“Pergi!” teriakku sembari mengusir
teman-temanku yang bermain hujan-hujanan untuk memeriahkan ulang tahunku.
Aku merasakan sesak yang luar biasa.
Keringat deras bercucuran dengan tidak setengah-tengah. Aku ketakutan. Semua
tetesan air hujan itu seakan mengatakan bahwa ia akan mengambil nyawa seseorang
yang melewatinya. Aku terus memukul kepalaku yang terasa sangat sakit. Aku
merasakan jantungku yang berdebar sangat hebat. Semua radio aku nyalakan dengan
volume yang sangat keras. Selimut aku ikat erat sehingga aku hanya bisa mendengar
suara musik.
“Ani!” suara Galih kembali
menakut-nakutiku.
“Pergi!” teriakku sembari melempar
perabotan makanku ke luar rumah.
Aku mendengar banyak temanku
mengeluh karena perbuatanku.
“Ani, ini aku Galih. Kamu baik-baik
saja?”
Aku keluar rumah dengan menamparnya
dan mendorongnya hingga kepalanya mengenai meja kaca di teras depan rumah. Aku
sangat ketakutan dan langsung meninggalkannya seperti itu tanpa perkataan maaf.
Kini, aku hanya ingin mereka pergi dan hujan malam ini juga lenyap.
“Aaa!!!” teriakku bersamaan dengan
guntur yang tiba-tiba menggelegar.
“Pergi!! Semua pergi!!” teriakku
hingga menangis.
Ibu dan ayah mengetahui keadaanku
dan segera menenangkanku. Mereka menutup semua jendela dan memberikanku obat
penenang. Aku pun kini sudah bisa terlelap dan tidak dapat mendengar apapun.
Pagi-pagi benar aku mempersiapkan
kuliahku dan menuju teras rumah untuk menyirami tanamanku. Saat aku keluar
rumah, aku melihat Galih dengan pipi yang diperban tersenyum melihatku. Aku
berusaha mendekatinya perlahan.
Aku hanya terdiam dan melihat
pipinya yang terlihat sangat sakit.
“Selamat ulang tahun, Ani.” lanjutnya
tanpa mempedulikan kesungkananku.
Tiba-tiba seorang petani dengan
cangkul lewat di depan rumahku. Mendekat. Dan semakin dekat. Aku sontak
bersembunyi di belakang Galih. Hingga petani itu pergi dengan mata yang
melotot.
“Itu siapa?”
“Aku tidak tahu. Selama seminggu
ini, dia selalu lewat di depan rumah dengan tatapan mengerikan seperti itu.”
Aku pun menjauhi Galih sembari
mempersilakannya masuk menuju ruang tamu.
“Aku minta maaf.”
“Untuk apa? Segeralah bergegas. Kamu
masih ada urusan dengan dosen itu kan?”
“Baiklah.” balasku sembari terkejut
saat tiba-tiba petani itu muncul di balik jendela kamarku.
Aku bergetar dan berlari
terbirit-birit.
Di perjalanan, aku membisu. Aku
biarkan Galih bercerita panjang lebar. Tetesan air dari pohon mengenai kepalaku.
Sontak, aku langsung berteriak dan menarik kerah Galih hingga terjatuh dari
motor. Aku memegang kakinya dan terus menutup kedua telingaku dengan sangat
ketakutan.
“Ani? Kamu kenapa?” tanya Galih
sembari memperbaiki posisi motornya yang berputar 90 derajat.
“Hujan.”
“Tidak ada hujan. Itu hanya tetesan
dari pohon.”
Aku memberanikan diri untuk membuka
mata dan melihat semuanya tidak seseram apa yang aku bayangkan. Aku pun menaiki
motornya dan berlagak normal seperti sedia kala.
Aku menunduk sembari terus berusaha
melepaskan tangan Galih.
Plak!
“Dengar! Mereka semua membenciku!
Kamu tidak perlu berlagak seperti pangeran!” teriakku sembari menampar Galih
dengan sangat kasar.
“Itu apa yang mereka pikirkan. Aku
sama sekali tidak berpikiran demikian.”
