published on spotify : berjelajah dalam karya             “Aku butuh kamu sekarang”             Tanpa basa-basi, tas ransel yang sudah...

Dingin

/
0 Comments


published on spotify : berjelajah dalam karya

            “Aku butuh kamu sekarang”
            Tanpa basa-basi, tas ransel yang sudah kupersiapkan dan tentunya kamera andalan sesegera mungkin aku bawa.
            “Semoga sukses, Nak!” teriak kedua orang tuaku di balik tubuhku yang terburu-buru memburu kendaraan bermotor yang sudah aku pesen beberapa menit yang  lalu.
            Di dalam mobil, aku pun mempersiapkan lensa, kartu memory, dan segala yang kubutuhkan untuk atribut foto. Tempat yang sangat lekat dengan alamlah tempat dimana aku harus melakukan pekerjaaan ini.
            Beruntungnya aku sampai tepat waktu. Dua perempuan yang terlihat kembar menghampiriku dan membantuku membawa tripod dan beberapa barang lain yang menyusahkanku untuk berjalan.
            “Ndak usah, Mbak.” ucapku sembari berusaha merebut barang yang mereka bawa.
            “Sudahlah. Aku tidak mau kamu capek sebelum bekerja. Aku ingin mendapatkan foto terbaik nanti.” ucapnya sembari meletakkan bawaanku di sebuah tenda khusus.
            Aku pun mengangguk dan mengucapkan terima kasih. Sejenak, aku bersinggah di dalam tenda itu sembari menunggu dua model berdandan dan mengenakan pakaian terbaik mereka. Setelah semua siap, aku mencoba mencari view yang tepat. Saat asik bermain dengan lensa, aku melihat seseorang lelaki datang membawa tripod dan kamera yang sama denganku dari kejauhan. Kacamata yang menandakan mataku kurang normal, membuatku harus menyipitkan kedua mataku sebelum aku mengenali sosok lelaki itu.
            “Eki?”
            Dia melambaikan tangannya padaku sembari berdiri di sampingku.
            “Apa yang kamu lakukan di sini?
            Ia menunjukkan kamera di tangannya.
            “Oh. Mereka juga modelmu.”
            Ia tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
            “Baiklah. Kita bisa bekerja sama.”
            Eki melotot dan kebingungan.
            “Iya, aku juga menjadi fotografer mereka.”
            Eki tersenyum senang dan sesekali memperbaiki lensaku yang terlihat kurang rapat.
            Dia memang sedikit kata. Jika tidak terdesak, dia jarang bercerita atau berbicara panjang lebar. Dia lebih banyak menampilkan ekspresi dan gerakan saja. Karena aku sudah mengenalnya selama satu tahun di kampus, aku tidak terkejut dengan tingkahnya.
            “Aku sudah siap!”
            “Jadi, kami ingin tema sunset. Saya percaya pada skill kalian dan saya harap kalian bisa memberikan yang terbaik.” ucap seorang wanita sembari mendadani kedua model cantik di depanku.
            Aku dan Eki hanya mengangguk sembari stand by di belakang kamera.
            “Eh, Anas! Aku bagus berdiri atau duduk?”
            “Keduanya bagus.”
            “Ya udah dua-duanya deh!” ucap salah satu model sembari mengatur gaya untuk dirinya sendiri.
            Aduh, kenapa aku terlihat gendut? Hapus! Aku tidak mau tahu hasilnya harus kurus dan langsing.” teriak salah satu model yang lain dari kejauhan.
            Tentu saja itu adalah model yang dipegang oleh Eki. Beruntungnya aku gadis yang menjadi modelku tidak secerewet model yang dipegang oleh Eki.
            Aduh! Kenapa view sunsetnya lebih cantil dari aku sih? Pokoknya aku harus bisa lebih cantik dari sunset itu!” teriak model itu membuat Eki garuk-garuk kepala.
            Aku menahan tawa sembari fokus pada modelku.
            “Bagus banget hasilnya, Nas. Ayo kita selfie. Itung-itung bolehlah fotografer masuk frame.” ajak modelku sembari merangkulku dengan ramah.
            Aku pun tersenyum.
