“Ga,
tidak sebaiknya kita berada di gedung ini dulu?”
“Ada
apa?”
“Lihat
papan-papan peringatan di sepanjang jalan itu! Mereka menakut-nakutiku.”
Seorang
kepala jaga yang mengedarkan sinar senter di sekitarnya membuat kami tertangkap
dan terusir keluar gedung.
“Ga,
sejak kapan papan-papan ini ada?”
“Jangan
pikirkan apapun, Li. Kita juga baru pertama kali pulang larut seperti ini kan?
Ini juga karena tugas kita untuk mendekor photobooth
resepsi pernikahan kakakmu.”
Aga
meyakinkanku untuk berjalan tenang. Dia juga tampak ketakutan karena lampu
ujung jalan yang nyaris terputus. Lama kelamaan langkah Aga menjadi cepat dan
sontak membuatku juga menirunya.
Lampu
seketika berwarna merah. Pergantian lampu ini membuatku dan Aga berdiam diri
dan melihat sekitar. Semua benar-benar terlihat merah dan bahkan kulitku pun
juga berwarna merah. Aku mengenggam tangan Aga ketika mendengar suara auman
dari ujung jalan. Segerombolan zombie bangkit dari kuburan mereka dan berjalan
ke arah kami. Setelah mengetahui bahwa kami adalah manusia normal, mereka
mempercepat lari mereka untuk menerkam kami. Aku yang kalab lebih dulu langsung
menarik Aga untuk berlari sekencang mungkin dan mencari satu batang pohon yang
kuat. Aga menemukan pohon tersebut dan langsung memanjat dengan menarikku. Kami
mengatur napas sembari melihat zombie-zombie itu menggigit batang pohon ini
hingga hampir tumbang.
“Lempar
ini, Ga!” teriakku sembari memberikan beberapa batu pada Aga.
Aga
melempar batu itu dengan sekuat mungkin. Namun, zombie itu sama sekali tidak
kesakitan dan berulang kali lemparan Aga meleset. Aku pun mencoba menyalakan
api dengan korek yang ada di sakuku dan membakar beberapa daun dan menjatuhkan
pada kerumunan zombie itu. Anehnya, api itu malah padam terkena tubuh mereka.
Kami pun mulai panik dan berteriak ketakutan.
Ting..tongg..ting..tong
Suara
aneh tiba-tiba terdengat. Saat kami mengalihkan pandangan, tiba-tiba lampu
jalanan menjadi biru.
“Ga,
apalagi ini.” ucapku dengan bibir yang gemetar.
Aga
menggelengkan kepala sembari memperhatikan keadaan sekitar.
“Zombie
itu sudah hilang.”
“Ini
benar-benar gila!” teriakku tidak terima dengan kejadian di malam mengerikan
ini.
“Apa
kamu yang menggerakan ranting pohon yang aku duduki, Li?”
“Tidak,
Ga.” ucapku sembari mencari sumber gerak yang nyatanya.
“Li,
apapun yang terjadi nanti. Kamu harus bisa menahan napasmu.” perintah Aga
sembari memperingatkanku.
Aku
terkejut sembari langsung menaati perintahnya. Dalam sekejap, air mengguyur
kami dengan kasar dari arah belakang. Bak tsunami, air itu benar-benar
menenggelamkan kami. Aga cepat-cepat menemukanku dan mengangkatku agar aku bisa
menyapa oksigen yang sangat jauh dariku. Beberapa ikan besar juga berenang di
sekitar kami. Aku histeris dan berlindung di balik Aga yang sedang bersusah
payah menaiki kayu yang ia temukan. Aku pun dengan cepat menaiki kayu itu dan
membiarkan tubuh ini terombang-ambing.
“Jangan
buat kakimu berdarah, Li. Itu akan memperparah keadaan.”
Sedetik
setelah Aga berkata demikian, muncul hiu dan piranha yang keluar dari dalam
air. Aku pun menaiki kakiku yang nyaris saja tertusuk tanaman berduri yang
tidak terlihat lagi. Tak jauh dari penglihatanku, tiba-tiba saja aku melihat
sebuah ranting. Itu bisa kami gunakan untuk mendayung kayu ini. Aku pun segera
memberikannya pada Aga dan Aga pun langsung memukul ikan yang tiba-tiba
mendekatinya. Sialnya, Aga terluka karena gigitan ikan itu dan otomatis
darahnya menyebar ke dalam air.
