“Aargh!” teriak Naomi seketika saat Nino sedang melahap santapan dari hasil tangan ibunya.
Nino menyernyitkan dahi sembari
melangkah menuju ruang kamar adiknya, Naomi. Kini, Nino melihat banyak darah berhamburan di
ruangan adiknya. Ia sontak langsung menarik tangan adiknya dan mendampatinya sedang
bermain cutter sehingga jarinya tersayat.
“Kamu apa-apaan sih! Lagi apa itu!” ucap Nino dengan
nada ketus.
“Bisa lihat sendiri kan?” jawab adiknya dengan tangan yang masih sibuk bermain dengan benda tajam itu.
“Berhenti!” ucap Nino sembari melempar cutter yang terus adiknya bawa.
Naomi terlihat kesal sembari terus
berusaha mengambil cutter yang terus Nino jauhkan darinya.
“Kamu kurang kerjaan? Buat apa sih menghabiskan waktu untuk bermain cutter?
Kamu adalah perempuan paling bodoh yang pernah aku kenal karena terus menerus
menghabiskan waktu untuk melukai tanganmu!” teriak Nino kesal membuat adiknya beranjak
dari tempat duduknya.
“Memang! Memang aku perempuan bodoh! Ke luar
dari kamarku!” teriaknya sembari mendorong punggung Nino hingga ia ke luar dari
daerah kekuasaan adiknya itu.
Nino geram sembari mengalihkan
pikirannya untuk kembali menyantap hidangan nikmat milik ibu.
Pagi pun menyambut. Kemalasan
membuat Nino menghabiskan waktu di depan layar televisi dengan stick playstation yang menemani jarinya. Ia terkejut melihat Naomi, adiknya, masih saja mengurung diri di ruangannya. Nino tidak
mempedulikannya. Jam menunjukkan pukul tujuh. Ia pun bergegas berangkat sekolah sembari melihat adiknya yang juga ke luar dari ruangannya.
“Dasar tukang telat!” ejek Naomi
sembari ke luar dari rumah lebih dulu daripada Nino.
Nino tidak mempedulikan keanehan adiknya sembari memutar kunci rumah ketika tahu bahwa ibunya sudah berangkat bekerja sejam
sebelum ia sadar dari mimpi indahnya.
Sampainya di sekolah, Nino tentu saja
menjalani hukuman karena keterlambatannya. Sembari menjalankan sebuah hukuman, ia mendapatkan kiriman berupa video dari salah satu adik tingkatnya yang berada
satu kelas dengan Naomi.
Di video itu, memperlihatkan sosok
Naomi yang sedang dihadang oleh dua orang. Mereka bersembunyi dari balik lorong
dan tiba-tiba mendekat saat melihat Naomi sedang meletakkan bekal rumahnya.
Tidak terdengar suara yang jelas. Singkatnya, dia dimaki-maki berulang kali.
Namun anehnya, Naomi terlihat terbiasa dengan cacian itu. Dia hanya melihat
dengan wajah datar tanpa merasakan apapun yang membuat wajah polosnya itu
menitikkan air mata. Nino terkejut dan menutup video itu.
“Bukannya menjalankan hukuman, malah
bermain ponsel!” tegur salah satu guru yang tiba-tiba muncul dari
arah belakangnya.
Nino pun terkejut sembari kembali membersihkan
lapangan olahraga dengan menggunakan sapu lidi yang jauh lebih pendek dari tubuhnya.
Langit yang awalnya cerah kini berubah menjadi petang dan semua murid yang pulang menunjukkan wajah kelelahan mereka. Nino pun seketika bertemu dengan temannya yang beberapa jam yang lalu mengirimkannya video tentang Naomi.
“Bro, tolong kirim info tentang
Naomi lagi ya!”
“Iya, Bro. Kaget aja lihat adekku
kirim video itu. Dia bilang kejadian itu sudah lama nimpa Naomi. Tapi, baru
kali ini dia bisa menemukan bukti itu. Karena selama satu tahun dia hanya dengar dari pembicaraan temen-temennya aja sih.”
Nino terkejut. Apakah raut wajah
Naomi yang tidak lagi bisa menangis itu karena dia sudah sering menghadapi pembullyan itu?
“Bro. Besok aku skip sekolah. Dan
kamu bisa bantu aku nggak?” tanya Nino pada Nikol, teman satu kelasnya.
“Aku bakal ajak anak-anak lain.
Adikmu adalah orang penting dalam kasus ini.”
Nino pun mengangguk. Hari ini Nino sengaja tidak mampir untuk nongkrong dengan teman-temannya. Ia mengalihkan
motornya di depan sekolah Naomi dan mengintainya dari kejauhan.
Naomi terlihat sedang menunggu
angkutan umum melintas di hadapannya. Pemandangan yang biasa saja saat ini tak membuat Nino meragukan apapun. Namun,
beberapa detik kemudian ada tiga orang yang menarik bajunya hingga ia terjatuh
ke belakang. Nino spontan beranjak hendak menolongnya. Namun, setelah
dipikir-pikir, ia memilih untuk mengurungkan niatnya itu dan tetap terus mengawasinya dari jauh. Tiga
orang itu adalah orang yang sama seperti yang ada di tayangan video itu. Nino pun melihat salah
satu lelaki mendekati adik Nikol yang sedang mengeluarkan sepeda ontelnya dari
tempat parkir. Ia tertangkap basah karena merekam Naomi.
Nino pun mendekatinya dengan
mengenakan jaket hitam dan tas sekolahnya. Beruntungnya ia, Naomi
sudah berada di angkutan umum sehingga adiknya igu tidak menyadari keberadaannya.
