Tangisan
pecah terus menemani hari-hariku selama seminggu ini. Aku ibaratnya hanyalah
sebuah benang yang berusaha untuk menyelesaikan sebuah kain. Namun, Yuni datang
dan memotongku dengan seenaknya. Tanpa peduli seberapa payah aku berusaha untuk
menemaninya hingga menjadi pakaian indah, ia langsung saja menemukan benang
yang sejak dulu aku incar. Ya. Orang
ketiga memang selalu menjadi pelaku utama sebuah keretakan dalam hubungan.
“Bisakah
kita bertemu? Aku akan traktir deh!”
rayuku pada Yuni untuk mengklarifikasi semua masalah ini.
“Maaf.
Aku harus berkencan dengan pacarku.”
Ya.
Pacarmu yang dulu adalah lelaki incaranku. Betapa pahit dan getirnya kehidupan
ketika mereka benar-benar tidak sejalan dengan keinginanmu. Malahan, memutar
semua kejadian yang sama sekali jauh dari kata bahagiamu.
“Baiklah.
Selamat bersenang-senang.”
Tut! Tanpa basa-basi yang biasa aku
dengar dari bibir cerewetnya itu, aku merasa aku bukan hanya benang yang
dipotong tetapi juga dibuang.
“Dimana
Yuni? Bukankah biasanya kalian bersama?” tanya salah satu temannya yang bernama
Andra dengan wajah tak berdosa.
Aku
mengalihkan pandangannya dengan mengotak-atik bisnis onlineku yang secara
kebetulan ramai pesanan.
“Hei?”
panggilnya ketika tahu aku tidak mengacuhkannya.
“Kamu
bisa berbicara denganku jika kamu berkenan mengganti topik pembicaraanmu.”
Aku
tak mengerti apakah kata-kataku cukup membuatnya mengerti dengan hubunganku dan
Yuni atau malah semakin mengacaukan perasaanku. Namun, sedetik setelah aku
berucap dia pergi dari hadapanku. Mungkin, dia mengerti jika aku dengan Yuni
sedang bermasalah.
“Via?”
tanya seorang lelaki yang tidak asing dari ingatanku.
Benar.
Dia Deo pacar Yuni. Bisa kalian tebak? Tentu ada Yuni yang kini terlihat sangat
manja terhadap Deo. Saking manjanya, ia merangkul seluruh tangan Deo
seakan-akan orang lain tidak boleh bersanding dengannya selain Yuni.
“Lama
gak ketemu” ucap Yuni sembari memelukku.
Aku
menegukkan ludah perlahan sembari mempersiapkan diri dengan senyuman pahit.
"Dengan
kak Via?" tanya seorang wanita berumur sekitar 60 tahun padaku.
Aku
pun mengalihkan pandanganku dari Yuni dan langsung menatap wanita itu.
"Saya
ingin mengajak Anda berbisnis dengan saya karena kebetulan barang kita
sama." ucapnya membuatku membelalakkan mata.
"Wah.
Dengan senang hati, Bu." balasku bahagia sembari lega karena bisa membuat
mereka pergi dariku tanpa perlu aku minta.
Bisnis
yang kurintis akibat sakit hati ini nyatanya membuatku semakin kesakitan. Bisa
kalian tebak? Setelah satu bulan aku menjalankan bisnis ini, aku terus
mendapatkan pesanan dari Yuni dan Deo. Entah untuk keluarganya, temannya, atau
terkadang untuk mereka berdua. Meskipun, aku sudah berusaha menyingkir, mereka
tetap saja hadir dalam hidupku
"Andra?"
sapaku ketika melihat sosok lelaki berkacamata mendekatiku.
"Maaf
aku sudah pernah bertanya soal sahabatmu." lanjutnya sembari menampakkan
wajahnya yang semakin merunduk
"Tidak
papa. Itu sudah berlalu. Apa kamu mau bekerja denganku?"
"Kamu
tidak salah orang?"
"Tidak.
Aku membutuhkan pengetahuanmu tentang tata letak kota dengan sepeda vespa
andalanmu."
