“Aku butuh bantuanmu, Vie.” ucap
Lea, sahabatku, dengan menggebu-gebu.
Aku mengiyakan ajakannya dan
langsung ke tempat dimana ia berada.
Sebuah gazebo dekat kampus adalah
salah satu tempat favorit kami. Banyaknya nyamuk yang meluncur dari pepohonan
di sekitar tak meruntuhkan niat kami untuk tidak bersinggah lagi di gazebo itu.
“Vie!” ucap Lea sembari menangis dan
jatuh dalam pelukanku.
Beberapa detik kemudian, Titi
datang. Ya, dia adalah pacar Lea. Wajahnya yang terlihat sangat tampan membuat
Lea melepasku dan memeluknya dengan penuh kasih sayang.
“Kamu baik-baik saja kan?” tanya
Titi sembari mengelus pipi Lea dengan lembut.
“Aku sakit hati banget.” balas Lea
manja sembari bersandar di pundak Titi.
Sebagai orang ketiga, aku hanya bisa
menikmati keromantisan mereka dan sekali-kali bermain dengan seekor kucing yang
menemaniku terlelap di sampingku.
Miauw!
“Vie,
kami punya masalah.” ucap Titi dengan serius.
Aku menanggapinya dengan tidak
begitu serus sembari tetap menggendong kucing taman itu.
“Ada salah seorang temanmu yang
membuntuti Lea.”
Aku pun menyernyitkan dahiku.
“Temanku?”
“Coba sebutkan siapa temanmu yang
memiliki ciri-ciri berambut pendek dan berkaca mata.”
Aku mencocokan kriteria yang
disebutkan dengan beberapa kandidat teman sekelasku di kampus.
“Nadya” ucapku sembari menunjukkan
beberapa foto Nadya yang kumiliki.
“Ah! Iya. Ini orangnya!” teriak Lea
sembari mencoba memengaruhi Titi bahwa itu adalah orang yang ia maksud selama
ini.
“Dia sudah membuntuti Lea cukup
lama. Aku tentu tidak akan membiarkan siapa pun mengganggu kehidupan Lea.
Berikan aku nomor ponselnya.”
Aku ragu untuk memberikan nomor
tanpa seizin pemiliknya. Aku pun mengurungkan niat untuk memberikannya.
“Maaf, aku harus mendapatkan izin
dulu dengan pemilik nomor itu.”
“Tidak perlu!Aku sudah muak! Berikan sekarang!”
Tin
tin
Aku langsung saja memutar kepalaku
ke arah suara motor yang memanggilku. Vino! Dia datang di saat yang sangat
tepat.
Saat melihatnya hendak memarkirkan
motornya, aku pun langsung mengisyaratkan bahwa dia tidak perlu turun dan aku
akan berjalan ke arahnya.
“Maaf, aku harus pergi.”
“Vie, jangan lupa berikan aku nomor
ponsel orang itu.”
“Baiklah.”
“Vie, jika kamu menjadi aku, apa
yang akan kamu lakukan?” tanya Lea sembari menahanku pergi.
“Sudahlah, Dek. Apa yang kita
lakukan ini benar. Aku sudah muak dengan perlakuannya itu.” teriak Titi sembari
mendapatkan pelukan dari Lea.
Aku pun pergi dan sedikit melangkah
lebih cepat sampai pada Vino.
“Vin! Ayo makan!” teriakku yang
langsung menaiki motornya.
“Oke oke.” balas Vino seperti
mengerti dengan situasi yang melanda hatiku saat ini.
Dalam perjalanan, aku terus berpikir
akan memberikannya atau tidak. Namun, aku merasakan feeling yang tidak menyenangkan jika aku menolak ataupun menerima kenyataan
bahwa aku harus menolong mereka.
“Kenapa sih? Kok wajahmu mirip
bebek?” ejek Vino membuatku tak berkutik.
“Seberapa besar peran lelaki
terhadap pasangannya, Vin?” tanyaku dengan wajah serius.
“Lha, selama ini dengan adanya aku
kamu berubah tidak?” tanya Vino balik sembari fokus mengendarai motor lamanya.
