“Ditemukan dua mayat mahasiswa di
lorong terlarang kampus Z. Korban tidak dapat dievakuasi karena adanya serangan
tiba-tiba dari dalam lorong. Dua petugas ditemukan mati saat melakukan
evakuasi.”
Berita mengerikan itu membuat para
dosen membubarkan kelas dan memutuskan untuk meliburkan perkuliahan selama satu
minggu.
“Pang, kenapa masih disini?”
“Aku masih ada urusan.”
“Jangan gegabah, Bro.”
Pang pun mengangguk. Saat kelas
sudah sepi, dia bukannya melangkah menuju pintu keluar. Akan tetapi, dia
melangkah menuju lorong terlarang itu untuk menyelamatkan teman-temannya.
Pembatas pintu yang menghalangi segera dipatahkan oleh Pang sehingga pintu bisa
terbuka dengan mudahnya. Lorong itu tidak difasilitasi oleh lampu sehingga Pang
terpaksa menyalakan senter di hapenya untuk menemukan dua jasad temannya.
Setelah lama berkeliling, Pang pun menemukan dua jasad temannya yang berlumuran
darah. Saat ia mengangkat dua temannya itu, tiba-tiba dari ujung ruangan
terdapat seorang pria menggunakan topeng hitam mengajukan pistol pada lengan
Pang.
Dor!Tes.
Darah perlahan mengucur dari lengan
kiri Pang. Tanpa ambil pusing, Pang pun melarikan diri sembari membawa dua
temannya itu dengan kekuatan yang ia punya.
Dor!
Darah kini keluar dari lengan kanan
Pang. Luka itu tidak bisa menghentikan kecepatan larinya untuk segera
mengevakuasi dua sahabatnya. Sampainya di pintu ujung lorong, Pang lantas
mengunci pintu itu rapat-rapat. Setelah berhasil terkunci, penjahat itu
terlihat bersusah payah memukul dan menendang pintu itu sekeras-kerasnya agar
dapat terbuka. Melihat kesempatan ini, Pang langsung pergi membawa temannya.
Sampainya di taman, ia melihat
gunting taman besar tergeletak tanpa daya di atas rerumputan.
“Argh!
Baiklah. Jika dia semakin berulah, aku akan memanfaatkan keahlianku itu.” ucap Pang
sembari membawa gunting taman itu dan segera meletakkan kedua temannya di rumah
sakit terdekat.
Keluarga keduanya sangat berterima
kasih pada Pang dan segera membiayai pengobatan dua lengan Pang yang terluka
parah. Selama dia di rumah sakit, dia merasakan sesuatu yang tidak manusiawi.
Dia sedang diintai. Berulang kali ia melihat ada drone terbang dan menyorot wajahnya. Selain itu, dia juga
mendapatkan teror berupa tulisan dengan bercak darah. Melihat seorang pasien
yang ramah di sebelahnya, membuat Pang meminjam segala benda tajam yang dia
punya.
“Mas, apa yang Anda bawa sekarang?”
“Maksudnya?”
“Sesuatu yang tajam.”
“Tidak ada. Aku hanya membawa
gunting kuku dan pensil saja.”
“Boleh aku meminjam gunting kukumu?”
“Tentu. Bawa saja, Mas.”
Pang pun tersenyum sembari menyimpan
gunting kukunya ke dalam saku sebagai senjata untuk menyerang pembunuh itu.
Malam pun datang. Pang selalu sadar karena intaian pembunuh itu dan terus
berjaga jikalau tiba-tiba ada serangan yang menyerbunya. Benar saja, seakan
mata Pang berubah menjadi gelap. Saat ia tersadar, ia sudah berada dalam karung
beras. Dengan sekuat tenaga, dia mengoyak-ngoyakkan karung itu hingga pembunuh
itu berulang kali memukul badannya agar Pang diam.
Setelah sampai di suatu ruangan yang
suram, Pang pun dikeluarkan dengan kasar dari karung itu. Ia terkejut karena
melihat pasien yang berada di samping ranjangnya beberapa detik yang lalu kini
tidak bernyawa dengan lumuran darah yang keluar dari kepalanya. Pang begitu marah
sampai-sampai dia menantang pembunuh itu.
“Kamu benar-benar keterlaluan!”
“Tentu saja. Bagiku, membunuh orang
adalah suatu kepuasaan yang membanggakanku.”
“Dasar tidak waras!” teriak Pang
sembari melepaskan tali yang mengikat di tangannya dan langsung mencekik
pembunuh itu.
Betapa pintarnya, kini pembunuh itu
menusuk-nusuk tangan Pang yang menerkam lehernya. Pang menahan kesakitan
sembari tiba-tiba melepaskan tangannya sehingga pembunuh itu menusuk lehernya
sendiri. Pembunuh itu berteriak kesakitan sembari berusaha mencabut pisau yang
menancam di lehernya. Dengan sigap, Pang mengurung pembunuh itu dan menyeretnya
sampai di toilet terdekat. Ia melihat ponsel yang berada di saku pembunuh itu
dan melihat foto korban yang akan ia bunuh. Pembunuh itu berhasil membunuh 99
orang dalam kurun waktu satu bulan. Benar saja, korban yang belum ia silang adalah
wajah Pang. Melihat ini, Pang pun menjadi brutal.
