published on spotify : Berjelajah dalam Karya                “ Ah! Dapat!”             Tomi  pun segera mengkonfirmasi penu...

Tak Ada Kata Pamrih

/
0 Comments


            published on spotify : Berjelajah dalam Karya

            Ah! Dapat!”
            Tomi pun segera mengkonfirmasi penumpang yang secara beruntun memenuhi notifikasi ponselnya.
            Brak!
            Tomi mengalihkan pandangan dan terkejut melihat Vio, temannya, yang sedang terjatuh dengan membawa seorang penumpang. Tanpa ambil pusing, Tomi langsung membantu mereka untuk berdiri. Saat sedang fokus membantu, Tomi melihat ban depan motor Vio tampak bocor karena tertusuk paku. Ibu yang menjadi penumpang Vio terlihat sangat panik.
            “Ibu tidak apa-apa?”
            “Tidak apa-apa, Mas.”
            Tomi pun mematikan mesin motornya dan mengantongkan ponselnya.
            “Ibu mau pergi ke mana?”
            “Saya mau pergi ke perumahan daerah kota Baru.”
            “Biar aku antar saja, Vi.”
            “Kamu memangnya tidak sedang menerima pesanan?”
            Tomi mengeluarkan ponselnya dan membatalkan pesanan dari penumpang barunya itu dengan berbekal permintaan maaf yang sebesar-besarnya. Seketika itu, bintangnya yang berawal dari lima kini menjadi tiga. Tomi menegukkan ludahnya pelan sembari menampakkan wajah yang terlihat sangat baik-baik saja.
            “Tidak. Mari, Bu.”
            “Makasih kawan.” ucap Vio sembari menepuk pundak Tomi.
            Tomi tersenyum dan segera mengantarkan penumpang itu ke perumahan yang dituju.
            Dalam perjalanan, Tomi merasakan kaki dan tangan penumpang itu bergetar. Tomi yakin ini adalah akibat dari kecelakaan tadi.
            “Ibu tidak apa-apa?”
            “Tidak apa-apa, Nak. Ibu hanya masih terkejut karena jatuh.”
            Benar saja. Ternyata apa yang Tomi duga memanglah yang ibu itu rasakan.
            “Ibu bisa memegang jaket saya.”
            Penumpang itu langsung meremas jaket Tomi dengan sangat kuat. Ibu itu memang benar-benar ketakutan.
            Tomi berusaha mengendarai motor dengan kecepatan yang stabil. Tanpa adegan flittering, rem mendadak, dan berkendara terus menerus menepi di tepi jalan. Seketika kemudian, penumpang itu menanyakan perkara tempat tinggal, asal, dan umur Tomi. Tomi pun menjawabnya dengan berusaha untuk terlihat bersahabat dan mempersilakannya untuk mengulik-ngulik kepribadiannya.
            “Bagaimana kecelakaan itu bisa terjadi, Bu?”
            “Iya. Dia awalnya sudah memberitahu Ibu jika dia sedang terburu-buru.”
            “Terburu-buru oleh apa, Bu?”
            “Kalau tidak salah dia bilang jika istrinya sedang lahiran sekarang.”
            Oh di rumah sakit mana, Bu?”
            “Dia berkata di rumah sakit Kota Lama. Mungkin karena pemikiran itu, dia menjadi tidak fokus di jalan dan terjatuh di jalan yang rusak.”
            “Jika Ibu berkenan, tolong berikan teman saya bintang lima ,ya, Bu.”
            “Pasti, Nak. Lalu? Bagaimana saya memberi kamu bintang?”
            “Tidak perlu tidak apa-apa, Bu.”
            Perjalanan mereka lengang. Teriknya sinar matahari membuat kemacetan terasa sangat panjang dan tak berujung. Perumahan yang sudah terlihat di depan mata membuat wajah berseri muncul di wajah Tomi begitu pula di wajah penumpangnya. Tomi pun menurunkannya dan mengambil lembut helm yang ibu itu pakai dan yang sodorkan untuknya.
            “Mas tunggu sebentar ya.”
