Untuk : Odilia Dhaneswara Foto : Flickr                           Jangan keluar.             “Ga, tidak sebaiknya kita berada di ...

Jangan Keluar Malam

/
0 Comments



Untuk : Odilia Dhaneswara
Foto : Flickr
             
            Jangan keluar.
            “Ga, tidak sebaiknya kita berada di gedung ini dulu?”
            “Ada apa?”
            “Lihat papan-papan peringatan di sepanjang jalan itu! Mereka menakut-nakutiku.”
            Seorang kepala jaga yang mengedarkan sinar senter di sekitarnya membuat kami tertangkap dan terusir keluar gedung.
            “Ga, sejak kapan papan-papan ini ada?”
            “Jangan pikirkan apapun, Li. Kita juga baru pertama kali pulang larut seperti ini kan? Ini juga karena tugas kita untuk mendekor photobooth resepsi pernikahan kakakmu.”
            Aga meyakinkanku untuk berjalan tenang. Dia juga tampak ketakutan karena lampu ujung jalan yang nyaris terputus. Lama kelamaan langkah Aga menjadi cepat dan sontak membuatku juga menirunya.
            Lampu seketika berwarna merah. Pergantian lampu ini membuatku dan Aga berdiam diri dan melihat sekitar. Semua benar-benar terlihat merah dan bahkan kulitku pun juga berwarna merah. Aku mengenggam tangan Aga ketika mendengar suara auman dari ujung jalan. Segerombolan zombie bangkit dari kuburan mereka dan berjalan ke arah kami. Setelah mengetahui bahwa kami adalah manusia normal, mereka mempercepat lari mereka untuk menerkam kami. Aku yang kalab lebih dulu langsung menarik Aga untuk berlari sekencang mungkin dan mencari satu batang pohon yang kuat. Aga menemukan pohon tersebut dan langsung memanjat dengan menarikku. Kami mengatur napas sembari melihat zombie-zombie itu menggigit batang pohon ini hingga hampir tumbang.
            “Lempar ini, Ga!” teriakku sembari memberikan beberapa batu pada Aga.
            Aga melempar batu itu dengan sekuat mungkin. Namun, zombie itu sama sekali tidak kesakitan dan berulang kali lemparan Aga meleset. Aku pun mencoba menyalakan api dengan korek yang ada di sakuku dan membakar beberapa daun dan menjatuhkan pada kerumunan zombie itu. Anehnya, api itu malah padam terkena tubuh mereka. Kami pun mulai panik dan berteriak ketakutan.
            Ting..tongg..ting..tong
            Suara aneh tiba-tiba terdengat. Saat kami mengalihkan pandangan, tiba-tiba lampu jalanan menjadi biru.
            “Ga, apalagi ini.” ucapku dengan bibir yang gemetar.
            Aga menggelengkan kepala sembari memperhatikan keadaan sekitar.
            “Zombie itu sudah hilang.”
            “Ini benar-benar gila!” teriakku tidak terima dengan kejadian di malam mengerikan ini.
            “Apa kamu yang menggerakan ranting pohon yang aku duduki, Li?”
            “Tidak, Ga.” ucapku sembari mencari sumber gerak yang nyatanya.
            “Li, apapun yang terjadi nanti. Kamu harus bisa menahan napasmu.” perintah Aga sembari memperingatkanku.
            Aku terkejut sembari langsung menaati perintahnya. Dalam sekejap, air mengguyur kami dengan kasar dari arah belakang. Bak tsunami, air itu benar-benar menenggelamkan kami. Aga cepat-cepat menemukanku dan mengangkatku agar aku bisa menyapa oksigen yang sangat jauh dariku. Beberapa ikan besar juga berenang di sekitar kami. Aku histeris dan berlindung di balik Aga yang sedang bersusah payah menaiki kayu yang ia temukan. Aku pun dengan cepat menaiki kayu itu dan membiarkan tubuh ini terombang-ambing.
            “Jangan buat kakimu berdarah, Li. Itu akan memperparah keadaan.”
            Sedetik setelah Aga berkata demikian, muncul hiu dan piranha yang keluar dari dalam air. Aku pun menaiki kakiku yang nyaris saja tertusuk tanaman berduri yang tidak terlihat lagi. Tak jauh dari penglihatanku, tiba-tiba saja aku melihat sebuah ranting. Itu bisa kami gunakan untuk mendayung kayu ini. Aku pun segera memberikannya pada Aga dan Aga pun langsung memukul ikan yang tiba-tiba mendekatinya. Sialnya, Aga terluka karena gigitan ikan itu dan otomatis darahnya menyebar ke dalam air.
