Story request : Fransiska Renata Foto : Canva             “Siapa dia?” tanya Ika, salah satu teman kerja di kantorku.            ...

Surat Mata-mata

/
0 Comments



Story request : Fransiska Renata
Foto : Canva

            “Siapa dia?” tanya Ika, salah satu teman kerja di kantorku.
            “Teman sekantorku.” balasku.
            “Kenapa foto temanmu itu kini sudah terpecah belah menjadi dua?” tanya Ika sembari mengangkat lembar foto yang telah keluar dari pigura.
            “Itu karena kertas ini.” ucapku sembari menunjukkan sebuah surat teror yang terus berlabuh dalam kamarku.
     Ketakutan. Semua keinginan yang kamu harapkan tidak akan berjalan sesuai dengan harapanmu dan berakhir menjadi petaka bahkan kepedihan dalam hidupmu”
            Ika terdiam sembari terus menatap wajahku yang berupa menjadi pedih. Ia berusaha untuk membuatku tersenyum. Tanpa henti, dia mengusap pundakku dan membersihkan air mata yang membasahi pipiku.
            “Apa yang dilakukan Frans sampai-sampai membuatmu seperti ini?” tanyanya sembari menenangkanku dengan sebuah jaket hangat.
           
(Flashback)
            “Kalian dekat sekali?” tanya teman kantorku saat aku sampai di depan kantor.
            “Sejak kapan?” tambah teman kantorku yang lain.
            “Aku tidak memikirkan kedekatan itu. Aku hanya menerima kebaikannya saja.” jawabku lugas sembari berpura-pura tidak memiliki rasa.
            “Bisa saja jika berbohong. Lain kali jika berbohong jangan lupa mengubah warna di wajahmu ya, Ren.” ucap teman kantorku sembari berlalu dari hadapanku.
            Aku menutup wajahku dan lantas memasuki ruanganku untuk mempersiapkan semua peralatan yang harus tersedia di atas mejaku.
            “Ren? Nanti jangan membuka ponsel sampai aku datang ke ruanganmu ya?”
            Aku menyernyitkan dahi sembari membalas pemahaman yang aku buat-buat dengan menumpahkan kata ‘iya’ di setiap perintahnya.
            Seusai jam bekerja, aku pun berkemas sembari menunggu kedatangan pria bernama Frans itu. Aku terus memeriksa ponsel namun kembali kuurungkan karena larangannya itu. Satu persatu temanku mengucapkan pamit dan selamat tinggal padaku. Hingga pada akhirnya aku berdiri seorang diri. Aku berkeliling hingga terhitung sepuluh kali putaran. Sampainya aku di jendela, aku melihat Frans sedang bercengkerama akrab dengan seorang gadis. Aku terus menatapnya yang tak kunjung-kunjung selesai berbicara. Aku pun memutuskan untuk keluar dari ruangan dan mengeluarkan ponselku.
            “Ren!” teriak Frans dari kejauhan.
            “Maaf, aku harus pulang.” balasku singkat sembari mengabaikannya.
            “Mengapa kamu mengingkari janjimu di ponsel? Aku memintamu untuk tidak menyentuh ponsel itu sampai aku datang.”belanya.
            “Bagaimana aku ingkar? Toh, apa kabar denganmu? Kamu membiarkanku berdiri seorang diri di ruangan dalam waktu yang tidak sebentar. Kamu malah asik bercanda dengan seorang teman atau mungkin dia pasanganmu.” balasku dengan menatapnya tajam-tajam.
            “Baiklah jika itu yang kamu mau. Awalnya aku ingin mengantarmu pulang tetapi karena sikapmu ini. Baiklah, aku berhenti.” ucapnya terlihat tidak bersalah.
            “Mengapa kamu marah? Seharusnya kamu mengerti?”
            “Apa maksudmu?”
            “Tidak apa. Terkadang sebuah mimpi bisa menjatuhkan sang pemimpi. Sehingga ia tidak mampu mengerti apa harapan sang pemimpi.” ucapku sembari meninggalkannya seorang diri dengan wajah mematung melihatku pergi.
           
