Aku terdiam saat melihat temanku, Dhika,
sedang khusyuk berdoa hingga tak bergerak sedikit pun. Aku menjadi ragu akan
tingkah lakunya yang aneh itu sejak perjalanan pulang kami dari ziarah. Aku dan
Lito, salah satu sahabatku, memilih untuk menunggunya di balik pintu sembari
terus mengawasi kondisinya dari jauh.
“Sudah berapa jam?”
“Dua jam.”
“Apa yang terjadi dengannya?”
“Aku juga tidak tahu.”
Tiga jam sudah berlalu. Aku melihat
Lito yang sudah tertidur dengan bersandar pada tembok. Mataku pun juga terasa
sangat lelah karena terus menerus menatap postur tubuh Dhika yang membungkuk
dengan cukup lama. Tiba-tiba, sosok yang sudah aku pandang muncul di depanku.
“Hei.”
Aku dan Lito pun terbangun.
Lito pun terkejut sampai-sampai ia membelalakkan
mata hingga membenturkan kepalanya ke tembok yang disanggahnya.
“Kenapa kalian menungguku?”
“Bagaimana tidak? Kamu terlihat
sedang susah seperti itu?”
“Tidak. Aku hanya merasa sia-sia
saja selama ini berkegiatan di bidang rohani. Aku tidak mendapat apapun.”
Mendengar Dhika yang mengatakan
demikian, membuatku refleks meresponnya dengan sangat cepat.
“Aku juga. Aku pikir hanya aku saja
yang merasakan itu.”
Lito yang masih terkantuk sama
sekali tidak merespon dan memilih hanya mengangguk-ngangguk dengan alasan yang tidak
jelas.
“To! Bangun!” teriak Dhika membuat
Lito menjerit sehingga terbangun.
Kami pun tertawa.
“Besok kalian harus bangun pagi.
Satu hal yang harus kalian lakukan besok. Ikuti aku saja. Oke?” ucap Dhika
membuatku mengangguk dengan cepat.
Aku pun berjalan berlawanan arah
dengan mereka. Kini, aku melihat Dhika yang sedang menggendong Lito di
punggungnya karena masih tertidur. Aku tertawa dan sontak membuat Dhika juga
tersenyum melihatku. Aku segera memalingkan wajahku dan masuk ke dalam kamarku.
Pagi segera menyapaku dengan segera.
Sebelum semuanya bersiap, aku sudah berada di taman, tempat kami berkumpul
untuk rencana Dhika. Sepuluh menit kemudian, aku melihat Dhika yang datang dengan
membawa kendaraan bermotornya. Begitu pula, Lito.
“Motorku saja. Sudah aku bersihkan
supaya kamu tidak terkena noda.” rayu Lito sembari mengelus badan motornya.
“Dhika saja.” balasku membuat Lito
mengubah wajahnya menjadi masam.
“Tidak perlu cemburu, To.”
“Ya.” balas Lito bak anak kecil yang
gagal mendapatkan es krim.
Perjalanan panjang kami tempuh
hingga mentari benar-benar muncul dengan hangatnya. Sampainya di sebuah tempat
ziarah, kami pun berkumpul untuk menghadap dan berdoa.
“Kita akan menyusuri perbukitan ini.
Jika memungkinkan, kita bisa sampai di puncak.” jelas Dhika dengan harapan
tinggi pada kami.
“Kamu mau mendaki kan?” tanya Lito
membuatku mengangguk cepat.
“Kamu yakin?” tanya Dhika sekali
lagi.
Aku pun mengangguk hingga membuat
keduanya tersenyum lega.
“Tenang. Kamu punya bodyguard disini.” ucap Lito sembari
memperbaiki tali sepatunya.
“Untuk keselamatan, kami bisa jamin,
Dit.” lanjut Dhika membuatku tersenyum.
Kami pun melakukan perjalanan
panjang sembari membawa sebuah kitab suci. Kami melakukan pendakian ini seperti
saat kami melakukan beberapa ibadat sebelum Paskah. Tak disangka nyatanya
perjalanan kami tidak semudah apa yang kami bayangkan. Banyaknya bebatuan
membuat langkah kami tidak lancar.
“Jangan buang gas ya!” teriak Lito
sembari berjalan di belakangku.
“Tidak akan.”
“Awas saja.” ucap Lito sembari terus
berjaga jarak denganku.
Aku tertawa sembari terus melihat
punggung Dhika yang semakin membuatku terpana.
“Kamu haus?” tanya Lito saat
melihatku mengusap leherku.
Aku terkekeh-kekeh.
“Ini. Bawa saja. Tapi jangan
dihabiskan. Bisa mati kehausan aku.” ucap Lito membuatku tersenyum bahagia dan
segera membasahi isi leherku.
