Story request : Anonim Foto : Flickr             “Pergi!” teriakku sembari mengusir teman-temanku yang bermain hujan-hujanan untuk ...

Phobia Terakhir

/
0 Comments



Story request : Anonim
Foto : Flickr

            “Pergi!” teriakku sembari mengusir teman-temanku yang bermain hujan-hujanan untuk memeriahkan ulang tahunku.
            Aku merasakan sesak yang luar biasa. Keringat deras bercucuran dengan tidak setengah-tengah. Aku ketakutan. Semua tetesan air hujan itu seakan mengatakan bahwa ia akan mengambil nyawa seseorang yang melewatinya. Aku terus memukul kepalaku yang terasa sangat sakit. Aku merasakan jantungku yang berdebar sangat hebat. Semua radio aku nyalakan dengan volume yang sangat keras. Selimut aku ikat erat sehingga aku hanya bisa mendengar suara musik.
            “Ani!” suara Galih kembali menakut-nakutiku.
            “Pergi!” teriakku sembari melempar perabotan makanku ke luar rumah.
            Aku mendengar banyak temanku mengeluh karena perbuatanku.
            “Ani, ini aku Galih. Kamu baik-baik saja?”
            Aku keluar rumah dengan menamparnya dan mendorongnya hingga kepalanya mengenai meja kaca di teras depan rumah. Aku sangat ketakutan dan langsung meninggalkannya seperti itu tanpa perkataan maaf. Kini, aku hanya ingin mereka pergi dan hujan malam ini juga lenyap.
            “Aaa!!!” teriakku bersamaan dengan guntur yang tiba-tiba menggelegar.
            “Pergi!! Semua pergi!!” teriakku hingga menangis.
            Ibu dan ayah mengetahui keadaanku dan segera menenangkanku. Mereka menutup semua jendela dan memberikanku obat penenang. Aku pun kini sudah bisa terlelap dan tidak dapat mendengar apapun.
            Pagi-pagi benar aku mempersiapkan kuliahku dan menuju teras rumah untuk menyirami tanamanku. Saat aku keluar rumah, aku melihat Galih dengan pipi yang diperban tersenyum melihatku. Aku berusaha mendekatinya perlahan.
            “Selamat pagi.” ucapnya sembari mengelus rambutku.
            Aku hanya terdiam dan melihat pipinya yang terlihat sangat sakit.
            “Selamat ulang tahun, Ani.” lanjutnya tanpa mempedulikan kesungkananku.
            Tiba-tiba seorang petani dengan cangkul lewat di depan rumahku. Mendekat. Dan semakin dekat. Aku sontak bersembunyi di belakang Galih. Hingga petani itu pergi dengan mata yang melotot.
            “Itu siapa?”
            “Aku tidak tahu. Selama seminggu ini, dia selalu lewat di depan rumah dengan tatapan mengerikan seperti itu.”
            Aku pun menjauhi Galih sembari mempersilakannya masuk menuju ruang tamu.
            “Aku minta maaf.”
            “Untuk apa? Segeralah bergegas. Kamu masih ada urusan dengan dosen itu kan?”
            “Baiklah.” balasku sembari terkejut saat tiba-tiba petani itu muncul di balik jendela kamarku.
            Aku bergetar dan berlari terbirit-birit.
            Di perjalanan, aku membisu. Aku biarkan Galih bercerita panjang lebar. Tetesan air dari pohon mengenai kepalaku. Sontak, aku langsung berteriak dan menarik kerah Galih hingga terjatuh dari motor. Aku memegang kakinya dan terus menutup kedua telingaku dengan sangat ketakutan.
            “Ani? Kamu kenapa?” tanya Galih sembari memperbaiki posisi motornya yang berputar 90 derajat.
            “Hujan.”
            “Tidak ada hujan. Itu hanya tetesan dari pohon.”
            Aku memberanikan diri untuk membuka mata dan melihat semuanya tidak seseram apa yang aku bayangkan. Aku pun menaiki motornya dan berlagak normal seperti sedia kala.
            Tatapan sinis teman-temanku membuatku menjauhi Galih.
            “Kenapa cepat sekali?” ucap Galih yang mengejarku.
            “Jangan dekati aku. Mereka sudah terlanjur kecewa padaku.”
            “Sudahlah.” ucap Galih sembari menggandeng tanganku.
            “Hati-hati dilempar panci, Lih!”
            “Dasar temen tidak tahu diri!”