“Mau apa?” tanya Nino sembari menunduk saat melihat wajah anak laki-laki yang hendak menyakiti adik temannya ini.
Ia beruntung dilahirkan dengan
tinggi seperti ini.
“Bukan urusanmu!” teriak anak laki-laki itu sembari
menarik adik Nikol yang berhasil ia tahan.
“Kamu akan menjadi urusanku jika
bermasalah dengannya!” teriak Nino kemudian membuat salah satu dari mereka angkat
bicara.
“Apa maksudmu? Dia sudah merekam..”
balasnya kemudian membuat Nino membanting tasnya.
“Iya! Kalian merekam adikku. Naomi
adalah adikku! Ingat! Kamu bisa bahagia karena membuat adikku menderita! Tetapi
itu hanya berhenti untuk hari ini! Semakin kamu mengancamnya untuk diam, aku
akan membuatmu semakin tidak bisa berbicara apapun nantinya!”
Mereka mendadak diam. Nino segera
melihat mereka yang kini sedang berlari terbirit-birit dengan sangat ketakutan.
Pada akhirnya Nino sampai di rumah, ia melihat Naomi sedang menatapnya dengan tatapan kosong.
“Apa?” tanya Nino ketus membuat adiknya
tersenyum.
“Tidak apa.” balas Naomi kemudian.
“Kamu bermain benda tajam itu? Lagi?”
“Tentu tidak. Aku tidak mau jadi
perempuan bodoh seperti yang kakak bilang.”
“Sejak kapan kamu menyadari bahwa
aku kakakmu?”
“Hmm. Sejak hari ini.”
Sikap aneh Naomi membuat Nino terus
mengejek adiknya itu hingga ia kelelahan. Naomi bahkan tidak menunjukkan pembelaannya di depan
matanya selama ia mengejeknya. Mengapa dia terlihat bahagia saat melihat Nino?
“Teman-teman, aku minta kita
berkumpul di depan sekolah. Maksudku, di depan sekolah Naomi pukul dua siang. Sekarang aku akan
menghentikan mereka untuk tidak mengganggu Naomi.” ucap Nino sembari mengirimkan
pesan pada seluruh teman-temannya.
“Ayo aku antar!”
“Demi apa?”
“Sudah ayo! Aku ada perlu dengan
sekolahmu.”
Naomi tampak tidak peduli dengan
perkataan Nino dan menaiki motornya.
Nino pun sengaja tidak menggunakan
jalur umum tetapi ia memilih jalan pintas yang bisa mengecoh ketiga teman Naomi
sehingga mereka tidak bisa menyiksanya.
“Makasih, Kak.”
Nino mengangguk sembari melihat tiga
temannya yang mengendap-endap mendekati Naomi dari belakang. Tanpa ambil
pusing, Nino langsung menghentikan langkah dan menghadang mereka bertiga.
“Mau apa?”
“Kamu siapa?”
“Aku kakaknya.”
Sejenak suasana riuh menjadi sepi.
Mereka perlahan mundur.
“Lho? Kenapa nggak jadi menyakiti
Naomi? Lakukan saja semaumu. Aku ingin lihat secara langsung. Setelah kalian membuli Naomi, aku akan membulimu juga. Begitulah rencanaku.”
Mereka mundur sembari kembali
terhalang karena Nino menghadang langkah mereka.
“Ingat! Apapun yang kamu ingin
dapatkan dari Naomi tidak akan pernah bisa kamu dapatkan. Aku terkadang sedih
melihat kalian. Kalian seperti benalu. Tumbuh hanya untuk merusak dan
mengganggu ketentraman tanaman lain. Namun, tidak pernah berpikir bahwa kalian
jauh lebih buruk dari tanaman yang ingin kamu rusak.”
“Tidak peduli dengan apa yang kamu katakan!”
teriak mereka sembari mendorong Nino.
Beberapa detik kemudian, ia melihat
salah satu dari mereka merogoh ponsel. Nino pun langsung menyambarnya.
“Sang benalu yang sudah melekat pada
sebuah tanaman yang hampir tandus sesaat lagi akan roboh dan mati.” ucap Nino kemudian sembari memasang wajah yang tidak main-main.
Seketika itu juga, mereka berlarian
dan membiarkan Nino berdiri seorang diri.
Naomi yang berada di kantin tak
membuat Nino kabur begitu saja setelah ancaman itu berhasil ia lantunkan. Tiga
perempuan itu masih saja memarahi Naomi akan tetapi suatu hal aneh terjadi.
“Apakah kamu tidak keberatan jika
ada benalu di tangkaimu?”
“Jika aku keberatan, kamu sudah dikeluarkan dari sekolah ini.” ucap Naomi dengan angkuh.
“Baru saja aku bertemu dengan
kakakmu. Ia berkata kelak benalu yang menempel di tangkaimu akan roboh dan
mati.”
“Memang. Karena selama apapun kamu
menumpang, kamu tidak akan sama seperti aku.” balas Naomi membuat Nino tersenyum.
“Aku terkejut. Ancaman begitu saja
sudah melunturkan mentalmu untuk kembali menyerangku. Jika kakakku sampai ikut campur
dalam masalah ini, dia tidak akan pernah main-main. Jadi hati-hati saja. ” lanjutnya kemudian membuat Nino tersenyum lebar sembari meninggalkan sekolah Naomi.
Aksi teman-teman Nino yang menegur
pelaku yang menyerang adiknya berhasil dengan mulus. Naomi tersenyum melihat Nino sembari perlahan memeluknya.