Perayaan Natal yang hampa tanpa
kehadiran seorang wanita di hidupku membuatku sedikit lengang. Aku melihat
bapak tertawa sembari bersemangat mengedarkan jajanan ke semua tamu. Aku
menjadi tersenyum karenanya.
“Ini buat Joseph.”
“Makasih, Pak.”
“Dimana dia, Nak?”
“Natalan di Kampung halamannya, Pak.”
“Titipkan salam buat dia ya. Bapak
mau keliling dulu. Kamu jaga rumah ya, Le.”
Aku pun mengangguk sembari menunggu
Bapak sampai tak terlihat dari jalanan. Aku memasuki rumah sembari membuka kado
Joseph yang berisikan aneka foto sejak awal kami bertemu hingga sekarang.
Ucapan yang terus aku abadikan dalam kenangan di memoriku tak menyurutkan
keinginanku untuk membingkainya dan meriasnya dengan aneka lampu tumblr masa kini. Hal ini aku lakukan
agar meskipun di dalam gelap, aku bisa mengingatnya.
“Besok lusa aku pulang. Tapi aku
belum bisa menemuimu karena aku harus masuk kerja.”
“Hati-hati.”
Ibarat pendekar, samurai adalah
senjata mereka. Namun, kini dua kata itulah yang menjadi senjataku.
Hadiah-hadiah sederhana itu mampu membuatku
sebahagia ini. Kebaikan seorang Joseph tak menutup kemungkinan untukku memberikan
hadiah yang lebih bukan? Itu adalah salah satu keinginanku jika pada akhirnya
aku tak bisa meraih apa yang menjadi pelengkap kehidupanku.
Perayaan tahun baru yang sangat
ramai. Berbagai pengunjung datang untuk menghadiri makrab dengan aneka kostum
dari yang formal hingga rumahan. Big
Movies yang menjadi langganan trendi ditayangkan hingga mentari menyambut
tahun yang baru.
“Hai!” teriak Joseph sembari
mendekatiku.
Aku terdiam sembari membiarkan
dadaku bergetar. Aku tersenyum dan mempersilakannya untuk duduk di tempat yang
aku sediakan.
“Meriah sekali ya?”
“Ya begitulah.”
“Kamu yang menghandle acara ini?”
“Iya. Kebetulan semua harus pulang
kampung sehingga hanya tersisa aku.”
“Begitu sulit jika memiliki kampung
halaman di tempat yang sama dengan kampus.”
“Tidak apa. Mungkin dengan begitu,
aku bisa bermanfaat untuk mereka.”
Joseph tersenyum dengan manis. Panggilan
untuk persiapan petasan di sekitar teras kafe membuatku terpaksa meninggalkan
Joseph. Aku pun membawa satu kotak penuh petasan dan aku tata sedemikian rupa
sehingga mampu memeriahkan kegelapan di sekitar kafe.
Jam pun sudah berdendang menunjukkan
pukul 00:00. Aku pun langsung menyalakan ribuan api dan menyulutnya di sumbu
sembari mempersilakan seorang DJ memutar piringannya. Semuanya berteriak hingga
bernyanyi tidak karuan. Aku melihat Joseph yang juga menikmati acara yang telah
aku selenggarakan.
“Datanglah ke rumahku tanggal 20
nanti ya.”
“Ulang tahunmu kan?”
“Bagaimana kamu tahu?”
“Tentu aku tahu semua tentangmu”
“Terima kasih.” balasnya seketika
berdiri menjauh dariku.
Aku terdiam. Apakah ada sesuatu yang
salah aku ucapkan?
“Aku pulang, Ed.”
“Aku antar.”
“Tidak perlu. Terima kasih ya.”
Penolakan yang tak pernah aku terima
dari Joseph membuatku menjadi sedikit was-was. Aku mengintai Joseph yang sedang
menunggu kendaraan yang akan mendatanginya. Beberapa menit kemudian, aku
melihat sebuah motor klasik mendarat di hadapannya dengan pakaian bertuliskan Ojek. Aku menegukkan ludahku pelan sembari
mengelus dadaku lega. Aku berkemas dan kembali pulang saat matahari sudah
berada di atas kepalaku.
“Satu..dua..tiga minggu lagi.”
Aku melukis kalenderku dan membuat
beberapa list hadiah apa yang akan
aku persiapkan.
Aku menemukan kartu remi yang sudah
lama tak aku hiraukan bersandar di kursi belajar. Aku menbukanya dan
menghitungnya. Hadiah yang ekstrim dan di luar dugaan orang. Aku akan meminta
52 ucapan dari semua teman-temanku. Liburan dua minggu yang sangat menolongku
membuatku menghabiskan hari-hari itu untuk berkunjung ke rumah mereka. Tentu
saja ucapan pun dapat perut pun juga senang.
Aku habiskan waktu dua minggu dari
pagi hingga petang untuk mengumpulkan ucapan-ucapan ini.
“Terima kasih.” ucapku sembari
mengenakan sepatuku dan hendak berangsur pergi.
“Ed. Kamu yakin Joseph bakal suka?”
“Tentu. Kenapa bertanya begitu?”
“Dia risih dengan sikapmu. Kamu tahu
kan jika dia tidak suka jika kamu terlalu dekat bahkan berlebihan dengannya?”
“Aku tahu. Hadiah ini aku berikan
dengan maksud untuk meminta maaf atas kerisihannya selama ini.”
“Maafkan jika perkataanku
menyakitkan, Ed. Aku hanya tidak ingin kamu jatuh terlalu dalam.”
“Kini aku berada di jurang. Eh.
Sejak kapan kamu menggantungkan pisang di atas rumahmu?”
