published on spotify : berjelajah dalam karya                “Aargh!” teriak Naomi seketika saat Nino sedang melahap santapan dari hasil ...

Kematian Sang Benalu

/
0 Comments


published on spotify : berjelajah dalam karya

               “Aargh!” teriak Naomi seketika saat Nino sedang melahap santapan dari hasil tangan ibunya.
            Nino menyernyitkan dahi sembari melangkah menuju ruang kamar adiknya, Naomi. Kini, Nino melihat banyak darah berhamburan di ruangan adiknya. Ia sontak langsung menarik tangan adiknya dan mendampatinya sedang bermain cutter sehingga jarinya tersayat.
            “Kamu apa-apaan sih! Lagi apa itu!” ucap Nino dengan nada ketus.
            “Bisa lihat sendiri kan?” jawab adiknya dengan tangan yang masih sibuk bermain dengan benda tajam itu.
            “Berhenti!” ucap Nino sembari melempar cutter yang terus adiknya bawa.
            Naomi terlihat kesal sembari terus berusaha mengambil cutter yang terus Nino jauhkan darinya.
            “Kamu kurang kerjaan? Buat apa sih menghabiskan waktu untuk bermain cutter? Kamu adalah perempuan paling bodoh yang pernah aku kenal karena terus menerus menghabiskan waktu untuk melukai tanganmu!” teriak Nino kesal membuat adiknya beranjak dari tempat duduknya.
            “Memang! Memang aku perempuan bodoh! Ke luar dari kamarku!” teriaknya sembari mendorong punggung Nino hingga ia ke luar dari daerah kekuasaan adiknya itu.
            Nino geram sembari mengalihkan pikirannya untuk kembali menyantap hidangan nikmat milik ibu.
            Pagi pun menyambut. Kemalasan membuat Nino menghabiskan waktu di depan layar televisi dengan stick playstation yang menemani jarinya. Ia terkejut melihat Naomi, adiknya, masih saja mengurung diri di ruangannya. Nino tidak mempedulikannya. Jam menunjukkan pukul tujuh. Ia pun bergegas berangkat sekolah sembari melihat adiknya yang juga ke luar dari ruangannya.
            “Dasar tukang telat!” ejek Naomi sembari ke luar dari rumah lebih dulu daripada Nino.
            Nino tidak mempedulikan keanehan adiknya sembari memutar kunci rumah ketika tahu bahwa ibunya sudah berangkat bekerja sejam sebelum ia sadar dari mimpi indahnya.
            Sampainya di sekolah, Nino tentu saja menjalani hukuman karena keterlambatannya. Sembari menjalankan sebuah hukuman, ia mendapatkan kiriman berupa video dari salah satu adik tingkatnya yang berada satu kelas dengan Naomi.
            Di video itu, memperlihatkan sosok Naomi yang sedang dihadang oleh dua orang. Mereka bersembunyi dari balik lorong dan tiba-tiba mendekat saat melihat Naomi sedang meletakkan bekal rumahnya. Tidak terdengar suara yang jelas. Singkatnya, dia dimaki-maki berulang kali. Namun anehnya, Naomi terlihat terbiasa dengan cacian itu. Dia hanya melihat dengan wajah datar tanpa merasakan apapun yang membuat wajah polosnya itu menitikkan air mata. Nino terkejut dan menutup video itu.
            “Bukannya menjalankan hukuman, malah bermain ponsel!” tegur salah satu guru yang tiba-tiba muncul dari arah belakangnya.
            Nino pun terkejut sembari kembali membersihkan lapangan olahraga dengan menggunakan sapu lidi yang jauh lebih pendek dari tubuhnya.
            Langit yang awalnya cerah kini berubah menjadi petang dan semua murid yang pulang menunjukkan wajah kelelahan mereka. Nino pun seketika bertemu dengan temannya yang beberapa jam yang lalu mengirimkannya video tentang Naomi.
