Tanpa basa-basi, tas ransel yang
sudah kupersiapkan dan tentunya kamera andalan sesegera mungkin aku bawa.
“Semoga sukses, Nak!” teriak kedua
orang tuaku di balik tubuhku yang terburu-buru memburu kendaraan bermotor yang
sudah aku pesen beberapa menit yanglalu.
Di dalam mobil, aku pun
mempersiapkan lensa, kartu memory,
dan segala yang kubutuhkan untuk atribut foto. Tempat yang sangat lekat dengan
alamlah tempat dimana aku harus melakukan pekerjaaan ini.
Beruntungnya aku sampai tepat waktu.
Dua perempuan yang terlihat kembar menghampiriku dan membantuku membawa tripod dan beberapa barang lain yang
menyusahkanku untuk berjalan.
“Ndak usah, Mbak.” ucapku sembari
berusaha merebut barang yang mereka bawa.
“Sudahlah. Aku tidak mau kamu capek
sebelum bekerja. Aku ingin mendapatkan foto terbaik nanti.” ucapnya sembari
meletakkan bawaanku di sebuah tenda khusus.
Aku pun mengangguk dan mengucapkan
terima kasih. Sejenak, aku bersinggah di dalam tenda itu sembari menunggu dua
model berdandan dan mengenakan pakaian terbaik mereka. Setelah semua siap, aku
mencoba mencari view yang tepat. Saat
asik bermain dengan lensa, aku melihat seseorang lelaki datang membawa tripod
dan kamera yang sama denganku dari kejauhan. Kacamata yang menandakan mataku
kurang normal, membuatku harus menyipitkan kedua mataku sebelum aku mengenali
sosok lelaki itu.
“Eki?”
Dia melambaikan tangannya padaku
sembari berdiri di sampingku.
“Apa yang kamu lakukan di sini?
Ia menunjukkan kamera di tangannya.
“Oh. Mereka juga modelmu.”
Ia tersenyum dan menganggukkan
kepalanya.
“Baiklah. Kita bisa bekerja sama.”
Eki melotot dan kebingungan.
“Iya, aku juga menjadi fotografer
mereka.”
Eki tersenyum senang dan sesekali memperbaiki
lensaku yang terlihat kurang rapat.
Dia memang sedikit kata. Jika tidak
terdesak, dia jarang bercerita atau berbicara panjang lebar. Dia lebih banyak
menampilkan ekspresi dan gerakan saja. Karena aku sudah mengenalnya selama satu
tahun di kampus, aku tidak terkejut dengan tingkahnya.
“Aku sudah siap!”
“Jadi, kami ingin tema sunset. Saya percaya pada skill kalian dan saya harap kalian bisa
memberikan yang terbaik.” ucap seorang wanita sembari mendadani kedua model
cantik di depanku.
Aku dan Eki hanya mengangguk sembari
stand by di belakang kamera.
“Eh, Anas! Aku bagus berdiri atau
duduk?”
“Keduanya bagus.”
“Ya udah dua-duanya deh!” ucap salah satu model sembari
mengatur gaya untuk dirinya sendiri.
“Aduh,
kenapa aku terlihat gendut? Hapus! Aku tidak mau tahu hasilnya harus kurus dan
langsing.” teriak salah satu model yang lain dari kejauhan.
Tentu saja itu adalah model yang
dipegang oleh Eki. Beruntungnya aku gadis yang menjadi modelku tidak secerewet
model yang dipegang oleh Eki.
“Aduh!
Kenapa view sunsetnya lebih
cantil dari aku sih? Pokoknya aku
harus bisa lebih cantik dari sunset
itu!” teriak model itu membuat Eki garuk-garuk kepala.
Aku menahan tawa sembari fokus pada
modelku.
“Bagus banget hasilnya, Nas. Ayo
kita selfie. Itung-itung bolehlah
fotografer masuk frame.” ajak modelku
sembari merangkulku dengan ramah.
Aku pun tersenyum.
“Aa! Keren banget!” teriak model Eki
kegirangan sampai-sampai ia hampir terpeleset dari atas batu.
