Story Request : Nova Erviana Foto : Flickr Di sudut kota ini Awal kita bertemu Dan masih di kota ini Aku selalu menantimu M...

Takdir dari Jarak

/
0 Comments




Story Request : Nova Erviana
Foto : Flickr

Di sudut kota ini
Awal kita bertemu
Dan masih di kota ini
Aku selalu menantimu
Menanti kedatangan yang tak pasti

Dikala aku sibuk mengejar mimpi
Dan kamu sibuk untuk mengabdi
Mengabdi pada negeri
Dengan tiada henti

Kali ini  inginku hanya satu
Kehadiranmu disini
Di sudut kota ini
Untuk menjawab semua penantianku

Dan takdir memang berpihak padaku
Penantianku tak sia-sia
Kesabaranku tak sia-sia
Kamu hadir dengan menjawab janji
Dan hadir di setiap hariku kini
 – Anastasia Wintang

“Mau kemana kok sudah cantik?”
“Ada pertandingan bola nanti sore. Aku harus berjaga untuk berjualan tiket.”
“Dengan siapa?”
“Sendirian mungkin.”
“Sudah biasa sendiri ya? Tidak-tidak bercanda.”
“Hmm..”
“Hati-hati ya. Aku juga mau melanjutkan tugas.”
“Baiklah. Wassalamualaikum”
“Walaikumsalam”
Selesai.
Singkat ya? Meskipun begitu, aku merasa sangat senang karena selama dua bulan ini aku hanya bisa mendengar kabar ataupun suaranya sekali saja. Syal kebanggan tim sepak bola yang aku banggakan sudah menggantikan peran kalung berlian di leherku. Tiba di stadion, aku hanya melihat teras yang kosong. Jelas saja! Aku benar-benar tiba disini pukul tujuh sama seperti di saat aku masuk sekolah dulu.
Kesepian itu tidak berlangsung lama. Sebuah bis datang menepi di sisi jalan dan menghujani stadion ini dengan sejuta manusia. Aku memang terbiasa untuk menjualkan tiket ke khalayak pencinta sepak bola seperti mereka tetapi tetap saja aku merasa gelabakan. Bukannya mereda, kericuhan kembali memuncak. Teras luas yang dipenuhi oleh angin kini penuh dengan aneka manusia dan macam-macam umur yang melatar belakangi mereka.
Sebuah truk tentara mendarat di tengah lautan manusia sembari merapikan laju pengunjung yang tak lagi mengantri dengan baik. Langit yang semakin senja membuat pengunjung perlahan sepi karena stadion yang sudah terbuka. Aku menghela nafas sembari menyerahkan sisa tiket pada seorang teman lamaku di sisi loket. Aku menepi dan meneguk minuman perlahan. Beh! Rasanya benar-benar seperti surga.
Pertandingan yang mulai memanas dengan berbagai trik dan kehebatan sang pemain bola dalam mencetak gol membuat para supporter berteriak histeris. Penutupan pertandingan tidak berjalan dengan sebaik ekspetasi. Sebuah smoke bomb tidak beberapa smoke bomb diledakkan sehingga membuat kericuhan dan memancing amarah para aparat. Tim yang kalah pun melemparkan botol pada lawan sembari melakukan tawuran. Aku diseret oleh seorang aparat untuk cepat keluar dari stadion. Melihat kericuhan yang tidak lagi surut, beberapa polisi menyemprotkan gas air mata dan menahan beberapa biang kerok yang menyulut emosi masa.
“Terima kasih, Pak.”
“Haha.”
Aku terkejut saat mendengarnya tertawa.
“Tidak menyangka ya? Aku ternyata berjaga di stadion yang sama.”
Aku tidak bisa berbuat apa-apa selain terus merekahkan senyumanku.
“Vi! Kamu pulang dengan siapa?”
            “Aku akan naik transportasi umum nanti.”
            Aku terus berdiam sembari menatap wajah Alif yang benar-benar ada di hadapanku.
            Kami tidak banyak bicara. Suara tawa kami yang lebih utama. Kami sama-sama tidak menyangka bahwa hari ini adalah hari pertemuan kami. Suara kericuhan juga semakin dekat. Alif dengan cepat berganti posisi denganku saat berada di transportasi umum.
