Entri Populer
My heart feel...
This is my feeling
Story Request : Kirei “Jaga kesehatan ya, Nak. Ibu merindukanmu.” ucap Ibu sembari menutup telepon. Albert tersenyum sembari kemba...
Story
Request : Kirei
“Jaga
kesehatan ya, Nak. Ibu merindukanmu.” ucap Ibu sembari menutup telepon.
Albert
tersenyum sembari kembali membaca bukunya untuk perkuliahannya di keesokan
hari. Ya. Albert terpaksa berpisah dengan ibu dan ayahnya demi mengejar mimpinya
di kota. Usia ibu dan ayahnya yang tidak lagi muda membuat Albert membawa Ana,
adiknya, ke kota tempatnya melanjutkan pendidikannya.
“Kak!
Apa aku boleh keluar dengan temanku?” tanya Anna membuat Albert langsung
meliriknya.
“Dengan
siapa?” tanya Albert dengan tegas.
“Temanku,
Kak. Kakak tahu kan sahabatku?” ucap Anna sembari mendekati Albert.
“Kamu
boleh keluar tetapi hanya sampai jam sembilan malam.” ucap Albert membuat Ana
mengecup pipinya dan menurut.
flashback
Brak!
Suara
ambulan benar-benar memenuhi pikiran Albert. Di tengah perjalanan, ibu dan Ana
terus menangis melihat Anne, adikku yang lain, sekarat karena tertabrak sepeda
motor saat ia bermain dengan teman-temannya.
“Dek.
Jangan tinggalin kakak.” ucap Albert yang berusaha menahan tangisnya.
“Anne!
Jangan tinggalin aku!” ucap Anna sembari menangis tersedu-sedu.
Tibanya
di rumah sakit, Albert, Anna, ayah, dan ibu hanya bisa berpasrah. Tentu saja.
Darah yang mengucur dari seluruh tubuh Anne memang tidak bisa membuat mereka
berpikir bahwa Anne akan selamat. Benar saja. Anne kini sudah bahagia di sana
dengan Sang Pencipta.
kembali
“Bert?”
ucap Airla, pacar Albert, yang kebingungan saat melihat Albert meneteskan air
mata.
“Oh
hai.” balas Albert sembari cepat-cepat mengusap air matanya.
“Kamu
kenapa, Bert?” tanya Airla dengan cemas.
“Aku
ingat Anne.” balas Albert kembali sedih.
“Bert,
aku tahu itu adalah pukulan yang berat buat kamu. Namun, jangan jadikan itu
sebagai batu sandunganmu ya. Buat Anne bangga karena memiliki kakak hebat
sepertimu.” ucap Airla membuat Albert tersenyum.
“Makasih
ya.” balas Albert yang tidak lagi bersedih.
“Kakak!
Aku pulang! Eh ada kak Airla” ucap Anna sembari memeluk Airla dengan penuh
kasih sayang.
Albert
hanya bisa menatap Anna dengan diam.
“Dek,
lihat kakakmu lagi sedih tuh karena kamu tinggalin sendirian di kos. Jangan
sering keluar-keluar ya. Kasihan kakakmu.” ucap Airla membuat Anna terkejut.
“Kakak
sedih?” tanya Anna membuat Albert mengangguk.
“Jangan
keluar malam-malam lagi ya. Kakak khawatir sama kamu.” ucap Albert membuat Anna
memeluknya dengan erat.
Keesokan
paginya.
Albert
pun bersiap untuk berangkat kuliah begitu pula dengan Anna yang bersiap untuk
berangkat sekolah. Albert pun memanasi motornya sembari menunggu Anna keluar
dan mengunci pintu.
“Aku
siap, Kak!” ucap Anna sembari duduk di motor Albert.
“Oke.”
balas Albert sembari melajukan motornya.
Sampainya
di sekolah Anna, Anna tiba-tiba saja tersenyum manja kepada Albert.
“Kakak.”
ucap Anna dengan nada merayu.
“Apa?”
balas Albert sembari melihat wajahnya.
“Ayo
nanti jalan-jalan. Aku bosan di kos.” ucap Anna membuat Albert mengangguk.
“Iya.
Nanti kita jalan-jalan ya.” balas Albert membuat Anna bergembira dan langsung masuk
gerbang sekolahnya.
Setelah
melihat Anna sudah masuk gedung, Albert mengendarai motornya menuju kampusnya.
Sesampainya di kampus, Albert dikejutkan dengan suara ambulan yang tiba-tiba
saja terdengar sangat dekat dengan gedung fakultasnya. Albert yang trauma
langsung saja berlari menjauhi suara itu dan memasuki kelasnya.
