Entri Populer
My heart feel...
This is my feeling
published on spotify : berjelajah dalam karya “Net? Kamu gak papa kan?” ucap salah satu temanku, Hana, sembari menepuk pundakk...
Aku
pun langsung memasukkan ponselku ke dalam tas selempangku sembari menggelengkan
kepala dengan tawa yang aku buat-buat di wajahku.
Reuni
SMA ini memaksaku untuk mengenakan muka keduaku yaitu berpura-pura bahagia. Saat
semua temanku hadir, tiba-tiba saja ponselku berbunyi.
“Mmm..teman-teman.
Maaf aku harus pulang.” ucapku sembari mengemasi tas selempangku dan mengenakan
jaketku dengan cepat.
“Mau
kemana, Net? Acaranya baru saja akan dimulai lho.” ucap Hana yang
bermaksud menahanku agar tidak pulang.
“Maaf.
Aku harus segera pulang karena mendadak ada acara keluarga.” ucapku yang
berusaha memutar otak untuk mencari sebuah alasan yang logis.
“Baiklah.
Terima kasih ya, Net sudah datang. Hati-hati.” ucap Hana membuatku langsung beranjak
dari tempat dudukku.
Tanpa
bersalaman, aku langsung keluar dengan tergesa-gesa dan mengarahkan lajuku pada
tempat parkir yang seakan terlihat suram dalam penglihatanku.
Aku
melihat Jo yang sedang menatapku tajam sembari melipat tangannya.
“Kenapa
baru selesai!” teriak Jo di depan wajahku.
Aku
berdiam diri sembari menunduk.
“Kamu
benar-benar membuang waktuku! Selama satu jam aku melihatmu hanya berdiam diri
dengan wajah polos karena menunggu teman-temanmu yang belum hadir. Tidak
berpikir bagaimana perasaanku menunggu disini? Aku sudah membusuk!” teriak Jo
membuatku bergetar.
“Aku
minta maaf.” balasku dengan nada yang hampir menangis.
“Sudahlah.
Aku tidak ingin kamu datang di reunian itu lagi.” teriak Jo kemudian.
Aku
berdiam sembari melihat wajahnya yang terus geram padaku.
“Cepat
naik!” teriaknya kemudian sembari mengenakan helmnya.
Aku
pun menaiki motornya dan berdiam diri sepanjang jalan. Dalam perjalanan, dia
terus menerus bersenandung kasar dengan melontarkan banyak hewan yang ada di
benaknya.
“Apa
saja acaramu besok?” ucap Jo dengan ketus.
“Kuliah
saja.” balasku berusaha selembut mungkin.
“Aku
besok akan mengantarmu.” lanjut Jo menuai anggukan dariku.
“Iya.”
Kini,
aku sudah sampai di gerbang rumah. Aku turun sembari menunggunya untuk pergi.
“Jangan
buat aku kecewa besok.” ancam Jo membuatku mengangguk dengan cepat.
Aku
pun memasuki rumahku dan mendapati keluargaku sedang menonton film romance bersama-sama.
“Hai
Net.” sapa ayah memaksaku memasang muka keduaku.
“Iya
yah.” balasku dengan tersenyum.
“Cepat
bersih diri ya. Setelah itu, bergabunglah dengan kami.” ucap ayah membuatku mengangguk.
Aku
pun memasuki kamar dan meletakkan tas selempangku. Hatiku tiba-tiba sakit dan
air mata ke luar dari ekor mataku.
“Sampai kapan aku begini?” ucapku dengan nada terisak.
Aku pun memaksakan diri untuk bersih diri dan langsung
menuju ruang tamu.
Saat
aku sampai di ruang tamu, aku pun menatap layar tv yang tiba-tiba saja
menampilkan dua pasangan yang sedang beradu mulut.
“Duh!
jadi laki-laki kok nggak ada ngalah-ngalahnya! Masa sama perempuan
berani membentak gitu!” omel ibu.
Aku melihatnya dengan datar
sembari terus tersenyum pada tingkah konyol keluargaku.
“Kalau
ayah sih, gak bakalan mbentak Ibu.” ucap ayah membuat ibu tersenyum
sinis.