            Pyar! Kaca tempat Alif tiba-tiba pecah. Nyatanya tim kekalahan masih tak mau menerima hasil pertandingannya.
            “Terima kasih.”
            Alif tersenyum sembari terus tertawa pada pertemuan kami yang tiba-tiba ini. Sampainya di tengah kota, Alif memasuki truk tentara sembari melepaskan ranselnya di tempat aku berdiri. Aku pun melambaikan tangan yang nyatanya dibalas dengan senyumannya.
            “Untuk apa? Aku bermalam disini.”
            Aku semakin terkejut.
            “Kamu sebaiknya pulang. Ini sudah malam. Besok kita atur jadwal pertemuan sebelum aku kembali.”
            Aku terus tersenyum sembari berbalik dan memasuki rumahku.
            “Viana!”
            Aku berhenti.
            “Kita ini adalah awan. Kita bisa dengan mudah melihat satu sama lain tetapi tak bisa semudah itu untuk digapai. Namun, setidaknya kita sama-sama tahu bahwa kita berada di satu langit yang sama dan akan selalu ada walau ada hujan menerpa.”
            Aku yang masih saja shock tidak bisa berkata apa-apa selain memberikan gesture senyuman dan lambaian tangan saja.
            Pagi-pagi benar aku terbangun dan melihat puluhan pesan masuk dari Alif berisikan salam ‘Assalamualaikum’ masuk dalam notifikasi pesan di ponselku.
            Aku terbangun dan mengangkat telfonnya.
            “Vi, kamu bisa ke stasiun sekarang? Semua angkatanku mendadak harus kembali.”
            “Aku segera kesana.”
            Berbekal mandi yang super cepat membuatku tak sempat merias diri dan langsung berangkat menuju stasiun kota kelahiranku. Aku melihat Alif yang tersenyum di kejauhan saat melihatku tiba. Aku tersenyum dan mengangguk padanya.
            “Hati-hati.”
            “Hmm.”
            Aku melihatnya yang tiba-tiba menghilang di balik bus itu.
            “Daa Viana!!” teriak semua teman-teman Alif di bus itu.
            Aku tersenyum sembari kembali pulang dengan perasaan yang cukup bahagia.
            “Haha!”
            Rupanya ada tamu yang berkunjung di rumahku. Namun, betapa kagetnya aku ketika ibu dan bapak menyambut seseorang secara bersamaan. Tak biasanya ibu dan bapak bersama-sama berada di ruang tamu untuk seorang tamu. Pasti ini adalah tamu yang spesial.
            “Viana. Kamu darimana saja?”
            “Aku mengantar teman di sta-”
            Aku terkejut karena yang duduk di ruang tamu itu adalah Alif. Lalu? Siapa yang berangkat? Dan bagaimana dia bisa menemukan rumahku secepat itu?
            “Hmm. Teman atau tunangan?”
            Aku mengerutkan dahi sembari melihat Alif yang tiba-tiba tertawa sendiri. Tawanya juga dikombinasikan dengan tawa ibu dan bapak. Tanpa berkata-kata, Alif menunjuk ke arah pergelangan tanganku yang tiba-tiba saja terdapat gelang. Semenit setelah ia memamerkan gelang yang dengan hebatnya bisa ia kenakan padaku tanpa sepengetahuanku, ia menunjukkan sebuah undangan. Undangan yang bertuliskan namaku dan namanya dengan desain undangan yang sangat cantik.
            Aku menegukkan ludah perlahan.
            Alif terlihat seperti anak kecil yang sangat bahagia karena mendapatkan sebuah undangan yang berwarna peach.
            “Boleh kok, Nak.”
            “Boleh apa, Buk?”
            Alif pun mengetipkan mata. Seketika itu, aku pun tertawa terbahak-bahak hingga mengeluarkan air mata.
            Inikah hadiah atas penantian panjangku selama ini?






Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.
Powered By Blogger