(Kembali normal)
            “Aku turut sedih akan hal itu.” ucap Ika sembari menenangkanku.
            Aku tersenyum sembari memeluk perempuan dengan rambut di atas bahu itu. Berbagai kejanggalan terjadi dalam hubunganku dengan Ika. Berawal dari saat kami membuat perjanjian untuk berangkat menuju kantor tempat kerja kami.
            “Ren, bisakah kamu pergi lebih dulu?”
            “Mengapa?”
            “Aku harus melakukan sesuatu terlebih dulu. Aku baru saja meminta ijin datang terlambat untuk ini.”
            “Baiklah.”
            Sikap luguku membuatku dengan spontan mempercayai perkataannya. Saat aku berjalan jauh, aku melihat kepanikan muncul di wajahnya. Karena aku percaya, aku pun melangkah ke depan dan berjalan hingga sampai pada pintu kantor. Sesampainya disana, tidak ada lagi orang yang mau menyapaku. Semua mata tersorot pada sebuah motor Frans yang membawa seorang wanita. Benar saja, dia membawa Ika, sahabatku. Aku pun lekas-lekas menuju ruanganku dan mempersibuk diri sebelum pada akhirnya Ika datang di hadapanku.
            “Ha-” sapaku yang tertipu karena melihat Ika yang memalingkan wajahnya dariku.
            Aku melihatnya sibuk bercengkerama dengan Frans hingga tak lagi mau berdiri bahkan berdua denganku seperti biasanya. Satu minggu berlalu, hubunganku dengan Ika semakin renggang. Suatu kertas tiba-tiba berlabuh kembali di atas ranjangku.
            Berani. Mulailah dengan langkahmu yang baru. Mau sampai kapan kamu berdiri diam dalam keterpurukanmu? Ada pepatah mengatakan jangan terlalu sering memeras pakaian yang sudah kering alias jangan terlalu hanyut dalam kesedihanmu.
     Surat teror yang tidak lagi menakut-nakutiku seakan-akan mampu membaca suasana hatiku. Aku hanya bisa membacanya berulang kali sembari mencari seseorang yang mungkin saja tertangkap basah telah mengirimkan surat ini padaku selama dua hari terakhir ini. Namun, tetap saja aku tidak bisa menemukan siapapun. Aku pun memutuskan untuk berangkat bekerja dengan perasaan bahagia seakan tidak terjadi apa-apa. Sebuah kabar tiba-tiba memenuhi sunyinya ruangan perkantoran.
            “Ika?”
            “Iya, dia pindah karena mendapat panggilan dari pekerjaan lain.”
            “Sayang sekali. Padahal kinerjanya sangat memengaruhi bisnis perkantoran ini.”
            Ika? Keluar? Beruntungnya aku ketika mengetahui hal ini. Aku bisa melupakan semua kepahitan ini sejenak. Itu pikirku. Namun, kenyataannya tidaklah semudah itu. Frans masih saja membuang muka dan seolah-olah tidak pernah mengenalku sebelumnya. Aku pun bertekad bulat untuk mencari pekerjaan lain.
            Sebuah band kota membuat heboh para anak muda. Sesekali aku mampir dan melihat ada beberapa lowongan pekerjaan yang tidak sebanding dengan pekerjaanku yang sekarang. Namun, bukanlah ketakutan yang aku rasakan tetapi kenyamanan. Belum sempat aku memilih, tiba-tiba saja ada seorang owner restoran yang menawarkan lowongan pekerjaan ini untukku. Aku menanggapinya dengan ramah sembari berjanji untuk memberikan informasi di hari esok.
            “Sampai jumpa.”
            Tepat hari ini, aku pun sudah meninggalkan kantor itu demi pekerjaanku yang lebih menyenangkan. Tentu saja, surat teror itu datang kembali di atas ranjangku. Kini surat itu membawa aura yang berbeda dari sebelumnya.
            Damai. Terkadang kamu perlu mengorbankan sesuatu yang berharga untuk kedamaian di hatimu. Kini, kamu berhasil membuktikannya. Berjuanglah dan tunjukkan pada dirimu sendiri bahwa kamu bukanlah orang biasa melainkan orang yang luar biasa.
     Senyum merekah di wajahku, benar saja melihatku bisa sukses di tempat baru membuat Frans dan Ika kembali mengejarku. Namun sayang, semua itu terlambat karena kini aku sudah berada jauh dari mereka dan bersanding mesra dengan kesuksesanku.



Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.
Powered By Blogger