Tomi pun segera mengkonfirmasi
penumpang yang secara beruntun memenuhi notifikasi ponselnya.
Brak!
Tomi mengalihkan pandangan dan
terkejut melihat Vio, temannya, yang sedang terjatuh dengan membawa seorang
penumpang. Tanpa ambil pusing, Tomi langsung membantu mereka untuk berdiri. Saat sedang fokus membantu, Tomi melihat ban depan motor Vio tampak bocor karena tertusuk paku. Ibu yang menjadi penumpang Vio terlihat sangat panik.
“Ibu tidak apa-apa?”
“Tidak apa-apa, Mas.”
Tomi pun mematikan mesin motornya dan mengantongkan
ponselnya.
“Ibu mau pergi ke mana?”
“Saya mau pergi ke perumahan daerah kota
Baru.”
“Biar aku antar saja, Vi.”
“Kamu memangnya tidak sedang menerima
pesanan?”
Tomi mengeluarkan ponselnya dan
membatalkan pesanan dari penumpang barunya itu dengan berbekal permintaan maaf yang
sebesar-besarnya. Seketika itu, bintangnya yang berawal dari lima kini menjadi
tiga. Tomi menegukkan ludahnya pelan sembari menampakkan wajah yang terlihat
sangat baik-baik saja.
Tomi tersenyum dan segera
mengantarkan penumpang itu ke perumahan yang dituju.
Dalam perjalanan, Tomi merasakan kaki
dan tangan penumpang itu bergetar. Tomi yakin ini adalah akibat dari kecelakaan
tadi.
“Ibu tidak apa-apa?”
“Tidak apa-apa, Nak. Ibu hanya masih
terkejut karena jatuh.”
Benar saja. Ternyata apa yang Tomi duga memanglah yang ibu itu rasakan.
“Ibu bisa memegang jaket saya.”
Penumpang itu langsung meremas
jaket Tomi dengan sangat kuat. Ibu itu memang benar-benar ketakutan.
Tomi berusaha mengendarai motor
dengan kecepatan yang stabil. Tanpa adegan flittering,
rem mendadak, dan berkendara terus menerus menepi di tepi jalan. Seketika kemudian,
penumpang itu menanyakan perkara tempat tinggal, asal, dan umur Tomi. Tomi pun
menjawabnya dengan berusaha untuk terlihat bersahabat dan mempersilakannya
untuk mengulik-ngulik kepribadiannya.
“Bagaimana kecelakaan itu bisa
terjadi, Bu?”
“Iya. Dia awalnya sudah memberitahu
Ibu jika dia sedang terburu-buru.”
“Terburu-buru oleh apa, Bu?”
“Kalau tidak salah dia bilang jika
istrinya sedang lahiran sekarang.”
“Oh di rumah sakit mana, Bu?”
“Dia berkata di rumah sakit Kota
Lama. Mungkin karena pemikiran itu, dia menjadi tidak fokus di jalan dan terjatuh
di jalan yang rusak.”
“Jika Ibu berkenan, tolong berikan
teman saya bintang lima ,ya, Bu.”
“Pasti, Nak. Lalu? Bagaimana saya
memberi kamu bintang?”
“Tidak perlu tidak apa-apa, Bu.”
Perjalanan mereka lengang. Teriknya
sinar matahari membuat kemacetan terasa sangat panjang dan tak berujung. Perumahan
yang sudah terlihat di depan mata membuat wajah berseri muncul di wajah Tomi begitu pula di wajah penumpangnya. Tomi pun menurunkannya dan mengambil lembut helm yang ibu itu pakai dan yang sodorkan untuknya.
“Mas tunggu sebentar ya.”
Tomi yang hendak memutar balikkan motornya dalam
sekejap mengurungkan diri. Tak selang beberapa lama kemudian, Ibu itu ke luar
dari balik pintu sembari memberikan satu rantang berukuran besar pada Tomi.
