Entri Populer
My heart feel...
This is my feeling
published on spotify : Berjelajah dalam Karya “Kamu kemana saja sih ! Seharian lho aku tidak bisa hubungi kamu!” omelmu membuatku yang l...
published on spotify : Berjelajah dalam Karya
“Kamu
kemana saja sih! Seharian lho aku tidak bisa hubungi kamu!” omelmu membuatku yang
langsung terkejut saat ponselku belum benar-benar mendekati telingaku.
“Maaf
ya. Aku baru saja sampai di kos.” balasku berusaha menenangkanmu.
“Udah
ah! Aku lagi malas berdebat!” keluhmu yang langsung saja mematikan
ponselmu.
Aku
terkejut sembari melihat tulisan onlinemu kini menghilang. Aku berusaha
untuk mengirimmu pesan singkat tetapi aku malah mendapatkan tampilan centang
satu berwarna abu-abu darimu. Aku pun mengalihkan pikiranku dengan mengerjakan
beberapa tugas yang perlu aku selesaikan.
Malam
yang semakin gelap membuat mataku susah terlelap karena gundah. Aku terus
memeriksa ponselku dan terkejut mendapatimu yang tiba-tiba saja meneleponku.
“Halo.”
salammu membuatku tersenyum.
“Halo.”
balasku yang sudah mulai tenang dengan kondisimu.
“Maaf ya,
tadi aku langsung saja memarahimu. Aku terlalu khawatir. ” ucapmu membuatku
semakin tenang.
“Tidak
apa. Maafkan aku juga karena terlalu sibuk hari ini. Kebetulan ada banyak tugas yang
harus aku selesaikan dan besok sudah aku kumpulkan.” balasku membuatmu
berdehem.
“Iya. Aku kangen sama kamu.” ucapmu membuat air mata perlahan turun dari mataku.
“Aku
juga. Doakan aku segera pulang dari Sulawesi ya.” ucapku membuatmu berdehem dengan
suara yang lebih keras.
Malam
yang melelahkan terobati karena suaramu. Aku menikmati setiap momen ini
bersamamu meskipun kita berada di dua pulau yang berbeda.
Keesokan
harinya
“Vy!”
teriak salah satu teman kerjaku, Beni, yang tiba-tiba saja berdiri di depan pintu
kosku.
Aku
tersenyum sembari bersiap mengajar.
“Aku
antar ya.” ucapnya membuatku menggeleng dengan cepat.
“Tidak
perlu. Aku bisa berangkat sendiri.” ucapku yang langsung saja mengunci pintu kamarku
dan langsung berjalan begitu saja.
Beni
tidak berhenti di situ saja. Selama satu tahun ini, Beni selalu menungguku di
depan kos dan menawarkanku jasa antar jemputnya setiap hari. Aku yang lama
kelamaan merasa risih tak membuat Beni mundur dengan semudah itu. Sepayah apapun
Beni merayu maupun menggodaku, aku tidak akan pernah jatuh dalam hatinya.
Sepulang
aku mengajar, tiba-tiba saja aku melihat Beni yang sedang menantikan
kehadiranku lagi.
“Vy,
aku ingin mengabarkan sesuatu.” ucap Beni yang langsung beranjak saat
melihatku.
“Apa?”
balasku membuat Beni mengenakan kerahnya.
“Aku
ingin serius denganmu, Vy. Aku tidak tega melihatmu terus diperlakukan buruk
oleh mertuamu dan harus menanggung rasa rindu karena LDR ini. Aku tahu itu
rasanya sangat berat. Jikalau aku mempersuntingmu, aku yakin kamu akan bahagia
denganku.” ucap Beni yang tiba-tiba
mengeluarkan cincin di hadapanku.
“Kenapa
kamu mengurusi hidupku?” ucapku dengan nada tinggi karena merasa tersinggung.
