Di
dalam hati aku merasa sangat sedih karena posisiku yang selalu menjadi tokoh
antagonis membuatku tidak bisa mendekati anak-anak kecil.
“Dia
Ara yang selalu jadi tokoh antagonis itu kan?”
“Iya.
Wajah memang serem sih!”
“Sudah
sudah tidak usah membicarakan dia. Bisa saja sifatnya di panggung itu sama
seperti kenyataannya.”
“Ia
dia terlihat sangat berbakat memerankan sifat jahat.”
*
“Ra, kamu tidak apa-apa kan?” tanya
Yohan sembari menepuk pundakku perlahan.
Aku tersenyum sembari mengikuti latihan
dengan setengah hati. Aku berlatih dengan malas-malasan sembari sengaja tidak
melepas naskah dan terus membawanya sehingga ekspresiku kurang menonjol.
Selesainya latihan, Yohan mengajak kami semua untuk melakukan evaluasi. Namun,
aku berhasil menggunakan kesempatan dengan baik. Ya. Aku kabur dari pergumulan
itu.
Aku kesal. Aku ingin dipandang baik oleh
semua orang bukannya dikenal sebagai seseorang yang jahat sehingga membuatku
dijauhi oleh mereka. Bagiku ini tidak adil.
Sesampainya aku di rumah, ponselku
berdering tidak beraturan. Setiap detik ia selalu mengeluarkan bunyi yang
memekakkan telinga. Benar saja. Yohan yang meneleponku. Aku sama sekali tidak
membuka ataupun menerima telepon itu. Lalu? Apa yang aku lakukan? Tentu saja
tertidur dan merangkai mimpi bahwa aku kelak akan memerankan sosok protagonis
yang aku dambakan.
Ra,
kamu ada dimana selama satu minggu ini? Aku benar-benar membutuhkanmu.
“Itu suara apa, Kak?” tanya keponakanku
sembari mengeluarkan jari telunjuknya dan mengarahkannya pada ponselku.
“Pesan suara, Dek. Sudah biarkan saja.” ucapku
sembari menikmati masa-masa bermainku dengan keponakan yang dulunya takut
padaku karena peran itu.
“Kak! Ada tamu.” ucap Ibu sembari
membuka pintu kamarku.
“Siapa, Bu?”
“Yohan.”
“Bilang saja aku tidak ada di rumah.”
“Mengapa begitu?”
“Sudahlah, Bu.”
Ibu benar-benar mengerti keadaanku. Ia
pun mengangguk sembari memberikan informasi palsu itu pada Yohan. Aku pun
mengintipnya dari atas jendela. Aku melihat keringat yang membanjiri wajahnya
dan juga raut wajah sedih yang ia tampilkan di wajahnya. Aku kasihan tetapi aku
harus melakukan ini supaya Yohan mengerti bahwa aku tidak akan bisa menjadi
pemeran antagonis dalam kurun waktu yang lama.
Kalender pun sudah berlari cukup jauh
dari hari dimana aku menolak untuk menjadi pemeran antagonis. Aku pun
memutuskan untuk menemui mereka diam-diam. Namun, aku gagal menemukan mereka.
Sepertinya, mereka sudah menemukan tempat markas latihan baru sehingga aku
sulit untuk menemuinya. Sebuah brosur pementasan aku terima dari seorang pria
yang sedang menyusuri kota. Pementasan milik Yohan akan diadakan esok hari.
Segala persiapan aku persiapkan sembari tak sabar menantikan hari itu.
Tiba pukul delapan, aku menuju balik
panggung. Betapa terkejutnya aku melihat bahwa ada seorang perempuan yang
menggantikan posisiku. Aku benar-benar sakit hati. Aku berpikir bahwa mereka
tidak akan menggunakan pemeran antagonis saat aku tidak ada bersama mereka.
Pengkhianatan yang aku rasakan semakin menjadi-jadi. Seketika itu pula, aku
langsung meninggalkan gedung pertunjukkan berlantai tiga itu.