“Ini dari Ibu ya, Nak. Karena Ibu
tidak bisa memberimu uang ataupun bintang, tolong terima makanan ini ya.”
Tomi pun tersentuh sembari menerima
rantang itu dengan penuh sukacita. Tiba-tiba, Ibu itu memeluknya. Ia pun
menerima pelukannya dan mengusap punggungnya dengan lembut. Segera setelah itu, Tomi pun kembali dan memutuskan untuk berkunjung di rumah sakit tempat istri Vio
melahirkan anak pertamanya. Dengan bakat berkendaranya yang handal, membuatnya bisa menembus kemacetan dan sampai pada tujuan hanya dalam sepersekian menit.
Sesampainya ia di rumah sakit, ia segera melepaskan seragam ojeknya dan
menggantinya dengan kemeja biasa yang ia pakai. Tomi pun memasuki lorong dengan
mendapatkan penampakan orang-orang yang kecelakaan, patah tulang, dan
lain-lain. Bulu kuduknya berdiri ketika melihat seseorang yang sudah sekarat
harus menghadapi kematiannya dengan mata terbuka dan bersandar di bawah selimut
putih yang menutup seluruh tubuhnya.
Tibanya Tomi di ruang bersalin, aku
menatap Vio yang sedang menangis sembari mengintai jendela.
“Tom!” teriak Vio sembari merangkul Tomi.
Tomi pun tersenyum sembari menepuk
punggung Vuo.
“Berkatmu aku bisa melihat anak
pertamaku lahir.”
“Aku juga ikut senang. Di mana bayimu?”
“Itu. Dia sedang dijaga oleh perawat
karena baru saja lahir.”
“Mirip seperti ayahnya.”
“Ayo aku kenalkan dengan istriku.”
Tomi pun mengikuti laju Vio sembari
melihat istrinya yang nyatanya adalah teman lama Tomi dulu.
“Toni?”
“Riana?”
Melihat Tomi yang akrab dengan Riana
membuat Vio terbelalak.
“Wah. Selamat atas kelahiranmu.”
“Terima kasih, Tom. Kamu memang
tidak pernah berubah ya. Selalu saja menolong orang lain.”
Tomi mengangguk sembari memberikan
rantang makanan yang ia bawa. Mereka pun menyantap makanan bersama.
Tiba-tiba, ponsel Tomi berbunyi. Suara seorang kepala membuatnya bangkit berdiri
dan harus segera menuju ke kantor pangkalan ojek. Tomi tidak memikirkan apapun
selain bersiap untuk dipecat berkat tindakannya ini.
Brak!
Suara buku yang dibantingkan
membuatnya terkejut.
“Kamu tahu resikonya jika peringkatmu
turun drastis karena membatalkan orderan? Kamu akan terancam blacklist.”
Tomi mengangguk sembari menatap mata
kepalanya itu dengan berani.
“Mengapa kamu membatalkannya?”
“Kendaraan saya tadi tidak berfungsi, Bu saat
ingin menjalankan tugas. Saya mohon maaf.”
“Bukan alasan yang logis untuk
pengemudi yang malas sepertimu. Jika ini terulang kembali, saya tidak akan
segan-segan menghentikan kerjasama kerja dengan Anda.”
Tomi menghela nafas sembari
mengangguk. Tomi pun ke luar ruangan dengan merasakan kakinya yang sangat lemas. Tomi tak menyangka bahwa pemecatannya tertunda. Kini, Tomi bisa memperbaiki
peringkatnya untuk hari-hari ke depan.
“Nak.” sapa Ibu saat mengetahui Tomi pulang.
“Maaf, Bu. Aku hari ini tidak membawa apa-apa”
“Tidak apa-apa, Nak. Bagaimana kabar
istri Vio? Kamu sudah dengan kabarnya?”
“Sudah, Bu. Anaknya bisa lahir
dengan selamat. Mereka bahagia sekarang.”
