published on spotify : berjelajah dalam karya “Bagaimana rasanya jadi orang  introvert ?” tanya Rendra yang tiba-tiba saja berada di had...

Dunia Baru

/
0 Comments


published on spotify : berjelajah dalam karya

“Bagaimana rasanya jadi orang introvert?” tanya Rendra yang tiba-tiba saja berada di hadapanku.

            “Ya biasa saja. Mengapa bertanya begitu?” balasku sembari mempersilakannya duduk di sampingku.

            “Tidak apa. Aku hanya merasa penasaran saja. Aku iri melihat orang introvert yang memiliki kemampuan mendengar yang sangat baik.”

            “Aku juga iri melihat orang ekstrovert yang mampu mengekspresikan segalanya dengan baik dan bisa berkata-kata dengan lancar di depan semua orang tanpa gagap.”

            Rendra melihatku.

            “Semua hal pasti tidak luput dari peribahasa rumput tetangga terlihat lebih hijau.” ucapku sembari memberikan Rendra secangkir kopi susu kesukaannya.

            Rendra mengangguk sembari menyeduh kopi susu yang diberikan olehku.

            Kami lengang. Tiba-tiba, Rendra menyeletuk sembari mengeluarkan dua tiket.

            “Kamu pernah nonton konser?” tanya Rendra sembari mengubah wajahnya menjadi lebih semangat.

            Aku terdiam sembari melihat tiket bergambar tokoh idola yang aku idam-idamkan.

            “Eh. Itu Marcell Siahaan?”

            “Hei. Jawab dulu.”

            “Belum. Memangnya kenapa?”

            “Ayo temani aku.”

            “Itu akan sangat ramai.”

            “Sudahlah. Ikuti aku dan kenalilah duniaku. Setelah konser ini, ajak aku juga di tempat para introvert berkumpul. Bisa diterima?”

            “Ini perjanjian?”

            “Yup. Entah kita gagal atau tidak setidaknya ini sudah berjalan dan berlalu.”

            “Baiklah.”

            Kami tertawa sembari saling memikirkan bagaimana tingkah masing-masing saat berada di dunia yang baru. Aku sedikit merinding dengan bayangan konser yang bisa terlihat brutal ataupun bising. Untuk bising, aku yakin itu akan terjadi di dalam konser. Ini konser, Ma. Bukan orkestra.

            Malam pun bersambut. Rendra sudah memberikan sinyal melalui mobil hitamnya yang mengedipkan kedua lampu depan. Aku segera memutar kunci pada mulut pintu dan berjalan memasuki kendaraan beroda empat itu.

            “Wow. Kamu terlihat sangat kedinginan.”

            Rendra mengejek penampilanku yang sedang mengenakan jaket dengan penutup kepala tebal dan juga masker, penutup mulut.

            “Huh. Berhentilah mengejekku.”

            “Aku ingin bertanya untuk apa penutup mulut itu? Jika penutup kepala aku yakin berguna agar kamu tidak mendengarkan kebisingan bukan?”

            “Aku tidak ingin seseorang melihatku mual.”

            “Baiklah.”

            Badanku benar-benar berkeringat dingin. Rasanya sangat jauh mengerikan daripada aku harus berhadapan dengan dosen.

            “Selamat datang!” teriak Rendra sembari merentangkan kedua tangannya di depan gerbang sekolah.

            Aku pun menyengir dan berjalan di belakang Rendra.

            Banyak sapaan di tengah kerumunan orang-orang yang menakut-nakutiku. Tanpa sadar, aku semakin dekat dengan Rendra dan berlindung di belakang lengannya. Melihatku yang seperti ini, Rendra tidak peduli. Ia terus memperkenalkanku kepada teman-temannya dan membeli aneka makanan dan lampu dengan ukuran panjang. Entahlah itu untuk apa dan dinamai apa.

            “Makan dulu agar bisa menari nanti.” ucap Rendra sembari memberikanku satu bungkus makanan.

            “Menari?” balasku sembari menerima bungkus makanan itu.

            “Wah! Tumben Rahma ikut?”

            Teman lamaku tiba-tiba datang sembari menyapaku dengan ramah. Aku pun mengangguk dan tersenyum riang bak tidak terjadi apa-apa pada kondisi mentalku saat ini.

            “Suatu kemajuan bukan?”

            Lagi-lagi Rendra membanggakan dirinya lagi di depan teman-teman kami. Aku hanya bisa menikmati cilok panas yang memenuhi bungkus kertas yang aku pegang. Minuman susu yang menyegarkan membuatku tidak terlihat kepedasan saat bersaing dengan sepuluh cabe itu.

            “Nikmat ya?” tanya Rendra saat mengetahui bahwa aku berhasil menghabiskan makanan yang telah ia beli.

            “Iya. Terima kasih” balasku sembari membuang bungkus kertas itu ke tong sampah.

            Rendra tiba-tiba meninggalkanku.

            “Eh mau kemana?” tanyaku yang sedikit panik.