“Halah! Ayah dulu ya suka bentak-bentak
Ibu.” ucap ibu yang tidak terima dengan perkataan ayah.
“Lho! Kapan Ayah membentak Ibu? Hati Ayah kan selembut sutra?”
ucap ayah membuatku dan ibu tertawa bersama.
Kringg…kringg..
Saat sedang asik bersenda
gurau, tiba-tiba saja ponselku berbunyi. Aku sempat mengabaikannya karena kami
sedang seru melihat film romance itu ditambah kelakuan ayah dan ibu yang
lebih dramatis daripada film yang aku lihat.
Kringg..kringg..
Aku pun terkejut sembari memeriksa
ponselku. Wajah Jo tampil di layar ponselku. Aku langsung berlari menuju kamarku
dan mengangkat video callnya. Bulu kudukku langsung saja berdiri dan
memikirkan apa yang akan ia lakukan padaku.
“Kenapa
lama sekali mengangkat teleponku? Kamu selingkuh ya?” teriak Jo membuatku
sedikit menjauhkan ponselku.
“Tidak.
Aku sedang menonton film dengan keluarga.”
“Alasan.
Kamu pintar ya membuat alasan. Aku nggak buta, Net! Siapa laki-laki yang
mengirim pesan lewat DM instagrammu!”
Aku
terkejut dan langsung membuka instagramku. Benar saja. Remi, teman sekelasku,
mengirimkan pesan singkat padaku. Namun, aku tidak berniat untuk membuka isinya.
“Aku tidak berbicara apapun
dengannya, Jo.”
“Net! ayo kita makan malam. Mau sampai kapan
kamu berdiam diri di kamar? Filmnya juga sudah selesai.” ucap Ibu dari luar kamarku.
“Iya, Bu!” ucapku membuat
Jo memasang wajah yang sangat garang.
“Jika kamu mematikan ponsel ini, saat ini juga
hubungan kita kandas!” ancam Jo.
Aku
menegukkan ludah sembari mengurungkan niat untuk ke luar kamar.
“Aku tidak pergi kemana-mana.” balasku dengan nada yang
terisak.
“Bagus. Baiklah, aku
istirahat sekarang. Tutup teleponnya sampai durasi panggilan satu jam!”
perintah Jo membuatku melihat durasi panggilan yang masih berjalan sepuluh
menit.
Aku pun mengangguk. Perutku
yang kelaparan mulai mengeluarkan suara keroncongan. Aku memutuskan untuk
menyantap makan malam di dalam kamar sembari terus menatapnya yang kini sudah
mendengkur.
“Ya ampun! Letakkan ponselmu itu,
Net! Kamu bisa menggunakannya setelah mencuci piring kan?” keluh Ibu yang
melihatku terus membawa ponsel dan earphone di telingaku.
“Tidak apa, Bu.” balasku
singkat sembari langsung mengurungkan diri di kamar.
Satu jam berlalu. Durasi
panggilan sudah mencapai satu jam. Aku pun perlahan mematikan ponselku.
Keesokan paginya.
Aku terbangun dengan
jantung yang berdegup kencang. Aku langsung bersih diri, berdandan, dan
mengenakan pakaianku untuk berangkat ke kampus. Setelah siap, aku pun menyantap
nasi goreng buatan Ibu sembari menunggu kabar dari Jo.
Aku
berdiam sembari membiarkan layar ponsel berwarna hitam itu terus menatapku.
Benar saja. Beberapa menit kemudian, Jo mengirimkan pesan dan banyak sticker hadir
di dalam percakapan kami. Aku segera membalasnya dan juga mengirimkan sticker yang
sama.
“Aku
sudah di depan.” ucap Jo sembari mengirimkan voice note padaku.
Aku
pun berpamitan dengan kedua orang tuaku dan melaju menuju gerbang rumah.
“Kenapa
dandananmu berbeda?” ucap Jo dengan wajah heran.
“Karena
aku harus rapi jika pergi ke kampus.” balasku dengan tersenyum singkat.
