foto : canva              “Satu, Dua, Tiga mulai!”             Greng!             Sembari menyalakan gas, aku langsung membungkukkan...

Kini Semua Sudah Berakhir

/
0 Comments

foto : canva 

            “Satu, Dua, Tiga mulai!”

            Greng!

            Sembari menyalakan gas, aku langsung membungkukkan badanku. Alhasil, aku bisa melesat secepat cheetah. Semua teman satu komunitasku terus terkagum-kagum pada kehebatanku dalam mengendarai motor.

            “Dimas! Aku yakin kamu bisa menang lagi!” teriak banyak wanita yang menggunakan pakaian mini di kanan-kiriku.

            Bukan. Itu bukan hal yang patut dibanggakan.

Seusai perlombaan, aku pun menjadi pemenang taruhan balap liar ini. Tentu saja, uangnya tidak main-main. Uang yang aku dapatkan itu bisa menghidupiku enam tahun ini. Bukan berarti hanya satu kali saja aku harus mengikuti balap liar. Mungkin, aku akan menjadi preman jalanan seumur hidupku.

Ini semua terjadi karena masa laluku.

*

            Brak!

            Aku terkejut sembari menutup kitab suciku dan mengintip dari balik jendela. Segerombolan perampok memasuki rumahku dan menembak semua yang menghalangi jalan mereka. Aku gemetar dan tidak memiliki niatan untuk membuka pintu kamarku sedetik pun. Ketakutan yang melandaku, anak laki-laki berumur 16 tahun ini, membuatku memutuskan bersembunyi di bawah ranjang sembari berdoa.

            “Kakak! Tolong aku!”

            Aku ketakutan sembari terus berdoa dan berharap Tuhan melindungiku.

            Dar!

            Suara tembakan yang keras itu mampu membuat semua keramaian itu senyap dalam sekejap. Aku pun perlahan membuka pintu kamarku. Vas, televisi, dan ruang tamuku hancur. Bahkan tembok rumah kami sampai retak karena tembakan-tembakan itu. Aku pun langsung berkeliling dan mencari adikku.

            “Jim! Kamu di mana?”

            Aku terus berteriak sampai suaraku serak. Saat sampai di kamar Jimmi, aku melihat banyak darah berceceran. Aku lantas terkejut melihat Jimmi sudah tiada. Dia telah ditembak oleh para perampok itu. Seketika itu, orang tua kami pulang kerja. Ibu histeris melihat kekacauan di rumah dan menuduhku karena tidak bisa menjaga Jimmi untuk tidak merusak barang-barang di ruang tamu.

            Ayah menarik kaosku hingga hampir robek sembari terkejut dengan apa yang terjadi dengan Jimmi.

            Ayah mengangkat kerah bajuku dan menampakan wajah terkejam yang pernah ia berikan padaku seumur hidupku.

            “Apa yang kamu lakukan!” teriak ayah sejadi-jadinya.

            “T-tadi ada perampok. A-aku tidak berani ke-keluar kamar. A-adek tertembak. Me-me-mereka ka-kabur.” ucapku sembari kemudian terlempar karena tamparan ayah yang sangat kencang.

            “Kamu lelaki pengecut! Tidak pernah beres jika diberi tanggung jawab! Mau jadi apa kamu!” bentak ayah sembari kembali meremas kerah bajuku.

            “Kamu pergi dari sini! Kamu bukan anak Ibu dan Ayah lagi. Dimas, pergi!” teriak Ibu sembari mengeluarkan pakaian-pakaianku dari lemari dan mendorongku ke luar dari rumah.

            Aku berusaha sabar dan berpikiran bahwa ibu dan ayah masih terlalu shock melihat Jimmi terbunuh untuk beberapa saat saja. Aku pun merapikan pakaianku dan meletakkannya di dalam koper. Aku memilih tidur di pinggir jalan sembari menunggu ayah dan ibu mengurus Jimmi.

