(Lanjutan dari ‘Aku Bukan Lagi Hujan’) Story Request : Kak Edward Foto: Flickr             “Hati-hati”             Perayaan N...

Kejutan Kosong

/
2 Comments



 (Lanjutan dari ‘Aku Bukan Lagi Hujan’)
Story Request : Kak Edward
Foto: Flickr

            “Hati-hati”
            Perayaan Natal yang hampa tanpa kehadiran seorang wanita di hidupku membuatku sedikit lengang. Aku melihat bapak tertawa sembari bersemangat mengedarkan jajanan ke semua tamu. Aku menjadi tersenyum karenanya.
            “Ini buat Joseph.”
            “Makasih, Pak.”
            “Dimana dia, Nak?”
            “Natalan di Kampung halamannya, Pak.”
            “Titipkan salam buat dia ya. Bapak mau keliling dulu. Kamu jaga rumah ya, Le.”
            Aku pun mengangguk sembari menunggu Bapak sampai tak terlihat dari jalanan. Aku memasuki rumah sembari membuka kado Joseph yang berisikan aneka foto sejak awal kami bertemu hingga sekarang. Ucapan yang terus aku abadikan dalam kenangan di memoriku tak menyurutkan keinginanku untuk membingkainya dan meriasnya dengan aneka lampu tumblr masa kini. Hal ini aku lakukan agar meskipun di dalam gelap, aku bisa mengingatnya.
            “Besok lusa aku pulang. Tapi aku belum bisa menemuimu karena aku harus masuk kerja.”
            “Hati-hati.”
            Ibarat pendekar, samurai adalah senjata mereka. Namun, kini dua kata itulah yang menjadi senjataku.
            Hadiah-hadiah sederhana itu mampu membuatku sebahagia ini. Kebaikan seorang Joseph tak menutup kemungkinan untukku memberikan hadiah yang lebih bukan? Itu adalah salah satu keinginanku jika pada akhirnya aku tak bisa meraih apa yang menjadi pelengkap kehidupanku.
            Perayaan tahun baru yang sangat ramai. Berbagai pengunjung datang untuk menghadiri makrab dengan aneka kostum dari yang formal hingga rumahan. Big Movies yang menjadi langganan trendi ditayangkan hingga mentari menyambut tahun yang baru.
            “Hai!” teriak Joseph sembari mendekatiku.
            Aku terdiam sembari membiarkan dadaku bergetar. Aku tersenyum dan mempersilakannya untuk duduk di tempat yang aku sediakan.
            “Meriah sekali ya?”
            “Ya begitulah.”
            “Kamu yang menghandle acara ini?”
            “Iya. Kebetulan semua harus pulang kampung sehingga hanya tersisa aku.”
            “Begitu sulit jika memiliki kampung halaman di tempat yang sama dengan kampus.”
            “Tidak apa. Mungkin dengan begitu, aku bisa bermanfaat untuk mereka.”
            Joseph tersenyum dengan manis. Panggilan untuk persiapan petasan di sekitar teras kafe membuatku terpaksa meninggalkan Joseph. Aku pun membawa satu kotak penuh petasan dan aku tata sedemikian rupa sehingga mampu memeriahkan kegelapan di sekitar kafe.
            Jam pun sudah berdendang menunjukkan pukul 00:00. Aku pun langsung menyalakan ribuan api dan menyulutnya di sumbu sembari mempersilakan seorang DJ memutar piringannya. Semuanya berteriak hingga bernyanyi tidak karuan. Aku melihat Joseph yang juga menikmati acara yang telah aku selenggarakan.
            “Datanglah ke rumahku tanggal 20 nanti ya.”
            “Ulang tahunmu kan?”
            “Bagaimana kamu tahu?”
            “Tentu aku tahu semua tentangmu”
            “Terima kasih.” balasnya seketika berdiri menjauh dariku.
            Aku terdiam. Apakah ada sesuatu yang salah aku ucapkan?