            “Aku mau bertemu teman lamaku sebentar. Aku akan kembali kok. Nih, pegang dompetku. Dompetku ini sebagai jaminannya oke?”

            Rendra meninggalkanku dengan meletakkan dompet di sisiku. Ia pun berlari sembari merangkul aneka macam manusia. Aku hanya bisa menggeleng-nggelengkan kepala.

            “Bagiku, aku diingat oleh seseorang saja sudah sangat berarti. Apalagi dirangkul dan bercengkerama akrab saat bertemu. Itu akan jauh lebih menyenangkan.” batinku yang semakin lama semakin iri pada dunia Rendra.

            Rendra kembali dengan membawa beberapa foto kenangan mereka saat acara penutupan di sekolah. Aku melihatnya sembari tersenyum karena memandang pose Rendra yang sama sekali tidak wajar. Aku bisa melihat dari sepuluh foto yang ditunjukan hanya satu foto saja di mana Rendra berpose dengan normal. Bagaimana bisa dia seekspresif itu?

            “Kenapa, Ma?”

            Rendra melihatku yang berdiam diri cukup lama.

            “Tidak ada. Aku hanya bertanya pada diriku sendiri mengapa begitu mudahnya kamu mengekspresikan semuanya.”

            “Aku tidak tahu. Aku hanya mengikuti alur tubuhku. Jika aku ingin berteriak, aku akan teriak. Jika aku ingin berpose ala merak, aku akan melakukannya.”

          “Kamu tidak malu?”

            “Apa itu malu? Aku tidak memiliki kata malu dalam kamusku. Parah ya?”

            “Emang”

            Aku mengangguk sembari menyuguhkan makanan cilok yang aku pegang untuknya.

            “Ma! Ayo bersiap. Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Ayo kita pecahkan konsernya!”

            “Hah? Pecah? Eh tunggu!”

            Rendra menarikku dengan sangat kuat sembari mengajakku berdiri di belakang kerumuman orang yang lebih tinggi dariku. Saat seorang Marcell datang di atas panggung, semua orang berteriak termasuk Rendra. Dia dengan sigap menyamakan suara dengan penyanyi itu. Semua meneriaki lirik lagu Marcell yang berjudul ‘Peri Cintaku’ di area panggung. Marcell yang tampak ramah terus menyapa penonton dan membuat ribuan manusia berteriak gemas pada tingkahnya yang sangat manis. Rendra terus bernyanyi hingga suaranya serak. Di akhir acara, tiba-tiba terdapat seorang DJ. Rendra melonjak kegirangan. Aku hanya diam sembari bertepuk tangan. Semua orang melonjak membuat wajahku tertampar, tanganku terpukul, dan kakiku hampir saja terinjak oleh mereka.

            Rendra terus membujukku untuk ikut melompat-lompat. Namun, aku mengurungkan niatku dan tetap menikmati gerakan senam yang aku ajukan. Bukannya merasa iba, Rendra justru sangat menyukai tingkah anehku ini.

            Tidak terasa jam sudah menunjukkan pukul dua pagi. Rendra dengan sigap menarikku menuju tempat parkir dan terus melihatku yang terlihat pucat katanya.

            “Ma, kamu gak papa?”           

            Aku tak bisa menjawab karena ada sesuatu yang ingin keluar dari mulutku.

            Tanpa basa-basi, Rendra mengantarkanku ke toilet dan meninggalkanku di dalam. Setelah selesai mengeluarkan beberapa cairan, aku pun langsung keluar dan duduk terlebih dulu di sisi ruangan. Rendra berdiam diri sembari memberiku sebotol air mineral.

            “Sulit ya?”

            Aku mengangguk sembari terus meminum air mineral yang diberikannya.

            “Setidaknya semua sudah berlalu kan? Itung-itung supaya aku berhenti menertawakanmu.”

            “Teganya.”

            “Bagaimana mungkin, Ma? Seseorang datang ke konser malah  melakukan senam di tengah kerumunan. Apalagi dia malah bertepuk tangan saja. Itu lucu sekali.”

            Aku menutup wajahku dan tersenyum-senyum sendiri.

            “Haha. Setidaknya itu menghibur walau sampai babak belur.”

            Aku tertawa sembari terus menutup wajahku yang terasa panas.

            Perlahan namun pasti, aku sudah mengerti tentang gambaran dari dunia Rendra. Tak menyangka kesempatan kedua aku dapatkan untuk memperkenalkan duniaku pada Rendra.

            “Hah? Perpustakaan?”

            “Tinggal pilih saja. Kamu ingin menyelesaikan revisian tugasmu atau tetap berusaha keras mencari jawabannya di google.”

            “Argh! Kalau saja jawabannya ada di media itu, aku tidak akan ke perpustakaan.” 

Aku tersenyum.

            Kami pun masuk ke dalam perpustakaan dengan membawa kartu tanda mahasiswa dan mulai mencari buku di berbagai rak yang ada.

            “Aku bantu cari disini.”

            “Aku juga cari disini.”

            “Carilah di tempat lain. Kamu ingin cepat keluar dari neraka ini kan?”

