Untuk : Patrisia Anindita Foto : Flickr             “ Sst! ”             Aku terdiam saat melihat temanku, Dhika, sedang khusyuk ...

Puncak

/
0 Comments



Untuk : Patrisia Anindita
Foto : Flickr

            Sst!
            Aku terdiam saat melihat temanku, Dhika, sedang khusyuk berdoa hingga tak bergerak sedikit pun. Aku menjadi ragu akan tingkah lakunya yang aneh itu sejak perjalanan pulang kami dari ziarah. Aku dan Lito, salah satu sahabatku, memilih untuk menunggunya di balik pintu sembari terus mengawasi kondisinya dari jauh.
            “Sudah berapa jam?”
            “Dua jam.”
            “Apa yang terjadi dengannya?”
            “Aku juga tidak tahu.”
            Tiga jam sudah berlalu. Aku melihat Lito yang sudah tertidur dengan bersandar pada tembok. Mataku pun juga terasa sangat lelah karena terus menerus menatap postur tubuh Dhika yang membungkuk dengan cukup lama. Tiba-tiba, sosok yang sudah aku pandang muncul di depanku.
            “Hei.”
            Aku dan Lito pun terbangun.
            Lito pun terkejut sampai-sampai ia membelalakkan mata hingga membenturkan kepalanya ke tembok yang disanggahnya.
            “Kenapa kalian menungguku?”
            “Bagaimana tidak? Kamu terlihat sedang susah seperti itu?”
            “Tidak. Aku hanya merasa sia-sia saja selama ini berkegiatan di bidang rohani. Aku tidak mendapat apapun.”
            Mendengar Dhika yang mengatakan demikian, membuatku refleks meresponnya dengan sangat cepat.
            “Aku juga. Aku pikir hanya aku saja yang merasakan itu.”
            Lito yang masih terkantuk sama sekali tidak merespon dan memilih hanya mengangguk-ngangguk dengan alasan yang tidak jelas.
            “To! Bangun!” teriak Dhika membuat Lito menjerit sehingga terbangun.
            Kami pun tertawa.
            “Besok kalian harus bangun pagi. Satu hal yang harus kalian lakukan besok. Ikuti aku saja. Oke?” ucap Dhika membuatku mengangguk dengan cepat.
            Aku pun berjalan berlawanan arah dengan mereka. Kini, aku melihat Dhika yang sedang menggendong Lito di punggungnya karena masih tertidur. Aku tertawa dan sontak membuat Dhika juga tersenyum melihatku. Aku segera memalingkan wajahku dan masuk ke dalam kamarku.  
            Pagi segera menyapaku dengan segera. Sebelum semuanya bersiap, aku sudah berada di taman, tempat kami berkumpul untuk rencana Dhika. Sepuluh menit kemudian, aku melihat Dhika yang datang dengan membawa kendaraan bermotornya. Begitu pula, Lito.
            Wah! Rajin sekali?” puji Lito membuatku tersenyum.
            “Kamu pilih mau naik di motorku atau Lito.”
            “Motorku saja. Sudah aku bersihkan supaya kamu tidak terkena noda.” rayu Lito sembari mengelus badan motornya.
            “Dhika saja.” balasku membuat Lito mengubah wajahnya menjadi masam.
            “Tidak perlu cemburu, To.”
            “Ya.” balas Lito bak anak kecil yang gagal mendapatkan es krim.
            Perjalanan panjang kami tempuh hingga mentari benar-benar muncul dengan hangatnya. Sampainya di sebuah tempat ziarah, kami pun berkumpul untuk menghadap dan berdoa.
            “Kita akan menyusuri perbukitan ini. Jika memungkinkan, kita bisa sampai di puncak.” jelas Dhika dengan harapan tinggi pada kami.
            “Kamu mau mendaki kan?” tanya Lito membuatku mengangguk cepat.
            “Kamu yakin?” tanya Dhika sekali lagi.
            Aku pun mengangguk hingga membuat keduanya tersenyum lega.
            “Tenang. Kamu punya bodyguard disini.” ucap Lito sembari memperbaiki tali sepatunya.
            “Untuk keselamatan, kami bisa jamin, Dit.” lanjut Dhika membuatku tersenyum.
            Kami pun melakukan perjalanan panjang sembari membawa sebuah kitab suci. Kami melakukan pendakian ini seperti saat kami melakukan beberapa ibadat sebelum Paskah. Tak disangka nyatanya perjalanan kami tidak semudah apa yang kami bayangkan. Banyaknya bebatuan membuat langkah kami tidak lancar.
            “Jangan buang gas ya!” teriak Lito sembari berjalan di belakangku.
            “Tidak akan.”
            “Awas saja.” ucap Lito sembari terus berjaga jarak denganku.
            Aku tertawa sembari terus melihat punggung Dhika yang semakin membuatku terpana.
            “Kamu haus?” tanya Lito saat melihatku mengusap leherku.
            Aku terkekeh-kekeh.
