Entri Populer
My heart feel...
This is my feeling
Foto : Canva “Re? Bagaimana keputusanmu?” Aku melihat ibu yang tiba-tiba saja menghampiriku. ...
Foto : Canva
“Re?
Bagaimana keputusanmu?”
Aku
melihat ibu yang tiba-tiba saja menghampiriku.
“Kenapa
diam?” bantah Ibu saat menyadari bahwa pertanyaannya aku abaikan.
“Aku
akan segera mengambil keputusan, Bu. Tapi, tidak sekarang.” balasku dengan mata
yang bergerak panik.
Ibu
pun mengerti dan segera meninggalkanku.
Tok..tok..
“Buka
pintunya, Re!” perintah Ibu membuatku langsung melangkah menuju pintu keluar.
Aku
membuka pintu itu. Tak lama setelahnya, aku melihat kakak sepupuku langsung
menyodorkan setangkai bunga chrysanthemum padaku. Aku tersenyum simpul
dan menerimanya dengan wajah ramah.
“Maaf
jika semua ini terasa terlalu cepat.” ucap Septian sembari perlahan duduk di
teras rumahku.
Aku
hanya diam dan tertawa kecil.
“Apa
kamu baik-baik saja?” tanya Septian yang terlihat khawatir dengan keadaanku.
“Jangan
tanyakan hal itu di saat seperti ini.” bantahku membuatnya membisu.
“Ayo
kita main playstation.” ajak Septian membuatku mendadak good mood.
“Fifa
19?“ tanyaku langsung disambut anggukan Septian yang semangat.
Aku
mempersilakannya masuk dan langsung mempersiapkan segala perlengkapan games
yang aku punya.
Di
tengah kami bermain playstation, Ibu menyuguhkan kami minuman hangat dan
beberapa cemilan gurih, manis, dan pedas. Karena terlalu asik bermain bersama,
aku lupa dengan perjodohan itu. Aku bercanda tawa seperti tidak terjadi
apa-apa. Begitu pula dengan Septian. Dia terlihat lebih santai dan heboh dari
biasanya.
“Duh!
Kalah telak!” teriaknya kesal ketika melihat skor timnya jauh di bawahku.
“Jelas!
Makannya jangan berani-beraninya menantang aku. Anda salah mencari musuh. Ha-ha”
ejekku membuat Septian bersiap untuk memulai game.
“Sombong!
Ayo mulai lagi! Aku tidak terima!” bantahnya sembari mengatur strategi yang
lebih baik supaya bisa mengalahkanku.
Kami
pun mulai bermain. Memang dewi fortuna kali ini berpihak padaku. Dua kali aku
berhasil mengalahkan Septian. Kini, Septian kesal sembari menyantap beberapa
camilan yang diberi Ibu. Aku tertawa sembari mengejeknya lagi.
“Lho?
Nyerah? Aku sudah siap main lagi nih.” ejekku membuat Septian
menyernyitkan dahi.
“Ah!
Males!” bantahnya membuat tawaku semakin menggelora.
“Dek,
aku pulang dulu ya.” ucap Septian sembari beranjak dan melihat jam sudah menunjukkan
pukul dua belas siang.
Aku
mengangguk.
“Maaf
ya. Mas hanya bisa memberi bunga. Semua keuangan sudah mas berikan ke ibu untuk
perjodohan kita.” ucap Septian membuatku terkejut dan kembali mengingat masalah
itu.
“Tidak
apa-apa, Mas. Ini sudah cukup.” balasku membuat Septian pergi dengan motornya.
Aku
pun menutup pintu rumahku dan langsung berbaring di kamarku. Saat sedang asik
bermain ponsel, aku tiba-tiba memiliki keinginan untuk membuka album fotoku.
Sedari kecil, aku dan Septian memang sangat dekat. Saat aku memiliki masalah,
aku selalu bertukar cerita dengannya. Meskipun aku tahu dia sedang ada masalah,
aku tetap saja memaksanya untuk mendengarkan curhatanku. Meskipun demikian,
Septian tidak menampilkan kekesalannya dan terus bersikap sabar padaku. Dia
lulusan kedokteran di salah satu universitas ternama di Indonesia. Tidak. Bukan
itu. Dia adalah kakak yang sangat baik bagiku. Namun, mengapa pada akhirnya ia
akan menjadi calon suamiku?
Kring..kring
Aku
terkejut sembari langsung membuka ponselku. Devan. Dia meneleponku.
“Halo?”
“Re?
Kamu mau pergi makan denganku nanti malam?”
“Boleh.”
“Oke.
Setelah maghrib, aku akan ke sana.”