            Aku melihat perampok itu tertangkap dan Jimmi bisa terkubur dengan baik. Ketika melihatku, ayah langsung berlari seperti ingin membunuhku. Aku pun berlari kencang sembari menangis dan mendengar ayah yang terus mengumpat kepadaku dari kejauhan. Aku pun pergi menjauh dari rumah ayah dan tidak pernah kembali lagi.

            *

            “Gila bener! Kamu bener-bener pemenang sejati, Dim.” ucap salah satu temanku yang mengikuti perlombaan denganku.

            “Menang telak dia.” puji temanku yang lain sembari menepuk pundakku.

            “Pastinya. Besok kita ketemuan di tempat biasa. Aku bakal traktir” ucapku membuat semua teman-temanku bahagia.

            Aku pun tersenyum sembari meminum beberapa minuman beralkohol sampai kesadaranku hilang 100%. Aku tidak mengingat apapun. Tanpa sadar, aku sudah berada di atas kursi taman seorang diri. Aku terbangun dan hanya bisa mengusap rambut sembari terheran-heran. Aku melihat motorku yang sudah ada di sampingku.

            “Mungkin, mereka semua sudah pulang.” batinku sembari merogoh sakuku.

Aku terkejut uang-uang itu menghilang. Aku berusaha menelepon salah satu dari teman-temanku. Namun, mereka memblokirku dan aku tidak bisa menemukan mereka.

“Sial! Aku kemalingan!” teriakku sembari merasakan depresiku yang kumat lagi.

Aku berlari tanpa arah dan tiba-tiba saja aku melihat sebuah tali. Aku mencoba untuk membunuh diriku sendiri untuk yang kesekian kali. Aku mengikatnya di leherku dan saat aku terjatuh dari pohon, tali itu lepas. Aku kesal karena aku tak pernah berhasil menghabisi diriku sendiri.

Kruyuk..kruyuk..

Aku kelaparan. Aku berusaha untuk tidak memikirkannya dan hanya mengepulkan asap rokok hingga menghabiskan satu pak penuh. Bukannya membaik, perutku semakin sakit. Aku benar-benar kelaparan. Tanpa berpikir panjang, aku melihat seorang pria tua yang sedang mencari dompetnya yang terjatuh. Aku pun dengan sigap mengambil dompet itu. Ulala uangnya lumayan. Aku pun langsung membeli beberapa makanan yang kuinginkan dan mengisinya di perutku. Nikmat!

Karena uangku berlebih, aku pun membeli beberapa minuman beralkohol dan mulai meminumnya. Depresiku pun perlahan pudar.

“Sudah pukul tujuh malam. Ayo segera rapat!” teriak seseorang dari belakangku.

            “Leon pasti sudah menunggu.” balas seseorang yang lain dari kananku.

            Leon? Nama yang tidak asing dari pendengaranku. Apa dia teman lamaku? Tunggu. Mengapa mereka semua mengenakan jubah putih? Apakah mereka pastor?

            “Dimas!” teriak seseorang di balik pintu gedung yang ada di dekatku. Aku pun menyernyitkan dahi sembari meminum minuman alkohol yang aku bawa.

            “Dimas? Apa kabar?” ucap seseorang yang ternyata Leon sembari mendekatiku.

            “Wow. Sudah jadi pastor?” balasku sembari sempoyongan.

            “Ini semua berkatmu. Aku bisa bertekun dalam pilihanku hingga sejauh ini. Bagaimana kabarmu?” ucap Leon yang terlihat seakan tidak mempedulikan penampilan burukku.

            “Buruk. Seperti yang kamu lihat.”

            “Dimana kitab suci kebangganmu?” tanya Leon membuatku naik darah.

            “Untuk apa membawa buku itu! Hidupku hancur karena buku itu!” teriakku membuat Leon tiba-tiba menamparku.

            “Tenang, Dim. Ayo kita masuk.”

            “Untuk apa?” tanyaku sembari meminum alkohol lagi.

