published on spotify : berjelajah dalam karya               “Ayo balikan.                           Aku melirik ke arah lelaki yang beber...

Anak Tangga

/
0 Comments


published on spotify : berjelajah dalam karya 

            “Ayo balikan.            

           Aku melirik ke arah lelaki yang beberapa minggu lalu mengaku menjadi pria yang mengasihiku. Sebuah bunga yang berbalutkan kain dengan warna yang lembut membuat wanita itu jatuh hati ke padanya. Benar saja. Triknya merayu seorang wanita memang tak pernah gagal karena uangnya. Seorang wanita yang mampu menjauhi lelaki yang kaya akan harta itu hanyalah aku. Telah terlihat kini sang mantan yang pernah tersakiti oleh lelaki itu, sama sepertiku dulu, mau kembali pada lelaki itu lagi. Entah apa yang merasukinya.

            Kedai kopi favoritku adalah tempatku menguraikan segala cerita dalam larutan kopi yang aku teguk. Aku percaya bahwa ketika aku berhasil mengendalikan emosiku akan ada sesuatu yang mampu membangkitkan energiku. Tentu saja, kopi. Tapi, kali ini bukan karena kopi aku berhasil mendapatkan energi itu.

            “Nit? Kok sendirian?” tanya seorang lelaki bertubuh jangkung dengan kaca mata berframe hitam mengetuk mejaku.

            “Sudah biasa.” ucapku sedari sadar bahwa ia adalah Rian, salah satu masa laluku setelah lelaki tajir itu.

            “Gila? Kamu jomblo lagi?” ledeknya membuatku membuang muka berlagak sok tegar.

            “Apa kabar dirimu? Ke kedai juga lagi sendirian.” ejekku kemudian sembari sadar bahwa Rian datang sendirian.

            “Iya nih. Mantan balikan dengan mantannya.” ucap Rian tak mengundang iba sedikitpun padaku.

            “Ha-ha.” tawaku yang awalnya terdengar biasa kini menjadi bar-bar.

            “Ngeledekin berarti juga merasakan ya?” tuduh Rian membuatku mengangguk dengan santai.

            “Iyalah. Meskipun begitu, aku yakin. Siapapun pria yang meninggalkanku, dia akan kesulitan melupakanku. Ha-ha.” ucapku membuat Rian terlihat jijik saat melihatku.

            Percakapan panjang membuat kami lupa waktu. Meskipun kami sekarang hanyalah teman, tetapi tidak ada salahnya jika tetap berhubungan baik bukan? Masalah akan kembali pada halaman yang sama tidak bisa diprediksikan. Namun, jika benar terjadi itu akan menjadi hadiah terbesarku.

            Pukul dua belas malam. Jam di mana aku harus kembali pada kediamanku. Tentu saja, ini sudah menjadi rutinitasku sehingga aku biasa berkelana di jalan sendirian.

            “Cepat naik motorku!” ajak Rian membuatku menolak dengan belagu.

            “Tidak perlu. Aku sudah biasa pulang sendirian.”

            “Cepat, Nit.” paksanya membuatku berpikir dua kali ketika aku melihat sekelompok lelaki berkumpul dekat dengan kedai kopi yang aku datangi ini.

            Aku pun mengangguk sembari langsung menaiki motornya.

            Tak banyak percakapan yang kami bicarakan dalam perjalanan. Aku juga tidak memulai pembicaraan. Aku hanya merenungkan lelaki tajir itu yang selama ini mengakrabkan diri padaku hanya untuk pelampiasan sesaat. Betapa kejamnya realita seorang wanita yang jauh dari ekspetasinya!

            Kini tiba pada bulan penghujung tahun. Tentu saja perayaan natal tidak boleh terlewatkan olehku. Perayaan misa yang kulalui dengan sukacita membuatku tak bersabar menyebar surat ucapan natal pada seluruh teman, keluarga, saudara, dan mantan yang pernah mengisi lembaran-lembaran di hidupku. Aku juga ingin melihat wajah bahagia mereka ketika melihatku memberikan ucapan ini. Aku tidak sabar!

            Tok..tok..

            Sebuah rumah yang tak asing aku jumpai. Benar. Ini adalah rumah Rian. Rumah yang tidak berubah dari satu bulan yang lalu. Namun, sedikit terdapat dua tanaman mawar baru yang ada di teras rumahnya. Tak kuduga, aku melihat Rian dengan wajah lebam karena baru terbangun dari istirahat panjangnya.

            “Eh, Nit?”

            “Selamat hari natal, Yan.” ucapku sembari memberikan surat ucapan itu.

