“Ada pertandingan bola nanti sore. Aku harus berjaga
untuk berjualan tiket.”
“Dengan siapa?”
“Sendirian mungkin.”
“Sudah biasa sendiri ya? Tidak-tidak bercanda.”
“Hmm..”
“Hati-hati ya. Aku juga mau melanjutkan tugas.”
“Baiklah. Wassalamualaikum”
“Walaikumsalam”
Selesai.
Singkat ya? Meskipun begitu, aku merasa sangat
senang karena selama dua bulan ini aku hanya bisa mendengar kabar ataupun
suaranya sekali saja. Syal kebanggan tim sepak bola yang aku banggakan sudah
menggantikan peran kalung berlian di leherku. Tiba di stadion, aku hanya
melihat teras yang kosong. Jelas saja! Aku benar-benar tiba disini pukul tujuh
sama seperti di saat aku masuk sekolah dulu.
Kesepian itu tidak berlangsung lama. Sebuah bis
datang menepi di sisi jalan dan menghujani stadion ini dengan sejuta manusia.
Aku memang terbiasa untuk menjualkan tiket ke khalayak pencinta sepak bola
seperti mereka tetapi tetap saja aku merasa gelabakan. Bukannya mereda,
kericuhan kembali memuncak. Teras luas yang dipenuhi oleh angin kini penuh
dengan aneka manusia dan macam-macam umur yang melatar belakangi mereka.
Sebuah truk tentara mendarat di tengah lautan
manusia sembari merapikan laju pengunjung yang tak lagi mengantri dengan baik.
Langit yang semakin senja membuat pengunjung perlahan sepi karena stadion yang
sudah terbuka. Aku menghela nafas sembari menyerahkan sisa tiket pada seorang
teman lamaku di sisi loket. Aku menepi dan meneguk minuman perlahan. Beh! Rasanya benar-benar seperti surga.
Pertandingan yang mulai memanas dengan berbagai trik
dan kehebatan sang pemain bola dalam mencetak gol membuat para supporter berteriak histeris. Penutupan
pertandingan tidak berjalan dengan sebaik ekspetasi. Sebuah smoke bomb tidak beberapa smoke bomb diledakkan sehingga membuat kericuhan
dan memancing amarah para aparat. Tim yang kalah pun melemparkan botol pada
lawan sembari melakukan tawuran. Aku diseret oleh seorang aparat untuk cepat
keluar dari stadion. Melihat kericuhan yang tidak lagi surut, beberapa polisi
menyemprotkan gas air mata dan menahan beberapa biang kerok yang menyulut emosi
masa.
“Terima kasih, Pak.”
“Haha.”
Aku terkejut saat mendengarnya tertawa.
“Tidak menyangka ya? Aku ternyata berjaga di stadion
yang sama.”
Aku tidak bisa berbuat apa-apa selain terus
merekahkan senyumanku.
“Vi! Kamu pulang dengan siapa?”
“Aku akan naik transportasi umum
nanti.”
Aku terus berdiam sembari menatap
wajah Alif yang benar-benar ada di hadapanku.
Kami tidak banyak bicara. Suara tawa
kami yang lebih utama. Kami sama-sama tidak menyangka bahwa hari ini adalah
hari pertemuan kami. Suara kericuhan juga semakin dekat. Alif dengan cepat
berganti posisi denganku saat berada di transportasi umum.
Pyar!
Kaca tempat Alif tiba-tiba pecah. Nyatanya tim kekalahan masih tak mau
menerima hasil pertandingannya.
“Terima kasih.”
Alif tersenyum sembari terus tertawa
pada pertemuan kami yang tiba-tiba ini. Sampainya di tengah kota, Alif memasuki
truk tentara sembari melepaskan ranselnya di tempat aku berdiri. Aku pun
melambaikan tangan yang nyatanya dibalas dengan senyumannya.
“Untuk apa? Aku bermalam disini.”
Aku semakin terkejut.
“Kamu sebaiknya pulang. Ini sudah
malam. Besok kita atur jadwal pertemuan sebelum aku kembali.”
Aku terus tersenyum sembari berbalik
dan memasuki rumahku.
“Viana!”
Aku berhenti.
“Kita ini adalah awan. Kita bisa
dengan mudah melihat satu sama lain tetapi tak bisa semudah itu untuk digapai.
Namun, setidaknya kita sama-sama tahu bahwa kita berada di satu langit yang
sama dan akan selalu ada walau ada hujan menerpa.”
Aku yang masih saja shock tidak bisa berkata apa-apa selain
memberikan gesture senyuman dan
lambaian tangan saja.
Pagi-pagi benar aku terbangun dan
melihat puluhan pesan masuk dari Alif berisikan salam ‘Assalamualaikum’ masuk dalam notifikasi pesan di ponselku.
Aku terbangun dan mengangkat
telfonnya.
“Vi, kamu bisa ke stasiun sekarang? Semua
angkatanku mendadak harus kembali.”
“Aku segera kesana.”
Berbekal mandi yang super cepat
membuatku tak sempat merias diri dan langsung berangkat menuju stasiun kota
kelahiranku. Aku melihat Alif yang tersenyum di kejauhan saat melihatku tiba.
Aku tersenyum dan mengangguk padanya.
“Hati-hati.”
“Hmm.”
Aku melihatnya yang tiba-tiba
menghilang di balik bus itu.
“Daa Viana!!” teriak semua
teman-teman Alif di bus itu.
Aku tersenyum sembari kembali pulang
dengan perasaan yang cukup bahagia.
“Haha!”
Rupanya ada tamu yang berkunjung di
rumahku. Namun, betapa kagetnya aku ketika ibu dan bapak menyambut seseorang
secara bersamaan. Tak biasanya ibu dan bapak bersama-sama berada di ruang tamu
untuk seorang tamu. Pasti ini adalah tamu yang spesial.
“Viana. Kamu darimana saja?”
“Aku mengantar teman di sta-”
Aku terkejut karena yang duduk di
ruang tamu itu adalah Alif. Lalu? Siapa yang berangkat? Dan bagaimana dia bisa
menemukan rumahku secepat itu?
“Hmm. Teman atau tunangan?”
Aku mengerutkan dahi sembari melihat
Alif yang tiba-tiba tertawa sendiri. Tawanya juga dikombinasikan dengan tawa
ibu dan bapak. Tanpa berkata-kata, Alif menunjuk ke arah pergelangan tanganku
yang tiba-tiba saja terdapat gelang. Semenit setelah ia memamerkan gelang yang
dengan hebatnya bisa ia kenakan padaku tanpa sepengetahuanku, ia menunjukkan
sebuah undangan. Undangan yang bertuliskan namaku dan namanya dengan desain
undangan yang sangat cantik.
Aku menegukkan ludah perlahan.
Alif terlihat seperti anak kecil
yang sangat bahagia karena mendapatkan sebuah undangan yang berwarna peach.
“Boleh kok, Nak.”
“Boleh apa, Buk?”
Alif pun mengetipkan mata. Seketika
itu, aku pun tertawa terbahak-bahak hingga mengeluarkan air mata.
Inikah hadiah atas penantian
panjangku selama ini?