“Siapa dia?” tanya Ika, salah satu
teman kerja di kantorku.
“Teman sekantorku.” balasku.
“Kenapa foto temanmu itu kini sudah
terpecah belah menjadi dua?” tanya Ika sembari mengangkat lembar foto yang
telah keluar dari pigura.
“Itu karena kertas ini.” ucapku
sembari menunjukkan sebuah surat teror yang terus berlabuh dalam kamarku.
“Ketakutan. Semua keinginan yang kamu
harapkan tidak akan berjalan sesuai dengan harapanmu dan berakhir menjadi
petaka bahkan kepedihan dalam hidupmu”
Ika terdiam sembari terus menatap
wajahku yang berupa menjadi pedih. Ia berusaha untuk membuatku tersenyum. Tanpa
henti, dia mengusap pundakku dan membersihkan air mata yang membasahi pipiku.
“Apa yang dilakukan Frans
sampai-sampai membuatmu seperti ini?” tanyanya sembari menenangkanku dengan
sebuah jaket hangat.
(Flashback)
“Kalian
dekat sekali?” tanya teman kantorku saat aku sampai di depan kantor.
“Sejak
kapan?” tambah teman kantorku yang lain.
“Aku
tidak memikirkan kedekatan itu. Aku hanya menerima kebaikannya saja.” jawabku lugas
sembari berpura-pura tidak memiliki rasa.
“Bisa
saja jika berbohong. Lain kali jika berbohong jangan lupa mengubah warna di
wajahmu ya, Ren.” ucap teman kantorku sembari berlalu dari hadapanku.
Aku
menutup wajahku dan lantas memasuki ruanganku untuk mempersiapkan semua
peralatan yang harus tersedia di atas mejaku.
“Ren?
Nanti jangan membuka ponsel sampai aku datang ke ruanganmu ya?”
Aku
menyernyitkan dahi sembari membalas pemahaman yang aku buat-buat dengan
menumpahkan kata ‘iya’ di setiap perintahnya.
Seusai
jam bekerja, aku pun berkemas sembari menunggu kedatangan pria bernama Frans
itu. Aku terus memeriksa ponsel namun kembali kuurungkan karena larangannya
itu. Satu persatu temanku mengucapkan pamit dan selamat tinggal padaku. Hingga
pada akhirnya aku berdiri seorang diri. Aku berkeliling hingga terhitung
sepuluh kali putaran. Sampainya aku di jendela, aku melihat Frans sedang
bercengkerama akrab dengan seorang gadis. Aku terus menatapnya yang tak
kunjung-kunjung selesai berbicara. Aku pun memutuskan untuk keluar dari ruangan
dan mengeluarkan ponselku.
“Ren!”
teriak Frans dari kejauhan.
“Maaf,
aku harus pulang.” balasku singkat sembari mengabaikannya.
“Mengapa
kamu mengingkari janjimu di ponsel? Aku memintamu untuk tidak menyentuh ponsel
itu sampai aku datang.”belanya.
“Bagaimana
aku ingkar? Toh, apa kabar denganmu? Kamu membiarkanku berdiri seorang diri di
ruangan dalam waktu yang tidak sebentar. Kamu malah asik bercanda dengan
seorang teman atau mungkin dia pasanganmu.” balasku dengan menatapnya
tajam-tajam.
“Baiklah
jika itu yang kamu mau. Awalnya aku ingin mengantarmu pulang tetapi karena
sikapmu ini. Baiklah, aku berhenti.” ucapnya terlihat tidak bersalah.
“Mengapa
kamu marah? Seharusnya kamu mengerti?”
“Apa
maksudmu?”
“Tidak
apa. Terkadang sebuah mimpi bisa menjatuhkan sang pemimpi. Sehingga ia tidak
mampu mengerti apa harapan sang pemimpi.” ucapku sembari meninggalkannya
seorang diri dengan wajah mematung melihatku pergi.
(Kembali normal)
“Aku turut sedih akan hal itu.” ucap Ika sembari
menenangkanku.
Aku tersenyum sembari memeluk
perempuan dengan rambut di atas bahu itu. Berbagai kejanggalan terjadi dalam
hubunganku dengan Ika. Berawal dari saat kami membuat perjanjian untuk
berangkat menuju kantor tempat kerja kami.
