“Aku sudah siap.” teriakku kesal dengan diriku sendiri
sembari beradu mulut dengan cermin di depan wajahku.
Penyesalan yang tidak hanya mampir tetapi bersinggah
cukup lama membuat ragaku perlahan menderita.
“Darma? Kamu di dalam?” tanya Ibu sembari mengetuk
pintu kamarku.
Aku menengoknya dan perlahan
berjalan untuk membukanya.
“Ada apa, Bu?” tanyaku membuat Ibu
terlihat khawatir pada keadaanku.
“Ada Deta. Cepat kamu temui ya.”
Aku terkejut dan memutuskan untuk menghadapi kenyataan
pahit ini sebelum aku benar-benar tidak bisa bertemu dengannya lagi.
“Hai.” sapa Deta membuatku terdiam cukup lama sebelum
pada akhirnya menyapanya.
Pluk!
Sebuah buku entah datang darimana terjatuh dari atap.
Aku menatap buku yang terlihat menyala sembari sesekali menatap Deta yang masih
saja mengharapkan tatapan ramahku.
“Bisakah kamu datang ke acara ulang tahun adikku
besok?”
Aku menatapnya kosong sembari terus menerus
bertanya-tanya alasan buku itu datang di belakangku.
“Ya.” jawabku singkat sembari menengok ke arah luar
rumah yang nyatanya kutemui Deo, kekasih Deta.
“Baiklah. Aku akan menunggumu.” pamit Deta sembari
berjalan ke luar rumah.
“Baru saja Ibu selesai membuat teh. Kenapa Deta tidak
kamu tahan dulu, Ma?” ucap Ibu gemas dengan tingkah lakuku.
Aku mengabaikannya dan berpaling untuk membuka buku
misterius itu.
Flashback
“Sampai kapan kita
akan terus seperti ini? Lagipula apa yang kamu persiapkan? Jika suatu hubungan
terjalin di antara kita apakah itu membebanimu? Lalu, untuk apa kamu merayuku
dan terus memberikan banyak perhatian padaku?”
“Bukan membebani.
Hanya saja, ini bukanlah waktu yang pas untuk kita menjalin hubungan.”
“Katakan! Kapan
waktu yang tepat itu datang dalam hidupmu? Waktu yang tepat bukanlah waktu yang
harus ditunggu tetapi waktu yang harus kamu ciptakan! Selama apapun kamu terus
berharap waktu yang tepat akan datang, kamu tidak akan pernah mendapatkan orang
yang kamu sayang.”
“Aku tahu. Aku
mohon! Hargai keputusanku dan berikan aku waktu sedikit lagi untuk itu.”
“Aku sudah payah menunggumu.
Aku tidak mau mengubar aneka janji dan tidak bisa menepatinya seperti apa yang
kamu lakukan padaku.”
Aku terkejut. Buku misterius itu seakan-akan merekam
seluruh pembicaraanku dengan Deta yang sama sekali tidak aku ingat. Hal itu
bukannya makin memperparah rasa penyesalanku tetapi membuatku semakin ingin
tahu apa yang ada di pikiran Deta selama aku tidak ada di sisinya.
Buku itu aku sembunyikan di bawah ranjang dan terus
menjadi pusat perhatianku meskipun aku meninggalkan rumah.
Kini, aku bersiap untuk datang pada perayaan ulang
tahun adik Deta. Dengan pakaian seadanya, aku pun berangkat. Tampang lempeng dan polos yang menjadi kekhasan
diriku tak membuat orang curiga dengan hubunganku dan Deta.
“Hai!” sapa Deta membuatku mengangguk dan melihatnya berpegangan
tangan dengan Deo.
Deo yang awalnya terlihat cuek. Sembari melihatku, dia
menjabat tanganku dengan kokoh. Aku menjabat tangannya tanpa mau melihatnya.
Aku pun berpaling pada adik Deta yang sangat menyukai kedatanganku. Aku pun
memberikan kado kecil dan mencicipi beberapa hidangan sebelum aku memutuskan
untuk pulang.
