published on spotify : Berjelajah dalam Karya             “Antagonis?”             “Apa kamu keberatan?”             “Mengapa aku se...

Antagonis

/
0 Comments


published on spotify : Berjelajah dalam Karya

            “Antagonis?”
            “Apa kamu keberatan?”
            “Mengapa aku selalu menjadi tokoh antagonis?”
            “Mimik wajahmu sangat cocok untuk itu.”
            “Aku keluar!” teriakku sembari menciptakan wajah kejut dari salah satu temanku, Yohan.
            Aku mendengar hentakan kakinya yang semakin cepat sehingga mampu mengalahkan langkah kakiku yang kalah cepat darinya.
            “Ra, kamu kenapa?”
            “Mengapa selalu antagonis?”
            *         
Flashback
“Lia, ibu pergi ke pasar dulu ya. Nanti kamu ditemani oleh kak Ara, ya.”
“Tidak mau, Bu. Dia jahat!”
“Kak Ara jahat hanya di panggung saja, Lia. Kak Ara baik kok!”
“Pokoknya tidak mau!”
“Maaf ya, Ara. Lia saya ajak saja ke pasar.” ucap ibu Lia yang merasa tidak enak padaku.
“Tidak apa-apa, Tante.”balasku sembari tersenyum seramah mungkin.
Di dalam hati aku merasa sangat sedih karena posisiku yang selalu menjadi tokoh antagonis membuatku tidak bisa mendekati anak-anak kecil.
“Dia Ara yang selalu jadi tokoh antagonis itu kan?”
“Iya. Wajah memang serem sih!”
“Sudah sudah tidak usah membicarakan dia. Bisa saja sifatnya di panggung itu sama seperti kenyataannya.”
“Ia dia terlihat sangat berbakat memerankan sifat jahat.”
*
“Ra, kamu tidak apa-apa kan?” tanya Yohan sembari menepuk pundakku perlahan.
Aku tersenyum sembari mengikuti latihan dengan setengah hati. Aku berlatih dengan malas-malasan sembari sengaja tidak melepas naskah dan terus membawanya sehingga ekspresiku kurang menonjol. Selesainya latihan, Yohan mengajak kami semua untuk melakukan evaluasi. Namun, aku berhasil menggunakan kesempatan dengan baik. Ya. Aku kabur dari pergumulan itu.
Aku kesal. Aku ingin dipandang baik oleh semua orang bukannya dikenal sebagai seseorang yang jahat sehingga membuatku dijauhi oleh mereka. Bagiku ini tidak adil.
Sesampainya aku di rumah, ponselku berdering tidak beraturan. Setiap detik ia selalu mengeluarkan bunyi yang memekakkan telinga. Benar saja. Yohan yang meneleponku. Aku sama sekali tidak membuka ataupun menerima telepon itu. Lalu? Apa yang aku lakukan? Tentu saja tertidur dan merangkai mimpi bahwa aku kelak akan memerankan sosok protagonis yang aku dambakan.
Ra, kamu ada dimana selama satu minggu ini? Aku benar-benar membutuhkanmu.
“Itu suara apa, Kak?” tanya keponakanku sembari mengeluarkan jari telunjuknya dan mengarahkannya pada ponselku.
“Pesan suara, Dek. Sudah biarkan saja.” ucapku sembari menikmati masa-masa bermainku dengan keponakan yang dulunya takut padaku karena peran itu.
“Kak! Ada tamu.” ucap Ibu sembari membuka pintu kamarku.
“Siapa, Bu?”
“Yohan.”
“Bilang saja aku tidak ada di rumah.”
“Mengapa begitu?”
“Sudahlah, Bu.”
Ibu benar-benar mengerti keadaanku. Ia pun mengangguk sembari memberikan informasi palsu itu pada Yohan. Aku pun mengintipnya dari atas jendela. Aku melihat keringat yang membanjiri wajahnya dan juga raut wajah sedih yang ia tampilkan di wajahnya. Aku kasihan tetapi aku harus melakukan ini supaya Yohan mengerti bahwa aku tidak akan bisa menjadi pemeran antagonis dalam kurun waktu yang lama.
Kalender pun sudah berlari cukup jauh dari hari dimana aku menolak untuk menjadi pemeran antagonis. Aku pun memutuskan untuk menemui mereka diam-diam. Namun, aku gagal menemukan mereka. Sepertinya, mereka sudah menemukan tempat markas latihan baru sehingga aku sulit untuk menemuinya. Sebuah brosur pementasan aku terima dari seorang pria yang sedang menyusuri kota. Pementasan milik Yohan akan diadakan esok hari. Segala persiapan aku persiapkan sembari tak sabar menantikan hari itu.
