“Maaf
ya, aku ada janji mendadak dengan kakak tingkatku.” ucap May yang tiba-tiba
mengirim pesan singkat padaku.
“Santai
saja. Aku baru saja ingin mandi.” balasku sembari meletakkan handuknya kembali
di atas ranjangku.
“Nanti
siang, jemput aku ya.”
“Ashiap!”
balasku membuat May tertawa dan mematikan ponselnya.
Aku
tersenyum sembari membayangkan wajah manisnya dengan poni yang menutupi semua
jidatnya yang jenong. Aku habiskan
waktuku dengan mengontak seluruh temanku yang tiba-tiba saja mengajakku untuk
reuni bersama di salah satu restoran terbaik di kota. Aku menolak? Tentu saja
tidak. Mereka adalah teman-teman seperjuanganku yang mengenalku di kala susah
maupun suka.
Matahari
sudah tepat di tengah langit. Aku segera menyalakan motorku dan berhembus
menuju tempat May menemui kakak tingkatnya.
“Hai
Ludwig!”
“Hai.”
ucapku sembari terus terpesona pada wajah imut yang dimiliki May.
“Sudah
makan?”
“Belum.
Ayo aku traktir”
“Lho.
Aku saja yang traktir.”
“Sudahlah!
Sebagai laki-laki, aku yang harusnya traktir.”
“Baiklah.”
Masalah
traktir saja sudah membuat kami ramai. Tentu ini bukan hal buruk bukan?
“Lud,
kamu tidak mampir?” ucap May sembari menatapku penuh harap.
“Maaf
aku harus menemui teman-temanku. Kami mau reunian.”
“Wah!
Aku sangat senang mendengarnya. Selamat bersenang-senang.” ucapnya sembari melambaikan
tangannya kepadaku.
Aku
pun membalasnya dengan bahagia. Sembari menunggu May masuk ke dalam rumah, aku memikirkan
lokasi di mana aku bisa mengadakan reuni itu. May yang terus memasang wajah
penuh keceriaan membuatku semakin bersyukur karena memiliki perempuan seperti dia.
Tiba
saatnya reuni, semuanya bergerumbul bak semut yang sudah menemukan sebuah
makanan lezat. Kami berjabat tangan, tertawa dengan keras, hingga kami meminum alkohol.
Kebahagiaan bersama mereka membuatku lupa harus membatasi alkohol yang aku
minum. Alhasil, aku meminum lebih dari tiga botol dan kesadaranku hilang.
“Bangun!”
teriak seorang bapak-bapak kepadaku.
Aku
membuka mata dan melihat bahwa teman-temanku sudah pergi. Aku menatap wajah
garang dari lelaki bertubuh besar itu sembari langsung beranjak dari tempat
itu.
Tak
menyangka aku bermalam di tempat ini sendirian. Aku bergegas pulang dan
mengabari May yang terlihat sudah meneleponku berulang kali.
“May?”
ucapku saat May menjawab panggilanku.
Tut..tut.. Aku
terkejut. May mematikan panggilan ini tanpa berucap apapun. Apa yang sedang terjadi?
Aku
pun sesegera mungkin bersih diri dan melaju cepat menuju kediaman perempuan yang
kini membuat jantungku ingin keluar dari balik tulang dadaku. Aku mengetuk
rumahnya berulang kali. Tidak ada respon. Hingga ketukanku yang ke lima belas,
ia baru membukakan pintu untukku. Tentu, wajah yang tidak seceria biasanya. Matanya
sembab. Apakah dia baru menangis?
Aku
berdiam sembari duduk dan menunggunya untuk tenang.
“Kita
putus.”
“May?
Ada apa?”
“Aku
ingin hubungan ini berakhir.”
“Apa
yang terjadi?”
“Aku
minta bantuanmu supaya kita berdua memiliki sekat dan tidak bertemu lagi.”
“May
jangan bercanda! Aku tidak suka!”
“Apa
wajah ini melucu?”
Tanpa
membalas apapun, May langsung mengusirku dan sama sekali tidak memberikan
penjelasan apapun. Aku panik. Apa yang sudah terjadi pada hubungan ini?
Kini
aku adalah langit. Langit putih yang tiba-tiba didatangi oleh sebuah awan gelap.
Awan gelap itu tidak berdiam diri tetapi tiba-tiba menyambarku dengan petir hingga
aku terluka. Hujan pun mengguyur darinya dan setelah semuanya selesai dia tidak
mengucapkan apa-apa. Hening.