“Kamu pembohong! Kamu sama seperti
mereka! Berusaha untuk terlihat baik di depanku lalu menusukku dari belakang.”
“Mengapa kamu berpikiran seperti
itu?”
“Kamu pembohong! Kamu penghianat dan
semua yang kamu lakukan terhadapku adalah ilusiku bukan ketulusanmu!”
“Jika kamu tidak tahu tentang kata
tulus tolong jangan menghakimi dirimu sendiri untuk menyalahkanku!” teriak
Galih sembari berlalu dariku.
Aku terkejut melihatnya marah dan
meninggalkanku. Seketika, petani dengan cangkul itu datang dan mendekati. Kini
ia berdiri lebih tinggi dengan mulut yang terbuka lebar dan busuk.
Aku berlari dan mengurungkan diri di
perpustakaan.
“Ani kenapa?”
“Tidak apa-apa, Bu.”
“Eh, Ani. Ibu minta tolong kamu
lukiskan perumahan Ibu ini bisa? Nanti Ibu bayar.”
Kini aku memiliki kesibukan sehingga
tak perlu bersusah payah untuk bersembunyi.
“Kemana Ani?”
“Tidak tahu. Sudahlah jangan
bicarakan itu.”
Aku pun mengalihkan pandanganku dan
melihat Galih bersama teman-temannya masuk ke perpustakaan. Dengan percaya
diri, aku pun mempersibuk diriku tanpa melihatnya yang sekarang duduk di
sebelahku.
“Terserah mau kamu makan atau tidak.”
ucapnya sembari memberikan roti isi keju padaku.
Aku pun menatapnya. Dia sama sekali
tidak menatapku. Dengan segera, aku menyelesaikan lukisan perumahan milik Ibu
Eli, seorang penjaga perpus. Saat selesai, aku melihat lukisan itu bergerak.
Gambaran yang sempurna tentang perumahan yang sederhana dimana masih terdapat
aneka pedagang yang berlalu lalang memenuhi jalanan kota. Semua gambaran yang
aku pikirkan terwujud dalam lukisanku ini.
“Wah! Bagus sekali, Nak. Ibu jadi
bisa bernostalgia jika tidak bisa pulang kampung. Terima kasih ya.” balas Ibu
Eli sembari mengecup keningku.
Aku masih melihat Galih di
sampingku.
“Aku minta maaf.”
“Aku tidak bisa marah denganmu.
Untuk apa minta maaf? Aku hanya kecewa.”
“Iya. Seharusnya kata-kata itu
untukku bukan untukmu.”
“Terima kasih karena sudah sadar
dengan kesalahanmu.”
Aku tersenyum.
Tibanya kami di depan gerbang. Kini,
petani itu kembali muncul menanti kehadiranku di depan gerbang yang hendak
mencangkul wajahku.
“Kamu pakai mantel ya.”
“Untuk apa?”
“Sudahlah. Menurut saja.”
Aku pun menurut. Tanpa disangka saat
aku menoleh ke arah gerbang, petani itu sudah hilang. Aku menghembuskan pelan nafasku
dan menikmati perjalananku dengan Galih. Aku tidak menyangka bahwa Galih
mengajakku untuk bercengkerama di sebuah restoran yang sangat tertutup. Suasana
di dalam sangat nyaman dan alunan musik lembut memenuhi ruangan.
“Aku yang traktir.” ucap Galih
sembari memesankan makanan dan melunasi semua pembayaran.
Aku mengangguk dan terkejut saat
melihat dua orang pasangan masuk dengan mantel yang basah kuyub. Aku pun
menahan diriku untuk tidak berteriak dengan bersembunyi di bawah meja sembari
menggigit bajuku kuat-kuat.
“Ani?”
Aku menarik celana Galih sembari meminta
tolong untuk segera menenangkanku.
“Mas? Mbaknya tidak apa-apa?”
Seketika semua hening. Menatap
malang wajahku yang sangat pucat. Aku pun duduk dengan hampir tidak sadar.
Galih mengusap keningku dan menghangatkan tanganku.
“Tidak apa-apa. Dia hanya kelelahan
saja.”
Semua kembali normal. Aku hanya bisa
menatap kosong Galih yang sama sekali tidak keberatan memiliki teman sepertiku.
