Story Request : Aristya  Foto : Canva             “Penjahat!”             Sejak saat itu, aku tak lagi menyebutnya sahabat.  ...

Aku adalah Penjahat

/
0 Comments



Story Request : Aristya
 Foto : Canva
            “Penjahat!”
            Sejak saat itu, aku tak lagi menyebutnya sahabat.
            *
            “Aku butuh bantuanmu, Vie.” ucap Lea, sahabatku, dengan menggebu-gebu.
            Aku mengiyakan ajakannya dan langsung ke tempat dimana ia berada.
            Sebuah gazebo dekat kampus adalah salah satu tempat favorit kami. Banyaknya nyamuk yang meluncur dari pepohonan di sekitar tak meruntuhkan niat kami untuk tidak bersinggah lagi di gazebo itu.
            “Vie!” ucap Lea sembari menangis dan jatuh dalam pelukanku.
            Beberapa detik kemudian, Titi datang. Ya, dia adalah pacar Lea. Wajahnya yang terlihat sangat tampan membuat Lea melepasku dan memeluknya dengan penuh kasih sayang.
            “Kamu baik-baik saja kan?” tanya Titi sembari mengelus pipi Lea dengan lembut.
            “Aku sakit hati banget.” balas Lea manja sembari bersandar di pundak Titi.
            Sebagai orang ketiga, aku hanya bisa menikmati keromantisan mereka dan sekali-kali bermain dengan seekor kucing yang menemaniku terlelap di sampingku.
            Miauw!
            “Vie, kami punya masalah.” ucap Titi dengan serius.
            Aku menanggapinya dengan tidak begitu serus sembari tetap menggendong kucing taman itu.
            “Ada salah seorang temanmu yang membuntuti Lea.”
            Aku pun menyernyitkan dahiku.
            “Temanku?”
            “Coba sebutkan siapa temanmu yang memiliki ciri-ciri berambut pendek dan berkaca mata.”
            Aku mencocokan kriteria yang disebutkan dengan beberapa kandidat teman sekelasku di kampus.
            “Nadya” ucapku sembari menunjukkan beberapa foto Nadya yang kumiliki.
            “Ah! Iya. Ini orangnya!” teriak Lea sembari mencoba memengaruhi Titi bahwa itu adalah orang yang ia maksud selama ini.
            “Dia sudah membuntuti Lea cukup lama. Aku tentu tidak akan membiarkan siapa pun mengganggu kehidupan Lea. Berikan aku nomor ponselnya.”
            Aku ragu untuk memberikan nomor tanpa seizin pemiliknya. Aku pun mengurungkan niat untuk memberikannya.
            “Maaf, aku harus mendapatkan izin dulu dengan pemilik nomor itu.”
            “Tidak perlu!  Aku sudah muak! Berikan sekarang!”
            Tin tin
            Aku langsung saja memutar kepalaku ke arah suara motor yang memanggilku. Vino! Dia datang di saat yang sangat tepat.
            Saat melihatnya hendak memarkirkan motornya, aku pun langsung mengisyaratkan bahwa dia tidak perlu turun dan aku akan berjalan ke arahnya.
            “Maaf, aku harus pergi.”
            “Vie, jangan lupa berikan aku nomor ponsel orang itu.”
            “Baiklah.”
            “Vie, jika kamu menjadi aku, apa yang akan kamu lakukan?” tanya Lea sembari menahanku pergi.
            “Sudahlah, Dek. Apa yang kita lakukan ini benar. Aku sudah muak dengan perlakuannya itu.” teriak Titi sembari mendapatkan pelukan dari Lea.
            Aku pun pergi dan sedikit melangkah lebih cepat sampai pada Vino.
            “Vin! Ayo makan!” teriakku yang langsung menaiki motornya.
            “Oke oke.” balas Vino seperti mengerti dengan situasi yang melanda hatiku saat ini.
            Dalam perjalanan, aku terus berpikir akan memberikannya atau tidak. Namun, aku merasakan feeling yang tidak menyenangkan jika aku menolak ataupun menerima kenyataan bahwa aku harus menolong mereka.
            “Kenapa sih? Kok wajahmu mirip bebek?” ejek Vino membuatku tak berkutik.