Tiba pukul delapan, aku menuju balik panggung. Betapa terkejutnya aku melihat bahwa ada seorang perempuan yang menggantikan posisiku. Aku benar-benar sakit hati. Aku berpikir bahwa mereka tidak akan menggunakan pemeran antagonis saat aku tidak ada bersama mereka. Pengkhianatan yang aku rasakan semakin menjadi-jadi. Seketika itu pula, aku langsung meninggalkan gedung pertunjukkan berlantai tiga itu.
Di perjalanan aku melihat seorang anak kecil yang sedang mengenakan payung dengan kesulitan.
“Kakak bantu ya?”
“Tidak perlu, Kak.”
Betapa sedihnya aku melihat anak kecil itu kesusahan membawa payung berwarna kebiruan yang sudah berlubang. Aku mendekatinya dan meneduhkannya dengan payung yang aku punya.
“Setiap kali aku ingin menjadi ojek payung, banyak orang menolakku karena payung rusak ini. Mereka lebih memilih berbasah-basah ria dibandingkan menerima bantuanku ini.”
“Kamu tidak berhenti menjadi ojek payung?”
“Tidak, Kak. Aku terus menyediakan payung yang sudah rusak ini saat hujan. Alhasil, banyak orang yang menghargai usaha kecil-kecilanku ini karena keuletanku dan kesetiaanku untuk terus berusaha meskipun aku direndahkan orang.”
Aku merasa sangat sedih. Bahkan, seorang anak kecil yang selalu ditolak tidak pernah berpikiran untuk meninggalkan pekerjaan simpelnya itu hanya untuk menolong orang agar tidak kebasahan. Sedangkan aku? Begitu dangkalnya pemikiranku sehingga sangat mudah aku memilih untuk pergi padahal Yohan sangat membutuhkan peran antagonisku.
Saat aku merogoh saku jaketku, aku terkejut karena aku meninggalkan liontin yang baru saja aku beli beberapa detik yang lalu. Sejenak aku mengingat, bahwa liontin itu aku keluarkan saat aku berada di pementasan Yohan. Aku pun terpaksa kembali sembari terkejut karena berakhirnya pementasan Yohan yang sama sekali tidak baik-baik saja.
Tenda yang disusun sedemikian rapinya kini penuh dengan coretan, dirobek, dan suasana yang terlihat sangat berantakan. Beruntungnya aku karena berhasil menemukan liontin di tempat dimana aku mengintip para pemeran itu. Saat aku ingin mengintip, aku terkejut melihat Yohan yang sedang duduk di sudut ruangan dengan meremas rambutnya.
“Yohan..” panggilku lirih membuatnya menatapku dengan kantung matanya yang terlihat sangat tebal.
Ia hanya tersenyum sembari terlihat sangat depresi.
“Apa yang terjadi dengan panggungmu?”
“Mereka sama sekali tidak menyukai pementasanku. Mereka membenciku dan memaksaku untuk tidak lagi mengadakan pementasan yang lain.”
“Mengapa begitu?”
“Pemeran penggantimu tidak akan pernah seperti pemeran aslinya.”
Aku terkejut.
“Aku memang egois terus mengharapkanmu dalam peran antagonis itu. Namun, aku tak berdaya. Semua orang seakan takut untuk terlihat jahat padahal hati mereka bisa jauh lebih jahat meskipun mereka terlihat sangat baik.”
Aku terdiam.
“Besok adalah pementasan terakhirku. Jika aku melakukan kesalahan yang sama, bukan hanya kamu saja yang kehilangan peranmu tetapi kamu juga kehilangan sutradaramu.” ucap Yohan yang terlihat depresi berat.
Aku menangis. Aku merasa bersalah karena terlalu mementingkan keegoisanku yang tidak mau lagi dibenci anak kecil dan dijadikan cibiran orang. Tanpa mau memikirkan seseorang yang hanya memintaku untuk tampil untuknya. Aku pun bertekad untuk memperbaiki robekan kertas yang sudah aku lakukan pada lembaran Yohan.
Prok..prok..
Tepuk tangan meriah diajukan oleh para penonton terhadap Yohan. Tentu saja. Aku kembali dalam pementasannya. Meskipun tetap menjadi seorang antagonis yang melegenda, aku bangga karena bisa membuatnya bahagia dengan cara yang berbeda.





Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.
Powered By Blogger