Foto : Canva “Aku sudah siap.” teriakku kesal dengan diriku sendiri sembari beradu mulut dengan cermin di depan wajahku. Penyes...

Aku Belum Siap

/
0 Comments



Foto : Canva

“Aku sudah siap.” teriakku kesal dengan diriku sendiri sembari beradu mulut dengan cermin di depan wajahku.
Penyesalan yang tidak hanya mampir tetapi bersinggah cukup lama membuat ragaku perlahan menderita.
“Darma? Kamu di dalam?” tanya Ibu sembari mengetuk pintu kamarku.
            Aku menengoknya dan perlahan berjalan untuk membukanya.
            “Ada apa, Bu?” tanyaku membuat Ibu terlihat khawatir pada keadaanku.
“Ada Deta. Cepat kamu temui ya.”
Aku terkejut dan memutuskan untuk menghadapi kenyataan pahit ini sebelum aku benar-benar tidak bisa bertemu dengannya lagi.
“Hai.” sapa Deta membuatku terdiam cukup lama sebelum pada akhirnya menyapanya.
Pluk!
Sebuah buku entah datang darimana terjatuh dari atap. Aku menatap buku yang terlihat menyala sembari sesekali menatap Deta yang masih saja mengharapkan tatapan ramahku.
“Bisakah kamu datang ke acara ulang tahun adikku besok?”
Aku menatapnya kosong sembari terus menerus bertanya-tanya alasan buku itu datang di belakangku.
“Ya.” jawabku singkat sembari menengok ke arah luar rumah yang nyatanya kutemui Deo, kekasih Deta.
“Baiklah. Aku akan menunggumu.” pamit Deta sembari berjalan ke luar rumah.
“Baru saja Ibu selesai membuat teh. Kenapa Deta tidak kamu tahan dulu, Ma?” ucap Ibu gemas dengan tingkah lakuku.
Aku mengabaikannya dan berpaling untuk membuka buku misterius itu.
Flashback
“Sampai kapan kita akan terus seperti ini? Lagipula apa yang kamu persiapkan? Jika suatu hubungan terjalin di antara kita apakah itu membebanimu? Lalu, untuk apa kamu merayuku dan terus memberikan banyak perhatian padaku?”
“Bukan membebani. Hanya saja, ini bukanlah waktu yang pas untuk kita menjalin hubungan.”
“Katakan! Kapan waktu yang tepat itu datang dalam hidupmu? Waktu yang tepat bukanlah waktu yang harus ditunggu tetapi waktu yang harus kamu ciptakan! Selama apapun kamu terus berharap waktu yang tepat akan datang, kamu tidak akan pernah mendapatkan orang yang kamu sayang.”
“Aku tahu. Aku mohon! Hargai keputusanku dan berikan aku waktu sedikit lagi untuk itu.”
“Aku sudah payah menunggumu. Aku tidak mau mengubar aneka janji dan tidak bisa menepatinya seperti apa yang kamu lakukan padaku.”
Aku terkejut. Buku misterius itu seakan-akan merekam seluruh pembicaraanku dengan Deta yang sama sekali tidak aku ingat. Hal itu bukannya makin memperparah rasa penyesalanku tetapi membuatku semakin ingin tahu apa yang ada di pikiran Deta selama aku tidak ada di sisinya.
Buku itu aku sembunyikan di bawah ranjang dan terus menjadi pusat perhatianku meskipun aku meninggalkan rumah.
Kini, aku bersiap untuk datang pada perayaan ulang tahun adik Deta. Dengan pakaian seadanya, aku pun berangkat. Tampang lempeng dan polos yang menjadi kekhasan diriku tak membuat orang curiga dengan hubunganku dan Deta.
“Hai!” sapa Deta membuatku mengangguk dan melihatnya berpegangan tangan dengan Deo.
Deo yang awalnya terlihat cuek. Sembari melihatku, dia menjabat tanganku dengan kokoh. Aku menjabat tangannya tanpa mau melihatnya. Aku pun berpaling pada adik Deta yang sangat menyukai kedatanganku. Aku pun memberikan kado kecil dan mencicipi beberapa hidangan sebelum aku memutuskan untuk pulang.
“Darma! Kenapa cepat sekali?” tanya Deta sembari meneriaku dari dalam.
