foto : Flickr             Brak!             “Tidak bisa! Ini tidak adil!”             Dengan keras kepala, Mano mencoba mencabut ...

Senyuman Ibu

/
0 Comments


foto : Flickr

            Brak!
            “Tidak bisa! Ini tidak adil!”
            Dengan keras kepala, Mano mencoba mencabut tongkat sesuai dengan pilihannya. Seluruh tenaga  ia kerahkan tak membuat tongkat itu bergerak. Ia memukul-mukul tongkat itu dengan tangannya hingga bercucuran berdarah dengan hebat.
            “Apa yang kamu lakukan!” teriak seorang Raja pemilik istana dimana ia berdiri saat ini.
            Mano terkejut sembari menampar diriku bahwa aku benar-benar berada di dunia mimpiku.
            “Apa yang kamu lakukan hingga terluka?”
            “Apa maksud kehadiran dua tongkat ini. Tongkat berwarna biru sudah jelas-jelas dapat membawaku ke portal menuju cita-citaku. Mengapa aku tidak bisa membawanya!” teriakku sembari terus menarik tongkat itu.
            “Tidak semudah itu. Lihatlah tongkat di sebelah kananmu.”
            “Apa yang menarik? Aku sudah menjauhkannya dan aku tidak menginginkannya!”
            “Nak.” ucap seorang wanita dari balik portal pendidikan dari tongkat di sebelahku.
            Aku terkejut dan menghentikan pergerakanku. Aku melihat ibu dan ayah yang sedang menangisiku.
            “Apa maksud semua ini?” tanyaku pada raja yang sedari tadi berdiri di depanku.
            “Terserah padamu. Kamu ingin memilih cita-citamu atau membahagiakan kedua orang tuamu.”
            “Pilihan macam apa itu? Kau tidak adil! Tentu aku ingin keduanya. Kamu tidak bisa mempermainkanku seperti ini. Aku bisa menuntutmu!”
            “Tuntutlah aku. Namun, kamu tetap harus memilih sebelum nyawamu terbangun dua jam lagi. Jika kamu tidak segera memutuskan suatu pilihan, kamu akan kehilangan dua tongkat itu.”
            “Bodoh! Kamu benar-benar bodoh! Tapi maaf. Aku tidak selemah itu!”
            “Ya. Jika kamu tidak lemah, berikan pilihanmu padaku sekarang. Buktikan! Jangan jadi pengecut!”
            Aku berdiam diri sembari melirik pada orang tuaku yang terus meneriaki namaku. Di sisi lain, aku melihat portal cita-cita yang penuh dengan kebahagiaan.
            “Nak. Sulitkah untuk menuruti permintaan ibu? Ibu hanya ingin kamu bisa melanjutkan studimu. Itu saja.”
            “Iya, Nak. Kami rela membanting tulang untuk membiayai pendidikanmu.”
            “Aku tidak bisa.” ucapku memotong pembicaraan mereka dan maju di depan wajah raja dengan postur tubuh yang tegak.
            “Aku memilih orang tuaku!” teriakku sembari merusak portal cita-citaku dengan melemparkan kaca ke arahnya.
            Aku sakit hati. Aku depresi. Segera setelah itu aku menatap tajam raja sembari mengancamnya.
            “Kembalikan aku!” bisikku dengan kasar.
            “Dikabulkan.”
            Kring...kring..
            Kini aku mendengar bunyi alarm suatu ruangan yang jelas-jelas adalah ruanganku. Aku sudah keluar dari mimpiku. Aku terbangun dengan keringat yang deras di tubuhku. Nafasku tersengal-sengal sembari melihat banyak lingkaran merah  pertanda aku sedang dikejar oleh deadline. Aku mengepulkan vape untuk menenangkan tubuhku. Aneka bentuk aku hembuskan sampai memenuhi ruanganku. Suara perut yang kelaparan tak membuatku luput dari permainan asap ini. Aku biarkan seluruh asap itu memenuhi tubuhku hingga aku bisa tenang.
            Aku melihat tongkat itu kini terlihat pucat. Berbagai misi tertulis dalam hologram di baliknya. Tentu saja semua tentang perkuliahan.
            Aku memasuki kuliah dengan bekal tas dan satu lembar kertas kosong. Semua teman-temanku tidak mempedulikan kehadiranku. Begitu pula aku. Aku tidak mempedulikan siapa yang datang dan menyapaku. Aku bukanlah Mano yang ceria. Kini, aku adalah Mano yang diam. Semua tertawa pada sebuah tontonan video untuk mencairkan suasana kelas. Aku tidak memperhatikannya dan sibuk melukis banyak coretan logo dan desain di laptopku. Teguran demi teguran tak membuatku takut.
            “No, sudah kerja tugas?”
            “Bodo amat.” ucapku kesal sembari meninggalkan kelas.
            Aku lagi-lagi mengepulkan asap vape sembari berjalan santai melewati lorong penuh dosen. Suatu bayangan tiba-tiba muncul dari balik tanganku dan memunculkan wajah orang tuaku yang terus mengharapkan perubahanku.
            “Sial!” umpatku sembari menghilangkan bayangan hologram itu.
            Di bawah pohon cemara, aku bersandar dan melihat aneka jadwal perkuliahan yang sama sekali tidak menarik perhatianku.
            Bel masuk berbunyi. Aku pun berjalan sembari menyelesaikan tugasku dengan baik.
            “Kamu meningkat pesat semester ini, No.”