            “Sudahlah.” ucap Leon sembari meletakkan minumanku di dekat motornya.

            Aku pun menurutinya. Sampai di dalam, aku melihat semua teman-temanku berkumpul. Mereka semua berhasil. Hanya aku yang berubah menjadi seburuk ini.

            “Oi dim! Apa kabar?”

            Sebagian dari mereka menanyakan kabar dan tempat tinggalku sekarang. Namun, ada banyak dari mereka yang mengatakanku berandalan.

            “Lihat! Dulu dia melarang kita untuk tidak meminum minuman itu. Nyatanya? Dia bahkan lebih buruk dari minuman itu. Dia tidak akan pernah diampuni!” teriak mereka membuat Leon bangkit berdiri.

            “Jaga ucapanmu!”

            Leon adalah salah satu dari dua sahabatku. Aku tidak mau membebaninya. Melihatnya yang terus berdebat dengan temanku yang lain, membuatku langsung menepuk pundaknya dan memintanya untuk berhenti.

            “Aku tidak perlu dibela. Aku memang bersalah di sini. Biarkan dia mencelaku sampai bibirnya berbusa. Aku tidak apa.” ucapku membuat Leon mulai mereda.

            Leon mengantarku ke pintu ke luar dan mengajakku bercengkerama singkat di dekat situ.

            “Aku tidak menyangka kamu bisa menjadi seperti ini, Dim.”

            “Ya. Semua orang punya takdir di hidupnya masing-masing. Ada yang baik dan buruk.” ucapku sembari menghisap rokok.

            “Aku turut berduka dengan masa lalumu.”

            “Tak apa. Biarkan. Aku bahagia sudah melihat Jimmi bahagia di surga. Dia bahkan sama sekali tidak membenci kakaknya yang sama sekali tidak melakukan apa-apa saat dia berada dalam masalah.”

            Leon diam.

            “Maafkan aku karena sudah mengingatkanmu.”

            Aku pun diam. Perlahan air mataku tergenang tetapi aku berhasil menahannya. Aku pun beranjak dan pergi dari Leon.

            “Dim!” teriak Leon membuatku berhenti.

            “Jika kamu membutuhkan seorang sahabat, ini adalah rumahmu, Dim. Kapanpun kamu bisa berkunjung.” lanjut Leon.

            “Aku akan sering berkunjung.” balasku tanpa memalingkan wajahku ke arahnya.

            Aku pun meninggalkan minuman beralkoholku, membuang puntung rokokku, dan pergi secepat mungkin dari tempat itu.

            Aku menangis. Aku merasakan seolah-olah ada seseorang yang menemaniku dan menyentuh pundakku. Aku tidak bisa menahannya. Aku mengacak-acak rambutku dan menghapus semua eyeliner dan lipstick hitam dari wajahku. Aku pun melihat wajahku yang sangat buruk di genangan air di dekatku.

            “Apakah Tuhan bisa memaafkanku?” ucapku sembari mengeluarkan dompet curianku yang langsung kubuang begitu saja.

            “Eee-” ucap seorang gadis kecil yang mendekatiku dengan ketakutan.

            Aku terkejut dan menghusap semua air mataku. Aku berusaha melihatnya dengan jelas meskipun mataku terasa sangat berat.

            Tanpa kata, dia memberiku lolipop. Aku tersenyum dan menerima lolipop itu. Gadis kecil itu langsung memelukku. Aku pun memeluknya dengan erat. Pelukan yang selama ini ingin kudapatkan pada akhirnya bisa aku dapatkan dari gadis kecil itu.

            “Dimas.” ucap seorang wanita yang tiba-tiba muncul di depanku.

            “Vea?” ucapku terkejut melihat gadis kecil itu ternyata adik dari Vea.

            “Kamu ingat Laili? Meskipun penampilanmu berubah, dia tetap mengingatmu.” ucap Vea membuatku terus melihat Laili, adik darinya.