            “Emosional!”
            Aku menunduk sembari terus berusaha melepaskan tangan Galih.
            Plak!
            “Dengar! Mereka semua membenciku! Kamu tidak perlu berlagak seperti pangeran!” teriakku sembari menampar Galih dengan sangat kasar.
            “Itu apa yang mereka pikirkan. Aku sama sekali tidak berpikiran demikian.”
            “Kamu pembohong! Kamu sama seperti mereka! Berusaha untuk terlihat baik di depanku lalu menusukku dari belakang.”           
            “Mengapa kamu berpikiran seperti itu?”
            “Kamu pembohong! Kamu penghianat dan semua yang kamu lakukan terhadapku adalah ilusiku bukan ketulusanmu!”
            “Jika kamu tidak tahu tentang kata tulus tolong jangan menghakimi dirimu sendiri untuk menyalahkanku!” teriak Galih sembari berlalu dariku.
            Aku terkejut melihatnya marah dan meninggalkanku. Seketika, petani dengan cangkul itu datang dan mendekati. Kini ia berdiri lebih tinggi dengan mulut yang terbuka lebar dan busuk.
            Aku berlari dan mengurungkan diri di perpustakaan.
            “Ani kenapa?”
            “Tidak apa-apa, Bu.”
            “Eh, Ani. Ibu minta tolong kamu lukiskan perumahan Ibu ini bisa? Nanti Ibu bayar.”
            “Tidak usah bayar, Bu. Siap laksanakan!” ucapku menutupi kesedihanku.
            Kini aku memiliki kesibukan sehingga tak perlu bersusah payah untuk bersembunyi.
            “Kemana Ani?”
            “Tidak tahu. Sudahlah jangan bicarakan itu.”
            Aku pun mengalihkan pandanganku dan melihat Galih bersama teman-temannya masuk ke perpustakaan. Dengan percaya diri, aku pun mempersibuk diriku tanpa melihatnya yang sekarang duduk di sebelahku.
            “Terserah mau kamu makan atau tidak.” ucapnya sembari memberikan roti isi keju padaku.
            Aku pun menatapnya. Dia sama sekali tidak menatapku. Dengan segera, aku menyelesaikan lukisan perumahan milik Ibu Eli, seorang penjaga perpus. Saat selesai, aku melihat lukisan itu bergerak. Gambaran yang sempurna tentang perumahan yang sederhana dimana masih terdapat aneka pedagang yang berlalu lalang memenuhi jalanan kota. Semua gambaran yang aku pikirkan terwujud dalam lukisanku ini.
            “Wah! Bagus sekali, Nak. Ibu jadi bisa bernostalgia jika tidak bisa pulang kampung. Terima kasih ya.” balas Ibu Eli sembari mengecup keningku.
            Aku masih melihat Galih di sampingku.
            “Aku minta maaf.”
            “Aku tidak bisa marah denganmu. Untuk apa minta maaf? Aku hanya kecewa.”
            “Iya. Seharusnya kata-kata itu untukku bukan untukmu.”
            “Terima kasih karena sudah sadar dengan kesalahanmu.”
            Aku tersenyum.
            Tibanya kami di depan gerbang. Kini, petani itu kembali muncul menanti kehadiranku di depan gerbang yang hendak mencangkul wajahku.
            “Kamu pakai mantel ya.”
            “Untuk apa?”
            “Sudahlah. Menurut saja.”
            Aku pun menurut. Tanpa disangka saat aku menoleh ke arah gerbang, petani itu sudah hilang. Aku menghembuskan pelan nafasku dan menikmati perjalananku dengan Galih. Aku tidak menyangka bahwa Galih mengajakku untuk bercengkerama di sebuah restoran yang sangat tertutup. Suasana di dalam sangat nyaman dan alunan musik lembut memenuhi ruangan.
            “Aku yang traktir.” ucap Galih sembari memesankan makanan dan melunasi semua pembayaran.  
            Aku mengangguk dan terkejut saat melihat dua orang pasangan masuk dengan mantel yang basah kuyub. Aku pun menahan diriku untuk tidak berteriak dengan bersembunyi di bawah meja sembari menggigit bajuku kuat-kuat.
            “Ani?”
            Aku menarik celana Galih sembari meminta tolong untuk segera menenangkanku.
            “Mas? Mbaknya tidak apa-apa?”
            Seketika semua hening. Menatap malang wajahku yang sangat pucat. Aku pun duduk dengan hampir tidak sadar. Galih mengusap keningku dan menghangatkan tanganku.