            “Aku pulang, Ed.”
            “Aku antar.”
            “Tidak perlu. Terima kasih ya.”
            Penolakan yang tak pernah aku terima dari Joseph membuatku menjadi sedikit was-was. Aku mengintai Joseph yang sedang menunggu kendaraan yang akan mendatanginya. Beberapa menit kemudian, aku melihat sebuah motor klasik mendarat di hadapannya dengan pakaian bertuliskan Ojek. Aku menegukkan ludahku pelan sembari mengelus dadaku lega. Aku berkemas dan kembali pulang saat matahari sudah berada di atas kepalaku.
            “Satu..dua..tiga minggu lagi.”
            Aku melukis kalenderku dan membuat beberapa list hadiah apa yang akan aku persiapkan.
            Aku menemukan kartu remi yang sudah lama tak aku hiraukan bersandar di kursi belajar. Aku menbukanya dan menghitungnya. Hadiah yang ekstrim dan di luar dugaan orang. Aku akan meminta 52 ucapan dari semua teman-temanku. Liburan dua minggu yang sangat menolongku membuatku menghabiskan hari-hari itu untuk berkunjung ke rumah mereka. Tentu saja ucapan pun dapat perut pun juga senang.
            Aku habiskan waktu dua minggu dari pagi hingga petang untuk mengumpulkan ucapan-ucapan ini.
            “Terima kasih.” ucapku sembari mengenakan sepatuku dan hendak berangsur pergi.
            “Ed. Kamu yakin Joseph bakal suka?”
            “Tentu. Kenapa bertanya begitu?”
            “Dia risih dengan sikapmu. Kamu tahu kan jika dia tidak suka jika kamu terlalu dekat bahkan berlebihan dengannya?”
            “Aku tahu. Hadiah ini aku berikan dengan maksud untuk meminta maaf atas kerisihannya selama ini.”
            “Maafkan jika perkataanku menyakitkan, Ed. Aku hanya tidak ingin kamu jatuh terlalu dalam.”
            “Kini aku berada di jurang. Eh. Sejak kapan kamu menggantungkan pisang di atas rumahmu?”
            “Ed! Jangan main-main!”
            “Lihat!” ucapku terkejut ketika tiba-tiba terdapat pisang utuh bertengger di atas rumahnya.
            Bulu kudukku seketika berdiri dan langsung bergegas.
            “Ed!!!”
            Aku menggigil ketika tiba-tiba merasakan kendaraanku terasa berat. Kemudi yang diarahkan tiba-tiba mengarahkan pada arah kuburan. Aku terkejut sembari merasa ketakutan sehingga cepat-cepat melaju kencang hingga menabrak tong sampah yang ada di depanku.
            “Aduh!” keluhku sembari memperbaiki posisi sepeda motorku.
            “Lho! Aku kok ada di rumahnya Joseph?” batinku terkejut sembari cepat-cepat beranjak dan menaiki motorku yang tiba-tiba saja mogok.
            “Ed? Kamu kenapa kesini?”
            “Eh. Ini motorku mogok.”
            “Ya ampun. Ayo aku antar ke bengkel. Tidak jauh dari sini, kok.”
            Aku mengangguk sembari menuntun sepedaku yang tiba-tiba tidak bisa bergerak. Di sisi lain, aku berusaha untuk terlihat normal karena kakiku bergetar akibat melihat wajah Joseph dan hantu itu.
            Beberapa menit aku pun menunggu, sepedaku pun telah selesai diperbaiki.
            “Sepeda milik Mas tidak ada masalah apa-apa. Saya sudah cek.”
            Aku terdiam sembari kembali merasakan bulu kuduk yang berdiri untuk yang kedua kalinya.
            “Ed kamu tidak apa-apa? Kenapa pucat?”
            “Tidak. Aku pulang dulu.” balasku sembari menyembunyikan ketakutanku.
            Tiga minggu pun berlalu.