            “Oh ya. Benar.”

            Rendra pun meninggalkanku. Aku berusaha mencari kode yang sama dengan buku yang akan aku cari lewat daftar buku di perpustakaan. Sesaat kemudian, tiba-tiba aku mendengar suara pukulan meja yang disengaja. Aku pun melirik. Bukannya mencari, Rendra malah duduk dengan mendengar musik dan memukul-mukul meja hingga terdengar berisik. Banyak orang memarahinya.

            Aku tertawa kecil sembari melihatnya dari bilik-bilik buku.

            “Akhirnya ketemu. Kurang satu lagi.”

            Aku mencarinya dengan jarak yang lumayan jauh. Tiba-tiba, aku mendengar suara nyanyian yang keras dari Rendra tentunya. Untuk kedua kalinya, Rendra mendapatkan teguran. Aku hanya tertawa sembari kembali mendapatkan buku yang kuinginkan. Aku pun mendekatinya yang terlihat sangat murung.

            “Ayo kita keluar.” ajakku sembari membawa buku yang aku dapatkan.

            “Kamu lama sekali!”  

            Rendra terlihat sangat jengkel sembari memberikan buku yang ia bawa padaku.       

            “Tolong urus peminjamannya. Aku tunggu di luar.” ucapnya yang langsung pergi dari hadapanku.

            Aku pun mengangguk sembari mengurus peminjaman buku di kartu mahasiswaku. Setelah menata buku di dalam tas, aku mendekati Rendra yang asik bermain game dengan memutari taman.

            “Ah! Aku tidak mau lagi kesini! Semua yang aku lakukan salah!”

            Aku hanya tertawa. Rendra pun terdiam.

            “Haha. Bagaimana orang-orang tidak marah? Mereka ingin membaca buku dengan tenang kamu malah membuat keributan. Dasar manusia aneh!”

            Rendra tertawa secara tiba-tiba.

            “Bahkan tawamu saja sangat keras seperti itu! Tidak semua orang suka dengan keramaian itu di tempat ini.”

            “Haha. Setidaknya aku tidak perlu senam di tengah-tengah mereka kan?”

            “Rendra!!!”

            Satu minggu berlalu. Aku jarang sekali bertemu dengan Rendra karena penugasan akhir semester yang sangat berat. Tugas yang menumpuk membuatku enggan menemui siapapun termasuk Rendra.

            Tak terasa liburan akhir semester sudah di depan mata. Aku menemui Rendra di taman kota sembari melakukan tingkah laku yang tidak wajar.

            “Ren?” sapaku membuat Rendra tersenyum.

            “Oi, Ma.”

            “Mau kemana? Nonton konser?” tanyaku membuat Rendy menggeleng.          

            “Tidak. Aku mau ke perpustakaan. Eh? Kamu mau kemana?”

            “Ke perpustakaan? Eh aku mau ke konser.”

            “Sejak kapan?” balas Rendra dengan terkejut.

            Saat melihat kejadian langka ini, aku semakin terkejut. Aku pun menyempatkan waktuku sebelum menonton konser dengan bercengkerama dengan Rendra.

            “Bagaimana bisa kamu menjadi rajin ke perpustakaan, Ren?” tanyaku membuat wajah Rendra memerah.

“Ipku naik drastis semenjak aku rajin ke perpustakaan. Benar-benar di luar dugaan kan? Seorang Rendra bermain ke perpustakaan seorang diri. Hal itu sama anehnya ketika aku tahu seorang Rahma sekarang ingin menonton konser.”

            “Haha iya. Aku baru menyadari bahwa menonton konser bisa meluapkan emosi. Aku tak lagi memendam semuanya. Aku bisa meluapkannya dengan teriakanku. Kini, aku tidak lagi senam di tengah mereka lho. Aku sekarang bisa menari.”

            “Wah! Kemajuan ya. Aku juga bisa membaca buku tanpa membuat keributan.”

            “Berarti kita fix bisa beradaptasi dengan dua situasi seperti ambivert ya?”        

            “Yap! Aku baru sadar bahwa penentu adaptasi bukan dari apa kepribadian kita tetapi dari diri kita sendiri. Jika kita yakin bisa melakukannya, itu akan berjalan dengan baik. Jika kita terus menolak, keinginan untuk bisa beradaptasi hanya akan berhenti di ujung bibir saja.”             

            “Wah! Seorang Rendra sekarang menjadi sangat bijak.” pujiku membuat Rendra mengangkat alisnya.

            “Tentu. Akibat buku-buku ini.” balas Rendra sembari beranjak dan memasuki perpustakaan.

               

Kepercayaan diri yang kuat dengan mengabaikan apa yang dirasa orang lain tidak akan mungkin terjadi, membuat kita menjadi pribadi yang lebih kuat. Lakukan apa yang kamu sukai. Tentu saja kegiatan positif yang bisa meningkatkan kemampuanmu. Tetaplah percaya diri dan selalu tanamkan pada dirimu bahwa kamu bisa hebat dengan caramu sendiri.

          
           






Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.
Powered By Blogger