            “Bantu aku mendayung, Li!”
            Tanpa ambil pusing, aku langsung mencari ranting baru dan mendayung dengan gerakan yang sama cepatnya dengan Aga. Benar saja, saat kami berusaha melarikan diri, hiu dan piranha mengekor di belakang kami dengan ganasnya. Aku menutup mata dan tiba-tiba aku merasakan kayu yang kami tunggangi perlahan menurun dan air-air itu hanya menyisakan air hujan saja.
            “Ga, kamu tidak apa-apa?”
            Aga menggeleng sembari memegang tangannya.
            Aku pun melepas bandanaku dan mengikatkan pada tangan Aga.
            “Terima kasih, Li.” ucap Aga sembari tersenyum padaku.
            Tingg..tongg..ting..tong
            “Ga. Kita harus cepat sampai di rumah. Lampu itu benar-benar membuatku gila.”
            “Benar. Ayo, kita harus langsung lari.”
            Aku dan Aga pun mencoba melarikan diri untuk sampai pada kediaman kami. Aku tak menyangka perlahan-lahan banyak kunang-kunang yang hadir dari langit. Aku berhenti dan menatap mereka dalam jangka waktu yang lama. Keindahan mereka membuatku tersenyum seakan-akan berada di dunia mimpiku.
            “Lia! Jangan lihat mereka!”
            Aku sama sekali tidak bisa memalingkan pandangan dan tetap tertuju pada kunang-kunang yang semakin mendekati wajahku. Dengan kasar, Aga langsung menarikku dan membuatku tersadar kembali.
            “Apa yang terjadi?” tanyaku sembari berlari di sisi Aga.
            “Mereka menghipnotismu. Jangan lihat mereka lagi!” perintah Aga membuat kunang-kunang itu berkumpul hingga menjadi sesuatu yang mengerikan.
            Aku berbalik dan melihat bahwa kunang-kunang itu memiliki gigi setajam piranha dan sengatan di ekornya. Aku memperingatkan Aga untuk tidak menepuk badan mereka. Lagi-lagi aku membuat api dari kayu dan korek yang aku pegang. Hasilnya kosong. Mereka sama sekali tidak terbakar. Api itu kembali redam saat aku melemparkannya pada mereka.
            “Lampu ini benar-benar membuat gila!” teriak Aga sembari merusak lampu di ujung jalan.
            Lampu itu langsung seketika juga pecah dan mati. Namun, hal yang mengerikan terjadi setelah itu.
            “Ga, sejak kapan kita berada di lorong ini?”                         
            Aku melihat sebuah teleportasi terjadi pada kami. Kami dihadapkan pada lorong tanpa ujung. Benar saja, aneka makhluk yang mengejar kami lagi-lagi kami temui dengan wujud dan energi yang jauh lebih kuat dan mengerikan dari awal kami menemukan mereka.
            “Kita tidak bisa kabur.”
            “Bisa, Ga.”
            “Bagaimana mungkin?”                                         
            “Mereka mengincar lampu ini. Di lampu inilah mereka tinggal. Jika kita berhasil menghidupkannya kembali, mereka akan bisa kembali dan tenang di dalamnya.”
            “Lalu? Bagaimana kita menemukan lampu itu?”
            “Aku ada cadangan di dalam tas. Namun, aku butuh sambungan listrik.”
            Dalam perundingan kami, suara-suara mengerikan itu terdengar sangat dekat. Aga pun langsung mengganti lampu itu dengan cadangan yang aku punya dan berjalan perlahan menuju cahaya di ujung jalan.
            “Kita harus diam dan tidak berlari. Jika aku mengatakan lari, kita akan lari. Oke?” ajak Aga membuatku mengangguk.
            Benar saja. Mereka hanya bisa melihat kami di tempat terang dan tidak bisa mendengar kami jika kami mengendap-endap.
            “Lari!” teriak Aga ketika melihat pintu keluar berada di depan mata.
            Suara mengerikan itu berteriak-teriak memenuhi lorong dan lampu yang rusak itu sudah bisa menyala berkat listrik yang entah tak tau darimana datangnya. Kami pun masuk ke rumah dan langsung menutup pintu rumah kami. Dalam sekejap, lampu itu berubah normal. Semuanya terlihat tidak terjadi apa-apa. Luka dan keringat kami juga menghilang.
            “Apa yang sudah terjadi?”
            “Apapun itu, aku tidak akan lagi keluar malam.”



Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.
Powered By Blogger