“Dandan
rapi untuk pergi ke kampus atau untuk ketemu dengan gebetanmu yang lain?”
Lagi-lagi
dia menekanku.
“Untuk ke kampus dan untukmu,
Jo.” balasku sembari terus menunduk.
“Rayuanmu itu nggak mempan!
Lihat saja nanti.”
Aku pun langsung menaiki
motornya. Dalam perjalanan, dia lagi-lagi mengoceh tidak tahu aturan. Tidak
hanya hewan yang ia lantunkan tetapi juga banyak singkatan yang lain untuk
melampiaskan kekesalannya. Sampai di kampus, aku segera turun dan
memberikan helmku padanya.
“Masuk
sana. Aku tidak akan pergi selama kamu kuliah.” ucap Jo sembari memarkir sepeda
motornya dan duduk di halte fakultasku.
Aku
berdiam sembari berbalik.
"Kamu punya mulut atau tidak?”
“Iya,
Jo.”
Jo
terlihat bangga sembari mengeluarkan ponselnya.
Aku
merasa tertekan hingga sulit bagiku untuk bahagia hari ini. Kelas pun dimulai,
kini Jo kembali memintaku untuk selfie. Hal itu bertujuan untuk
memastikanku apakah aku benar-benar ada di kelas atau kabur untuk selingkuh.
Cekrik!
“Ya ampun Anet! Ini waktunya pelajaran bukan bermain-main! Sekali lagi kamu
melakukan itu, kamu saya keluarkan dari kelas.” teriak dosenku sembari hampir
melemparku dengan spidol.
Aku
berdiam diri sembari menunduk malu.
“Untuk
pacar tercinta itu, Bu.” teriak salah satu temanku membuat seisi kelas
menertawakanku.
Tak
menyangka hari ini ujian, semua ponsel dikumpulkan. Satu menit setelah itu, aku
baru sadar jika aku lupa meminta ijin pada Jo. Aku berusaha untuk mengambil
ponselku kembali tetapi aku tidak memiliki kesempatan itu. Aku pun mengalihkan
pikiranku dengan mengerjakan ujian dengan fokus. Beruntungnya aku karena aku
bisa menyelesaikannya lebih awal dari teman-temanku.
Setelah selesai mengerjakan ujian, aku langsung mengambil
ponselku dan berlari ke tempat Jo.
“Bagus.”
ucap Jo sembari memperlihatkan ponselnya yang kini retak di dekat motornya.
“Maaf,
Jo. Aku hari ini harus ujian dan ponsel dikumpulkan. Aku lupa mengabarimu.”
“Kenapa
lupa? Tentu saja ada orang yang lebih kamu prioritaskan kan daripada
aku?”
“Berhentilah
berpikiran negatif, Jo!”
“Kamu
berani menggertakku!” ancam Jo sembari menarik daguku.
Aku
terdiam dengan air mata yang memasahi wajahku.
“Kamu
harus ikut aku sekarang!”
“Aku
masih harus menjalankan kuliahku hari ini.”
“Tidak
peduli! Kamu harus membayar kelupaanmu itu.”
Aku
pun menunduk sembari mengikuti laju motornya yang mendadak cepat bak kilat.
“Kamu harus menuruti perkataanku hari ini. Paham!” teriak
Jo membuatku mengangguk.
Kami sekarang berada di sebuah mall. Jo memaksaku
menggandeng tangannya di setiap detik. Bahkan, ketika dia memperbaiki sepatunya.
Tentu saja, hal ini menuai hujatan dari orang-orang di sekitarku.
“Kamu pilih baju yang mana?” ucap Jo membuatku bingung dengan tingkah lakunya.
Aku pun menunjuk tiga baju
yang sesuai seleraku dan membiarkan Jo melakukan pembayaran di kasir. Jo
memberikan tas berisi baju padaku dengan tersenyum.
“Terima
kasih.” balasku membuat Jo tersenyum.
Kring..kring..
Aku mendengar suara dari tasku yang ternyata datang dari ponselku.
Aku pun membukanya perlahan. Tak lama kemudian, Jo merampas ponselku dan
menyimpannya di sakunya.