“Berubah tetapi ke arah yang lebih
baik sih.” balasku.
“Berubah gimana?”
“Aku jadi suka makan, jalan-jalan..”
ucapku membuat Vino terkejut.
“Ya memang berubah. Tetapi setiap
kali mengajak makan, aku harus selalu menghabiskan porsimu sampai aku obesitas
seperti ini.”
Aku pun tertawa terbahak-bahak.
“Vie, ibarat kain putih, dia akan
bersih ataupun kotor itu tergantung siapa yang memakainya. Jika orang yang
memakainya niat, ia akan rajin membersihkan kain itu ataupun merawatnya. Namun,
jika orang yang memakainya itubodo amat,
ia akan malas merawat kain itu sehingga kain itu menjadi kusam. Kamu tidak bisa
mengukur pengaruh orang lain terhadap hidupmu seberapa persen. Namun, itu semua
kembali ke kamu. Seberapa banyak kamu menerima hal-hal baik sehingga bisa
membuatmu memperbaiki hidupmu yang kurang. Atau malah sebaliknya.”
“Bisa bijak juga.”
“Bisalah. Bener nggak apa yang aku
katakan tadi?”
“Yap. Aku kasih jempol empat deh!”
Setelah
beberapa menit di atas motor, kami pun sampai di tempat tujuan.
"Aku
traktir" ucap Vino sembari mengeluarkan dompet.
Saat
asik mengobrol dan makan bersama. Tiba-tiba Titi mengirimkan pesan padaku
supaya aku segera memberikan nomor Nadya padanya.
Vie,
aku minta nomor Nadya. Aku sekarang bertemu dengannya di kantin kampus. Tolong
kirim segera ya.
Aku
terdiam dan seketika itu juga berpura-pura baik-baik saja di depan Vino.
"Kalau
kamu mau memberikan nomor ponsel ke orang lain. Bilang dulu. Jangan asal
kasih."
"Kok
tahu, Vin?"
"Aku
dengar semuanya tadi. Inget, Vie. Tugasmu hanya memberikan nomor itu. Setelah
itu, biarkan mereka mengurus masalahnya sendiri. Toh, mereka bukan anak kecil
lagi yang harus dituntun kan?"
"Baiklah."
ucapku sembari memberikan nomor ponsel Nadya dan memberinya kabar bahwa Lea
memintanya.
Apa
yang aku takutkan terjadi. Tiba-tiba saja, Nadya meneleponku. Namun, karena aku
asik berbincang dengan Vino, aku tidak menjawab panggilannya.
"Vie,
kalau ada seseorang yang mengajakmu ke suatu tempat. Ajak aku." ucap Vino
serius kali ini.
"Memangnya
siapa, Vin?"
"Sudahlah.
Aku pamit." ucap Vino yang langsung pergi dari hadapanku.
Sampainya
di rumah, aku mendapat sepuluh panggilan dari Nadya. Tiba-tiba, aku melihatnya
di ruang tamu sembari ketakutan.
"Nad?"
"Vie,
apa salah kalau aku menagih hutang pada mereka?"
"Maksudmu?"
"Aku
membuntuti mereka karena aku ingin menagih hutang mereka padaku. Aku benar-benar
membutuhkan uangku."
"Jadi,
ini alasanmu membuntuti mereka?"
"Iya."
balasnya dengan menangis terisak-isak.
"Apa
mereka sudah menghubungimu?"
"Belum,
Vie."
Bagaimana
bisa menjadi seperti ini? Apakah terjadi kesalahanpaham antara mereka sehingga
mereka menuduh Nadya akan perbuatannya ini?
"Apa
mereka tidak tahu jika kamu melakukan itu karena hutang?"
"Mereka
selalu menghindar. Aku juga tidak mengerti."
"Baiklah.
Jika mereka kasar terhadapmu, beritahu aku."
"Terima
kasih, Vie. Aku pulang"
Aku
semakin heran dengan sikap Lea dan Titi. Namun, aku tidak bisa mempercayai
mereka ataupun Nadya begitu saja. Aku ingat pesan Vino bahwa aku hanya
memberikan nomor saja dan tidak perlu mencari tahu soal masalah mereka.