“Ed! Jangan main-main!”
“Lihat!” ucapku terkejut ketika
tiba-tiba terdapat pisang utuh bertengger di atas rumahnya.
Bulu kudukku seketika berdiri dan
langsung bergegas.
“Ed!!!”
Aku menggigil ketika tiba-tiba
merasakan kendaraanku terasa berat. Kemudi yang diarahkan tiba-tiba mengarahkan
pada arah kuburan. Aku terkejut sembari merasa ketakutan sehingga cepat-cepat
melaju kencang hingga menabrak tong sampah yang ada di depanku.
“Aduh!” keluhku sembari memperbaiki
posisi sepeda motorku.
“Lho! Aku kok ada di rumahnya
Joseph?” batinku terkejut sembari cepat-cepat beranjak dan menaiki motorku yang
tiba-tiba saja mogok.
“Ed? Kamu kenapa kesini?”
“Eh. Ini motorku mogok.”
“Ya ampun. Ayo aku antar ke bengkel.
Tidak jauh dari sini, kok.”
Aku mengangguk sembari menuntun
sepedaku yang tiba-tiba tidak bisa bergerak. Di sisi lain, aku berusaha untuk
terlihat normal karena kakiku bergetar akibat melihat wajah Joseph dan hantu
itu.
Beberapa menit aku pun menunggu,
sepedaku pun telah selesai diperbaiki.
“Sepeda milik Mas tidak ada masalah
apa-apa. Saya sudah cek.”
Aku terdiam sembari kembali
merasakan bulu kuduk yang berdiri untuk yang kedua kalinya.
“Ed kamu tidak apa-apa? Kenapa
pucat?”
“Tidak. Aku pulang dulu.” balasku
sembari menyembunyikan ketakutanku.
Tiga minggu pun berlalu.
Aku pun membawa kartu remiku yang
tidak lagi berisi seputar angka dan bentuk waru, love, wajik, dan keriting melainkan terdapat kata-kata di dalamnya.
Aku bentuk hingga menyerupai kantong sehingga lengkap terdapat 52 ucapan.
“Maaf aku tidak bisa ikut.”
“Di sini hujan lebat.”
“Aku sedang sakit.”
Aku membayangkan akan banyak teman
yang ikut tetapi kondisi berkata lain. Hujan yang tiba-tiba mengguyur di saat
aku berada di taman kota membuat pakaian yang sudah aku persiapkan seharian
menjadi basah.
“Ed! Ayo naik kendaraanku.”
“Terima kasih!” ucapku sembari lari
memasuki mobil temanku.
“Gila. Kamu rela sekali hujan-hujan
hanya untuk meminta maaf pada seorang wanita yang sama sekali tidak peduli
padamu.”
“Sudahlah aku ini waras.”
“Aku salut dengan keberanianmu. Kamu
melakukan apapun yang kamu mau tanpa gengsi. Itu baru pria sejati!”
Aku tersenyum singkat sembari
mengeringkan 52 kartu ucapan yang aku bawa. Beruntungnya aku ketika melihat
kartu-kartu itu masih utuh dan tidak basah sedikit pun.
“Selamat ulang tahun! Haccih!” teriakku sembari bersin
berulang kali di depan pintu rumah Joseph.
Melihatku yang terus saja bersin,
membuat empat temanku bernyanyi sekeras mungkin dengan alunan gitar yang juga
terdengar keras.
“Wah! Terima kasih teman-teman.”
Malam yang semakin larut, membuat
banyak teman-temanku yang harus kembali pulang terlebih dahulu.
Aku terdiam sembari melihat wajah
Joseph yang tersenyum ketika membaca ucapan-ucapan itu.
“Ed. Kalau memang ada yang mau
disampaikan aku mau mendengarkan. Silakan.” ucap Joseph sembari membuatku
membelalakkan kedua mata.
Aku menegukkan ludahku dan membuka
mulutku.
“Oke. Sebenarnya semua ini karena
kamu waktu itu memarahiku dan membuatku menjadi bisa berpikir lebih dewasa dan
aku memiliki rasa dengan kamu,Jo. Aku
merasa dewasa sejak pertemuan ini.” ucapku dengan nada yang cukup lancar tanpa
ada hambatan.
“Okay, Ed. But, aku benar-benar minta maaf karena aku tidak bisa belum bisa
membalas perasaanmu.”
“Ndak. Aku juga tidak mau mendengar balasan
itu dulu.”
“Aku sedang menyukai pria lain.”
“Aku tahu.”
“Bagaimana bisa?”
“Sejauh ini aku terus mengejarmu
mencari informasi tentangmu hingga mengingat ulang tahunmu. Bagaiman bisa aku
tidak tahu tentang statusmu?”
“Aku benar-benar minta maaf karena
belum bisa membalas perasaanmu.”
Aku mengangguk. Malam yang lengang
mengitari kami. Aku tersenyum sembari menyantap kue yang disuguhkan untukku.
“Aku tebak ini pasti kue buatanmu.”
“Iya. Ini hadiah natal yang aku beri
untukmu sebagai permintaan maafku.”
“Sudahlah aku sudah memaafkanmu.
Tetap berteman?”
“Pasti, Ed.”
“Hihi”
Suara tawa yang tidak berasal dari
Joseph membuatku kembali berdecak dan mengalihkan pandanganku pada seorang
wanita yang melambaikan tangan kepadaku. Argh!
Lagi-lagi dia ingin mengajakku bermain menuju kuburannya. Mengapa dia
sangat menyukaiku?
Who's the girl? Hmmmm
BalasHapusHanya ungkapan bahwa akan ada wanita lain yang bisa mendampingi tokoh utama
Hapus