            Rian tersenyum dan menerima surat itu. Setelah menerima, dia mengenakan kacamatanya dan merapikan rambutnya sebelum kembali mendatangiku di depan pagar.

            “Aku memiliki dua tiket.” ucap Rian sembari memamerkan tiketnya.

            “Tiket?” balasku sembari melongo.

            “Ya. Tiket ke Bromo.”

            “Lalu?” balasku berlagak bodoh.

            “Bersiaplah besok pukul lima pagi.”

            “Kamu ingin pergi denganku lagi?”

            “Jika aku ingin apa aku harus mengabaikannya? Atau mungkin kamu yang tidak mau?”

            “Baiklah. Temui aku besok.”

            Aku pun segera kembali pulang dengan persiapan kecil-kecilan untuk Bromo yang Rian rencanakan. Entahlah itu adalah rekayasa atau realita yang telah menjadi mimpiku sejak lama.

            Matahari pun kembali muncul untuk mengingatkanku akan hari baru ini. Segala pakaian tak kenal ukuran masuk ke dalam tas punggungku. Benar saja sepeda motor hitam terparkir di halaman rumah dengan kondisi lampu sorot yang menyala. Aku pun berjalan keluar dengan senyumanku.

            “Kamu bener, Nit.” ucap Rian secara tiba-tiba.

            “Bener apanya?”

            “Lupakan. Ayo! Lama banget!” teriak Rian membuatku merengut.

            “Mas! Bawakan aku oleh-oleh!” teriak adikku dari balik pintu.

            “Iya. Mas bawakan segunung-gunungnya ya.” balas Rian membuatku tertawa.

            Dalam perjalanan, Rian terlihat berbeda. Dia tidak lagi diam layaknya orang asing seperti beberapa hari yang lalu saat dia mengantarku pulang dari kedai. Ada hal aneh yang muncul pada gerak-geriknya. Sebuah mobil terparkir di dekat rumahnya. Tentu saja, kelihaiannya dalam hal traveling membuat kami bisa pergi ke Bromo tanpa kendala.

            “Apa kamu ingat perkataanku di depan rumahmu tadi?”

            “Ingat.”

            “Kamu bener, Nit. Pria yang meninggalkanmu akan sulit melupakanmu.”

            Aku menampakkan wajah sombong sembari mengibaskan rambutku dengan bangga. Meskipun, hatiku tidak bisa tenang sewajarnya.

            Pemandangan Bromo yang dilalui kurang lebih enam jam ini membuatku terbelalak karena keindahannya juga suhu dinginnya itu. Kami pun mendaki hingga sampai puncak. Pemandangan dari ketinggian yang merona membuatku mengabadikannya dengan foto bersama. Kami juga mengadakan perayaan api unggun dengan membakar jagung dan barbeque dengan berbagi pada orang-orang di sekitar. Kebersamaanku dengan Rian yang teringat kembali membuatku susah untuk melupakan kenangan ini.

            “Akhirnya terwujud juga impianmu.” ucap Rian membuatku tersenyum malu.

            “Terima kasih, Yan.”

            “Jika kamu melihat jalanan ini, kamu menginginkan apa?”

            “Ingin melangkah.”

            “Meskipun jauh dan tidak tahu apa yang terjadi di bawah?”

            “Tentu!”

            “Adakah keinginan untuk kembali ke atas?”

            “Tergantung. Jika ada keindahan di anak tangga yang sebelumnya, aku akan kembali melihatnya.”

            “Apakah kamu merasakannya sekarang?”

            Aku terdiam cukup lama.

            “Siapa yang berada di belakangmu?”

            “Kamu.”

            Deg! Aku baru saja sadar apa maksud dari perkataan puitisnya itu.

            “Jika aku yang harus menjawab, aku akan berkata iya. Karena, masa laluku memiliki kenangan indah dan aku yakin kehadirannya akan berlanjut hingga masa depan.”

            Aku tersenyum.

Aku menuntaskan anak tangga terakhir sebelum berbalik dan menatap wajah Rian yang seketika itu memerah. Aku terpingkal karena tingkah malu-malunya itu. Tak pernah aku melihatnya selembut ini.

“Jangan tertawa! Cukup berat aku menata kata demi kata untuk menyampaikan itu.” ucapnya sembari menutup wajahnya dengan masker.

“Iya, Yan. Mulai hari ini, aku akan kembali pada keindahan laluku untuk kuukir di masa depanku.”

Perjalanan Bromo yang singkat membuat sebuah permulaan pada sebuah perjalanan sepasang manusia hingga akhir waktu.




Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.
Powered By Blogger