Via melihat orang tua Marcel, calon
teman hidupnya, memanggil lelaki itu keluar dalam waktu yang cukup lama.
“Permisi, Mbak. Saya ganti infusnya
terlebih dulu ya.” ucap seorang perawat yang memasuki ruangannya satu detik
setelah Marcel keluar dari ruangannya.
“Oh iya”
Via pun mengalihkan wajahnya dari
Marcel yang terlihat sedang berdebat hebat dengan kedua orang tuanya pada
tangannya yang dimasuki jarum suntik. Via memfokuskan penglihatannya pada cara perawat
mengganti infusnya itu dengan sangat lihai.
“Suster hebat ya bisa mengganti alat
ini dengan cepat.”
“Aduh
biasa saja, Mbak. Ini juga karena sudah terbiasa.”
Via pun tersenyum. Ia juga
menyibukkan diri dengan bercakap ria dengan perawat itu hingga tak lagi cemas
pada kondisi Marcel. Namun di balik senyumnya, Marcel kini sedang dilanda rasa
gelisah yang sangat besar dari orang tuanya.
“Terserah saja. Ibu sudah tidak lagi
menginginkan hubungan kalian berjalan lebih jauh lagi.”
“Tapi kenapa harus sekarang? Aku
sudah menjalani hubungan ini selama empat tahun, Bu! Itu bukanlah waktu yang
sebentar.”
“Apakah kamu pernah memberitahu Ibu
jika Via sedang menderita payah jantung? Tidak kan? Ini semua bukan semata-mata
kesalahan Ibu.”
Marce terus menyangkal Dia
berkali-kali menolak perkataan Ibunya dengan decakan dan tolakan yang cukup
keras. Ibunya terus menghasut Marcel untuk tidak lagi bersama dengan Via semata-mata
untuk kebahagiaannya kelak. Itu semua karena bagi Ibunya, seorang penderita
payah jantung tidak akan bisa bertahan hidup dalam jangka waktu yang lama dan
tidak bisa memberikan kebahagiaan padanya.
“Ibu tidak memaksa kamu. Tetapi
jangan paksa Ibu untuk merestui hubungan ini.”
“Oke-oke! Aku tidak akan melanjutkan
hubungan ini. Namun, itu semua terjadi setelah Via keluar dari rumah sakit ini.”
“Baiklah. Jangan jadi lelaki
pecundang! Janjimu adalah harga dirimu.” ancam Ibunya sebelum meninggalkan
rumah sakit.
Marcel terus saja
membentur-benturkan kepalanya karena sudah menyanggupi perjanjian itu. Ia pun
memasuki ruangan dengan wajah pucat sembari duduk di sebelah ranjang Via.
“Kamu sedang apa?” tanya Marcel saat
melihat Via sedang sibuk dengan ponselnya.
“Melihat foto masa kecilmu, Cel.”
“Kenapa gemar melihat foto masa
kecilku?”
“Ibumu tidak salah, Cel. Memang ada
baiknya jika memutuskan hubungan ini karena pada akhirnya pun aku akan segera
meninggalkanmu.”
Marcel terkejut karena Via
mengetahui perihal keputusan orang tuanya.
“Sudahlah, Cel. Jika memang takdir,
semua akan baik-baik saja. Namun jika sebaliknya, aku tidak bisa berbuat
apa-apa.”
Marcel terdiam sembari melihat air
mata Via yang perlahan mengucur dari pelipis matanya.
“Jangan menangis, Vi.”
“Bukan-bukan. Ini bukan tangisan
kesedihan. Ini tangisan kebahagiaan. Aku menjadi ingat masa-masa itu, Cel.”
Flashback
“Wah!
Sudah lama tidak berkunjung di rumah tante?”
“Maaf,
Te. Karena belakangan sibuk.”
Marcel
tersenyum melihat Ibunya sedang memeluk Via dengan penuh kasih sayang.
“Tante
baru saja menemukan resep baru. Ayo kita masak bersama-sama.”
Keahlian
memasak Via yang tidak diragukan merupakan salah satu poin positif yang disukai
oleh Ibu Marcel selain penampilan cantiknya. Hampir satu hari penuh mereka
menghabiskan waktu bersama hanya untuk membuat sebuah tart untuk kejutan ulang
tahun ayah Marcel.
“Nak,
ayo ajak Via untuk ikut berlibur ke kebun teh kakekmu.”
“Oh
ya, Bu.”
Marcel
pun menjemput Via yang tiba-tiba saja duduk dengan wajah yang lemas dan pucat.
Marcel mendapat cerita dari kedua orang tua Via bahwa Via baru saja bekerja
terlalu keras sehingga jantungnya kambuh. Sejak saat itu, Marcel mengetahui
bahwa Via menderita payah jantung.
“Bu,
kenapa Ibu sangat menyayangi Via?”
“Dia
adalah anak yang baik. Dia adalah anak yang ibu idam-idamkan sejak dulu. Jika
boleh, ibu ingin dia segera menjadi bagian dari keluarga ini.”