            “Tidak apa-apa. Dia hanya kelelahan saja.”
            Semua kembali normal. Aku hanya bisa menatap kosong Galih yang sama sekali tidak keberatan memiliki teman sepertiku.
            “Ombrophobia. Benar?”
            Aku mendongak dan melihat Galih dalam kondisi yang sudah sadar.
            “Bagiamana kamu tahu?”
            “Ketika hujan, kamu merasa ketakutan. Kamu terus berteriak dan sesak nafas. Lalu, jantungmu berdebar. Tetesan air hujan itu seakan menerkam tubuh semua orang yang terkana tetesannya. Dan satu-satunya jalan adalah berlindung agar tidak basah dan tidak mendengar rintikannya. Petir itu bagaikan cambukan yang menakutkan sehingga membuatmu hampir pingsan. Benar begitu?”
            Aku menunduk dan meminum coklat panas di depanku.
            “Mengapa hal itu bisa terjadi padamu?”
            Aku tak banyak bercerita. Aku melukiskan kejadian satu tahun yang lalu dimana aku kehilangan seorang temanku karena sebuah badai besar menerjang kota tempat tinggalku dulu. Semua terbabat habis hingga sahabatku pun ikut lenyap. Semua terjadi begitu cepat. Tepat saat aku merayakan hari ulang tahunku. Sahabat yang sangat menyayangiku kini sudah tertelan badai raksasa yang mengerikan. Ketakutanku itu membuatku selama ini mengalami phobia aneh itu.
            “Asalmu bukan dari sini?”
            “Bukan.”
            “Lalu? Petani itu?”
            “Aku baru saja mengenalnya. Dia adalah orang tua dari sahabatku yang sudah meninggal satu tahun yang lalu. Dia merasa tidak terima bahwa anaknya telah tiada. Ia menjadi gila dan tidak waras. Dia terus menuduhku bahwa akulah pembunuh anaknya. Aku terus membela namun ia malah melukaiku. Itulah ceritaku.”
            “Apakah dia sudah aman?”
            “Sudah berada di rumah sakit.”
            Galih terdiam cukup lama. Aku merasa malu menceritakan phobia yang sangat aneh ini. Aku pun melihat Galih yang menarikku.           
            “Gigit aku jika kamu tidak kuat.”
            Aku bingung dengan perkataannya. Tiba-tiba, dia menarikku. Lalu perlahan membuka pintu restoran dan hujan deras berada tepat di hadapanku. Aku spontan berteriak dan mengigit tangan Galih hingga terluka parah dan limbung.
            “Ani! Dengar aku!”
            Aku tidak bisa mendengar siapapun kecuali debaran jantungku dan nafas yang tersengal-sengal. Aku sangat tersiksa.
            “Aku tidak akan membiarkanmu terus menderita. Lihat aku!”
            Aku pun terus berusaha bernafas dan melihat Galih yang terlihat buram.
            “Ingat aku. Kini, kamu tidak akan kehilangan orang yang menyayangimu di tengah hujan.” ucap Galih sembari menarikku menuju ke tengah hujan hingga membasahi tubuhku.
            Aku terdiam sembari melihat sebuah cincin bersarang di jemariku.
            “Kini, memorimu tentang hujan bukanlah sesuatu yang ditakutkan melainkan sesuatu yang kamu rindukan. Lihat, kamu bisa membasahi dirimu dengan hujan.”
            Aku terkejut. Aku sama sekali tidak takut dengan hujan. Bayanganku berubah bukan tentang sahabatku yang meninggal tetapi tentang sahabatku yang mengajakku menari di saat hujan tiba. Aku tersenyum. Aku merangkul Galih dan menangis bahagia.
            “Aku tahu. Phobia bisa saja menghabisimu. Tetapi tekad dan keyakinanmulah yang mampu menaklukanmu.”
            “Mengapa kamu terus baik padahal aku terus melukaimu?”
            “Itu hanyalah cara sederhanaku untuk menghargaimu. Cukup itu. Setidaknya kini tidak akan ada yang membencimu dan bisakah aku membuat kejutan ulang tahunmu sekali lagi?”
            “Tentu.”
            Aku bersyukur telah menemukan teman sejati sekaligus butiran kebahagiaanku yang sudah hilang selama ini.
            Terima kasih, Galih.




Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.
Powered By Blogger