“Ada
apa di depan?” tanya salah satu temannya sembari mengagetkan Albert.
“Entahlah.”
balas Albert yang langsung duduk di bangku kelasnya.
Saat
sedang fokus mendengarkan penjelasan dosen, tiba-tiba saja ada beberapa teman Airla
yang melambaikan tangan dari pintu ruangan. Albert pun tidak mengacuhkannya.
Saat Albert fokus mengerjakan tugas, teman-teman Airla masih tetap melakukan
tindakan yang sama. Hingga pada akhirnya jam pembelajaran pun berlalu.
Teman-teman Airla masih di tempat yang sama. Aku pun membereskan bukuku dan
membawa tasku ke luar kelas.
“Ya
ampun, Bert! Tanganku sampai pegal!” protes salah satu dari mereka membuat
Albert langsung berlalu.
“Bert!
Gawat!” ucap mereka dengan panik.
“Gawat
apa?” balas Albert yang mulai khawatir.
“Airla
di rumah sakit! Ada motor yang menabraknya tadi saat ia sedang menyebrang
menuju kelasnya.” ucap mereka dengan tersengal-sengal.
Tanpa
basa-basi, Albert langsung menanyakan alamat rumah sakit tempat Airla dirawat.
Albert pun menghubungi teman-temannya terkait perijinannya untuk tidak
mengikuti kuliah dan langsung menuju lokasi.
Sesampainya
di rumah sakit, Albert langsung menanyakan nomor ruangan Airla. Sesampainya di ruangan
Airla, Albert melihat banyak temannya yang sedang menunggu Airla dari luar
ruangan.
“Bert,
tolong kabari kami jika Airla sudah sadar.” ucap salah satu dari mereka membuat
Albert mengangguk.
Kepanikannya
terhadap Airla membuat Albert lupa pada janjinya untuk mengajak Anna
jalan-jalan dengannya. Empat jam sudah berlalu. Albert masih saja belum
mendapat kabar bahwa Airla sudah mulai sadar. Luka yang diderita Airla cukup
serius. Penabrak motor itu sudah membiayai biaya rumah sakit Airla dan meminta
maaf pada Albert.
Dua
puluh panggilan tak terjawab muncul di layar ponsel Albert. Albert terkejut
karena ia lupa menjemput dan mengajak Anna untuk jalan-jalan. Albert yang kebingungan
berusaha menghubungi Anna. Namun, nomor Anna tidak aktif.
“Sial!
Bagaimana ini!” ucap Albert dengan nada yang sangat panik.
Saat
Albert berusaha menghubungi Anna untuk yang kesebelas kali, Albert melihat Anna
tergeletak di sebuah tandu yang sedang didorong oleh beberapa perawat di
depannya. Albert yang tanggap langsung saja mendekati perawat-perawat itu.
“Sus,
adik saya kenapa?”
“Oh
ini adalah adik, Mas? Tadi ada seseorang yang membawa adik, Mas karena jatuh
pingsan di tepi jalan.” ucap perawat itu membuat Albert semakin terpukul.
Kepanikan
itu membuat Albert tak sadarkan diri.
“Permisi,
Mas?” ucap seorang perawat sembari menyentuh pelan tubuh Albert.
Albert
pun terbangun.
“Pasien
dengan nama Anna sudah sadar. Anda bisa melihatnya.” ucap perawat itu membuat Albert
langsung mendatangi Anna.
“Anna.”
ucap Albert membuat Anna terkejut.
“Kakak
kenapa? Kenapa kakak pucat?” tanya Anna dengan panik.
Albert
langsung memeluk Anna dan berusaha mengatur pernapasannya.
“Maafkan
Kakak. Kakak baru saja mendapat kabar buruk tentang kak Airla. Kakak tidak bisa
meninggalkannya dan-” ucap Albert dengan suaranya yang tersengal-sengal.
“Tidak
apa-apa, Kak. Maafkan aku, Kak. Aku sudah membuat Kakak cemas. Bagaimana
keadaan kak Airla sekarang?” tanya Anna membuat Albert meminum air yang ia bawa
sembari menenangkan diri.
“Airla
masih belum sadar, Dek.” ucap Albert membuat Anna sedih.
“Permisi,
Mas? Dengan teman dari saudari Airla?” tanya seorang perawat yang tiba-tiba
mengejutkan Albert.
“Iya
sus?” ucap Albert sembari beranjak dari duduknya.