            “Bro, tolong kirim info tentang Naomi lagi ya!”
            “Iya, Bro. Kaget aja lihat adekku kirim video itu. Dia bilang kejadian itu sudah lama nimpa Naomi. Tapi, baru kali ini dia bisa menemukan bukti itu. Karena selama satu tahun dia hanya dengar dari pembicaraan temen-temennya aja sih.”
            Nino terkejut. Apakah raut wajah Naomi yang tidak lagi bisa menangis itu karena dia sudah sering menghadapi pembullyan itu?
            “Bro. Besok aku skip sekolah. Dan kamu bisa bantu aku nggak?” tanya Nino pada Nikol, teman satu kelasnya.
            “Untuk Naomi? Laksanakan!” ucapnya sembari menepuk pundak Nino.
            “Aku bakal ajak anak-anak lain. Adikmu adalah orang penting dalam kasus ini.”
            Nino pun mengangguk. Hari ini Nino sengaja tidak mampir untuk nongkrong dengan teman-temannya. Ia mengalihkan motornya di depan sekolah Naomi dan mengintainya dari kejauhan.
            Naomi terlihat sedang menunggu angkutan umum melintas di hadapannya. Pemandangan yang biasa saja saat ini tak membuat Nino meragukan apapun. Namun, beberapa detik kemudian ada tiga orang yang menarik bajunya hingga ia terjatuh ke belakang. Nino spontan beranjak hendak menolongnya. Namun, setelah dipikir-pikir, ia memilih untuk mengurungkan niatnya itu dan tetap terus mengawasinya dari jauh. Tiga orang itu adalah orang yang sama seperti yang ada di tayangan video itu. Nino pun melihat salah satu lelaki mendekati adik Nikol yang sedang mengeluarkan sepeda ontelnya dari tempat parkir. Ia tertangkap basah karena merekam Naomi.
            Nino pun mendekatinya dengan mengenakan jaket hitam dan tas sekolahnya. Beruntungnya ia, Naomi sudah berada di angkutan umum sehingga adiknya igu tidak menyadari keberadaannya.
            “Mau apa?” tanya Nino sembari menunduk saat melihat wajah anak laki-laki yang hendak menyakiti adik temannya ini.
            Ia beruntung dilahirkan dengan tinggi seperti ini.
            “Bukan urusanmu!” teriak anak laki-laki itu sembari menarik adik Nikol yang berhasil ia tahan.
            “Kamu akan menjadi urusanku jika bermasalah dengannya!” teriak Nino kemudian membuat salah satu dari mereka angkat bicara.
            “Apa maksudmu? Dia sudah merekam..” balasnya kemudian membuat Nino membanting tasnya.
            “Iya! Kalian merekam adikku. Naomi adalah adikku! Ingat! Kamu bisa bahagia karena membuat adikku menderita! Tetapi itu hanya berhenti untuk hari ini! Semakin kamu mengancamnya untuk diam, aku akan membuatmu semakin tidak bisa berbicara apapun nantinya!”
            Mereka mendadak diam. Nino segera melihat mereka yang kini sedang berlari terbirit-birit dengan sangat ketakutan.
            Pada akhirnya Nino sampai di rumah, ia melihat Naomi sedang menatapnya dengan tatapan kosong.
            “Apa?” tanya Nino ketus membuat adiknya tersenyum.
            “Tidak apa.” balas Naomi kemudian.
            “Kamu bermain benda tajam itu? Lagi?”
            “Tentu tidak. Aku tidak mau jadi perempuan bodoh seperti yang kakak bilang.”
            “Sejak kapan kamu menyadari bahwa aku kakakmu?”
            “Hmm. Sejak hari ini.”
            Sikap aneh Naomi membuat Nino terus mengejek adiknya itu hingga ia kelelahan. Naomi bahkan tidak menunjukkan pembelaannya di depan matanya selama ia mengejeknya. Mengapa dia terlihat bahagia saat melihat Nino?