“Darma! Kenapa cepat sekali?” tanya Deta sembari
meneriaku dari dalam.
“Aku sibuk.” ucapku ketus membuat raut wajah Deta
sedih.
Aku pun bergegas untuk sampai di rumah dan mencari tahu
apa saja perkataan yang bisa aku dengar dari buku misterius itu.
Sampainya di rumah, aku melempar sepatuku dan langsung
membuka buku misterius itu. Saat aku merasa tak sabar untuk mendapatkan sesuatu
dari buku itu, tiba-tiba saja buku itu tidak melakukan apapun seperti pertama
kalinya aku menemukan buku itu. Saat hendak aku lempar, buku itu tiba-tiba saja
berkelip.
Aku membukanya perlahan dan yang ada hanyalah halaman
buku yang kusam, polos, tanpa tulisan, dan robek.
“Apa-apaan ini!” teriakku sembari pada akhirnya
menelantarkan buku itu di atas ranjangku.
IFlashback
“Aku sudah
menyerah dengan keputusanmu ini, Ma! Aku sudah tidak tahan terus menaruh
harapan besar pada seorang laki-laki yang sama sekali tidak mau serius dengan
apa yang dijanjikannya.”
“Meskipun kamu
marah sampai sehebat ini tetapi kenapa kamu masih saja mengharapkan Darma
datang ke perayaan ulang tahun adikmu?”
“Aku hanya ingin
bisa melihat raganya sebelum pada akhirnya aku benar-benar harus melupakannya.
Dia adalah sahabatku aku tidak akan bisa semudah itu membenci seseorang sahabat
yang sudah mengajarkanku banyak hal seperti ini. Satu kekurangannya itu tidak
mampu membuatku berpikir bahwa ia adalah lelaki yang buruk.”
“Meskipun dia
berpikir bahwa kamu adalah perempuan yang buruk?”
“Aku
tidak menyalahkannya jika aku begitu karena nyatanya aku memang
mengkhianatinya. Aku umpamakan seperti mawar. Dia memang memiliki duri dan
orang-orang benci dengan duri karena mereka bisa terluka karena itu. Tetapi apa
yang terjadi? Orang justru mencarinya karena keindahannya bukan karena
kekurangannya. Jadi, jika ada orang yang membenciku itu berarti dia bukanlah
orang yang aku cari selama ini.”
“Lalu,
kamu memilihku?”
“Heem.
Aku memilihmu bukan karena apa yang kamu punya tetapi karena sifat apa adanya yang
ada dalam dirimu itu yang menjadi kebanggaanku.”
Usahaku untuk terlihat sempurna untuk wanita yang
sudah kuanggap sempurna nyatanya malah menjadi petaka dan kesengsaraan dalam
hidupku. Kesibukannya menjadi musisi membuatku lupa bahwa bukan itu yang ia
butuhkan. Ia hanya ingin bersamaku dengan apa adanya diriku ini. Buku yang
sudah kuputskan kubakar, membuatku sadar akan banyak hal. Dan seperti yang
kalian pikirkan, Deta datang di depan rumahku dan terus memanggil namaku.
Aku bergegas untuk membuka pintu dan
menemuinya.
“Darma.”
Aku tersenyum menatapnya.
“Terima kasih sudah datang meskipun
hanya sebentar.”
“Terima kasih kembali. Mau masuk
dulu?” balasku ramah untuk menyenangkan hatinya.
“Tidak perlu. Aku dan Deo ingin
pergi. Maafkan aku yang selalu menganggumu, Yo. Aku berharap kamu bisa
menemukan jati dirimu dan lebih menghargai kesederhanaanmu ya. Jangan ingin
menjadi orang lain tetapi jadilah seperti apa yang kamu inginkan.”
Aku tersenyum getir sembari melihat
Deta pergi dari hadapanku. Karena penyesalan ini, aku tidak lagi menghukum
diriku sendiri akan tetapi memutuskan untuk melangkah untuk lebih mencintai
diriku terlebih dahulu sebelum menggapai semua impianku di masa yang akan
datang.