Entri Populer
My heart feel...
This is my feeling
foto : canva “Dimana semua orang?” ucapku sembari melihat sekitar kos yang terlihat kosong. “Kamu mencari apa, Mel?” tanya Gita yang ter...
“Dimana
semua orang?” ucapku sembari melihat sekitar kos yang terlihat kosong.
“Kamu
mencari apa, Mel?” tanya Gita yang terlihat sedang berkemas-kemas dengan
kopernya.
“Teman-teman
semua kemana? Dan, mengapa kamu membawa banyak koper?”
“Aku
akan pulang. Oh, mereka semua sudah pulang kampung tadi sore.”
“Mengapa
aku tidak tahu?”
“Kukira
kamu sedang sibuk mengerjakan proyek sehingga tidak mendengar apapun.” ucap
Gita yang terlihat susah payah merapikan pakaiannya.
“Baiklah.”
balasku dengan berlapang dada.
“Kamu
baik-baik saja kan? Kamu tidak ikut pulang denganku?” tanya Gita sembari
menutup kopernya dan siap untuk meninggalkan kos ini sementara waktu.
“Tidak
apa. Aku tidak berencana untuk pulang, Git.” balasku sembari membantu Gita
membawa koper-kopernya keluar dari gerbang.
“Baiklah.
Jaga kesehatan, Mel. Mungkin, kamu adalah satu-satunya penghuni kos yang
menetap di sini.”
“Iya
hati-hati.” balasku sembari melihat Gita yang sudah mendapatkan grab untuk mengantarnya ke bandara.
Aku
kembali masuk dan mendapati kos yang kini terlihat sangat lengang. Secara
tiba-tiba, aku menelepon ibuku dan berbicara terkait dengan kepulanganku yang
mungkin saja ia setuju. Namun, ibu membalas teleponnku dengan marah. Tiba-tiba
saja ia mengaitkan larangannya ini dengan perekonomian keluargaku. Aku harus
bersabar sampai ekonomi kami mencukupi pemberangkatanku ke rumah. Aku hanya
bisa menangis dan terus fokus pada tugas kuliah yang semakin hari semakin
banyak saja. Karena lelah bersedih, akhirnya aku terlelap dan kubiarkan
tugas-tugasku berhamburan di kamarku.
Tok..tok..
“Melan?”
Aku
perlahan membuka mata dan terkejut melihat bapak kos memanggil namaku. Aku pun
segera mengenakan kacamataku dan membuka pintu kamarku.
“Iya,
Pak?”
“Ada
temanmu di depan. Namanya, Stefan.”
Aku
terkejut. Aku pun segera bersih diri, berganti pakaian, dan menyisir rambutku.
Setelah selesai, aku pun langsung menuju Stefan yang menungguku di luar pagar.
“Ada
apa ke sini?” tanyaku membuat Stefan tersenyum.
“Aku
ada makanan buatmu. Ini dari ibuku.” balas Stefan sembari memberikan plastik
berisi makanan itu.
“Wah.
Terima kasih, Mas. ” ucapku sembari menerima makanan tahu telor kesuksaanku itu.
“Kamu
tidak mau pergi jalan-jalan?”
“Jika
bisa.”
“Kenapa
tidak bisa?”
“Aku
sedang homesick, Mas. Aku tidak mau
merusak moodmu.”
“Sudahlah.
Ayo.” ajak Stefan membuatku mengangguk.
Makanan
yang sudah diberikan Stefan kuletakkan di kulkas yang ada di kos ini dan
langsung bergegas pergi dengannya.
Di
dalam perjalanan, aku dan Stefan sibuk bermain imajinasi di pikiran
masing-masing. Hal itu menyebabkan suasana di antara kami sunyi.
“Itu
bukannya temanmu, Mel?”
“Iya.
Itu Bela.” ucapku terkejut melihat Bela memasuki kos laki-laki dengan kopernya.
“Mel,
apa semua orang di kosmu pergi?”
“Iya.
Mereka semua pulang kampung, Mas.”
“Dan?
Kamu sedih karena tidak bisa seperti mereka?”
Aku
kembali menangis. Melihatku menangis, Stefan memutuskan untuk memarkir
sepedanya di dekat taman bermain anak-anak dan mendiamkanku sampai tangisku
reda.
“Melan?”
sapa seseorang dari balik Stefan.
“Mbak
Vea!” teriakku sembari memeluk Vea dengan tiba-tiba.
“Kenapa
kamu?” tanya mbak Vea sembari menatap Stefan dan juga aku.
“Bukan
masalah Stefan, Mbak. Aku sedang home
sick berat.” ucapku dengan tangis yang belum saja tenang.
“Mas,
ikut aku.” ucap Vea yang tiba-tiba saja mengajak Stefan pergi dariku.
Aku
terbingung-bingung dengan sikap Vea ini. Mengapa ia membawa Stefan pergi?
Setelah
menunggu cukup lama, tiba-tiba Stefan kembali tanpa Vea.
“Lho,
mbak Vea kemana?”
“Dia
sudah pergi. Dia masih banyak urusan.”
“Lalu,
kenapa Mas pergi dengan mbak Vea?”
“Aku
diminta memberikanmu ini.”
Surat.
“Apa
isinya, Mas? Bisakah kamu membacakannya?”
“Aku
tidak boleh membacanya, Mel.”
Aku
pun terdiam dan meminta surat itu dari Stefan.
“Terima
kasih, Mas. Kamu datang di saat yang tepat.”
“Sama-sama,
Mel. Aku harap kamu bisa lebih tegar lagi ya. Ayo kita pulang.”
Tak
terasa hampir seharian penuh Stefan menemaniku. Kini, hari sudah gelap. Aku pun
berpamitan dengannya.
Setelah
bersih diri, aku pun membuka surat dari mbak Vea.
*
Melan, apa kamu tahu alasan
mengapa orang tuamu memintamu untuk merantau? Semua itu untuk masa depanmu.
Mereka rela jauh darimu supaya kamu bisa memperoleh kesuksesanmu.
Kamu tahu pensil? Apakah pensil
diciptakan langsung bisa digunakan? Tidak. Dia harus melalui masa sulitnya
dengan penuh perjuangan. Dia harus rela masuk dalam mesin rautan agar ia bisa
berguna untuk orang lain.
Begitu pula dengan kamu.
Percayalah.
Semua susah dan sedihmu kini akan
terbayar dengan kesuksesanmu kelak.
Aku
tak menyangka selama aku membaca kalimat itu darinya, aku berlinang air mata.
Benar. Memang semua perjalanan tidak jauh dari maksud dan tujuan dari Tuhan.
Meskipun terlihat sukar, namun aku pasti bisa melewatinya.
*
Ibu
tiba-tiba saja meneleponku.
“Nak,
maafkan Ibu yang memarahimu kemarin. Ibu tidak bermaksud untuk mencegahmu
kembali.”
“Tidak,
Bu. Aku sudah paham sekarang. Aku bukanlah Melan yang dulu. Kini, Melan sudah
menjadi dewasa. Bukan saatnya lagi mementingkan ego tetapi harus mulai menata
masa depan. Ibu, kelak saat aku pulang aku pastikan aku bisa membahagiakanmu.”
Ibu
tidak menjawab ucapanku. Namun, isakannyalah yang membalas responku.
“Iya.
Ibu tahu kamu akan melakukannya.”