"Sebagai
kurir?"
"Ya.
Apakah berkenan?"
"Tentu
saja. Siapa orang yang tidak mau memanfaatkan kesempatan ketika seseorang yang
ia sukai meminta bantuannya?"
Aku
mengerutkan dahiku dan menatapnya dengan terheran-heran. Saat menyadari
tatapanku yang demikian, dia langsung berpaling dan menanyakan tugas apa yang
bisa ia lakukan hari ini.
Bisnis
online yang menyita waktu bukanlah halangan untukku mengaruhi kehidupan ini
tetapi bisa dibilang ini malah menjadikan alasanku bangkit karena kepahitan
yang aku terima akhir-akhir ini.
Saat
bersenang-senang dalam dunia bisnis online dengan BuYani, seorang wanita tua yang aku temui
beberapa hari yang lalu, dan Andra membuatku ingin sekali lagi mengajak Yuni
untuk bersantap malam di sebuag kafe kesukaannya.
"Hai,
Yun. Aku hari ini gajian. Bisakah kita bertemu di kafe kesukaanmu? Aku sangat
merindukanmu. " ucapku sembari menahan air mata karena takut akan
penolakannya yang akan berulang kembali.
"Aku
sangat senang dengan kabar itu. Namun, maafkan aku. Aku tidak bisa. Ada
perayaan ulang tahun Deo. Aku harus mengutamakannya."
Belum
sempat aku menjawab, Yuni langsung memutus pembicaraan kami.
Tentu
saja, kini air mata yang terbendung di dalam mata kini tumpah. Kepura-puraanku
kini telah habis daya. Emosi membuatku menghapus semua kontak dengan sahabatku
dan membuang semua kisah kami di dalam kotak kayu.
Saat
nyaman menikmati waktu sepi, tiba" sebuah notifikasi masuk dalam akun
bisnisku. Di saat yang bersamaan, Andra datang dan melihatku yang terus
menangis sembari menampilkan sebuah orderan masuk di layar laptopku.
"Vi?
Aku harus alamat mana? Eh? Kenapa nangis?" tanyanya kemudian
"Bilang
saja barang yang mereka pesan habis." pintaku membuat Andra
terheran".
"Kamu
berbohong, Vi? Jelas-jelas aku lihat kamu masih punya stok barang yang mereka
pesan."
"Aku
bilang tolak!" teriakku membuat Andra mendekatiku.
"Vi,
jika kamu mau bisnismu besar, kamu tidak boleh memainkan perasaanmu dalam
berbisnis. Bisa-bisa kamu makan hati terus mendengar mereka."
"Aku
lelah berpura-pura baik di depan mereka. Lebih baik mereka pergi selamanya
daripada mereka tidak ingin menemuiku" teriakku membuat Andra tetap
mempersiapkan pesanan yang Yuni minta.
"Aku
pikir kamu kuat, Vi. Kamu memilih jatuh karena orang yang sama sekali tidak
berpengaruh dari hidupmu? Bagiku itu sangat tidak masuk di akal. Kamu berjuang
dengan bisnis ini apakah dia campur tangan? Kamu berjuang untuk mengajaknya
berbicara apakah dia akan menerimanya meskipun kamu harus menunggu
bertahun-tahun lamanya? jangankan menerima ajakanmu, aku yakin dia tidak
mempedulikan apa yang terjadi dalam hidupmu lagi." ucap Andra membuatku
semakin jatuh dalam kesedihanku.
Bukannya
menghibur, Andra memilih untuk meninggalkanku dan tetap mengantar pesanan itu.
Beberapa jam kemudian, Andra kembali dan menepuk pundakku.
"Mereka
tidak akan mengganggumu lagi."
Aku
membelalakkan mataku dan melihat bahwa kini akun yang kumiliki telah berubah
drastis. Susah rasanya jika Yuni dan Deo meraih akunku kembali. Tentu saja,
Andra juga memblokir keduanya dan memastikan bahwa tidak ada lagi kepahitan
dalam sebuah hubungan palsu ini.