            Aku sangat dekat dengan keluarga Vea. Sepulang sekolah, aku selalu bermain ke rumah Vea. Tidak heran jika Laili masih mengingatku. Kami berpisah enam tahun. Sejak umurku yang ke 16 sampai sekarang.

            “Kak Dimas jangan sedih. Nanti, Lilia juga sedih.” ucapnya sembari memelukku lagi.

            Tanpa ragu, aku pun memeluknya. Seusai memelukku, aku melihat air mata berlinang dari wajah kecilnya. Aku pun langsung menghusapnya dan memasang wajah ceria di depannya.

            “Aku senang bisa bertemu denganmu di sini, Dim.” ucap Vea dengan tersenyum.

            Tiba-tiba saja, Laili menguap dan tertidur di pelukanku. Aku pun mengusap rambutnya sembari membiarkan Laili tertidur di atas tubuhku.

            “Aku juga senang. Ternyata kamu dan Leon memang tidak pernah melupakanku.” balasku sembari terus mengecup kening Laili.

            Vea tersenyum melihat tingkahku.

            “Dimana kamu tinggal, Dim?” lanjutnya sembari duduk di sampingku.

            “Aku tinggal di jalanan, Ve.” ucapku sembari perlahan memberikan Laili pada Vea.

            “Hubungi aku jika kamu memerlukan sesuatu, Dim. Aku harus membawa Laili pulang karena sudah malam.”

            “Ya. Hati-hati.” ucapku sembari mengusap rambut Laili yang sudah tertidur pulas.

            “Aku ada surat untukmu.” ucap Vea membuatku tertawa.

            “Kamu memang hobi membuat surat ya? Kamu memang tidak berubah!” balasku sembari tertawa.

            “Jelas saja. Meskipun penampilanku berubah, aku tetaplah Vea yang dulu. Begitu pula dengan kamu. Sampai jumpa, Dimas!” ucap Vea membuatku tersenyum simpul sembari melambaikan tangan.

            Aku sedikit terhibur sekarang melihat Leon dan Vea yang masih mempedulikanku. Aku pun membaca isi surat dari Vea.

“Bunga layu yang rapuh. Itulah kamu, Dim. Orang terus menginjak dan mengabaikanmu. Apakah Tuhan tidak memberikanmu kebahagiaan di tengah penderitaanmu itu, Dim? Tuhan terus memberikan keindahan pada bunga yang layu. Ia mampu membuat sebuah bunga layu yang buruk rupa menjadi bunga mekar yang indah menawan. Apakah kamu masih meragukan Tuhan yang memiliki sejuta kasih untukmu, Dim? Kini, Tuhan, aku, Laili, dan Leon sedang menantimu untuk bangkit. Aku yakin kamu pasti bisa, Dim!”

            Aku tersenyum sembari melihat wajahku kembali di genangan air itu. Entah apakah ini berhasil atau tidak. Aku akan mencoba untuk kembali menjadi Dimas yang dulu.

            Beberapa hari setelah aku mendapatkan surat itu, aku sering berkunjung ke tempat Leon. Aku mempelajari semuanya dari nol. Aku juga mencari pekerjaan yang lebih baik dari mencuri. Aku membuka jasa design dan banyak orang yang menyukai karyaku. Hasil dari pekerjaanku itu selain untuk sumbangan gerja aku pun juga menyisihkannya untuk menraktir Leon, Lilia, dan Vea makan di restoran ternama di kota.

            Tak terasa sudah tiga tahun waktu yang sudah kutempuh. Tentu saja, kini aku bukan Dimas yang dikenal orang berandalan tetapi seseorang yang penuh tanggung jawab dengan jubah putih yang menjuntai hingga kakiku. Aku akan membuat bangga Tuhan, Leon, Lilia, dan Vea dalam mengarungi perjalanan di kehidupan ini. Tentu saja, tanpa campur tangan mereka. Orang tuaku.

             




Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.
Powered By Blogger