May
adalah bayangan. Dulu, kami mampu bercakap dan bersenda gurau. Namun, sekarang
dia adalah bayangan yang mudah sekali hilang meskipun aku selalu menemukannya.
“Kamu
kenapa, Lud?”
“Gila.
Aku gila!” teriakku membuat semua temanku terbelalak.
“Aku
yakin ada sesuatu di hubungan kalian.”
Aku
terkejut sembari melihatnya.
“Berhentilah
meminum alkohol! Alkohol sama sekali tidak membantumu menyelesaikan masalah!”
ucap Leo, salah satu sahabatku sejak kecil.
Setelah
menggertakku, dia langsung memecahkan botol yang aku pegang hingga pecah.
Perlahan pecahan beling itu menusuk kakiku tetapi aku tidak merasakan kesakitan
itu.
“Kamu
ingin tahu apa yang kamu lakukan kemarin?”
Aku
menyernyitkan dahi dan bersiap menyaksikan putaran video yang ia berikan
padaku.
*
“Gila, cantik banget! Aku harus
beri tahu May.”
Setelah berkata demikian, aku
langsung saja menelepon May.
“Hai May. Aku bertemu wanita
paling cantik nih. Kamu mau kenalan? Ah? Kamu masih kalah jika bersaing
dengannya. Aku sangat menyukai wanita itu. Kamu tahu? Dia cantik. Tidak secantik
kamu. Kamu tahu? Dia cantik. Cantik sekali.”
*
Aku
terdiam sembari membiarkan tanganku membeku begitu pula mataku.
“Kamu
boleh mengagumiku tetapi tolong kondisikan semuanya itu.” ucap Lena, saudara
sepupuku yang kini tinggal di luar negeri.
“Aku
benar-benar menyesal! Kenapa tidak ada yang menghentikanku saat itu!” teriakku
marah terhadap mereka.
“Lihat!
Ini yang aku dapatkan saat aku merebut ponselmu.” ucap Leo sembari menunjukkan
kepalanya yang sedang diperban.
“Kamu
harus menyelesaikan semua ini, Lud. Sebelum semuanya terlambat.”
“Ah!
Aku akan melakukannya!” teriakku sembari meninggalkan mereka.
“Aku
akan membayar semua rugimu.” ucapku dari jauh saat mengingat luka Leo akibat
ulah tanganku.
Aku
kembali ke rumah May dan nyatanya aku tidak menemukan raganya. Aku mengelilingi
kota sembari mengingat tempat yang sering ia jadikan tempat melamun sepanjang
hari. Sebuah toko perbelanjaan membuatku bahagia karena bisa menemukan May yang
terlihat fokus memilih parfum kesayangannya.
“May.”
Mendengar
ucapanku, May melirik kemudian melihat parfum yang ia pegang lagi.
“Aku
minta maaf. Aku sudah mengetahui semuanya.”
Maya
masih saja diam dan hendak membayarnya di kasir. Aku merebut parfum May dan langsung
membayarkannya di kasir.
“Aku
minta maaf.”
May
tiba-tiba saja menangis.
“Aku
tidak ingin putus darimu, Lud. Tapi apa daya?”
“Jangan
berpikiran seperti itu. Aku sedang memuji saudaraku yang baru saja kembali ke Indonesia.
Bukan wanita lain.”
May
melihatku dengan matanya yang berkaca-kaca.
“Kamu
percaya kan?” ucapku sembari menunjukkan bentuk kekagumanku pada saudaraku di
ponsel.
May
mengangguk.
“Maafkan
aku. Begitu parahnya aku menyayangi saudara sepupuku sampai-sampai melukai
hatimu.”
May
mengusap air matanya.
“Apa
kita sudah bisa berdamai?”
“Tentu
saja.”
Aku
pun mengusap kepalanya dan memberinya
kesempatan untuk membersihkan air matanya dengan sapu tanganku.
Begitu
cepat ia mendakwa aku berselingkuh dengan orang lain tanpa bertanya latar
belakang kejadian yang bahkan tidak aku sadari. Meskipun ini bukan murni
kesalahanku, aku seharusnya paham karena aku tidak bisa mengendalikan nafsuku
untuk meminum alkohol itu. Kini, perempuan itu kembali. Ibarat langit. Dia
datang dalam wujud pelangi. Pelangi yang datang setelah hujan berhenti. Dan, aku
pastikan semua ini tidak akan terjadi lagi.