“Pasien
Airla sudah sadar. Anda bisa menemuinya sekarang.” ucap perawat itu membuat
Albert gembira.
“Dek,
kakak tinggal dulu ya. Kakak akan segera kembali.” ucap Albert mengecup pipi
Anna dan berjalan menuju ruangan Airla.
“Aduh-”
keluh Airla sembari memegang siku tangannya yang terluka.
“Airla? Kamu sudah sadar?” tanya Albert membuat Airla
terkejut.
“Albert?
Kamu tidak kuliah?” tanya Airla dengan suaranya yang lemas.
“Bagaimana
ini bisa terjadi?” tanya Albert dengan panik.
“Semua
begitu cepat, Bert. Aku tidak mengingat apapun.” balas Airla yang terus memegang
siku tangannya.
“Sudah
jangan dipegang terus. Nanti lukanya tidak sembuh. Kamu sekarang istirahat ya.
Aku akan menemanimu.” ucap Albert membuat Airla tersenyum.
Selama
dua minggu, Albert merelakan kuliahnya terbengkalai demi kesembuhan Anna,
adiknya, dan juga Airla, kekasihnya. Tak jarang Albert merasa kepalanya berputar
karena harus menemani dan merawat dua wanita yang ia cintai itu. Tak jarang
pula Albert ditemukan pingsan di beberapa sudut rumah sakit. Meskipun begitu, Albert
tetap saja berusaha kuat untuk menemani kedua wanita itu hingga sembuh.
Kabar
kesembuhan dua wanita yang ia cintai itu membuat Albert bahagia. Namun,
tubuhnya yang lemah memaksanya untuk menjalani koma. Airla dan Anna yang sangat
khawatir dengan keadaan Albert terus menanti kesadarannya di samping ranjangnya.
“Dek,
seberapa sering kamu bersenang-senang dengan kakakmu?” ucap Airla sembari
memeluk Anna.
“Selama
setengah hari mungkin, Kak. Kak Albert terkadang meminta ijin padaku untuk
bertemu dengan kak Airla.” ucap Anna membuat Airla terkejut.
“Apa?”
tanya Airla sembari menatap Anna.
“Kak,
Kak Albert sangat menyayangi kita. Sebenarnya aku sudah tahu apa yang ia
lakukan. Dimana dia terus memperlihatkan bahwa ia sibuk kuliah. Meskipun kenyataannya,
ia sibuk membagi waktunya untuk aku dan kak Airla.” ucap Anna membuat Airla
meneteskan air mata.
“Aku
dengar dari perawat yang menjagaku saat aku opname. Kak Albert setiap hari
mondar-mandir dari ruanganku dan ruangan kak Airla sampai lupa makan dan istirahat.
Tidak heran jika sekarang dia koma seperti ini.” ucap Anna yang terisak.
Selama
empat bulan lamanya, Albert berada dalam kondisinya yang koma. Airla dan Anna
yang senantiasa menemaninya secara bergantian membuat kondisi Albert semakin
hari semakin membaik. Hingga suatu malam, Airla terkejut ketika melihat Albert tidak
ada di ranjangnya.
“Albert?”
ucap Airla sembari panik mencari Albert.
“Mengapa
Anna juga tidak ada di sini?” lanjutnya yang memilih untuk ke luar ruangan.
Saat
berada di luar ruangan, ia terkejut melihat Albert dan Anna yang tersenyum ke
arah Airla.
“Kamu
kenapa?” tanya Albert dengan suaranya lemas.
Anna
terus tersenyum padanya.
“Hari
ini aku sudah bisa pulang. Kamu tidak senang ya?” canda Albert membuat Airla
meneteskan air mata.
“Albert
terima kasih!” ucap Airla sembari mendekati Albert.
“Bagiku
kalian adalah kedua tanganku. Jika aku kehilangan salah satu dari kalian, aku
bukanlah manusia yang utuh lagi. Aku akan berusaha sekeras mungkin untuk menjaga
kalian meskipun aku harus kehilangan nyawaku sekalipun. Aku benar-benar menyayangi
kalian.”
Anna
dan Airla pun memeluk Albert. Kebaikan Albert pada Airla dan juga Anna menuai
banyak pujian dari teman-teman, keluarga, kerabat, dan dosennya. Kelulusan
Albert pun di depan mata. Dengan kondisinya yang baru saja sembuh, Albert mampu
menyelesaikan perkuliahannya dengan baik. Kini, Albert berhasil menunjukkan
keberhasilannya menjadi anak yang berprestasi untuk orang tuanya, kakak yang
kuat untuk Anna, dan kekasih yang setia untuk Airla.