Story Request : Edoardus Bintang Foto : Canva             “Ditemukan dua mayat mahasiswa di lorong terlarang kampus Z. Korban tidak...

Nyawa Dibayar Nyawa

/
0 Comments



Story Request : Edoardus Bintang
Foto : Canva

            “Ditemukan dua mayat mahasiswa di lorong terlarang kampus Z. Korban tidak dapat dievakuasi karena adanya serangan tiba-tiba dari dalam lorong. Dua petugas ditemukan mati saat melakukan evakuasi.”
            Berita mengerikan itu membuat para dosen membubarkan kelas dan memutuskan untuk meliburkan perkuliahan selama satu minggu.
            “Pang, kenapa masih disini?”
            “Aku masih ada urusan.”
            “Jangan gegabah, Bro.”
            Pang pun mengangguk. Saat kelas sudah sepi, dia bukannya melangkah menuju pintu keluar. Akan tetapi, dia melangkah menuju lorong terlarang itu untuk menyelamatkan teman-temannya. Pembatas pintu yang menghalangi segera dipatahkan oleh Pang sehingga pintu bisa terbuka dengan mudahnya. Lorong itu tidak difasilitasi oleh lampu sehingga Pang terpaksa menyalakan senter di hapenya untuk menemukan dua jasad temannya. Setelah lama berkeliling, Pang pun menemukan dua jasad temannya yang berlumuran darah. Saat ia mengangkat dua temannya itu, tiba-tiba dari ujung ruangan terdapat seorang pria menggunakan topeng hitam mengajukan pistol pada lengan Pang.
            Dor! Tes.
            Darah perlahan mengucur dari lengan kiri Pang. Tanpa ambil pusing, Pang pun melarikan diri sembari membawa dua temannya itu dengan kekuatan yang ia punya.
            Dor!
            Darah kini keluar dari lengan kanan Pang. Luka itu tidak bisa menghentikan kecepatan larinya untuk segera mengevakuasi dua sahabatnya. Sampainya di pintu ujung lorong, Pang lantas mengunci pintu itu rapat-rapat. Setelah berhasil terkunci, penjahat itu terlihat bersusah payah memukul dan menendang pintu itu sekeras-kerasnya agar dapat terbuka. Melihat kesempatan ini, Pang langsung pergi membawa temannya.
            Sampainya di taman, ia melihat gunting taman besar tergeletak tanpa daya di atas rerumputan.
            Argh! Baiklah. Jika dia semakin berulah, aku akan memanfaatkan keahlianku itu.” ucap Pang sembari membawa gunting taman itu dan segera meletakkan kedua temannya di rumah sakit terdekat.
            Keluarga keduanya sangat berterima kasih pada Pang dan segera membiayai pengobatan dua lengan Pang yang terluka parah. Selama dia di rumah sakit, dia merasakan sesuatu yang tidak manusiawi. Dia sedang diintai. Berulang kali ia melihat ada drone terbang dan menyorot wajahnya. Selain itu, dia juga mendapatkan teror berupa tulisan dengan bercak darah. Melihat seorang pasien yang ramah di sebelahnya, membuat Pang meminjam segala benda tajam yang dia punya.
            “Mas, apa yang Anda bawa sekarang?”
            “Maksudnya?”
            “Sesuatu yang tajam.”
            “Tidak ada. Aku hanya membawa gunting kuku dan pensil saja.”
            “Boleh aku meminjam gunting kukumu?”
            “Tentu. Bawa saja, Mas.”
            Pang pun tersenyum sembari menyimpan gunting kukunya ke dalam saku sebagai senjata untuk menyerang pembunuh itu. Malam pun datang. Pang selalu sadar karena intaian pembunuh itu dan terus berjaga jikalau tiba-tiba ada serangan yang menyerbunya. Benar saja, seakan mata Pang berubah menjadi gelap. Saat ia tersadar, ia sudah berada dalam karung beras. Dengan sekuat tenaga, dia mengoyak-ngoyakkan karung itu hingga pembunuh itu berulang kali memukul badannya agar Pang diam.
            Setelah sampai di suatu ruangan yang suram, Pang pun dikeluarkan dengan kasar dari karung itu. Ia terkejut karena melihat pasien yang berada di samping ranjangnya beberapa detik yang lalu kini tidak bernyawa dengan lumuran darah yang keluar dari kepalanya. Pang begitu marah sampai-sampai dia menantang pembunuh itu.
            “Kamu benar-benar keterlaluan!”
            “Tentu saja. Bagiku, membunuh orang adalah suatu kepuasaan yang membanggakanku.”
            “Dasar tidak waras!” teriak Pang sembari melepaskan tali yang mengikat di tangannya dan langsung mencekik pembunuh itu.
            Betapa pintarnya, kini pembunuh itu menusuk-nusuk tangan Pang yang menerkam lehernya. Pang menahan kesakitan sembari tiba-tiba melepaskan tangannya sehingga pembunuh itu menusuk lehernya sendiri. Pembunuh itu berteriak kesakitan sembari berusaha mencabut pisau yang menancam di lehernya. Dengan sigap, Pang mengurung pembunuh itu dan menyeretnya sampai di toilet terdekat. Ia melihat ponsel yang berada di saku pembunuh itu dan melihat foto korban yang akan ia bunuh. Pembunuh itu berhasil membunuh 99 orang dalam kurun waktu satu bulan. Benar saja, korban yang belum ia silang adalah wajah Pang. Melihat ini, Pang pun menjadi brutal.