Suasana tiba-tiba lengang.
Marcel menegukkan ludahnya sembari
terus menunduk untuk membendung air matanya yang ingin keluar dengan deras.
“Aku ingat semua cerita yang kamu ceritakan, Cel.
Andaikan aku benar-benar bisa merasakan kasih sayang Ibumu lagi.”
Marcel tersenyum sembari perlahan
berusaha terlihat tegar sembari mengigit bibirnya yang bergetar. Via pun
memperbaiki postur tidurnya sembari mengambil sebuah kotak musik pemberianku di
ulang tahunnya sejak dua tahun yang lalu.
“Vi, kenapa kamu masih menyimpannya?
Ini sudah sangat rusak.”
“Iya. Aku masih menyukai hadiah ini.”
“Mengapa masih suka? Aku bisa
memperbaikinya jika kamu mau.”
“Tidak bisa, Cel. Aku sudah meminta
banyak orang untuk memperbaikinya. Alhasil ia bertambah rusak seiring
berjalannya waktu.”
“Jika begitu, buang saja tidak
apa-apa. Aku sama sekali tidak keberatan.”
“Aku tidak ingin membuangnya, Cel. Kamu sudah bersusah
payah untuk membuat kotak musik ini kan? Jika aku membuangnya hanya karena dia terlihat
rusak, itu berarti aku tidak menghargai apa yang sudah kamu berikan untukku.
Ya. Anggap saja itu sebagai sebuah apresiasi karena kehebatan karyamu yang
membuatku terus mengingat bahwa ini adalah hadiah terbaik darimu.”
Marcel terdiam. Ia merasa tersenyuh
pada tindakan Via yang sangat menghargai pemberiannya itu. Dia bahkan tetap
melantunkan alunan musik di kotak itu meskipun kotak itu sudah bisu. Mengapa
Marcel tidak bisa sekuat Via? Mengapa dengan mudahnya Marcel mengatakan iya
pada keputusan Ibu untuk menghentikan hubungan mereka? Marcel bahkan sama
sekali tidak dapat menjaga hadiah yang ia dapatkan dari Tuhan sama seperti
ketika Via merawat hadiahnya hingga tak berdaya.
“Kamu kenapa, Cel?” bisik Via sembari perlahan
menyentuh tanganku.
“Tidak. Aku hanya merasa tidak
berdaya karena sudah memposisikan dirimu sebagai barang rongsokan itu, Vi.”
“Cel. Sekarang, kamu sudah melihat
senyumku kan. Aku tidak tahu akankah aku bisa kembali tersenyum seperti ini
lagi di hari esok. Biarkan hubungan ini kandas, Cel. Namun, tetaplah kenang
kenangannya. Kamu boleh membenci momennya tapi jangan buang memorinya. Sepakat?”
ucap Via sembari mengajukan pelukan hangat pada Marcel.
Marcel memilih untuk membiarkan
tubuhnya mendekap pada tubuh Via yang terasa sangat dingin.
Di bawah sinar mentari pagi yang
tidak sehangat biasanya, aku melihat ada sepucuk kertas yang mendarat di teras
rumah. Tulisan Via yang terukir membuat senyum di wajahku merekah.
Aku
sudah keluar dari rumah sakit. Terima kasih karena kebaikanmu selama ini, Cel.
Benar. Besok adalah hari terakhir Via di rumah
sakit. Kini, Marcel menggiringnya dengan doa menuju tempat penuh rerumputan
hijau berbekal pacul dan nisan yang terukir rapi khusus untuk Via. Ya. Dia
keluar dari rumah sakit karena keadaannya yang memburuk sehingga diambil
kembali oleh Tuhan. Marcel hanya bisa menangisi sebuah momen yang terjadi
padanya tetapi ia tetap bisa tersenyum karena memori-memori indahnya bersama
denganVia. Saat ia duduk di sisi makam
Via, ia terkejut karena surat yang ia baca belumlah berakhir.
Aku
sudah keluar dari rumah sakit. Terima kasih karena kebaikanmu selama ini, Cel.
Kini
aku sudah bahagia, Cel. Terima kasih atas memori-memori itu. Aku akan selalu
ada di balik awan yang menemanimu sepanjang hari. Sampai jumpa marcel.
Marcel meremas sepucuk surat itu sembari
perlahan-lahan mengambil hadiah berupa bunga dan kotak berisi cincin di atas
makam Via.
“Vi. Saat tahu kamu sudah keluar
dari rumah sakit, aku sudah mempersiapkan buket bunga dan cincin untuk perpisahan
terakhirku. Namun, kamu terburu-buru kembali ya. Aku senang. Meskipun tidak
bisa kamu pakai, setidaknya kamu tahu. Bahwa meskipun kini aku sudah bukan
siapa-siapa lagi, kamu tetaplah Via yang ada di memori ini.”
Hembusan angin mengantarkan Marcel
pada kenyataan pahit akan perjanjiannya itu. Tak menunjukkan wajah sedih, Ibu
malah berterima kasih atas keberanian Marcel pada keputusan besarnya itu.