            “Teman-teman, aku minta kita berkumpul di depan sekolah. Maksudku, di depan sekolah Naomi pukul dua siang. Sekarang aku akan menghentikan mereka untuk tidak mengganggu Naomi.” ucap Nino sembari mengirimkan pesan pada seluruh teman-temannya.
            “Ayo aku antar!”
            “Demi apa?”
            “Sudah ayo! Aku ada perlu dengan sekolahmu.”
            Naomi tampak tidak peduli dengan perkataan Nino dan menaiki motornya.
            Nino pun sengaja tidak menggunakan jalur umum tetapi ia memilih jalan pintas yang bisa mengecoh ketiga teman Naomi sehingga mereka tidak bisa menyiksanya.
            “Makasih, Kak.”
            Nino mengangguk sembari melihat tiga temannya yang mengendap-endap mendekati Naomi dari belakang. Tanpa ambil pusing, Nino langsung menghentikan langkah dan menghadang mereka bertiga.
            “Mau apa?”
            “Kamu siapa?”
            “Aku kakaknya.”
            Sejenak suasana riuh menjadi sepi. Mereka perlahan mundur.
            “Lho? Kenapa nggak jadi menyakiti Naomi? Lakukan saja semaumu. Aku ingin lihat secara langsung. Setelah kalian membuli Naomi, aku akan membulimu juga. Begitulah rencanaku.”
            Mereka mundur sembari kembali terhalang karena Nino menghadang langkah mereka.
            “Ingat! Apapun yang kamu ingin dapatkan dari Naomi tidak akan pernah bisa kamu dapatkan. Aku terkadang sedih melihat kalian. Kalian seperti benalu. Tumbuh hanya untuk merusak dan mengganggu ketentraman tanaman lain. Namun, tidak pernah berpikir bahwa kalian jauh lebih buruk dari tanaman yang ingin kamu rusak.”
            “Tidak peduli dengan apa yang kamu katakan!” teriak mereka sembari mendorong Nino.
            Beberapa detik kemudian, ia melihat salah satu dari mereka merogoh ponsel. Nino pun langsung menyambarnya.
            “Sang benalu yang sudah melekat pada sebuah tanaman yang hampir tandus sesaat lagi akan roboh dan mati.” ucap Nino kemudian sembari memasang wajah yang tidak main-main.
            Seketika itu juga, mereka berlarian dan membiarkan Nino berdiri seorang diri.
            Naomi yang berada di kantin tak membuat Nino kabur begitu saja setelah ancaman itu berhasil ia lantunkan. Tiga perempuan itu masih saja memarahi Naomi akan tetapi suatu hal aneh terjadi.
            “Apakah kamu tidak keberatan jika ada benalu di tangkaimu?”
            “Jika aku keberatan, kamu sudah dikeluarkan dari sekolah ini.” ucap Naomi dengan angkuh.
            “Baru saja aku bertemu dengan kakakmu. Ia berkata kelak benalu yang menempel di tangkaimu akan roboh dan mati.”
            “Memang. Karena selama apapun kamu menumpang, kamu tidak akan sama seperti aku.” balas Naomi membuat Nino tersenyum.
            “Aku terkejut. Ancaman begitu saja sudah melunturkan mentalmu untuk kembali menyerangku. Jika kakakku sampai ikut campur dalam masalah ini, dia tidak akan pernah main-main. Jadi hati-hati saja. ” lanjutnya kemudian membuat Nino tersenyum lebar sembari meninggalkan sekolah Naomi.
            Aksi teman-teman Nino yang menegur pelaku yang menyerang adiknya berhasil dengan mulus. Naomi tersenyum melihat Nino sembari perlahan memeluknya.
            “Kakak keren.”
            “Jelas!”
            “Terima kasih, Kak.”
            “Kamu harus berhutang budi padaku.”
            “Bermain timezone?
            “Oke. Keputusan diterima!”
           



Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.
Powered By Blogger