            “Seberapa besar peran lelaki terhadap pasangannya, Vin?” tanyaku dengan wajah serius.
            “Lha, selama ini dengan adanya aku kamu berubah tidak?” tanya Vino balik sembari fokus mengendarai motor lamanya.
            “Berubah tetapi ke arah yang lebih baik sih.” balasku.
            “Berubah gimana?”
            “Aku jadi suka makan, jalan-jalan..” ucapku membuat Vino terkejut.
            “Ya memang berubah. Tetapi setiap kali mengajak makan, aku harus selalu menghabiskan porsimu sampai aku obesitas seperti ini.”
            Aku pun tertawa terbahak-bahak.
            “Vie, ibarat kain putih, dia akan bersih ataupun kotor itu tergantung siapa yang memakainya. Jika orang yang memakainya niat, ia akan rajin membersihkan kain itu ataupun merawatnya. Namun, jika orang yang memakainya itu  bodo amat, ia akan malas merawat kain itu sehingga kain itu menjadi kusam. Kamu tidak bisa mengukur pengaruh orang lain terhadap hidupmu seberapa persen. Namun, itu semua kembali ke kamu. Seberapa banyak kamu menerima hal-hal baik sehingga bisa membuatmu memperbaiki hidupmu yang kurang. Atau malah sebaliknya.”
            “Bisa bijak juga.”
            “Bisalah. Bener nggak apa yang aku katakan tadi?”
            “Yap. Aku kasih jempol empat deh!
                Setelah beberapa menit di atas motor, kami pun sampai di tempat tujuan.
"Aku traktir" ucap Vino sembari mengeluarkan dompet.
"Aku yang ngajak makan lho"
"Udah ah. Mumpung kaya" balas Vino membuatku tertawa.
"Gaya! Menyerah deh kalau melawan anak sultan."
Kami tertawa bersama.
Saat asik mengobrol dan makan bersama. Tiba-tiba Titi mengirimkan pesan padaku supaya aku segera memberikan nomor Nadya padanya.
Vie, aku minta nomor Nadya. Aku sekarang bertemu dengannya di kantin kampus. Tolong kirim segera ya.
Aku terdiam dan seketika itu juga berpura-pura baik-baik saja di depan Vino.       
"Kalau kamu mau memberikan nomor ponsel ke orang lain. Bilang dulu. Jangan asal kasih."
"Kok tahu, Vin?"
"Aku dengar semuanya tadi. Inget, Vie. Tugasmu hanya memberikan nomor itu. Setelah itu, biarkan mereka mengurus masalahnya sendiri. Toh, mereka bukan anak kecil lagi yang harus dituntun kan?"
"Baiklah." ucapku sembari memberikan nomor ponsel Nadya dan memberinya kabar bahwa Lea memintanya.
Apa yang aku takutkan terjadi. Tiba-tiba saja, Nadya meneleponku. Namun, karena aku asik berbincang dengan Vino, aku tidak menjawab panggilannya.
"Vie, kalau ada seseorang yang mengajakmu ke suatu tempat. Ajak aku." ucap Vino serius kali ini.
"Memangnya siapa, Vin?"
"Sudahlah. Aku pamit." ucap Vino yang langsung pergi dari hadapanku.
Sampainya di rumah, aku mendapat sepuluh panggilan dari Nadya. Tiba-tiba, aku melihatnya di ruang tamu sembari ketakutan.
"Nad?"
"Vie, apa salah kalau aku menagih hutang pada mereka?"
"Maksudmu?"
"Aku membuntuti mereka karena aku ingin menagih hutang mereka padaku. Aku benar-benar membutuhkan uangku."
"Jadi, ini alasanmu membuntuti mereka?"
"Iya." balasnya dengan menangis terisak-isak.
"Apa mereka sudah menghubungimu?"
"Belum, Vie."
Bagaimana bisa menjadi seperti ini? Apakah terjadi kesalahanpaham antara mereka sehingga mereka menuduh Nadya akan perbuatannya ini?
"Apa mereka tidak tahu jika kamu melakukan itu karena hutang?"
"Mereka selalu menghindar. Aku juga tidak mengerti."
"Baiklah. Jika mereka kasar terhadapmu, beritahu aku."