            Aku pun membawa kartu remiku yang tidak lagi berisi seputar angka dan bentuk waru, love, wajik, dan keriting melainkan terdapat kata-kata di dalamnya. Aku bentuk hingga menyerupai kantong sehingga lengkap terdapat 52 ucapan.
            “Maaf aku tidak bisa ikut.”
            “Di sini hujan lebat.”
            “Aku sedang sakit.”
            Aku membayangkan akan banyak teman yang ikut tetapi kondisi berkata lain. Hujan yang tiba-tiba mengguyur di saat aku berada di taman kota membuat pakaian yang sudah aku persiapkan seharian menjadi basah.
            “Ed! Ayo naik kendaraanku.”
            “Terima kasih!” ucapku sembari lari memasuki mobil temanku.
            “Gila. Kamu rela sekali hujan-hujan hanya untuk meminta maaf pada seorang wanita yang sama sekali tidak peduli padamu.”
            “Sudahlah aku ini waras.”
            “Aku salut dengan keberanianmu. Kamu melakukan apapun yang kamu mau tanpa gengsi. Itu baru pria sejati!”
            Aku tersenyum singkat sembari mengeringkan 52 kartu ucapan yang aku bawa. Beruntungnya aku ketika melihat kartu-kartu itu masih utuh dan tidak basah sedikit pun.
            “Selamat ulang tahun! Haccih!” teriakku sembari bersin berulang kali di depan pintu rumah Joseph.
            Melihatku yang terus saja bersin, membuat empat temanku bernyanyi sekeras mungkin dengan alunan gitar yang juga terdengar keras.
            “Wah! Terima kasih teman-teman.”
            Malam yang semakin larut, membuat banyak teman-temanku yang harus kembali pulang terlebih dahulu.
            Aku terdiam sembari melihat wajah Joseph yang tersenyum ketika membaca ucapan-ucapan itu.
            “Ed. Kalau memang ada yang mau disampaikan aku mau mendengarkan. Silakan.” ucap Joseph sembari membuatku membelalakkan kedua mata.
            Aku menegukkan ludahku dan membuka mulutku.
            “Oke. Sebenarnya semua ini karena kamu waktu itu memarahiku dan membuatku menjadi bisa berpikir lebih dewasa dan aku memiliki rasa dengan kamu,  Jo. Aku merasa dewasa sejak pertemuan ini.” ucapku dengan nada yang cukup lancar tanpa ada hambatan.
            “Okay, Ed. But, aku benar-benar minta maaf karena aku tidak bisa belum bisa membalas perasaanmu.”
            “Ndak. Aku juga tidak mau mendengar balasan itu dulu.”
            “Aku sedang menyukai pria lain.”
            “Aku tahu.”
            “Bagaimana bisa?”
            “Sejauh ini aku terus mengejarmu mencari informasi tentangmu hingga mengingat ulang tahunmu. Bagaiman bisa aku tidak tahu tentang statusmu?”
            “Aku benar-benar minta maaf karena belum bisa membalas perasaanmu.”
            Aku mengangguk. Malam yang lengang mengitari kami. Aku tersenyum sembari menyantap kue yang disuguhkan untukku.
            “Aku tebak ini pasti kue buatanmu.”
            “Iya. Ini hadiah natal yang aku beri untukmu sebagai permintaan maafku.”
            “Sudahlah aku sudah memaafkanmu. Tetap berteman?”
            “Pasti, Ed.”
            “Hihi”
            Suara tawa yang tidak berasal dari Joseph membuatku kembali berdecak dan mengalihkan pandanganku pada seorang wanita yang melambaikan tangan kepadaku. Argh! Lagi-lagi dia ingin mengajakku bermain menuju kuburannya. Mengapa dia sangat menyukaiku?



2 komentar:

  1. Balasan
    1. Hanya ungkapan bahwa akan ada wanita lain yang bisa mendampingi tokoh utama

      Hapus

Diberdayakan oleh Blogger.
Powered By Blogger