Keheningan membuat kami fokus
melewati rintangan. Hingga tiba-tiba aku merasa sesak nafas karena kekurangan
oksigen. Tentu saja. Lito langsung mengeluarkan oksigen yang dia bawa dan
mengenakannya di saluran pernapasanku. Dhika yang terlihat fokus pada
perjalanan kurang menyadari keadaanku ini.
“Terima kasih, To.”
“Hmm.” ucap Lito sembari mengenggam
tanganku agar aku bisa berjalan cepat di belakang Dhika.
“Lho? Kamu kenapa, Dit?” tanya Dhika
saat menyadari aku dan Lito yang berada jauh di belakangnya.
“Gak papa, Dhik. Ayo lanjut saja.” balasku
membuat Dhika kembali memimpin jalan.
“Ayo kita istirahat sejenak.” ucap
Dhika sembari mengeluarkan tikar yang ia bawa dan ia rentangkan di atas
perbukitan yang kami pijak.
“Kalian sudah mendapatkan sesuatu?”
“Sudah.” jawab Lito dengan nada yang
sangat keras.
Aku dan Dhika pun memfokuskan
penglihatan kami kepadanya yang kini sedang berdiri di depan kami.
“Aku sadar. Seberapa banyak aku
berdoa danpelayanan itu tidak akan ada
artinya jika aku terus mengutamakan keegoisanku. Bagiku, cita-citaku adalah
yang nomor satu. Karena selama ini, aku selalu mengedepankan apa yang aku
inginkan tetapi tak pernah mau menengok ataupun peduli pada sekitarku. Seperti
baru saja terjadi, aku ingin bisa cepat sampai pada puncak tetapi tiba-tiba
Dita jatuh. Bagaimana mungkin jika aku meninggalkan dia di tengah perjalanan
tadi? Bagiku itu yang sangat menyentuh hati.”
Kami terkagum dengan cerita
spiritual Lito yang sangat sederhana dan menawan. Dia bisa mengambil sesuatu
yang mendalam dengan beberapa aktivitas yang dilihat orang adalah sesuatu yang
biasa-biasa saja.
“Wow.
Aku tidak pernah berpikiran seperti itu.” puji Dhika membuat Lito menengadahkan
kepalanya.
Aku tersenyum sembari terus menatap
Dhika yang menertawakan tingkahnya.
Kami pun melanjutkan perjalanan.
Perbukitan yang tidak terlampau tinggi, membuat kami dengan cepat bisa sampai
pada puncak.
“Aku mendapatkan sesuatu.” ucapku
bersamaan dengan Dhika.
Dengan spontan, Dhika pun
mempersilakanku untuk membuka pembicaraan terlebih dahulu.
“Selama ini, aku terus
menggebu-nggebu tentang apa yang aku inginkan. Namun, tidak bisa menerima
kegagalan dari usahaku. Aku tahu pernyataan ‘Tuhan akan memberikan rencana yang
indah pada waktuNya’. Meskipun begitu, aku tetap saja menganggap bahwa apa yang
aku inginkan itu sudah merupakan jalan terbaik di hidupku. Sama seperti Lito,
aku masih mengedepankan keegoisanku. Selama ini, Tuhan mempersilakanku untuk
mengagumi sesuatu atau seseorang tetapi tak menjanjikanku akan bisa bahagia
dengan orang itu. Ya. Mungkin dengan pendakian ini, aku disadarkan untuk tidak
mengikuti apa yang kuingini tetapi mengikuti apa perkataan dan kehendakNya.”
“Kamu harus lebih percaya.” tambah
Lito membuatku tersenyum.
Dhika mengacungkan jempol sembari
mengapresiasi ceritaku. Kini, tiba saatnya dia membuka hati untuk berbicara.
“Pendakian itu tidak pernah mudah.
Namun, bisa dilakukan. Semua orang bisa melakukan pendakian. Tapi apakah banyak
dari mereka yang mampu mendaki tanpa kata atau perasaan mengeluh. Bahkan
beberapa detik yang lalu, aku mengeluh tentang pendakian yang aku buat sendiri
ini. Aku tidak pernah melakukan segala sesuatu dengan hati yang lapang. Selalu
ada keinginan untuk mendapatkan keuntungan pribadi dan hal-hal duniawi. Sama
seperti kalian, ini semua karena keegoisan.”
Kami pun berdiam diri sembari
menatap awan yang terlihat hampir dekat dengan kami.
“Haccih!”
Di tengah-tengah perenungan,
tiba-tiba saja Lito bersin. Bukan hanya sekali saja tetapi berulang kali. Ini membuatku
dan Dhika tertawa terpingkal-pingkal dibuatnya.
Kehidupan rohani yang berbeda
menyapa kehidupan kami. Segala bentuk pelayanan kini telah membuat kami merasa
bahagia dan lega karena berhasil mengagungkan nama sang Pencipta.