Berbagai tawaran pekerjaan untuk poster dan logo aneka perusahaan memenuhi
kotak pesan di ponselku. Komunitas desain kompleks yang aku dambakan kini sudah
sukses dan menembus hingga manca negara. Seusai pulang dari kesibukan itu, aku
melihat seorang wanita sedang menungguku di depan pintu rumah.
“Itukah istriku?” ucapku melihat
wanita bergingsul itu kini menyapaku dengan hangat di depan latar.