“Ombrophobia. Benar?”
Aku mendongak dan melihat Galih
dalam kondisi yang sudah sadar.
“Bagiamana kamu tahu?”
“Ketika hujan, kamu merasa
ketakutan. Kamu terus berteriak dan sesak nafas. Lalu, jantungmu berdebar.
Tetesan air hujan itu seakan menerkam tubuh semua orang yang terkana
tetesannya. Dan satu-satunya jalan adalah berlindung agar tidak basah dan tidak
mendengar rintikannya. Petir itu bagaikan cambukan yang menakutkan sehingga
membuatmu hampir pingsan. Benar begitu?”
Aku menunduk dan meminum coklat
panas di depanku.
“Mengapa hal itu bisa terjadi
padamu?”
Aku tak banyak bercerita. Aku
melukiskan kejadian satu tahun yang lalu dimana aku kehilangan seorang temanku
karena sebuah badai besar menerjang kota tempat tinggalku dulu. Semua terbabat
habis hingga sahabatku pun ikut lenyap. Semua terjadi begitu cepat. Tepat saat
aku merayakan hari ulang tahunku. Sahabat yang sangat menyayangiku kini sudah
tertelan badai raksasa yang mengerikan. Ketakutanku itu membuatku selama ini mengalami
phobia aneh itu.
“Asalmu bukan dari sini?”
“Bukan.”
“Lalu? Petani itu?”
“Aku baru saja mengenalnya. Dia
adalah orang tua dari sahabatku yang sudah meninggal satu tahun yang lalu. Dia
merasa tidak terima bahwa anaknya telah tiada. Ia menjadi gila dan tidak waras.
Dia terus menuduhku bahwa akulah pembunuh anaknya. Aku terus membela namun ia
malah melukaiku. Itulah ceritaku.”
“Apakah dia sudah aman?”
“Sudah berada di rumah sakit.”
Galih terdiam cukup lama. Aku merasa
malu menceritakan phobia yang sangat aneh ini. Aku pun melihat Galih yang
menarikku.
“Gigit aku jika kamu tidak kuat.”
Aku bingung dengan perkataannya.
Tiba-tiba, dia menarikku. Lalu perlahan membuka pintu restoran dan hujan deras
berada tepat di hadapanku. Aku spontan berteriak dan mengigit tangan Galih
hingga terluka parah dan limbung.
“Ani! Dengar aku!”
Aku tidak bisa mendengar siapapun
kecuali debaran jantungku dan nafas yang tersengal-sengal. Aku sangat tersiksa.
“Aku tidak akan membiarkanmu terus
menderita. Lihat aku!”
Aku pun terus berusaha bernafas dan
melihat Galih yang terlihat buram.
“Ingat aku. Kini, kamu tidak akan kehilangan
orang yang menyayangimu di tengah hujan.” ucap Galih sembari menarikku menuju
ke tengah hujan hingga membasahi tubuhku.
Aku terdiam sembari melihat sebuah
cincin bersarang di jemariku.
“Kini, memorimu tentang hujan
bukanlah sesuatu yang ditakutkan melainkan sesuatu yang kamu rindukan. Lihat,
kamu bisa membasahi dirimu dengan hujan.”
Aku terkejut. Aku sama sekali tidak
takut dengan hujan. Bayanganku berubah bukan tentang sahabatku yang meninggal
tetapi tentang sahabatku yang mengajakku menari di saat hujan tiba. Aku
tersenyum. Aku merangkul Galih dan menangis bahagia.
“Aku tahu. Phobia bisa saja
menghabisimu. Tetapi tekad dan keyakinanmulah yang mampu menaklukanmu.”
“Mengapa kamu terus baik padahal aku
terus melukaimu?”
“Itu hanyalah cara sederhanaku untuk
menghargaimu. Cukup itu. Setidaknya kini tidak akan ada yang membencimu dan
bisakah aku membuat kejutan ulang tahunmu sekali lagi?”
“Tentu.”
Aku bersyukur telah menemukan teman
sejati sekaligus butiran kebahagiaanku yang sudah hilang selama ini.