Eki terlihat lelah dan memilih untuk
tetap di posisinya dekat dengan air terjun.
“Ini honor kalian ya. Terima kasih
sudah bekerja dengan sangat baik. Oh ya, jangan lupa datang di pesta ulang
tahun anak saya. Kalian akan mendapat tempat VVIP ya karena saya butuh tangan
kreatif kalian untuk mengabadikan momen ulang tahun anak saya yang ke 17
nantinya.”
“Baik, Bu. Saya dan teman saya akan
siap melaksanakan tugas.” ucapku membuat mereka menjauh dariku.
Aku pun memilih untuk mendekati Eki
yang terlihat pusing.
“Gila! Bawel banget!” ucap Eki
membuatku melotot.
Apa baru saja dia memulai suatu
topik denganku sebelum aku berkata apapun?
“Sudah berusaha seperfect mungkin tetap saja ada missnya. Aku terpaksa harus mengedit
foto yang aku jepret supaya dia bisa menerima hasil fotoku.” lanjutnya kemudian
sembari menunjukkan foto yang ia sentuh dari layar kameranya.
“Setidaknya dia mau menerima hasil
fotomu kan?”
“Iya.” jawabnya singkat sembari
melihat hasil fotoku.
“Hasil fotomu keren. Tidak jauh beda
dengan hasil fotoku.” lanjutnya membuatku mengangguk seakan-akan setuju dengan
perkataannya.
“Untuk percetakan segala macam biar
aku yang urus, Nas. Aku ingin kamu bagian editor foto dan pemilihan foto
terbaik karena aku tidak pandai sejujurnya dalam hal itu. Jadi, walaupun seharusnya
kita bisa bekerja perorangan, aku ingin kita menjadi satu tim. Apalagi harus
menjadi fotografer di acara nanti.”
“Aku terkejut melihatmu sedemikian
ramai. Apakah ini sifat asli yang kamu sembunyikan, Ki?” tanyaku membuatnya
terdiam cukup lama.
Aku melihatnya tersipu malu sembari
memalingkan dengan mengutak-utik kamera dengan kondisi layar yang berwarna
hitam.
“Entahlah. Jika aku bertemu orang
berkarakter sepertimu, aku bisa berbicara semauku.”
Aku tersenyum.
“Aku yakin jika kamu berperilaku seperti
ini, banyak orang yang menyeganimu.”
“Itulah yang aku pikirkan dari dulu.
Orang yang mau berbicara denganku adalah orang yang menyeganiku. Namun,
ekspetasi itu membuatku kaku seperti ini. Karakterku belum membentuk sempurna
meskipun usiaku sudah dewasa.”
Aku mengangguk dan memahami
permasalahannya.
“Setidaknya kamu berani untuk
mencoba lagi, Ki. Meskipun aku tahu itu hanya berlaku pada sebagian orang saja.”
Eki mengangguk setuju. Beberapa
menit berlalu dengan canda tawa kami berdua. Karena suasana yang panas, membuat
Eki menyodorkan botol mineral padaku.
“Bagaimana denganmu?”
“Minum saja. Anggap itu adalah
ucapan terima kasihku.”
“Untuk apa?”
“Bisa membuatku berani berbicara berkata banyak padamu.”
Aku tertawa sembari merasa tinggi
hati dan langsung meneguk air mineral itu dengan harapan aku bisa segera rendah
hati kembali.
Jepret!
Perayaan
ulang tahun yang sangat meriah melebihi acara suatu pernikahan membuatku dan
Eki hanya bisa menggeleng-nggelengkan kepala. Merekam seluruh acara yang hampir
berlangsung selama dua jam ini mengalahkan tugas akhir kami sebagai videographer acara televisi. Sungguh
lelah yang tidak tanggung-tanggung. Tentu, karena kerja sama kami hasil
yang diharapkan jauh lebih baik dari apa yang diharapkan mereka.
Hari yang melelahkan ini membuatku
harus segera menutupnya dan langsung tertidur lelap.
Pagi.
Selamat beraktivitas ya. Sampai jumpa di Kampus. -Eki