“Kamu rela?”
“Iya, Bu. Aku sudah bisa menerima
keadaan ini.”
Mentari memaksa Tomi bangun untuk
kembali berkelana menyusuri kota kesayangan. Sialnya ketika berusaha menyalakan
kendaraan, mesin motornya mendingin dan sulit untuk dinyalakan. Tomi berusaha
setengah mati untuk memperbaikinya tetapi semuanya itu sia-sia.
“Ada apa, Nak?”
“Tidak apa-apa, Bu.”
Tomi pun menuntun sepedanya jauh dari
rumah dan memperbaikinya seorang diri. Tak menyangka seorang pria jangkung
bernama Vio datang menemuinya. Ia ingin memberikan surat dari istrinya untuk Vio
yang baru saja mengetahui masa lalunya.
Tomi menerima surat itu sembari
tersenyum padanya.
“Tidak apa. Toh kamu sekarang pemenangnya.”
Vio tidak terlihat bahagia. Namun,
ia terkejut melihat kendaraan Tomi yang terlihat tidak berfungsi.
“Aku bawa motormu, Tom.”
“Lalu?”
“Kamu pakai motorku sementara dulu.
Kebetulan aku mendapatkan cuti karena istriku eh maksudku anakku lahir.”
“Santai saja. Dia memang istrimu
kan? Baiklah. Terima kasih atas bantuanmu.”
Tomi menepuk punggungnya dan menaiki
motor kepunyaannya sembari berlabuh menyusuri kota. Kini, peringkat yang Tomi bayangkan akan meningkat malah sangat terperosok jauh karena tingkat kenyamanan
penumpang yang menaiki motor milik Vio yang baru saja diperbaiki beberapa hari yang lalu.
Suara dering telepon kembali
mengguncangkan saku celananya. Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Di
tengah kelelahannya, Tomi kini harus menatap wajah menyeramkan sang kepala yang
kini sudah membawa sebuah kertas di tangannya.
“Mengapa bisa serendah ini?”
“Mohon maaf, Bu.”
“Kamu memang sudah tidak berminat
bekerja di sini?”
“Saya berminat, Pak.”
“Namun, mengapa kamu tidak membela
diri di saat saya hampir mengeluarkanmu?”
Tomi terkejut.
“Tepat kemarin, Vio sedang
menjalankan cuti karena kelahiran anaknya yang pertama. Dan dia bilang kamu membantunya
sehingga kamu tidak mendapatkan penumpang baru. Benar begitu?”
“Iya, Bu.”
“Mengapa kamu bertingkah seperti
batu? Kamu rela orang lain memukul dan menginjakmu. Tetapi kamu malah memilih
untuk diam.”
“Saya memang batu, Bu. Meskipun
begitu, saya tidak akan membiarkan orang lain membuat saya pecah semudah itu.
Karena saya percaya, seberapa curam atau berbahayanya lingkungan saya, semakin
kuat pula kepribadian saya. Saya juga sudah siap jika harus ke luar dari
pekerjaan ini.”
“Tidak akan. Ini adalah bonus kamu.
Bonus karena sudah menjadi pengendara yang berperingkat tinggi selama dua tahun
dan melakukan suatu kebanggaan untuk tempat ini. Selamat ya.”
“Terima kasih, Bu. Namun, saya
ingin apa yang sudah saya lakukan kepada Vio dirahasiakan.”
“Iya. Baik.”
Saat Tomi ke luar dari ruangan kepala itu, Tomi melihat Riana tersenyum padanya.
“Lihat, Nak. Dia adalah teman Ibu
saat dulu masih sekolah. Ingatlah dia sebagai paman terbaikmu ya. Berkatnya,
Ayah bisa melihat kamu.”
Tomi tersenyum.
Anak itu tiba-tiba tertawa dan
menatapnya tanpa berkedip.