published on spotify : Berjelajah dalam Karya “Maaf ya, aku ada janji mendadak dengan kakak tingkatku.” ucap May yang tiba-tiba mengir...

Alkohol

/
0 Comments


published on spotify : Berjelajah dalam Karya

“Maaf ya, aku ada janji mendadak dengan kakak tingkatku.” ucap May yang tiba-tiba mengirim pesan singkat padaku.
“Santai saja. Aku baru saja ingin mandi.” balasku sembari meletakkan handuknya kembali di atas ranjangku.
“Nanti siang, jemput aku ya.”
“Ashiap!” balasku membuat May tertawa dan mematikan ponselnya.
Aku tersenyum sembari membayangkan wajah manisnya dengan poni yang menutupi semua jidatnya yang jenong. Aku habiskan waktuku dengan mengontak seluruh temanku yang tiba-tiba saja mengajakku untuk reuni bersama di salah satu restoran terbaik di kota. Aku menolak? Tentu saja tidak. Mereka adalah teman-teman seperjuanganku yang mengenalku di kala susah maupun suka.
Matahari sudah tepat di tengah langit. Aku segera menyalakan motorku dan berhembus menuju tempat May menemui kakak tingkatnya.
“Hai Ludwig!”
“Hai.” ucapku sembari terus terpesona pada wajah imut yang dimiliki May.
“Sudah makan?”
“Belum. Ayo aku traktir”
“Lho. Aku saja yang traktir.”
“Sudahlah! Sebagai laki-laki, aku yang harusnya traktir.”
“Baiklah.”
Masalah traktir saja sudah membuat kami ramai. Tentu ini bukan hal buruk bukan?
“Lud, kamu tidak mampir?” ucap May sembari menatapku penuh harap.
“Maaf aku harus menemui teman-temanku. Kami mau reunian.”
“Wah! Aku sangat senang mendengarnya. Selamat bersenang-senang.” ucapnya sembari melambaikan tangannya kepadaku.
Aku pun membalasnya dengan bahagia. Sembari menunggu May masuk ke dalam rumah, aku memikirkan lokasi di mana aku bisa mengadakan reuni itu. May yang terus memasang wajah penuh keceriaan membuatku semakin bersyukur karena memiliki perempuan seperti dia.
Tiba saatnya reuni, semuanya bergerumbul bak semut yang sudah menemukan sebuah makanan lezat. Kami berjabat tangan, tertawa dengan keras, hingga kami meminum alkohol. Kebahagiaan bersama mereka membuatku lupa harus membatasi alkohol yang aku minum. Alhasil, aku meminum lebih dari tiga botol dan kesadaranku hilang.
“Bangun!” teriak seorang bapak-bapak kepadaku.
Aku membuka mata dan melihat bahwa teman-temanku sudah pergi. Aku menatap wajah garang dari lelaki bertubuh besar itu sembari langsung beranjak dari tempat itu.
Tak menyangka aku bermalam di tempat ini sendirian. Aku bergegas pulang dan mengabari May yang terlihat sudah meneleponku berulang kali.
“May?” ucapku saat May menjawab panggilanku.
Tut..tut.. Aku terkejut. May mematikan panggilan ini tanpa berucap apapun. Apa yang sedang  terjadi?
Aku pun sesegera mungkin bersih diri dan melaju cepat menuju kediaman perempuan yang kini membuat jantungku ingin keluar dari balik tulang dadaku. Aku mengetuk rumahnya berulang kali. Tidak ada respon. Hingga ketukanku yang ke lima belas, ia baru membukakan pintu untukku. Tentu, wajah yang tidak seceria biasanya. Matanya sembab. Apakah dia baru menangis?
Aku berdiam sembari duduk dan menunggunya untuk tenang.
“Kita putus.”
“May? Ada apa?”
“Aku ingin hubungan ini berakhir.”
“Apa yang terjadi?”
“Aku minta bantuanmu supaya kita berdua memiliki sekat dan tidak bertemu lagi.”
“May jangan bercanda! Aku tidak suka!”
“Apa wajah ini melucu?”
Tanpa membalas apapun, May langsung mengusirku dan sama sekali tidak memberikan penjelasan apapun. Aku panik. Apa yang sudah terjadi pada hubungan ini?
Kini aku adalah langit. Langit putih yang tiba-tiba didatangi oleh sebuah awan gelap. Awan gelap itu tidak berdiam diri tetapi tiba-tiba menyambarku dengan petir hingga aku terluka. Hujan pun mengguyur darinya dan setelah semuanya selesai dia tidak mengucapkan apa-apa. Hening.