            “Ini. Bawa saja. Tapi jangan dihabiskan. Bisa mati kehausan aku.” ucap Lito membuatku tersenyum bahagia dan segera membasahi isi leherku.
            Keheningan membuat kami fokus melewati rintangan. Hingga tiba-tiba aku merasa sesak nafas karena kekurangan oksigen. Tentu saja. Lito langsung mengeluarkan oksigen yang dia bawa dan mengenakannya di saluran pernapasanku. Dhika yang terlihat fokus pada perjalanan kurang menyadari keadaanku ini.
            “Terima kasih, To.”
            “Hmm.” ucap Lito sembari mengenggam tanganku agar aku bisa berjalan cepat di belakang Dhika.
            “Lho? Kamu kenapa, Dit?” tanya Dhika saat menyadari aku dan Lito yang berada jauh di belakangnya.
            “Gak papa, Dhik. Ayo lanjut saja.” balasku membuat Dhika kembali memimpin jalan.
            “Ayo kita istirahat sejenak.” ucap Dhika sembari mengeluarkan tikar yang ia bawa dan ia rentangkan di atas perbukitan yang kami pijak.
            “Kalian sudah mendapatkan sesuatu?”
            “Sudah.” jawab Lito dengan nada yang sangat keras.
            Aku dan Dhika pun memfokuskan penglihatan kami kepadanya yang kini sedang berdiri di depan kami.
            “Aku sadar. Seberapa banyak aku berdoa dan  pelayanan itu tidak akan ada artinya jika aku terus mengutamakan keegoisanku. Bagiku, cita-citaku adalah yang nomor satu. Karena selama ini, aku selalu mengedepankan apa yang aku inginkan tetapi tak pernah mau menengok ataupun peduli pada sekitarku. Seperti baru saja terjadi, aku ingin bisa cepat sampai pada puncak tetapi tiba-tiba Dita jatuh. Bagaimana mungkin jika aku meninggalkan dia di tengah perjalanan tadi? Bagiku itu yang sangat menyentuh hati.”
            Kami terkagum dengan cerita spiritual Lito yang sangat sederhana dan menawan. Dia bisa mengambil sesuatu yang mendalam dengan beberapa aktivitas yang dilihat orang adalah sesuatu yang biasa-biasa saja.
            Wow. Aku tidak pernah berpikiran seperti itu.” puji Dhika membuat Lito menengadahkan kepalanya.
            “Jelas! Iya kan, Dit?” rayu Lito sembari mengangkat alisnya padaku.
            Aku tersenyum sembari terus menatap Dhika yang menertawakan tingkahnya.
            Kami pun melanjutkan perjalanan. Perbukitan yang tidak terlampau tinggi, membuat kami dengan cepat bisa sampai pada puncak.
            “Aku mendapatkan sesuatu.” ucapku bersamaan dengan Dhika.
            Dengan spontan, Dhika pun mempersilakanku untuk membuka pembicaraan terlebih dahulu.
            “Selama ini, aku terus menggebu-nggebu tentang apa yang aku inginkan. Namun, tidak bisa menerima kegagalan dari usahaku. Aku tahu pernyataan ‘Tuhan akan memberikan rencana yang indah pada waktuNya’. Meskipun begitu, aku tetap saja menganggap bahwa apa yang aku inginkan itu sudah merupakan jalan terbaik di hidupku. Sama seperti Lito, aku masih mengedepankan keegoisanku. Selama ini, Tuhan mempersilakanku untuk mengagumi sesuatu atau seseorang tetapi tak menjanjikanku akan bisa bahagia dengan orang itu. Ya. Mungkin dengan pendakian ini, aku disadarkan untuk tidak mengikuti apa yang kuingini tetapi mengikuti apa perkataan dan kehendakNya.”
            “Kamu harus lebih percaya.” tambah Lito membuatku tersenyum.
            Dhika mengacungkan jempol sembari mengapresiasi ceritaku. Kini, tiba saatnya dia membuka hati untuk berbicara.
            “Pendakian itu tidak pernah mudah. Namun, bisa dilakukan. Semua orang bisa melakukan pendakian. Tapi apakah banyak dari mereka yang mampu mendaki tanpa kata atau perasaan mengeluh. Bahkan beberapa detik yang lalu, aku mengeluh tentang pendakian yang aku buat sendiri ini. Aku tidak pernah melakukan segala sesuatu dengan hati yang lapang. Selalu ada keinginan untuk mendapatkan keuntungan pribadi dan hal-hal duniawi. Sama seperti kalian, ini semua karena keegoisan.”
            Kami pun berdiam diri sembari menatap awan yang terlihat hampir dekat dengan kami.
            Haccih!
            Di tengah-tengah perenungan, tiba-tiba saja Lito bersin. Bukan hanya sekali saja tetapi berulang kali. Ini membuatku dan Dhika tertawa terpingkal-pingkal dibuatnya.
            Kehidupan rohani yang berbeda menyapa kehidupan kami. Segala bentuk pelayanan kini telah membuat kami merasa bahagia dan lega karena berhasil mengagungkan nama sang Pencipta.



Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.
Powered By Blogger