“Kamu nggak bisa selingkuh, Net.”
“Aku
harus menjawab pesan dari dosenku.”
“Aku
tidak sebodoh itu mempercayai semua alasan klasikmu. Carilah strategi yang
cukup pintar untuk membodohiku ya?”
Aku
diam sembari mengikuti langkahnya yang menuju tempat make up. Aku
dipaksa untuk memilih beberapa produk dan aku pun memilihnya dengan malas.
“Kamu
senang?” tanya Jo sembari menatap wajahku.
Aku
tersenyum dengan kepalsuan yang hakiki.
Selesai
kami berjalan-jalan, aku pun meminta ponselku dikembalikan. Aku mengerahkan
segala cara tetapi semuanya sia-sia. Dia tetap menyimpannya dan mengalihkan
pandanganku pada aneka game station yang memenuhi ruangan di
depanku.
“Kamu
ingin boneka yang mana?”
“Boneka bear saja.”
“Baiklah.”
Dengan
keahlian tangannya itu, ia dengan mudah mendapatkan boneka yang kumau. Sontak
senyum merekah di wajahku bukan karena perjuangannya untuk mendapatkan boneka
ini tetapi karena aku memang menyukai boneka.
“Terima
kasih atas hari ini.” ucap Jo membuatku mengangguk.
Hari
yang panjang membuat energiku habis. Dosen yang tiba-tiba menegurku karena tak
membalas pesan pentingnya membuatku semakin terpuruk. Aku pun melepaskan
penatku dengan menidurkan diri dengan tenang.
Keesokan
paginya.
“Net! Bangun ini sudah
siang!” ucap ibu dengan panik.
Aku
terbangun dan langsung membuka ponsel. Benar saja dua ratus pesan dari Jo
muncul di layarku bak antrian panjang untuk menonton sebuah pertandingan bola.
Aku juga tidak melihat Jo ada di gerbang rumah. Dengan cepat, aku bersih diri
dan berangkat untuk menuju kampus. Aku melihat Jo sedang duduk di halte
fakultasku yang terlihat diam dan sama sekali tidak melihatku.
“Jo,
aku minta maaf semalaman aku tertidur.” ucapku dengan panik.
“Buat
apa minta maaf?” ucapnya yang malah asik bercengkerama dengan teman-temannya.
“Kamu
tidak marah?”
“Kini,
aku bukan siapa-siapamu lagi. So what?”
Aku terkejut. Dalam diamku, dia menjauh dan bercanda tawa dengan
teman-temannya.
“Kamu meminta putus darinya kan, Net? Bahkan kamu
mengata-ngatainya kasar. Apa kamu tidak ingat?” ucap teman Jo membuatku
terbelalak.
Setelah teman Jo berkata demikian, tiba-tiba saja Hana
menarik tanganku.
“Aku yang melakukan semua ini, Net.” ucap Hana membuatku
hanya bisa menatapnya dalam diam.
“Aku tidak tega melihat Jo memperlakukanmu dengan
semena-mena. Aku harap kamu bisa mengerti ya. Ini semua karena aku menyayangimu.”
ucap Hana dengan wajah yang sedih.
“Bagaimana kamu tahu?” tanyaku membuat Hana
mengajakku duduk di suatu tempat.
“Setelah kamu pulang tergesa-gesa dari restoran, aku memata-mataimu,
Net. Aku mengikuti langkahmu di manapun kamu berada.” ucap Hana membuatku
tersenyum bahagia.
“Terima
kasih, Na.” balasku dengan wajah yang sangat gembira.
“Kamu tidak sedih, Net?”
“Hari
ini aku seperti pakaian. Selama ini, aku terus dipaksa untuk hujan-hujanan,
merasakan sinar terik matahari, menjadi permainan anak kecil hingga robek, dan
jika sudah usang aku menjadi kain lusuh untuk membersihkan barang-barang kotor.
Namun, sekarang aku adalah pakaian yang baru. Rasanya lega dan tidak perlu
takut lagi untuk sakit. Aku baru saja sadar bahwa aku adalah korban.”
“Korban
apa, Net?”
“Toxic relationship.”