Aku
langsung menutup ponsel dan melihat ke arah jam yang masih menunjukkan pukul
satu siang. Sembari menunggu, aku pun beristirahat selama tiga jam tanpa terbangun.
“Re?
Devan ada di depan. Ayo bangun.” ucap Ibu membuatku langsung terbangun begitu
saja dan bersih diri dengan cepat.
Setelah
siap, aku berjalan menuju ruang tamu dan menampilkan senyum senduku pada Devan.
“Ayo
berangkat.” ajaknya sembari mempersilakanku berjalan di depannya.
Aku
mengangguk. Aku pun langsung menaiki motornya dan menikmati perjalanan
terakhirku dengan Devan.
“Bagaimana
kabarmu?” tanya Devan membuatku tersenyum.
“Baik.”
balasku.
“Aku
akan mengajakmu ke restoran mahal favoritku. Semoga kamu suka ya.” ucap Devan
dengan bahagia.
Aku
tersenyum dan sesekali menunduk.
Sesampainya
di restoran, aku terkesima dengan penampilan gedungnya. Begitu romantis dan
klasik. Tidak sedikit orang menikmati santapan mereka di gedung ini. Ramainya
pengunjung, membuat aku dan Devan kesulitan mencari tempat duduk. Beruntungnya,
tidak jauh dari pandangan kami, kami menemukan tempat duduk yang masih kosong.
“Kamu
tidak apa-apa, Re?” ucap Devan setelah memesankan makanan untuk kami.
“Van.
Aku ingin berbicara soal perjodohanku waktu itu.” ucapku membuat Devan
menatapku dengan serius.
“Ah!
Ya. Bagaimana?” balasnya dengan antusias.
“Aku
memilih orang tuaku, Van.” ucapku membuat Devan perlahan melotot dan kembali
normal seperti sedia kala.
“Permisi.
Ini makanannya, Kak.” ucap seorang pelayan yang tiba-tiba datang di sela-sela
perbincangan kami.
Aku
pun menata makanan itu sembari mempersilakan Devan untuk menenangkan dirinya
terlebih dulu.
“Aku
menerima keputusanmu, Re. Meskipun sejujurnya, itu adalah hal yang aku takutkan
selama ini.” ucap Devan dengan matanya yang tiba-tiba berkaca-kaca.
Aku
terdiam dan menyantap makananku dengan sangat lambat.
“Re.
Lihat aku. Kamu ingat kan? Aku pernah berkata apa padamu? Aku akan menghargai
segala keputusanmu. Jadi, jika kamu memilih orang tuamu, aku akan menerimanya.
Aku yakin itu adalah kebahagiaanmu.” ucap Devan sembari sesekali meminum
minumannya.
Aku
terus menatap makananku dan enggan melihat wajahnya.
“Re.
Apa hadiah yang selalu aku berikan padamu?”
“Mm.
Bunga?”
“Bukan.”
“Lalu,
apa?”
“Perasaan.
Apa aku benar?”
Aku
terdiam seakan ingin menangis. Namun, aku tetap bersikukuh untuk menyantap
makanan yang ada di hadapanku saat ini.
“Bagiku,
hadiah yang selalu kamu berikan padaku adalah perasaanmu. Bagaimana bisa aku
langsung membencimu karena kali ini kamu memberikan hadiah yang pahit?
Perasaanku tidak main-main, Re. Tidak semudah itu aku membencimu karena
kepahitan yang sesaat ini. Kamu pernah minum obat, Kan? Apakah kepahitan itu
terus bersinggah di lidahmu selamanya?” tanya Devan membuatku langsung
mengangguk/
“Kepahitan
ini akan segera tergantikan oleh kebahagiaan, Re. Kebahagiaan untukmu dan aku.
Meskipun sudah tidak sejalan, apa salah jika aku menyebutmu sahabat?” lanjut
Devan membuatku perlahan menitikkan air mata.
“Aku
akan selalu mendukungmu bersama kakak sepupumu itu. Segala doa yang terbaik
akan kurangkai dalam hatiku.” ucap Devan membuatku langsung menggenggam
tangannya.
Aku
benar-benar beruntung pernah memiliki lelaki sebaik Devan. Malam pun sudah
tiba, Devan mengantarku pulang dengan wajahnya yang sendu.
“Terima
kasih ya. Semoga kamu bahagia.” ucap Devan yang tidak mau membuka kaca helmnya.
Aku
mengangguk dan membiarkan Devan pergi dari hadapanku. Selamanya.
Rasa
sesak menggebu dalam hatiku. Namun, hembusan nafas yang dalam mampu mendamaikan
hati ini sejenak. Saat sudah sampai di ruang tamu, aku pun menemui ibuku.
“Aku
terima perjodohan itu, Bu.”