            Tomi yang hendak memutar balikkan motornya dalam sekejap mengurungkan diri. Tak selang beberapa lama kemudian, Ibu itu ke luar dari balik pintu sembari memberikan satu rantang berukuran besar pada Tomi.
            “Ini dari Ibu ya, Nak. Karena Ibu tidak bisa memberimu uang ataupun bintang, tolong terima makanan ini ya.”
            Tomi pun tersentuh sembari menerima rantang itu dengan penuh sukacita. Tiba-tiba, Ibu itu memeluknya. Ia pun menerima pelukannya dan mengusap punggungnya dengan lembut. Segera setelah itu, Tomi pun kembali dan memutuskan untuk berkunjung di rumah sakit tempat istri Vio melahirkan anak pertamanya. Dengan bakat berkendaranya yang handal, membuatnya bisa menembus kemacetan dan sampai pada tujuan hanya dalam sepersekian menit. Sesampainya ia di rumah sakit, ia segera melepaskan seragam ojeknya dan menggantinya dengan kemeja biasa yang ia pakai. Tomi pun memasuki lorong dengan mendapatkan penampakan orang-orang yang kecelakaan, patah tulang, dan lain-lain. Bulu kuduknya berdiri ketika melihat seseorang yang sudah sekarat harus menghadapi kematiannya dengan mata terbuka dan bersandar di bawah selimut putih yang menutup seluruh tubuhnya.
            Tibanya Tomi di ruang bersalin, aku menatap Vio yang sedang menangis sembari mengintai jendela.
            “Tom!” teriak Vio sembari merangkul Tomi.
            Tomi pun tersenyum sembari menepuk punggung Vuo.
            “Berkatmu aku bisa melihat anak pertamaku lahir.”
            “Aku juga ikut senang. Di mana bayimu?”
            “Itu. Dia sedang dijaga oleh perawat karena baru saja lahir.”
            “Mirip seperti ayahnya.”
            “Ayo aku kenalkan dengan istriku.”
            Tomi pun mengikuti laju Vio sembari melihat istrinya yang nyatanya adalah teman lama Tomi dulu.
            “Toni?”
            “Riana?”
            Melihat Tomi yang akrab dengan Riana membuat Vio terbelalak.
            “Wah. Selamat atas kelahiranmu.”
            “Terima kasih, Tom. Kamu memang tidak pernah berubah ya. Selalu saja menolong orang lain.”
            Tomi mengangguk sembari memberikan rantang makanan yang ia bawa. Mereka pun menyantap makanan bersama. Tiba-tiba, ponsel Tomi berbunyi. Suara seorang kepala membuatnya bangkit berdiri dan harus segera menuju ke kantor pangkalan ojek. Tomi tidak memikirkan apapun selain bersiap untuk dipecat berkat tindakannya ini.
            Brak!
            Suara buku yang dibantingkan membuatnya terkejut.
            “Kamu tahu resikonya jika peringkatmu turun drastis karena membatalkan orderan? Kamu akan terancam blacklist.”
            Tomi mengangguk sembari menatap mata kepalanya itu dengan berani.
            “Mengapa kamu membatalkannya?” 
            “Kendaraan saya tadi tidak berfungsi, Bu saat ingin menjalankan tugas. Saya mohon maaf.”
            “Bukan alasan yang logis untuk pengemudi yang malas sepertimu. Jika ini terulang kembali, saya tidak akan segan-segan menghentikan kerjasama kerja dengan Anda.”
            Tomi menghela nafas sembari mengangguk. Tomi pun ke luar ruangan dengan merasakan kakinya yang sangat lemas. Tomi tak menyangka bahwa pemecatannya tertunda. Kini, Tomi bisa memperbaiki peringkatnya untuk hari-hari ke depan.
            “Nak.” sapa Ibu saat mengetahui Tomi pulang.
            “Maaf, Bu. Aku hari ini tidak membawa apa-apa”
            “Tidak apa-apa, Nak. Bagaimana kabar istri Vio? Kamu sudah dengan kabarnya?”