“Bantu
aku mendayung, Li!”
Tanpa
ambil pusing, aku langsung mencari ranting baru dan mendayung dengan gerakan
yang sama cepatnya dengan Aga. Benar saja, saat kami berusaha melarikan diri,
hiu dan piranha mengekor di belakang kami dengan ganasnya. Aku menutup mata dan
tiba-tiba aku merasakan kayu yang kami tunggangi perlahan menurun dan air-air
itu hanya menyisakan air hujan saja.
“Ga,
kamu tidak apa-apa?”
Aga
menggeleng sembari memegang tangannya.
Aku
pun melepas bandanaku dan mengikatkan pada tangan Aga.
“Terima
kasih, Li.” ucap Aga sembari tersenyum padaku.
Tingg..tongg..ting..tong
“Ga.
Kita harus cepat sampai di rumah. Lampu itu benar-benar membuatku gila.”
“Benar.
Ayo, kita harus langsung lari.”
Aku
dan Aga pun mencoba melarikan diri untuk sampai pada kediaman kami. Aku tak
menyangka perlahan-lahan banyak kunang-kunang yang hadir dari langit. Aku
berhenti dan menatap mereka dalam jangka waktu yang lama. Keindahan mereka
membuatku tersenyum seakan-akan berada di dunia mimpiku.
“Lia!
Jangan lihat mereka!”
Aku
sama sekali tidak bisa memalingkan pandangan dan tetap tertuju pada
kunang-kunang yang semakin mendekati wajahku. Dengan kasar, Aga langsung
menarikku dan membuatku tersadar kembali.
“Apa
yang terjadi?” tanyaku sembari berlari di sisi Aga.
“Mereka
menghipnotismu. Jangan lihat mereka lagi!” perintah Aga membuat kunang-kunang
itu berkumpul hingga menjadi sesuatu yang mengerikan.
Aku
berbalik dan melihat bahwa kunang-kunang itu memiliki gigi setajam piranha dan
sengatan di ekornya. Aku memperingatkan Aga untuk tidak menepuk badan mereka.
Lagi-lagi aku membuat api dari kayu dan korek yang aku pegang. Hasilnya kosong.
Mereka sama sekali tidak terbakar. Api itu kembali redam saat aku
melemparkannya pada mereka.
“Lampu
ini benar-benar membuat gila!” teriak Aga sembari merusak lampu di ujung jalan.
Lampu
itu langsung seketika juga pecah dan mati. Namun, hal yang mengerikan terjadi
setelah itu.
“Ga,
sejak kapan kita berada di lorong ini?”
Aku
melihat sebuah teleportasi terjadi pada kami. Kami dihadapkan pada lorong tanpa
ujung. Benar saja, aneka makhluk yang mengejar kami lagi-lagi kami temui dengan
wujud dan energi yang jauh lebih kuat dan mengerikan dari awal kami menemukan
mereka.
“Kita
tidak bisa kabur.”
“Bisa,
Ga.”
“Bagaimana
mungkin?”
“Mereka
mengincar lampu ini. Di lampu inilah mereka tinggal. Jika kita berhasil
menghidupkannya kembali, mereka akan bisa kembali dan tenang di dalamnya.”
“Lalu?
Bagaimana kita menemukan lampu itu?”
“Aku
ada cadangan di dalam tas. Namun, aku butuh sambungan listrik.”
Dalam
perundingan kami, suara-suara mengerikan itu terdengar sangat dekat. Aga pun
langsung mengganti lampu itu dengan cadangan yang aku punya dan berjalan
perlahan menuju cahaya di ujung jalan.
“Kita
harus diam dan tidak berlari. Jika aku mengatakan lari, kita akan lari. Oke?”
ajak Aga membuatku mengangguk.
Benar
saja. Mereka hanya bisa melihat kami di tempat terang dan tidak bisa mendengar
kami jika kami mengendap-endap.
“Lari!”
teriak Aga ketika melihat pintu keluar berada di depan mata.
Suara
mengerikan itu berteriak-teriak memenuhi lorong dan lampu yang rusak itu sudah
bisa menyala berkat listrik yang entah tak tau darimana datangnya. Kami pun
masuk ke rumah dan langsung menutup pintu rumah kami. Dalam sekejap, lampu itu
berubah normal. Semuanya terlihat tidak terjadi apa-apa. Luka dan keringat kami
juga menghilang.