May adalah bayangan. Dulu, kami mampu bercakap dan bersenda gurau. Namun, sekarang dia adalah bayangan yang mudah sekali hilang meskipun aku selalu menemukannya.
“Kamu kenapa, Lud?”
“Gila. Aku gila!” teriakku membuat semua temanku terbelalak.
“Aku yakin ada sesuatu di hubungan kalian.”
Aku terkejut sembari melihatnya.
“Berhentilah meminum alkohol! Alkohol sama sekali tidak membantumu menyelesaikan masalah!” ucap Leo, salah satu sahabatku sejak kecil.
Setelah menggertakku, dia langsung memecahkan botol yang aku pegang hingga pecah. Perlahan pecahan beling itu menusuk kakiku tetapi aku tidak merasakan kesakitan itu.
“Kamu ingin tahu apa yang kamu lakukan kemarin?”
Aku menyernyitkan dahi dan bersiap menyaksikan putaran video yang ia berikan padaku.
*
“Gila, cantik banget! Aku harus beri tahu May.”
Setelah berkata demikian, aku langsung saja menelepon May.
“Hai May. Aku bertemu wanita paling cantik nih. Kamu mau kenalan? Ah? Kamu masih kalah jika bersaing dengannya. Aku sangat menyukai wanita itu. Kamu tahu? Dia cantik. Tidak secantik kamu. Kamu tahu? Dia cantik. Cantik sekali.
*
Aku terdiam sembari membiarkan tanganku membeku begitu pula mataku.
“Kamu boleh mengagumiku tetapi tolong kondisikan semuanya itu.” ucap Lena, saudara sepupuku yang kini tinggal di luar negeri.
“Aku benar-benar menyesal! Kenapa tidak ada yang menghentikanku saat itu!” teriakku marah terhadap mereka.
“Lihat! Ini yang aku dapatkan saat aku merebut ponselmu.” ucap Leo sembari menunjukkan kepalanya yang sedang diperban.
“Kamu harus menyelesaikan semua ini, Lud. Sebelum semuanya terlambat.”
“Ah! Aku akan melakukannya!” teriakku sembari meninggalkan mereka.
“Aku akan membayar semua rugimu.” ucapku dari jauh saat mengingat luka Leo akibat ulah tanganku.
Aku kembali ke rumah May dan nyatanya aku tidak menemukan raganya. Aku mengelilingi kota sembari mengingat tempat yang sering ia jadikan tempat melamun sepanjang hari. Sebuah toko perbelanjaan membuatku bahagia karena bisa menemukan May yang terlihat fokus memilih parfum kesayangannya.
“May.”
Mendengar ucapanku, May melirik kemudian melihat parfum yang ia pegang lagi.
“Aku minta maaf. Aku sudah mengetahui semuanya.”
Maya masih saja diam dan hendak membayarnya di kasir. Aku merebut parfum May dan langsung membayarkannya di kasir.
“Aku minta maaf.”
May tiba-tiba saja menangis.
“Aku tidak ingin putus darimu, Lud. Tapi apa daya?”
“Jangan berpikiran seperti itu. Aku sedang memuji saudaraku yang baru saja kembali ke Indonesia. Bukan wanita lain.”
May melihatku dengan matanya yang berkaca-kaca.
“Kamu percaya kan?” ucapku sembari menunjukkan bentuk kekagumanku pada saudaraku di ponsel.
May mengangguk.
“Maafkan aku. Begitu parahnya aku menyayangi saudara sepupuku sampai-sampai melukai hatimu.”
May mengusap air matanya.
“Apa kita sudah bisa berdamai?”
“Tentu saja.”
Aku pun mengusap kepalanya dan  memberinya kesempatan untuk membersihkan air matanya dengan sapu tanganku.
Begitu cepat ia mendakwa aku berselingkuh dengan orang lain tanpa bertanya latar belakang kejadian yang bahkan tidak aku sadari. Meskipun ini bukan murni kesalahanku, aku seharusnya paham karena aku tidak bisa mengendalikan nafsuku untuk meminum alkohol itu. Kini, perempuan itu kembali. Ibarat langit. Dia datang dalam wujud pelangi. Pelangi yang datang setelah hujan berhenti. Dan, aku pastikan semua ini tidak akan terjadi lagi.



Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.
Powered By Blogger