Untuk : Bernadetha Rani Foto : Flickr             “Nak, bisa ikut Ibu?”             Via melihat orang tua Marcel, calon teman hid...

Barang Rusak

/
0 Comments



Untuk : Bernadetha Rani
Foto : Flickr

            “Nak, bisa ikut Ibu?”
            Via melihat orang tua Marcel, calon teman hidupnya, memanggil lelaki itu keluar dalam waktu yang cukup lama.
            “Permisi, Mbak. Saya ganti infusnya terlebih dulu ya.” ucap seorang perawat yang memasuki ruangannya satu detik setelah Marcel keluar dari ruangannya.
            “Oh iya”
            Via pun mengalihkan wajahnya dari Marcel yang terlihat sedang berdebat hebat dengan kedua orang tuanya pada tangannya yang dimasuki jarum suntik. Via memfokuskan penglihatannya pada cara perawat mengganti infusnya itu dengan sangat lihai.
            “Suster hebat ya bisa mengganti alat ini dengan cepat.”
            Aduh biasa saja, Mbak. Ini juga karena sudah terbiasa.”
            Via pun tersenyum. Ia juga menyibukkan diri dengan bercakap ria dengan perawat itu hingga tak lagi cemas pada kondisi Marcel. Namun di balik senyumnya, Marcel kini sedang dilanda rasa gelisah yang sangat besar dari orang tuanya.
            “Terserah saja. Ibu sudah tidak lagi menginginkan hubungan kalian berjalan lebih jauh lagi.”
            “Tapi kenapa harus sekarang? Aku sudah menjalani hubungan ini selama empat tahun, Bu! Itu bukanlah waktu yang sebentar.”
            “Apakah kamu pernah memberitahu Ibu jika Via sedang menderita payah jantung? Tidak kan? Ini semua bukan semata-mata kesalahan Ibu.”
            Marce terus menyangkal Dia berkali-kali menolak perkataan Ibunya dengan decakan dan tolakan yang cukup keras. Ibunya terus menghasut Marcel untuk tidak lagi bersama dengan Via semata-mata untuk kebahagiaannya kelak. Itu semua karena bagi Ibunya, seorang penderita payah jantung tidak akan bisa bertahan hidup dalam jangka waktu yang lama dan tidak bisa memberikan kebahagiaan padanya.
            “Ibu tidak memaksa kamu. Tetapi jangan paksa Ibu untuk merestui hubungan ini.”
            “Oke-oke! Aku tidak akan melanjutkan hubungan ini. Namun, itu semua terjadi setelah Via keluar dari rumah sakit ini.”
            “Baiklah. Jangan jadi lelaki pecundang! Janjimu adalah harga dirimu.” ancam Ibunya sebelum meninggalkan rumah sakit.
            Marcel terus saja membentur-benturkan kepalanya karena sudah menyanggupi perjanjian itu. Ia pun memasuki ruangan dengan wajah pucat sembari duduk di sebelah ranjang Via.
            “Kamu sedang apa?” tanya Marcel saat melihat Via sedang sibuk dengan ponselnya.
            “Melihat foto masa kecilmu, Cel.”
            “Kenapa gemar melihat foto masa kecilku?”
            “Ibumu tidak salah, Cel. Memang ada baiknya jika memutuskan hubungan ini karena pada akhirnya pun aku akan segera meninggalkanmu.”
            Marcel terkejut karena Via mengetahui perihal keputusan orang tuanya.
            “Sudahlah, Cel. Jika memang takdir, semua akan baik-baik saja. Namun jika sebaliknya, aku tidak bisa berbuat apa-apa.”
            Marcel terdiam sembari melihat air mata Via yang perlahan mengucur dari pelipis matanya.
            “Jangan menangis, Vi.”
            “Bukan-bukan. Ini bukan tangisan kesedihan. Ini tangisan kebahagiaan. Aku menjadi ingat masa-masa itu, Cel.”
            Flashback
            “Wah! Sudah lama tidak berkunjung di rumah tante?”
            “Maaf, Te. Karena belakangan sibuk.”
            Marcel tersenyum melihat Ibunya sedang memeluk Via dengan penuh kasih sayang.
            “Tante baru saja menemukan resep baru. Ayo kita masak bersama-sama.”
            Keahlian memasak Via yang tidak diragukan merupakan salah satu poin positif yang disukai oleh Ibu Marcel selain penampilan cantiknya. Hampir satu hari penuh mereka menghabiskan waktu bersama hanya untuk membuat sebuah tart untuk kejutan ulang tahun ayah Marcel.
            “Nak, ayo ajak Via untuk ikut berlibur ke kebun teh kakekmu.”
            “Oh ya, Bu.”
            Marcel pun menjemput Via yang tiba-tiba saja duduk dengan wajah yang lemas dan pucat. Marcel mendapat cerita dari kedua orang tua Via bahwa Via baru saja bekerja terlalu keras sehingga jantungnya kambuh. Sejak saat itu, Marcel mengetahui bahwa Via menderita payah jantung.
            “Bu, kenapa Ibu sangat menyayangi Via?”