“Aku sibuk.” ucapku ketus membuat raut wajah Deta sedih.
Aku pun bergegas untuk sampai di rumah dan mencari tahu apa saja perkataan yang bisa aku dengar dari buku misterius itu.
Sampainya di rumah, aku melempar sepatuku dan langsung membuka buku misterius itu. Saat aku merasa tak sabar untuk mendapatkan sesuatu dari buku itu, tiba-tiba saja buku itu tidak melakukan apapun seperti pertama kalinya aku menemukan buku itu. Saat hendak aku lempar, buku itu tiba-tiba saja berkelip.
Aku membukanya perlahan dan yang ada hanyalah halaman buku yang kusam, polos, tanpa tulisan, dan robek.
“Apa-apaan ini!” teriakku sembari pada akhirnya menelantarkan buku itu di atas ranjangku.
IFlashback
“Aku sudah menyerah dengan keputusanmu ini, Ma! Aku sudah tidak tahan terus menaruh harapan besar pada seorang laki-laki yang sama sekali tidak mau serius dengan apa yang dijanjikannya.”
“Meskipun kamu marah sampai sehebat ini tetapi kenapa kamu masih saja mengharapkan Darma datang ke perayaan ulang tahun adikmu?”
“Aku hanya ingin bisa melihat raganya sebelum pada akhirnya aku benar-benar harus melupakannya. Dia adalah sahabatku aku tidak akan bisa semudah itu membenci seseorang sahabat yang sudah mengajarkanku banyak hal seperti ini. Satu kekurangannya itu tidak mampu membuatku berpikir bahwa ia adalah lelaki yang buruk.”
“Meskipun dia berpikir bahwa kamu adalah perempuan yang buruk?”
            “Aku tidak menyalahkannya jika aku begitu karena nyatanya aku memang mengkhianatinya. Aku umpamakan seperti mawar. Dia memang memiliki duri dan orang-orang benci dengan duri karena mereka bisa terluka karena itu. Tetapi apa yang terjadi? Orang justru mencarinya karena keindahannya bukan karena kekurangannya. Jadi, jika ada orang yang membenciku itu berarti dia bukanlah orang yang aku cari selama ini.”
            “Lalu, kamu memilihku?”
            “Heem. Aku memilihmu bukan karena apa yang kamu punya tetapi karena sifat apa adanya yang ada dalam dirimu itu yang menjadi kebanggaanku.”
            Usahaku untuk terlihat sempurna untuk wanita yang sudah kuanggap sempurna nyatanya malah menjadi petaka dan kesengsaraan dalam hidupku. Kesibukannya menjadi musisi membuatku lupa bahwa bukan itu yang ia butuhkan. Ia hanya ingin bersamaku dengan apa adanya diriku ini. Buku yang sudah kuputskan kubakar, membuatku sadar akan banyak hal. Dan seperti yang kalian pikirkan, Deta datang di depan rumahku dan terus memanggil namaku.
            Aku bergegas untuk membuka pintu dan menemuinya.
            “Darma.”
            Aku tersenyum menatapnya.
            “Terima kasih sudah datang meskipun hanya sebentar.”
            “Terima kasih kembali. Mau masuk dulu?” balasku ramah untuk menyenangkan hatinya.
            “Tidak perlu. Aku dan Deo ingin pergi. Maafkan aku yang selalu menganggumu, Yo. Aku berharap kamu bisa menemukan jati dirimu dan lebih menghargai kesederhanaanmu ya. Jangan ingin menjadi orang lain tetapi jadilah seperti apa yang kamu inginkan.”
            Aku tersenyum getir sembari melihat Deta pergi dari hadapanku. Karena penyesalan ini, aku tidak lagi menghukum diriku sendiri akan tetapi memutuskan untuk melangkah untuk lebih mencintai diriku terlebih dahulu sebelum menggapai semua impianku di masa yang akan datang.
Menjadi Diri Sendiri adalah Hal yang  Luar Biasa



Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.
Powered By Blogger