Beberapa
hari berlalu dengan sangat berat, Nadya, Lea, dan Titi menjadikanku sebagai orang keempat di antara
mereka. Aku harus memberikan solusi pada mereka tanpa memikirkan bagaimana
posisiku saat ini. Kabarnya, mereka saling bertemu. Tentu, Nadya membawa kakaknya
untuk menyelesaikan ini. Namun, Lea dan Titi secara tiba-tiba memblokir dan
mengata-ngataiku di media sosial.
Kita
harus bertemu sekarang!
Sebuah
pesan singkat datang dari Lea. Feelingku berkata bahwa ini bukanlah hal
yang baik-baik saja. Tentu, aku langsung menghubungi Vino dan mengajaknya untuk
ke tempat yang mereka mau. Di sebuah taman, aku disuguhkan wajah penuh
kebencian dari Titi. Tiba-tiba, dia mengepalkan tangannya dan hendak melukai
wajahku. Dengan sigap, Vino menahan tangan Titi.
"Kamu
gak usah sok pahlawan. Disini siapa yang punya masalah? Mereka kan? Untuk apa
kamu bersusah payah supaya terlihat kuat di depan pacarmu? Kita sudah dewasa.
Tolong, berpikirlah dewasa sesuai dengan umurmu. Aku tidak akan terlibat dalam pertikaian
Vie. Namun, jika kamu tetap berupaya untuk menghajarnya, aku akan menghajarmu
juga." ucap Vino membuatku tersenyum di dalam hati.
"Kenapa
kamu membocorkan semuanya, Vie! Kami jadi malu karenamu!" teriak Lea
sembari mendekatiku dan hendak menamparku.
"Kalau
dari awal niatnya tidak mau membantu bilang saja! Bahagia sekarang karena identitas
kami berdua ternodai karena salah tafsir ini?" teriak Titi sembari kembali
mendekatiku.
"Gak
usah ikut campur!" teriak Vino sembari menggertak Titi yang langsung diam
seketika.
"Mulai
saat ini. Aku tidak akan menganggapmu sebagai sahabat ataupun teman sekalipun.
Kamu penjahat!" teriak Lea sembari menangis dan pergi dari lokasi.
Titi
yang masih bersikukuh melukaiku tetap saja mendekatiku.
"Bangsat!"
teriak Vino membuat Titi kembali mengurungkan niatnya.
Setelah
mereka pergi, aku menangis sangat kencang di balik pepohonan sehingga tidak
menjadi fokus perhatian banyak orang.
"Kenapa,
Vin. Pemikiran mereka sesempit ini? Aku tidak mungkin membela orang yang salah walaupun
mereka adalah sahabatku sendiri."
"Sudahlah.
Kadang bucin itu bisa mengalahkan logika daripada perasaan. Setidaknya, kamu
sekarang mengerti siapa itu sahabat setiamu. Jika dia diciptakan setia, sebesar
apapun masalah yang terjadi di antara kalian, kalian tidak akan berpisah. Biarkan
semua ini terjadi. Aku tahu, Pencipta pasti akan menggantikannya dengan sesuatu
yang lebih baik dari ini. Yaitu keluargamu, aku, dan teman-temanmu yang masih
bangga karena memilikimu."
Aku
tersenyum dan mengusap air mataku.
"Ah.
Mataku sembab!"
"Haha.
Biar saja malu dilihat banyak orang. Ayo kita naik bianglala." ajak Vino
membuatku tersenyum.
Dari
kejauhan, aku melihat Nadya yang tiba-tiba saja berlari dan memelukku.
Bagaimana
pun juga, pada akhirnya aku sudah kehilangan sahabatku. Namun, aku sadar bukan
hanya dia orang yang mendukungku di dunia ini. Aku memiliki banyak orang yang
menyayangiku. Tentu, aku seharusnya tidak membebani diriku dengan memikirkan
orang yang langsung membenciku karena satu kesalahanku. Akan tetapi, seharusnya
aku membanggakan orang yang menyanyangiku karena segala kekuranganku.