            “Sudah, Bu. Anaknya bisa lahir dengan selamat. Mereka bahagia sekarang.”
            “Kamu rela?”
            “Iya, Bu. Aku sudah bisa menerima keadaan ini.”
            Mentari memaksa Tomi bangun untuk kembali berkelana menyusuri kota kesayangan. Sialnya ketika berusaha menyalakan kendaraan, mesin motornya mendingin dan sulit untuk dinyalakan. Tomi berusaha setengah mati untuk memperbaikinya tetapi semuanya itu sia-sia.
            “Ada apa, Nak?”
            “Tidak apa-apa, Bu.”
            Tomi pun menuntun sepedanya jauh dari rumah dan memperbaikinya seorang diri. Tak menyangka seorang pria jangkung bernama Vio datang menemuinya. Ia ingin memberikan surat dari istrinya untuk Vio yang baru saja mengetahui masa lalunya.
            Tomi menerima surat itu sembari tersenyum padanya.
            “Tidak apa. Toh kamu sekarang pemenangnya.”
            Vio tidak terlihat bahagia. Namun, ia terkejut melihat kendaraan Tomi yang terlihat tidak berfungsi.
            “Aku bawa motormu, Tom.”
            “Lalu?”
            “Kamu pakai motorku sementara dulu. Kebetulan aku mendapatkan cuti karena istriku eh maksudku anakku lahir.”
            “Santai saja. Dia memang istrimu kan? Baiklah. Terima kasih atas bantuanmu.”
            Tomi menepuk punggungnya dan menaiki motor kepunyaannya sembari berlabuh menyusuri kota. Kini, peringkat yang Tomi bayangkan akan meningkat malah sangat terperosok jauh karena tingkat kenyamanan penumpang yang menaiki motor milik Vio yang baru saja diperbaiki beberapa hari yang lalu.
            Suara dering telepon kembali mengguncangkan saku celananya. Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Di tengah kelelahannya, Tomi kini harus menatap wajah menyeramkan sang kepala yang kini sudah membawa sebuah kertas di tangannya.
            “Mengapa bisa serendah ini?”
            “Mohon maaf, Bu.”
            “Kamu memang sudah tidak berminat bekerja di sini?”
            “Saya berminat, Pak.”
            “Namun, mengapa kamu tidak membela diri di saat saya hampir mengeluarkanmu?”
            Tomi terkejut.
            “Tepat kemarin, Vio sedang menjalankan cuti karena kelahiran anaknya yang pertama. Dan dia bilang kamu membantunya sehingga kamu tidak mendapatkan penumpang baru. Benar begitu?”
            “Iya, Bu.”
            “Mengapa kamu bertingkah seperti batu? Kamu rela orang lain memukul dan menginjakmu. Tetapi kamu malah memilih untuk diam.”
            “Saya memang batu, Bu. Meskipun begitu, saya tidak akan membiarkan orang lain membuat saya pecah semudah itu. Karena saya percaya, seberapa curam atau berbahayanya lingkungan saya, semakin kuat pula kepribadian saya. Saya juga sudah siap jika harus ke luar dari pekerjaan ini.”
            “Tidak akan. Ini adalah bonus kamu. Bonus karena sudah menjadi pengendara yang berperingkat tinggi selama dua tahun dan melakukan suatu kebanggaan untuk tempat ini. Selamat ya.”
            “Terima kasih, Bu. Namun, saya ingin apa yang sudah saya lakukan kepada Vio dirahasiakan.”
            “Iya. Baik.”
            Saat Tomi ke luar dari ruangan kepala itu, Tomi melihat Riana tersenyum padanya.
            “Lihat, Nak. Dia adalah teman Ibu saat dulu masih sekolah. Ingatlah dia sebagai paman terbaikmu ya. Berkatnya, Ayah bisa melihat kamu.”
            Tomi tersenyum.
            Anak itu tiba-tiba tertawa dan menatapnya tanpa berkedip.



Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.
Powered By Blogger