            Bukannya tersenyum, aku malah mengangguk dan langsung pergi dari tatapan dosen itu. Semua teman terkagum-kagum oleh nilaiku yang mulai meningkat. Namun, aku tetap tidak bahagia karena itu.
            “Gila! Nilai Mano tertinggi. Dia makan apa ya? Bisa-bisanya mengalahkan kita yang rajin kuliah.”
            Aku melewati mereka yang seketika diam saat melihatku. Aku kembali mengepulkan vape sembari membaca dan mengerjakan beberapa soal dari mata kuliah hari ini.
            “Huh. Untuk apa semua angka ini! Aku harus membunuh mereka semua sampai pada akarnya!” batinku sembari mengerjakan tugas-tugas memuakkan itu dengan kasar.
            Tak membutuhkan waktu lama aku bisa menyelesaikan tugas dengan luar biasa. Semua dosen menyanjungku.
            “Saya melakukan itu untuk orang tua saya. Tidak ada yang lain.”
            Itulah kata-kata yang aku ucapkan ketika banyak orang menanyakan keberhasilanku.
            Perlahan-lahan aku mulai terbiasa melakukan berbagai kegiatan yang tidak aku sukai. Aku melawannya dengan kebencian dan berjanji untuk menghancurkan mereka sampai aku berhasil. Aku tidak ingin angka-angka bodoh itu berhasil merenggut kebahagiaanku apalagi kebahagiaan orang tuaku. Itulah motivasiku.
            “Kamu tidak apa-apa?” ucap satu orang wanita yang mampu meluluhkan amarahku.
            “Aku tersiksa.”
            “Tapi, apakah kamu bahagia jika orang tuamu tersenyum, No?”
            “Lebih dari bahagia.”
            “Akankah kamu akhiri?”
            “Tidak. Terima kasih.” ucapku sembari tersenyum pada wanita bergingsul di sebelahku dan memeluknya pelan.
            Tiga tahun kemudian.
            “Wow! Akhirnya bisa wisuda.”
            Aku terdiam sembari membiarkan tubuhku dirangkul oleh banyak orang. Aku terpaku melihat ibuku yang menangis bahagia atas keberhasilanku.
            Jujur, aku merasa lega sekarang.
            “Terima kasih ya, Nak masih mau mendengarkan ibu.”
            Aku menguatkan diri sembari menahan air mataku keluar. Aku benar-benar bisa membahagiakan ibuku di keadaan terpurukku. Ayah pun menepuk pundakku tanpa bisa berkata apa-apa.
            “Mas Mano selamat!” banyak teman-temanku mengapresiasi prestasiku keluar dari kampus memuakkan ini.
            Tongkat yang tiba-tiba saja bersinar membawaku kembali ke dunia mimpi. Ya. Kini aku harus mengembalikannya ke raja.
            “Terima kasih atas kesempatan itu. Aku sekarang sudah berhasil mengembalikan senyum ibu dan ayah” ucapku membuat raja turun dari tahta dan mendekatiku.
            “Terima kasih kembali. Bagaimana dengan cita-citamu?”
            “Aku tidak ingin mengukitnya kembali. Aku memang harus merelakan tongkat itu.”
            “Namun, jika tongkat itu tidak mau pergi bagaimana?”
            Aku membelalakkan kedua mataku.
            “Apa maksudmu?”
            “Lihat seberapa payah kamu menghancurkan portal dan merusak tongkat itu, dia tetap utuh dan menunggumu disana.”
            “Maksudmu, aku tetap bisa mewujudukan cita-citaku?”
            “Tentu. Kenapa tidak?”
            Aku terdiam cukup lama sembari melihat tongkat yang tiga tahun lalu berusaha aku ambil.
            “Itu hadiahku. Karena kamu mau mengorbankan keinginan pribadi untuk orang tuamu.”
            Aku meneguk pelan air ludahku sembari mencoba menarik tongkat itu.
            “Kenapa semudah ini?” ucapku sembari terkejut saat mendapati aku berhasil mencabut tongkat itu.
            “Karena misimu sudah selesai. Kini, nikmatilah perjuanganmu selanjutnya.”
            “Kau mau kemana?”
            “Bersembunyi. Ingatlah Mano. Cita-cita itu seperti matahari. Walaupun kamu melupakannya, meninggalkannya, tidak mempedulikan dia, dan tidak memiliki harapan lagi dia tetapa ada di atas dan bersinar di belakangmu. Tidak ada kata seseorang kehilangan cita-citanya. Aku akan menjadi matahari itu. Agar kamu ingat, kelak jika kamu merasakan beban yang sama, kamu menjadi lebih kuat dan bisa bertahan dalam kesukaranmu untuk kebahagiaan orang lain.”
            Seketika itu, raja menghilang dan aku kembali pada dunia baru dimana aku sedang bekerja di sebuah stasiun televisi yang menampilkan penampilan seorang penyanyi favoritku yaitu Tulus. Berbagai tawaran pekerjaan untuk poster dan logo aneka perusahaan memenuhi kotak pesan di ponselku. Komunitas desain kompleks yang aku dambakan kini sudah sukses dan menembus hingga manca negara. Seusai pulang dari kesibukan itu, aku melihat seorang wanita sedang menungguku di depan pintu rumah.
            “Itukah istriku?” ucapku melihat wanita bergingsul itu kini menyapaku dengan hangat di depan latar.
            “Nak.” sapa ibuku sembari memelukku dengan haru.
            “Apakah ini masa depanku?”
             




Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.
Powered By Blogger