Entri Populer
My heart feel...
This is my feeling
published on spotify : berjelajah dalam karya “Hai” ucap seorang wanita yang tiba-tiba duduk di samping Edo. “O...
“Hai” ucap seorang wanita
yang tiba-tiba duduk di samping Edo.
“Oh hai.” balas Edo yang masih tengah
berputar-putar dalam lamunannya.
“Berapa orang dari organisasimu yang hadir
dalam acara ini?” tanya wanita itu kemudian.
“Eh? Apa-apa?” balas Edo yang tiba-tiba saja
gugup tanpa sebab.
“Maksudku berapa orang dari organisasimu yang
hadir di acara ini?” lanjut wanita itu dengan sedikit canggung.
“Oh.
Tiga orang.”
Edo
mati-matian berusaha untuk terlihat normal. Namun, mengapa reaksi hatinya
melihat wanita manis itu tidak bisa ia lenyapkan? Alhasil, Edo memilih untuk
memasukkan tangannya untuk menghindari tangan wanita itu yang hendak berjabat
tangan dengannya. Tentu, ini bukan Joseph, perempuan yang Edo incar selama bertahun-tahun.
Ini adalah perempuan lain.
“Aku
Nutela. Siapa namamu?” ucapnya kemudian membuat Edo terpaksa mengeluarkan
tangannya.
“Eh!
aku Edo.” balasnya dengan tegas sembari membenahi kacamatanya yang sama sekali
tidak bermasalah.
Acara
yang cukup singkat kini sudah selesai. Tentu saja. Selama tiga jam itu, Edo sangat
menikmati waktunya untuk berbincang-bincang dengan wanita bernama Nutela. Sampai-sampai
ia sama sekali tidak menyimak materi yang dibicarakan oleh pembicara. Hal itu
membuat dua teman Edo menatapnya sembari tersenyum dan mengangkat
kedua alis mereka berulang kali padanya.
“Apa?”
tanya Edo dengan nada jutek.
“Tidak
salah kan jika kami mengajakmu datang ke acara ini?” tanya salah satu dari
temannya sembari tertawa.
“Edo dapet jodoh!” bisik mereka membuatnya tersenyum.
Edo tertawa sembari menjauh dari mereka dan bersiap meninggalkan tempat itu.
Edo
tak menyangka pertemuan singkat itu mampu membuat hatinya berani membuka jalan
untuk kehadiran wanita yang baru. Namun, Edo tetap menyimpan Joseph dalam benaknya.
Seusai acara itu, Edo berusaha menghubungi Joseph.
Bagai
balon yang berisikan helium, Joseph selalu lepas dari tangannya. Berbeda dengan
Nutela. Ia selalu mudah ia gapai dan
bahkan selalu ada di setiap waktunya. Selama satu setengah tahun, Edo dan
Nutela berteman. Apa yang terjadi? Tentu saja Edo semakin menyukai wanita itu.
Di tengah perjuangannya untuk mendapatkan Joseph, seorang wanita yang ia
idam-idamkan sejak lama, ia dipertemukan dengan seorang wanita yang selalu ada.
“Hei,
Do.” sapa Nutela menuai senyuman di wajah Edo.
“Hmm?”
jawabnya singkat.
“Bagaimana
perkembangan acaramu besok?”
“Semua
aman terkendali. Aku meminta bantuan beberapa orang yang kita temui di acara
beberapa hari yang lalu untuk menjadi anggota panitia dalam acaraku.”
“Apa
yang bisa aku bantu?”
“Cukup
datang dan nikmati acaranya.”
“Wah!
Aku pasti akan datang. Semangat ya pak ketupel!”
Sebuah
acara tambahan harus segera Edo laksanakan. Berkat bantuan Nutela, Edo mampu
menyelesaikan semua persiapannya dengan baik. Edo percaya bahwa terkadang apa
yang ia dapatkan jauh lebih indah dari apa yang ia rencanakan. Karena
keberhasilan acara ini, Edo berniat memberikan kado spesial untuk Nutela. Betapa Edo
tidak menyangka bahwa besok adalah hari di mana Nutela bertambah umur. Segala
usaha ia kerahkan. Iringan musik dan suara merdu yang ia rekam dalam ponsel
membuatnya percaya diri dan langsung mengirimkannya pada wanita itu.
Edo
tak banyak menunggu responnya. Edo cukup bangga karena ia berani melakukannya.
Joseph.
Nama
itu terus terngiang. Namun, akankah tetap ada selamanya? Edo kini menjadi ragu.
Drrt..drttt..
Ponselnya berbunyi tepat setelah ia selesai merapikan tempat
penyelenggaraan acaranya.
“Terima
kasih Edo! Kamu memang terbaik!”
Edo
tak menyangka begitu bahagianya Nutela ketika ia menerima hadiah sederhana yang
Edo berikan. Nutela bukanlah wanita yang Edo kejar dan idam-idamkan. Namun,
jika diibaratkan bunga, dari banyaknya tanaman di kebunnya, Nutela cukup membuat
Edo terus memperhatikannya.
Edo
tersenyum setelah sekian lama berwajah murung karena selalu kehilangan kabar
dari wanita pujaannya.
“Ayo bertemu.”
Sebuah
kalimat yang ragu Edo ucapkan nyatanya mendatangkan sebuah pertemuan. Edo dan
Nutela bertemu tepat saat akhir tahun. Tentu saja, sebuah kado Edo berikan pada
wanita itu. Buku motivasi yang cukup mengejutkan membuat Nutela berdiam diri
cukup lama sembari perlahan beranjak dari duduknya dan mengajak Edo untuk pergi
dari rumah makan itu.
“Ada
apa?” tanya Edo dengan kebingungan.
“Tidak
apa. Aku senang. Terima kasih ya.” ucap Nutela sembari berusaha menyembunyikan
wajahnya.
Setelah bersenda gurau cukup lama, tiba-tiba saja Nutela
menatap Edo.
“Mengapa kamu gemar memberi hadiah?” tanya Nutela sembari
membolak-balikkan buku yang Edo beri.
“Hadiah adalah simbol keseriusanku.” balas Edo dengan
tenang.
“Keseriusan?”
“Ya. Keseriusan untuk benar-benar serius membahagiakan
orang itu.”
Setelah mendengar jawaban dari Edo, tiba-tiba saja Nutela
tersenyum kecil dan beranjak dari duduknya.
“Semoga kamu berhasil ya.” ucap Nutela sembari
mengedipkan matanya pada Edo.
Edo pun menatap wanita itu yang perlahan-lahan menghilang
dari hadapannya.
Kini, Edo hanya mampu
menyorot jalan di tengah perumahannya sembari membayangkan dua wanita itu. Joseph,
seorang wanita yang selalu ia dambakan dan ia kejar selama bertahun-tahun itu.
Dan, Nutela, seorang wanita yang hadir dalam kehidupannya secara tiba-tiba.
Jika diibaratkan ikan, apakah Edo akan terus menerus mengejar kait yang selalu
menjauh darinya atau berbalik untuk bertemu dengan kait yang selalu mengejarnya?
Akankah Edo tetap menjadi lelaki yang setia atau lelaki yang bahagia?