published on spotify : berjelajah dalam karya             “Putus”             Tangisan pecah terus menemani hari-hariku selama sem...

Berpura-pura

/
0 Comments



published on spotify : berjelajah dalam karya

            “Putus”
            Tangisan pecah terus menemani hari-hariku selama seminggu ini. Aku ibaratnya hanyalah sebuah benang yang berusaha untuk menyelesaikan sebuah kain. Namun, Yuni datang dan memotongku dengan seenaknya. Tanpa peduli seberapa payah aku berusaha untuk menemaninya hingga menjadi pakaian indah, ia langsung saja menemukan benang yang sejak dulu aku incar.  Ya. Orang ketiga memang selalu menjadi pelaku utama sebuah keretakan dalam hubungan.
            “Bisakah kita bertemu? Aku akan traktir deh!” rayuku pada Yuni untuk mengklarifikasi semua masalah ini.
            “Maaf. Aku harus berkencan dengan pacarku.”
            Ya. Pacarmu yang dulu adalah lelaki incaranku. Betapa pahit dan getirnya kehidupan ketika mereka benar-benar tidak sejalan dengan keinginanmu. Malahan, memutar semua kejadian yang sama sekali jauh dari kata bahagiamu.
            “Baiklah. Selamat bersenang-senang.”
            Tut! Tanpa basa-basi yang biasa aku dengar dari bibir cerewetnya itu, aku merasa aku bukan hanya benang yang dipotong tetapi juga dibuang.
            “Dimana Yuni? Bukankah biasanya kalian bersama?” tanya salah satu temannya yang bernama Andra dengan wajah tak berdosa.
            Aku mengalihkan pandangannya dengan mengotak-atik bisnis onlineku yang secara kebetulan ramai pesanan.
            “Hei?” panggilnya ketika tahu aku tidak mengacuhkannya.
            “Kamu bisa berbicara denganku jika kamu berkenan mengganti topik pembicaraanmu.”
            Aku tak mengerti apakah kata-kataku cukup membuatnya mengerti dengan hubunganku dan Yuni atau malah semakin mengacaukan perasaanku. Namun, sedetik setelah aku berucap dia pergi dari hadapanku. Mungkin, dia mengerti jika aku dengan Yuni sedang bermasalah.
            “Via?” tanya seorang lelaki yang tidak asing dari ingatanku.
            Benar. Dia Deo pacar Yuni. Bisa kalian tebak? Tentu ada Yuni yang kini terlihat sangat manja terhadap Deo. Saking manjanya, ia merangkul seluruh tangan Deo seakan-akan orang lain tidak boleh bersanding dengannya selain Yuni.
            “Lama gak ketemu” ucap Yuni sembari memelukku.
            Aku menegukkan ludah perlahan sembari mempersiapkan diri dengan senyuman pahit.
            "Dengan kak Via?" tanya seorang wanita berumur sekitar 60 tahun padaku.
            Aku pun mengalihkan pandanganku dari Yuni dan langsung menatap wanita itu.
            "Iya betul" ucapku sembari mempertanyakan kedatangannya.
            "Saya ingin mengajak Anda berbisnis dengan saya karena kebetulan barang kita sama." ucapnya membuatku membelalakkan mata.
            "Wah. Dengan senang hati, Bu." balasku bahagia sembari lega karena bisa membuat mereka pergi dariku tanpa perlu aku minta.
            Bisnis yang kurintis akibat sakit hati ini nyatanya membuatku semakin kesakitan. Bisa kalian tebak? Setelah satu bulan aku menjalankan bisnis ini, aku terus mendapatkan pesanan dari Yuni dan Deo. Entah untuk keluarganya, temannya, atau terkadang untuk mereka berdua. Meskipun, aku sudah berusaha menyingkir, mereka tetap saja hadir dalam hidupku
            "Andra?" sapaku ketika melihat sosok lelaki berkacamata mendekatiku.
            "Maaf aku sudah pernah bertanya soal sahabatmu." lanjutnya sembari menampakkan wajahnya yang semakin merunduk
            "Tidak papa. Itu sudah berlalu. Apa kamu mau bekerja denganku?"