            “Dia adalah anak yang baik. Dia adalah anak yang ibu idam-idamkan sejak dulu. Jika boleh, ibu ingin dia segera menjadi bagian dari keluarga ini.”
            Suasana tiba-tiba lengang.
            Marcel menegukkan ludahnya sembari terus menunduk untuk membendung air matanya yang ingin keluar dengan deras.
            “Aku ingat semua cerita yang kamu ceritakan, Cel. Andaikan aku benar-benar bisa merasakan kasih sayang Ibumu lagi.”
            Marcel tersenyum sembari perlahan berusaha terlihat tegar sembari mengigit bibirnya yang bergetar. Via pun memperbaiki postur tidurnya sembari mengambil sebuah kotak musik pemberianku di ulang tahunnya sejak dua tahun yang lalu.
            “Vi, kenapa kamu masih menyimpannya? Ini sudah sangat rusak.”
            “Iya. Aku masih menyukai hadiah ini.”
            “Mengapa masih suka? Aku bisa memperbaikinya jika kamu mau.”
            “Tidak bisa, Cel. Aku sudah meminta banyak orang untuk memperbaikinya. Alhasil ia bertambah rusak seiring berjalannya waktu.”
            “Jika begitu, buang saja tidak apa-apa. Aku sama sekali tidak keberatan.”
“Aku tidak ingin membuangnya, Cel. Kamu sudah bersusah payah untuk membuat kotak musik ini kan? Jika aku membuangnya hanya karena dia terlihat rusak, itu berarti aku tidak menghargai apa yang sudah kamu berikan untukku. Ya. Anggap saja itu sebagai sebuah apresiasi karena kehebatan karyamu yang membuatku terus mengingat bahwa ini adalah hadiah terbaik darimu.”
            Marcel terdiam. Ia merasa tersenyuh pada tindakan Via yang sangat menghargai pemberiannya itu. Dia bahkan tetap melantunkan alunan musik di kotak itu meskipun kotak itu sudah bisu. Mengapa Marcel tidak bisa sekuat Via? Mengapa dengan mudahnya Marcel mengatakan iya pada keputusan Ibu untuk menghentikan hubungan mereka? Marcel bahkan sama sekali tidak dapat menjaga hadiah yang ia dapatkan dari Tuhan sama seperti ketika Via merawat hadiahnya hingga tak berdaya.
“Kamu kenapa, Cel?” bisik Via sembari perlahan menyentuh tanganku.
            “Tidak. Aku hanya merasa tidak berdaya karena sudah memposisikan dirimu sebagai barang rongsokan itu, Vi.”
            “Cel. Sekarang, kamu sudah melihat senyumku kan. Aku tidak tahu akankah aku bisa kembali tersenyum seperti ini lagi di hari esok. Biarkan hubungan ini kandas, Cel. Namun, tetaplah kenang kenangannya. Kamu boleh membenci momennya tapi jangan buang memorinya. Sepakat?” ucap Via sembari mengajukan pelukan hangat pada Marcel.
            Marcel memilih untuk membiarkan tubuhnya mendekap pada tubuh Via yang terasa sangat dingin.
            Di bawah sinar mentari pagi yang tidak sehangat biasanya, aku melihat ada sepucuk kertas yang mendarat di teras rumah. Tulisan Via yang terukir membuat senyum di wajahku merekah.
            Aku sudah keluar dari rumah sakit. Terima kasih karena kebaikanmu selama ini, Cel.
Benar. Besok adalah hari terakhir Via di rumah sakit. Kini, Marcel menggiringnya dengan doa menuju tempat penuh rerumputan hijau berbekal pacul dan nisan yang terukir rapi khusus untuk Via. Ya. Dia keluar dari rumah sakit karena keadaannya yang memburuk sehingga diambil kembali oleh Tuhan. Marcel hanya bisa menangisi sebuah momen yang terjadi padanya tetapi ia tetap bisa tersenyum karena memori-memori indahnya bersama dengan  Via. Saat ia duduk di sisi makam Via, ia terkejut karena surat yang ia baca belumlah berakhir.
Aku sudah keluar dari rumah sakit. Terima kasih karena kebaikanmu selama ini, Cel.

Kini aku sudah bahagia, Cel. Terima kasih atas memori-memori itu. Aku akan selalu ada di balik awan yang menemanimu sepanjang hari. Sampai jumpa marcel.

Marcel meremas sepucuk surat itu sembari perlahan-lahan mengambil hadiah berupa bunga dan kotak berisi cincin di atas makam Via.
            “Vi. Saat tahu kamu sudah keluar dari rumah sakit, aku sudah mempersiapkan buket bunga dan cincin untuk perpisahan terakhirku. Namun, kamu terburu-buru kembali ya. Aku senang. Meskipun tidak bisa kamu pakai, setidaknya kamu tahu. Bahwa meskipun kini aku sudah bukan siapa-siapa lagi, kamu tetaplah Via yang ada di memori ini.”
            Hembusan angin mengantarkan Marcel pada kenyataan pahit akan perjanjiannya itu. Tak menunjukkan wajah sedih, Ibu malah berterima kasih atas keberanian Marcel pada keputusan besarnya itu.




Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.
Powered By Blogger