            “Kamu ingin membunuhku?” Belum sempat pembunuh itu mencabut pisau dari lehernya, Pang langsung menusuk perut pembunuh itu dengan gunting taman.
            Aaaa!!
            “Begitu kotornya ususmu ini? Ini adalah akibat kamu membunuh adikku!” teriak Pang sembari memotong usus pembunuh itu hidup-hidup.
            “Ini hatimu? Begitu jahat dan tidak berhati sekali sampai kamu membuatku kehilangan sahabat-sahabatku!” teriak Pang sembari menarik hati pembunuh itu dan memotongnya.
            Aaa!!
            Kemarahan Pang membuatnya sama sekali tidak manusiawi. Bahkan sekarang, dia merasa bahagia ketika pembunuh itu berteriak kesakitan. Dia ingin mendengarnya lagi dan lagi.
            “Kamu ingin lagi?”
            “A-ampun A-a-ampun!” ucap pembunuh itu tak berdaya.
            “Hmm. Oh, kamu juga membunuh ibu dan ayahku bukan? Dasar manusia tidak tahu diri!” ucap Pang sembari mencabik-cabik tubuh pembunuh itu sehingga organ dalamnya keluar dengan berserakan dan hancur. Ia kini sudah mati.
            Pang tertawa sembari melihat darah yang memenuhi tangan dan tubuhnya.
            “Akhirnya. Aku bisa balas dendam!” bisik Pang sembari mengeluarkan gunting kuku peninggalan pasien yang berada di sisi ranjangnya beberapa detik yang lalu.
            “Ini untuk dendammu, Kawan.” ucap Pang sembari menguliti tubuh pembunuh itu sehingga kini daging dan kulitnya pun terpisah.
            Kebahagiaan yang tidak tertandingi membuat Pang tidak waras.
            Suara hentakan kaki kerumunan orang, membuat Pang segera membersihkan dinding toilet dan meninggalkan jasad itu seorang diri. Ia pun melompat jendela dan segera membawa pasien itu menuju rumah sakit.
            Sampainya di rumah sakit.
            “Bukannya, kamu pasien yang berada di sebelah ranjangnya, Nak?”
            “Iya, Bu.”
            “Terima kasih sudah menyelamatkan anak saya.”
            “Saya sudah menemukannya dalam kondisi yang seperti ini. Maafkan saya.” ucap Pang sembari memberikan gunting kuku peninggalan anaknya.
            “Beberapa menit lalu, saya meminjam potongan kuku itu pada anak Ibu. Namun, saya tidak menyangka bahwa secepat itu dia pergi.”
            Ibu itu tiba-tiba memeluk Pang. Tiba-tiba, Pang teringat oleh ibunya. Dia tersenyum bangga karena berhasil membunuh pembunuh beruntun di kotanya.
            “Ibu tidak perlu khawatir. Tidak akan ada pembunuh itu lagi.”
            Ibu itu tiba-tiba terheran-heran dan tiba-tiba terkejut saat melihat banyak polisi mengerumuni Pang.
            “Anda ditangkap! Karena diduga membunuh seorang laki-laki!”
            “Laki-laki siapa, Pak?”
            “Laki-laki yang menjadi buronan kami selama berhari-hari, Bu. Namun, karena ketidakmanusiawian Anda saat membunuhnya, membuat kami harus menahan Anda dan menjatuhkan hukuman mati pada Anda.”
            Aku tersenyum.
            “Nak, apakah itu benar?”
            “Iya, Bu.”
            “Begitu beraninya kamu sampai-sampai pada akhirnya kamu juga menerima hukuman yang sama.”          
            “Tidak, Bu. Saya hanya melakukan apa yang menjadi tanggung jawab saya. Ibarat kertas. Saya adalah kertas hitam, Bu. Karena selama hidup, saya selalu menanggung kesedihan dan beban seorang diri. Kini, saya sudah berhasil menghapus warna hitam itu setelah membalaskan dendam orang-orang terdekat saya yang mati di tangan pembunuh itu. Kini, saatnya sang pemilik kertas membuang saya dan menggantinya dengan kertas putih yang baru. Supaya kelak, akan ada cerita baru yang bisa membahagiakan orang-orang di luar sana.” ucap Pang sembari menyerahkan diri pada polisi untuk segera diborgol.
            Sampainya di tempat hukuman, sang Polisi menepuk-nepuk pundak Pang dan mempersilakan Pang untuk menyerahkan kepalanya di bawah pisau tajam yang dengan cepat akan menghantam kepalanya.
            “Ada kata-kata terakhir?”
            “Terima kasih, Pak.”
            Para polisi tertegun melihat keberanian Pang dan segera meluncurkan pisau itu dan menguburkan mayatnya di tanah dekat dengan rumahnya.



Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.
Powered By Blogger