“Dengar,
Ben. Aku paling benci melihat orang yang terlalu kepo dengan kehidupanku. Kamu
salah menilai mertua dan calon suamiku seperti itu.” balasku membuatnya langsung melotot.
“Apa
yang bisa kamu banggakan dari mereka? Mertuamu itu terus menghina fisikmu dan calon
suami yang sekarang jauh. Entah di mana itu? Kamu tidak akan bahagia, Vy!”
teriaknya membuatku langsung dengan tidak sengaja menamparnya.
“Cukup,
Ben. Kamu sudah kelewat batas. Aku harap mulai saat ini aku tidak akan pernah
melihat wajahmu lagi!” balasku sembari langsung memasuki kamar kosku.
Teman-teman
satu kosku yang sedang bermain tik-tok langsung terkejut dan menghentikan
aktivitas mereka. Perlahan-lahan mereka mengetuk pintuku untuk menanyakan keadaanku.
Aku
menangis. Beni benar-benar jahat.
Setelah
lama menangis, aku melihat teman-temanku yang kini sedang bermain tik-tok duduk di samping ranjangku. Aku terbangun dan sontak
mereka langsung mendekatiku.
“Vy?
Kamu tidak apa-apa kan?” tanya salah satu dari mereka dengan cemas.
“Tidak
apa-apa. Terima kasih ya.” ucapku membuat mereka bahagia.
“Hari
ini kami akan tidur di kamarmu Vy. Apa boleh?” tanya mereka membuatku langsung
mengangguk.
Aku
pun membantu mereka menarik ranjang mereka ke kamarku. Malam ini aku bisa memalingkan
pikiranku dengan bercanda tawa bersama mereka. Saat teman-temanku tertidur,
tiba-tiba saja kamu meneleponku. Aku pun langsung duduk di luar kos sembari
menikmati malam bersamamu di balik ponsel ini.
“Halo.”
salammu membuatku langsung tersenyum.
“Halo.”
balasku dengan perasaan yang sangat bahagia.
“Kamu
tidak ingin tahu kabar ibuku?” tanyamu membuatku bingung.
“Ah
ya. Bagaimana kabar Ibu?” tanyaku dengan sedikit ketakutan.
“Dia
menyetujui pernikahan kita.” balasmu membuatku mengangguk.
“Ya.
Aku tahu. Eh! Tunggu. Maksudnya?” balasku yang baru saja mengerti dengan perkataanmu.
“Iya.
Kita akan menikah tahun ini.” ucapmu dengan santai.
Aku
menegukkan ludahku dengan kesulitan. Beberapa cubitan aku ajukan pada tangan
dan pipiku. Ini benar-benar jauh dari ekspetasiku.
“Kesabaranmu
itu, Vy membuat semuanya menjadi nyata. Awalnya aku gundah ketika keluargamu dan keluargaku bertemu saat
kamu masih berada di pulau ini. Namun, keputusan Ibu yang membuatku terkejut
membuatku hanya bisa terdiam. Aku sampai-sampai melihat Ibuku tanpa berkedip.
Ternyata itulah keputusan Ibu atas hubungan ini.” ucapmu membuat mataku berlinang
air mata.
Kesabaranku
yang sudah menjamur bertahun-tahun kini telah berbuah juga. Aku tak mampu menjawab
ucapanmu dan sibuk menutup mulutku agar isakan tangisku tidak terdengar.
“Aku
tahu kamu bahagia, Vy. Selamat istirahat ya. Aku sangat mencintaimu. Selamat malam.”
ucapmu sembari mematikan ponsel.
“Selamat malam.”
ucapku dengan lirik sembari terus melihat wajahmu di layar ponsel.
Kebahagiaan
yang telah kunanti, kini sudah berada tepat di hadapanku. Tangisan terus menerus
membasahi wajahku. Aku tak bisa mempercayai bahwa bintang yang terlihat sangat
jauh tak pernah mustahil untuk kutangkap dalam genggamanku. Kamu.