            "Kamu tidak salah orang?"
            "Tidak. Aku membutuhkan pengetahuanmu tentang tata letak kota dengan sepeda vespa andalanmu."
            "Sebagai kurir?"
            "Ya. Apakah berkenan?"
            "Tentu saja. Siapa orang yang tidak mau memanfaatkan kesempatan ketika seseorang yang ia sukai meminta bantuannya?"
            Aku mengerutkan dahiku dan menatapnya dengan terheran-heran. Saat menyadari tatapanku yang demikian, dia langsung berpaling dan menanyakan tugas apa yang bisa ia lakukan hari ini.
            Bisnis online yang menyita waktu bukanlah halangan untukku mengaruhi kehidupan ini tetapi bisa dibilang ini malah menjadikan alasanku bangkit karena kepahitan yang aku terima akhir-akhir ini.
            Saat bersenang-senang dalam dunia bisnis online dengan Bu  Yani, seorang wanita tua yang aku temui beberapa hari yang lalu, dan Andra membuatku ingin sekali lagi mengajak Yuni untuk bersantap malam di sebuag kafe kesukaannya.
            "Hai, Yun. Aku hari ini gajian. Bisakah kita bertemu di kafe kesukaanmu? Aku sangat merindukanmu. " ucapku sembari menahan air mata karena takut akan penolakannya yang akan berulang kembali.
            "Aku sangat senang dengan kabar itu. Namun, maafkan aku. Aku tidak bisa. Ada perayaan ulang tahun Deo. Aku harus mengutamakannya."
            Belum sempat aku menjawab, Yuni langsung memutus pembicaraan kami.
            Tentu saja, kini air mata yang terbendung di dalam mata kini tumpah. Kepura-puraanku kini telah habis daya. Emosi membuatku menghapus semua kontak dengan sahabatku dan membuang semua kisah kami di dalam kotak kayu.
            Saat nyaman menikmati waktu sepi, tiba" sebuah notifikasi masuk dalam akun bisnisku. Di saat yang bersamaan, Andra datang dan melihatku yang terus menangis sembari menampilkan sebuah orderan masuk di layar laptopku.
            "Vi? Aku harus alamat mana? Eh? Kenapa nangis?" tanyanya kemudian
            "Bilang saja barang yang mereka pesan habis." pintaku membuat Andra terheran".
            "Kamu berbohong, Vi? Jelas-jelas aku lihat kamu masih punya stok barang yang mereka pesan."
            "Aku bilang tolak!" teriakku membuat Andra mendekatiku.
            "Vi, jika kamu mau bisnismu besar, kamu tidak boleh memainkan perasaanmu dalam berbisnis. Bisa-bisa kamu makan hati terus mendengar mereka."
            "Aku lelah berpura-pura baik di depan mereka. Lebih baik mereka pergi selamanya daripada mereka tidak ingin menemuiku" teriakku membuat Andra tetap mempersiapkan pesanan yang Yuni minta.
            "Aku pikir kamu kuat, Vi. Kamu memilih jatuh karena orang yang sama sekali tidak berpengaruh dari hidupmu? Bagiku itu sangat tidak masuk di akal. Kamu berjuang dengan bisnis ini apakah dia campur tangan? Kamu berjuang untuk mengajaknya berbicara apakah dia akan menerimanya meskipun kamu harus menunggu bertahun-tahun lamanya? jangankan menerima ajakanmu, aku yakin dia tidak mempedulikan apa yang terjadi dalam hidupmu lagi." ucap Andra membuatku semakin jatuh dalam kesedihanku.
            Bukannya menghibur, Andra memilih untuk meninggalkanku dan tetap mengantar pesanan itu. Beberapa jam kemudian, Andra kembali dan menepuk pundakku.
            "Mereka tidak akan mengganggumu lagi."
            Aku membelalakkan mataku dan melihat bahwa kini akun yang kumiliki telah berubah drastis. Susah rasanya jika Yuni dan Deo meraih akunku kembali. Tentu saja, Andra juga memblokir keduanya dan memastikan bahwa tidak ada lagi kepahitan dalam sebuah hubungan palsu ini.




Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.
Powered By Blogger