“Kamu ingin membunuhku?” Belum
sempat pembunuh itu mencabut pisau dari lehernya, Pang langsung menusuk perut
pembunuh itu dengan gunting taman.
Aaaa!!
“Begitu kotornya ususmu ini? Ini
adalah akibat kamu membunuh adikku!” teriak Pang sembari memotong usus pembunuh
itu hidup-hidup.
“Ini hatimu? Begitu jahat dan tidak
berhati sekali sampai kamu membuatku kehilangan sahabat-sahabatku!” teriak Pang
sembari menarik hati pembunuh itu dan memotongnya.
Aaa!!
Kemarahan Pang membuatnya sama sekali tidak
manusiawi. Bahkan sekarang, dia merasa bahagia ketika pembunuh itu berteriak
kesakitan. Dia ingin mendengarnya lagi dan lagi.
“Kamu ingin lagi?”
“A-ampun A-a-ampun!” ucap pembunuh
itu tak berdaya.
“Hmm. Oh, kamu juga membunuh ibu dan
ayahku bukan? Dasar manusia tidak tahu diri!” ucap Pang sembari mencabik-cabik
tubuh pembunuh itu sehingga organ dalamnya keluar dengan berserakan dan hancur.
Ia kini sudah mati.
Pang tertawa sembari melihat darah yang
memenuhi tangan dan tubuhnya.
“Akhirnya. Aku bisa balas dendam!”
bisik Pang sembari mengeluarkan gunting kuku peninggalan pasien yang berada di
sisi ranjangnya beberapa detik yang lalu.
“Ini untuk dendammu, Kawan.” ucap
Pang sembari menguliti tubuh pembunuh itu sehingga kini daging dan kulitnya pun
terpisah.
Kebahagiaan yang tidak tertandingi
membuat Pang tidak waras.
Suara hentakan kaki kerumunan orang,
membuat Pang segera membersihkan dinding toilet dan meninggalkan jasad itu
seorang diri. Ia pun melompat jendela dan segera membawa pasien itu menuju
rumah sakit.
Sampainya di rumah sakit.
“Bukannya, kamu pasien yang berada
di sebelah ranjangnya, Nak?”
“Iya, Bu.”
“Terima kasih sudah menyelamatkan
anak saya.”
“Saya sudah menemukannya dalam
kondisi yang seperti ini. Maafkan saya.” ucap Pang sembari memberikan gunting
kuku peninggalan anaknya.
“Beberapa menit lalu, saya meminjam
potongan kuku itu pada anak Ibu. Namun, saya tidak menyangka bahwa secepat itu
dia pergi.”
Ibu itu tiba-tiba memeluk Pang.
Tiba-tiba, Pang teringat oleh ibunya. Dia tersenyum bangga karena berhasil
membunuh pembunuh beruntun di kotanya.
“Ibu tidak perlu khawatir. Tidak
akan ada pembunuh itu lagi.”
Ibu itu tiba-tiba terheran-heran dan
tiba-tiba terkejut saat melihat banyak polisi mengerumuni Pang.
“Anda ditangkap! Karena diduga
membunuh seorang laki-laki!”
“Laki-laki siapa, Pak?”
“Laki-laki yang menjadi buronan kami
selama berhari-hari, Bu. Namun, karena ketidakmanusiawian Anda saat
membunuhnya, membuat kami harus menahan Anda dan menjatuhkan hukuman mati pada
Anda.”
Aku tersenyum.
“Nak, apakah itu benar?”
“Iya, Bu.”
“Begitu beraninya kamu sampai-sampai
pada akhirnya kamu juga menerima hukuman yang sama.”
“Tidak, Bu. Saya hanya melakukan apa
yang menjadi tanggung jawab saya. Ibarat kertas. Saya adalah kertas hitam, Bu.
Karena selama hidup, saya selalu menanggung kesedihan dan beban seorang diri.
Kini, saya sudah berhasil menghapus warna hitam itu setelah membalaskan dendam
orang-orang terdekat saya yang mati di tangan pembunuh itu. Kini, saatnya sang
pemilik kertas membuang saya dan menggantinya dengan kertas putih yang baru.
Supaya kelak, akan ada cerita baru yang bisa membahagiakan orang-orang di luar
sana.” ucap Pang sembari menyerahkan diri pada polisi untuk segera diborgol.
Sampainya di tempat hukuman, sang
Polisi menepuk-nepuk pundak Pang dan mempersilakan Pang untuk menyerahkan
kepalanya di bawah pisau tajam yang dengan cepat akan menghantam kepalanya.
“Ada kata-kata terakhir?”
“Terima kasih, Pak.”
Para polisi tertegun melihat keberanian
Pang dan segera meluncurkan pisau itu dan menguburkan mayatnya di tanah dekat
dengan rumahnya.