Entri Populer
My heart feel...
This is my feeling
Story request : Anonim Foto : Canva Flashback “Silakan masuk.” Di tengah perjalanan mimpiku, aku mendengar suara yang berasal ...
Story
request : Anonim
Foto :
Canva
Flashback
“Silakan masuk.”
Di tengah perjalanan mimpiku, aku
mendengar suara yang berasal dari kerumunan orang yang memasuki rumah. Aku
pikir hanya mimpi. Namun, saat aku melihat ke luar jendela aku menatap keluarga
dari saudara sepupuku datang. Tanpa basa-basi aku langsung saja bersih diri dan
bersiap. Saat sedang sibuk merapikan pakaian, tiba-tiba saja Ibu masuk ke dalam
kamarku.
“Dandan yang cantik ya?”
Aku menyernyitkan dahiku.
“Untuk apa, Bu?”
“Sudahlah. Kamu menurut saja ya.”
ucap Ibu dengan wajah yang sumringah.
Aku pun menuruti perkataan Ibu
dan meletakkan berbagai macam make up dalam wajahku. Dan, ulala. Aku sudah
menjadi wanita tercantik hari ini. Terlalu berlebihan.
Setelah selesai berdandan, aku
langsung saja berlari menuju ruang tamu dan menunjukkan wajah penuh kebahagiaan
saat melihat kakak sepupuku, Septian, berada di ambang pintu.
“Begitu lama kita tidak bertemu,
Kak. Bagaimana kabarmu?”
Belum sempat ia menjawab.
Tiba-tiba wajahnya merah padam. Aku juga baru saja sadar bahwa saat ini dia sedang
mengenakan jas yang sangat rapi. Namun, aku tidak berpikir panjang. Mungkin
saja, dia baru saja menghadiri sebuah acara ataupun kegiatan lain yang membutuhkan
pakaian formal.
“Kamu
cantik, Dek.”
“Duh!
Lebay sekali! Biasanya juga Kakak mengejekku.” teriakku sembari tertawa
terbahak-bahak.
Namun, Septian hanya tersenyum cool tanpa banyak
bicara. Aku heran dengan penampilan dan tuturnya hari ini. Apakah karena ia
bertemu dengan orang tuaku? Namun, jika dipikir-pikir, ia sudah lumayan sering
bertemu dengan orang tuaku. Tidak mungkin juga jika dia masih saja canggung
mendatangi rumah ini.
“Rere,
Septian. Ayo masuk. Acara segera dimulai.”
Aku
melotot. Acara formal itu ada di rumahku? Aku terkejut melihat ayah dan ibuku
yang menggunakan pakaian formal dan juga saudaraku yang lain. Sebenarnya apa
yang akan terjadi dalam ruangan ini. Aku mendadak kaku dan gugup. Aku melangkah
perlahan-lahan sembari memilih duduk dekat orang tuaku tanpa menghiraukan
Septian yang berjalan di belakangku.
“Setelah
mempertimbangkan banyak hal ternyata ini memang pilihan yang tepat untuk keluarga
kita.”
“Benar.
Saya setuju. Bagaimana Septian?”
“Dengan
senang hati saya menerima Rere untuk dijodohkan dengan saya.”
Rere
terkejut.
(kembali
normal)
“Apa yang kamu jawab setelah itu?” ucap Devan yang tiba-tiba terlihat
sangat cemas.
“Aku diam. Aku tidak menyangka
ternyata selama ini dia menyimpan perasaan padaku. Lebih dari kakak dan adik.” balasku
membuat Devan terlihat meledak-ledak.
“Lalu, kamu biarkan dia bahagia dan
ingin bertahan dalam perjodohan ini?” tanya Devan dengan wajah merah padam.
“Aku tidak menjawabnya, Dev. Tolong
kendalikan dirimu. Aku hanya bisa mencintaimu bukan mencintai kakakku.” ucapku
dengan suara yang hampir sesenggukan.
Devan terlihat sangat depresi. Bahkan
dia terlihat enggan untuk tersenyum dengan pujian perasaanku yang kukatakan
beberapa detik yang lalu.
“Lalu, apa yang harus aku lakukan?
Aku pasti akan kalah dengan keputusan ini.”
“Maafkan aku. Aku juga tidak tahu.”
Kami berdua berada dalam suasana
depresi yang sama. Devan yang tidak tahu harus berbuat apa begitu pula aku yang
tidak tahu harus memilih siapa. Gio, teman kuliahku, tiba-tiba saja datang dan
mendekati kami. Aku terkadang heran dengannya. Seketika itu juga dia muncul dan
seketika itu juga dia hilang.
“Aku ada surat untukmu Re. Aku
menemukannya di sebuah tempat.”
Aku terkejut dan langsung saja
menerima surat pemberiannya itu. Devan yang depresi tiba-tiba saja antusias
dengan kehadiran surat itu.
“Re, kamu memilih menjadi penulis atas
bukumu sendiri atau kamu biarkan bukumu ditulis oleh penulis lain? Tentu saja,
semua memiliki sisi positif masing-masing. Jika kamu memilih menjadi penulis
atas bukumu sendiri, kamu akan mampu merancang kehidupan dan memiliki berbagai
solusi sendiri untuk semua masalahmu di kehidupan yang akan datang. Jika kamu
memilih buku itu ditulis oleh penulis lain, kamu tidak akan bisa berbuat apa-apa
selain menghadapinya. Namun, kamu membuat penulis itu bahagia karena bisa
membuatmu masuk dalam dunianya.”
“Apa maksud semua ini, Re?” tanya Devan.
“Aku harus memilih antara kamu atau orang
tuaku.” jawabku membuat Devan mulai mengerti dengan perumpamaan ini.
“Aku harus segera memilih.” ucapku
sembari beranjak dari tempat dudukku.
“Re, apapun pilihanmu aku akan tetap
menjadi support systemmu. Aku minta
jangan pernah salahkan orang tuamu dalam semua ini. Begitu pula, jangan
salahkan kedekatanmu dengan Septian.” ucap Devan sembari menatapku dengan sungguh-sungguh.
“Baiklah. Aku akan mencari kebahagiaanku
untuk bisa menyenangkanmu dan menyenangkan orang tuaku.”
“Apa itu?”
~Selesai ~