            “Aa! Keren banget!” teriak model Eki kegirangan sampai-sampai ia hampir terpeleset dari atas batu.
            Eki terlihat lelah dan memilih untuk tetap di posisinya dekat dengan air terjun.
            “Ini honor kalian ya. Terima kasih sudah bekerja dengan sangat baik. Oh ya, jangan lupa datang di pesta ulang tahun anak saya. Kalian akan mendapat tempat VVIP ya karena saya butuh tangan kreatif kalian untuk mengabadikan momen ulang tahun anak saya yang ke 17 nantinya.”
            “Baik, Bu. Saya dan teman saya akan siap melaksanakan tugas.” ucapku membuat mereka menjauh dariku.
            Aku pun memilih untuk mendekati Eki yang terlihat pusing.
            “Gila! Bawel banget!” ucap Eki membuatku melotot.
            Apa baru saja dia memulai suatu topik denganku sebelum aku berkata apapun?
            “Sudah berusaha seperfect mungkin tetap saja ada missnya. Aku terpaksa harus mengedit foto yang aku jepret supaya dia bisa menerima hasil fotoku.” lanjutnya kemudian sembari menunjukkan foto yang ia sentuh dari layar kameranya.
            “Setidaknya dia mau menerima hasil fotomu kan?”
            “Iya.” jawabnya singkat sembari melihat hasil fotoku.
            “Hasil fotomu keren. Tidak jauh beda dengan hasil fotoku.” lanjutnya membuatku mengangguk seakan-akan setuju dengan perkataannya.
            “Untuk percetakan segala macam biar aku yang urus, Nas. Aku ingin kamu bagian editor foto dan pemilihan foto terbaik karena aku tidak pandai sejujurnya dalam hal itu. Jadi, walaupun seharusnya kita bisa bekerja perorangan, aku ingin kita menjadi satu tim. Apalagi harus menjadi fotografer di acara nanti.”
            “Aku terkejut melihatmu sedemikian ramai. Apakah ini sifat asli yang kamu sembunyikan, Ki?” tanyaku membuatnya terdiam cukup lama.
            Aku melihatnya tersipu malu sembari memalingkan dengan mengutak-utik kamera dengan kondisi layar yang berwarna hitam.
            “Entahlah. Jika aku bertemu orang berkarakter sepertimu, aku bisa berbicara semauku.”
            Aku tersenyum.
            “Aku yakin jika kamu berperilaku seperti ini, banyak orang yang menyeganimu.”
            “Itulah yang aku pikirkan dari dulu. Orang yang mau berbicara denganku adalah orang yang menyeganiku. Namun, ekspetasi itu membuatku kaku seperti ini. Karakterku belum membentuk sempurna meskipun usiaku sudah dewasa.”
            Aku mengangguk dan memahami permasalahannya.
            “Setidaknya kamu berani untuk mencoba lagi, Ki. Meskipun aku tahu itu hanya berlaku pada sebagian orang saja.”
            Eki mengangguk setuju. Beberapa menit berlalu dengan canda tawa kami berdua. Karena suasana yang panas, membuat Eki menyodorkan botol mineral padaku.
            “Bagaimana denganmu?”
            “Minum saja. Anggap itu adalah ucapan terima kasihku.”
            “Untuk apa?”
            “Bisa membuatku berani berbicara berkata banyak padamu.”
            Aku tertawa sembari merasa tinggi hati dan langsung meneguk air mineral itu dengan harapan aku bisa segera rendah hati kembali.
            Jepret!
            Perayaan ulang tahun yang sangat meriah melebihi acara suatu pernikahan membuatku dan Eki hanya bisa menggeleng-nggelengkan kepala. Merekam seluruh acara yang hampir berlangsung selama dua jam ini mengalahkan tugas akhir kami sebagai videographer acara televisi. Sungguh lelah yang tidak tanggung-tanggung. Tentu, karena kerja sama kami hasil yang diharapkan jauh lebih baik dari apa yang diharapkan mereka.
            Hari yang melelahkan ini membuatku harus segera menutupnya dan langsung tertidur lelap.
            Pagi. Selamat beraktivitas ya. Sampai jumpa di Kampus. -Eki
           
           
                       



Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.
Powered By Blogger