Di perjalanan aku melihat seorang anak
kecil yang sedang mengenakan payung dengan kesulitan.
“Kakak bantu ya?”
“Tidak perlu, Kak.”
Betapa sedihnya aku melihat anak kecil
itu kesusahan membawa payung berwarna kebiruan yang sudah berlubang. Aku
mendekatinya dan meneduhkannya dengan payung yang aku punya.
“Setiap kali aku ingin menjadi ojek
payung, banyak orang menolakku karena payung rusak ini. Mereka lebih memilih
berbasah-basah ria dibandingkan menerima bantuanku ini.”
“Kamu tidak berhenti menjadi ojek
payung?”
“Tidak, Kak. Aku terus menyediakan
payung yang sudah rusak ini saat hujan. Alhasil, banyak orang yang menghargai
usaha kecil-kecilanku ini karena keuletanku dan kesetiaanku untuk terus
berusaha meskipun aku direndahkan orang.”
Aku merasa sangat sedih. Bahkan, seorang
anak kecil yang selalu ditolak tidak pernah berpikiran untuk meninggalkan
pekerjaan simpelnya itu hanya untuk menolong orang agar tidak kebasahan.
Sedangkan aku? Begitu dangkalnya pemikiranku sehingga sangat mudah aku memilih
untuk pergi padahal Yohan sangat membutuhkan peran antagonisku.
Saat aku merogoh saku jaketku, aku
terkejut karena aku meninggalkan liontin yang baru saja aku beli beberapa detik
yang lalu. Sejenak aku mengingat, bahwa liontin itu aku keluarkan saat aku
berada di pementasan Yohan. Aku pun terpaksa kembali sembari terkejut karena
berakhirnya pementasan Yohan yang sama sekali tidak baik-baik saja.
Tenda yang disusun sedemikian rapinya
kini penuh dengan coretan, dirobek, dan suasana yang terlihat sangat
berantakan. Beruntungnya aku karena berhasil menemukan liontin di tempat dimana
aku mengintip para pemeran itu. Saat aku ingin mengintip, aku terkejut melihat
Yohan yang sedang duduk di sudut ruangan dengan meremas rambutnya.
“Yohan..” panggilku lirih membuatnya
menatapku dengan kantung matanya yang terlihat sangat tebal.
Ia hanya tersenyum sembari terlihat
sangat depresi.
“Apa yang terjadi dengan panggungmu?”
“Mereka sama sekali tidak menyukai
pementasanku. Mereka membenciku dan memaksaku untuk tidak lagi mengadakan
pementasan yang lain.”
“Mengapa begitu?”
“Pemeran penggantimu tidak akan pernah
seperti pemeran aslinya.”
Aku terkejut.
“Aku memang egois terus mengharapkanmu
dalam peran antagonis itu. Namun, aku tak berdaya. Semua orang seakan takut
untuk terlihat jahat padahal hati mereka bisa jauh lebih jahat meskipun mereka
terlihat sangat baik.”
Aku terdiam.
“Besok adalah pementasan terakhirku.
Jika aku melakukan kesalahan yang sama, bukan hanya kamu saja yang kehilangan
peranmu tetapi kamu juga kehilangan sutradaramu.” ucap Yohan yang terlihat depresi
berat.
Aku menangis. Aku merasa bersalah karena
terlalu mementingkan keegoisanku yang tidak mau lagi dibenci anak kecil dan
dijadikan cibiran orang. Tanpa mau memikirkan seseorang yang hanya memintaku
untuk tampil untuknya. Aku pun bertekad untuk memperbaiki robekan kertas yang
sudah aku lakukan pada lembaran Yohan.
Prok..prok..
Tepuk tangan meriah diajukan oleh para
penonton terhadap Yohan. Tentu saja. Aku kembali dalam pementasannya. Meskipun
tetap menjadi seorang antagonis yang melegenda, aku bangga karena bisa
membuatnya bahagia dengan cara yang berbeda.