“Ren, bisakah kamu pergi lebih dulu?”
“Mengapa?”
“Aku harus melakukan sesuatu
terlebih dulu. Aku baru saja meminta ijin datang terlambat untuk ini.”
“Baiklah.”
Sikap luguku membuatku dengan
spontan mempercayai perkataannya. Saat aku berjalan jauh, aku melihat kepanikan
muncul di wajahnya. Karena aku percaya, aku pun melangkah ke depan dan berjalan
hingga sampai pada pintu kantor. Sesampainya disana, tidak ada lagi orang yang
mau menyapaku. Semua mata tersorot pada sebuah motor Frans yang membawa seorang
wanita. Benar saja, dia membawa Ika, sahabatku. Aku pun lekas-lekas menuju
ruanganku dan mempersibuk diri sebelum pada akhirnya Ika datang di hadapanku.
“Ha-” sapaku yang tertipu karena
melihat Ika yang memalingkan wajahnya dariku.
Aku melihatnya sibuk bercengkerama
dengan Frans hingga tak lagi mau berdiri bahkan berdua denganku seperti
biasanya. Satu minggu berlalu, hubunganku dengan Ika semakin renggang. Suatu
kertas tiba-tiba berlabuh kembali di atas ranjangku.
Berani. Mulailah dengan langkahmu yang baru. Mau sampai
kapan kamu berdiri diam dalam keterpurukanmu? Ada pepatah mengatakan jangan
terlalu sering memeras pakaian yang sudah kering alias jangan terlalu hanyut
dalam kesedihanmu.
Surat teror yang tidak lagi menakut-nakutiku seakan-akan
mampu membaca suasana hatiku. Aku hanya bisa membacanya berulang kali sembari
mencari seseorang yang mungkin saja tertangkap basah telah mengirimkan surat ini
padaku selama dua hari terakhir ini. Namun, tetap saja aku tidak bisa menemukan
siapapun. Aku pun memutuskan untuk berangkat bekerja dengan perasaan bahagia
seakan tidak terjadi apa-apa. Sebuah kabar tiba-tiba memenuhi sunyinya ruangan
perkantoran.
“Ika?”
“Iya, dia pindah karena mendapat
panggilan dari pekerjaan lain.”
“Sayang sekali. Padahal kinerjanya
sangat memengaruhi bisnis perkantoran ini.”
Ika? Keluar? Beruntungnya aku ketika
mengetahui hal ini. Aku bisa melupakan semua kepahitan ini sejenak. Itu
pikirku. Namun, kenyataannya tidaklah semudah itu. Frans masih saja membuang
muka dan seolah-olah tidak pernah mengenalku sebelumnya. Aku pun bertekad bulat
untuk mencari pekerjaan lain.
Sebuah band kota membuat heboh para
anak muda. Sesekali aku mampir dan melihat ada beberapa lowongan pekerjaan yang
tidak sebanding dengan pekerjaanku yang sekarang. Namun, bukanlah ketakutan
yang aku rasakan tetapi kenyamanan. Belum sempat aku memilih, tiba-tiba saja
ada seorang owner restoran yang
menawarkan lowongan pekerjaan ini untukku. Aku menanggapinya dengan ramah
sembari berjanji untuk memberikan informasi di hari esok.
“Sampai jumpa.”
Tepat hari ini, aku pun sudah
meninggalkan kantor itu demi pekerjaanku yang lebih menyenangkan. Tentu saja,
surat teror itu datang kembali di atas ranjangku. Kini surat itu membawa aura
yang berbeda dari sebelumnya.
Damai. Terkadang kamu perlu mengorbankan sesuatu yang
berharga untuk kedamaian di hatimu. Kini, kamu berhasil membuktikannya.
Berjuanglah dan tunjukkan pada dirimu sendiri bahwa kamu bukanlah orang biasa
melainkan orang yang luar biasa.
Senyum merekah di wajahku, benar saja melihatku bisa
sukses di tempat baru membuat Frans dan Ika kembali mengejarku. Namun sayang,
semua itu terlambat karena kini aku sudah berada jauh dari mereka dan
bersanding mesra dengan kesuksesanku.