"Terima kasih, Vie. Aku pulang"
Aku semakin heran dengan sikap Lea dan Titi. Namun, aku tidak bisa mempercayai mereka ataupun Nadya begitu saja. Aku ingat pesan Vino bahwa aku hanya memberikan nomor saja dan tidak perlu mencari tahu soal masalah mereka.
Beberapa hari berlalu dengan sangat berat, Nadya, Lea, dan Titi  menjadikanku sebagai orang keempat di antara mereka. Aku harus memberikan solusi pada mereka tanpa memikirkan bagaimana posisiku saat ini. Kabarnya, mereka saling bertemu. Tentu, Nadya membawa kakaknya untuk menyelesaikan ini. Namun, Lea dan Titi secara tiba-tiba memblokir dan mengata-ngataiku di media sosial.
Kita harus bertemu sekarang!
Sebuah pesan singkat datang dari Lea. Feelingku berkata bahwa ini bukanlah hal yang baik-baik saja. Tentu, aku langsung menghubungi Vino dan mengajaknya untuk ke tempat yang mereka mau. Di sebuah taman, aku disuguhkan wajah penuh kebencian dari Titi. Tiba-tiba, dia mengepalkan tangannya dan hendak melukai wajahku. Dengan sigap, Vino menahan tangan Titi.
"Kamu gak usah sok pahlawan. Disini siapa yang punya masalah? Mereka kan? Untuk apa kamu bersusah payah supaya terlihat kuat di depan pacarmu? Kita sudah dewasa. Tolong, berpikirlah dewasa sesuai dengan umurmu. Aku tidak akan terlibat dalam pertikaian Vie. Namun, jika kamu tetap berupaya untuk menghajarnya, aku akan menghajarmu juga." ucap Vino membuatku tersenyum di dalam hati.
"Kenapa kamu membocorkan semuanya, Vie! Kami jadi malu karenamu!" teriak Lea sembari mendekatiku dan hendak menamparku.
"Kalau dari awal niatnya tidak mau membantu bilang saja! Bahagia sekarang karena identitas kami berdua ternodai karena salah tafsir ini?" teriak Titi sembari kembali mendekatiku.
"Gak usah ikut campur!" teriak Vino sembari menggertak Titi yang langsung diam seketika.
"Mulai saat ini. Aku tidak akan menganggapmu sebagai sahabat ataupun teman sekalipun. Kamu penjahat!" teriak Lea sembari menangis dan pergi dari lokasi.
Titi yang masih bersikukuh melukaiku tetap saja mendekatiku.
"Bangsat!" teriak Vino membuat Titi kembali mengurungkan niatnya.
Setelah mereka pergi, aku menangis sangat kencang di balik pepohonan sehingga tidak menjadi fokus perhatian banyak orang.
"Kenapa, Vin. Pemikiran mereka sesempit ini? Aku tidak mungkin membela orang yang salah walaupun mereka adalah sahabatku sendiri."
"Sudahlah. Kadang bucin itu bisa mengalahkan logika daripada perasaan. Setidaknya, kamu sekarang mengerti siapa itu sahabat setiamu. Jika dia diciptakan setia, sebesar apapun masalah yang terjadi di antara kalian, kalian tidak akan berpisah. Biarkan semua ini terjadi. Aku tahu, Pencipta pasti akan menggantikannya dengan sesuatu yang lebih baik dari ini. Yaitu keluargamu, aku, dan teman-temanmu yang masih bangga karena memilikimu."
Aku tersenyum dan mengusap air mataku.
"Ah. Mataku sembab!"
"Haha. Biar saja malu dilihat banyak orang. Ayo kita naik bianglala." ajak Vino membuatku tersenyum.
Dari kejauhan, aku melihat Nadya yang tiba-tiba saja berlari dan memelukku.
Bagaimana pun juga, pada akhirnya aku sudah kehilangan sahabatku. Namun, aku sadar bukan hanya dia orang yang mendukungku di dunia ini. Aku memiliki banyak orang yang menyayangiku. Tentu, aku seharusnya tidak membebani diriku dengan memikirkan orang yang langsung membenciku karena satu kesalahanku. Akan tetapi, seharusnya aku membanggakan orang yang menyanyangiku karena segala kekuranganku.







Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.
Powered By Blogger