foto : Canva               “Kamu cantik sekali.” ucap Ibu membuatku tersipu malu.             Aku pun segera membuka mata sembari me...

Kesempatan

/
0 Comments


foto : Canva

 

            “Kamu cantik sekali.” ucap Ibu membuatku tersipu malu.

            Aku pun segera membuka mata sembari melihat betapa berbedanya aku hari ini. Pakaian serba putih dengan berbagai aksesoris yang menghiasi jilbabku membuatku kembali tidak percaya pada momen ini.

            “Aduh!” ucap seseorang dari balik jendela.

            Aku pun terkejut melihat suara seorang lelaki yang tidak jauh dari ruanganku. Aku yang merasa penasaran memutuskan untuk keluar dan memeriksa sekitar.

            “Aduh! Ini batu ya.” keluh seseorang yang terlihat sangat kesakitan.

            Aku yang masih saja berada di depan rumah membuat lelaki itu pada akhirnya berbalik badan.

            “Devan?” ucapku membuat Devan terkejut sembari langsung berdiri tegap.

            “Kamu sedang apa?” tanyaku membuat Devan terlihat kebingungan.

            “Nggak papa.” ucap Devan sembari mengusap matanya yang berair.

            Apakah Devan menangis?

            “Masuk sana. Acara mau dimulai kan?” ucap Devan sembari mempersilakanku masuk ke rumah.

            “Kamu tidak apa-apa, Van?” tanyaku membuat Devan tersenyum dan langsung berbalik badan.

            “Udah sana.” ucap Devan membuatku menurut dan memasuki rumah.

            Septian sudah terlihat siap dengan jas hitam yang membuatnya semakin tampan. Aku tersenyum melihatnya yang terus menatapku tanpa berkedip.

            “Boleh aja lupa berkedip asalkan jangan sampai lupa bernapas.” ucapku membuat Septian merah padam.

            “Eh, tadi kamu melihat Devan di luar?” tanya Septian membuatku terkejut.

            “Kamu mengundang Devan?” tanyaku membuat Septian mengangguk dan beranjak untuk pergi ke teras.

            “Ayo Dev masuk!” ucap Septian membuat Devan masuk dengan menunduk.

            Aku tak menyangka. Septian memberikan tempat duduk untuk Devan tepat di samping kananku. Apakah dia sadar bahwa perlakuannya ini bisa membuat Devan sakit hati?

            “Sah!”

            Tibanya aku di penhujung acara. Ibaratkan seekor kupu-kupu aku bukanlah Rere yang masih saja berada di dalam kepompong. Namun, kini aku menjadi seekor kupu-kupu yang memiliki dua sayap dan bersiap untuk menjelajahi dunia dengan dua sayap itu. Ya. Dua sayap itu adalah aku dan Septian.

            Septian terlihat sangat bahagia dan terus tersenyum padaku. Namun, hal itu tentu berbeda dengan Devan. Sepanjang acara, Devan sibuk menunduk ataupun bermain ponsel. Aku tahu ini adalah situasi yang sulit untuknya.

            “Dev! Ayo foto bersama!” teriak Septian membuatku langsung menarik tangannya.

            “Septian tolong jangan berlebihan! Kamu tahu kan bagaimana perasaan Devan?” protesku membuat Devan membantahku.

            “Tidak kok, Re. Aku senang hati melakukannya.” ucap Devan sembari langsung berdiri di sampingku dan bersiap untuk berfoto.

            Betapa kuatnya lelaki itu meskipun aku sudah menyakitinya berulang kali.

            “Dev! Apa kamu mau membantuku untuk menjadi fotografer selama resepsi? Kebetulan temanku berhalangan hadir.” ucap Septian membuatku menarik tangannya lagi.

            “Septian! Minta tolonglah ke orang lain jangan Devan.” ucapku membuat Devan kembali membantahku.

            “Mas. Apa aku boleh berbicara dengan Rere sebentar?” tanya Devan yang tiba-tiba saja melirik ke arahku dengan garang.

            “Tentu saja.” ucap Septian membiarkanku pergi dengan Devan.

            Kami pun memilih taman untuk tempat kami bercengkerama. Devan terus menatapku dengan jengkel tanpa berucap apa-apa.

            “Kamu kenapa sih, Re?” protesnya membuatku terkejut.

            “Aku?”

            “Kamu masih meragukan keikhlasanku terhadap hubunganmu dengan Septian?” protes Devan sembari memperlihatkan wajah penuh amarahnya.

            “Bukan seperti itu, Dev. Aku hanya saja tidak tega jika kamu harus melihat kebersamaanku dengan Septian terus-menerus.” ucapku membuat Devan menghela napasnya.

            “Aku paham maksud baikmu, Re. Tapi tolong. Jangan pedulikan perasaanku ya. Aku kini adalah temanmu bukan pasanganmu. Biarkan aku menikmati momen ini meskipun aku tersakiti. Apakah kamu bisa membantuku untuk itu?” ucap Devan dengan mata yang tiba-tiba berkaca-kaca.

            Aku pun langsung mengangguk dan membiarkan Devan melakukan apa yang diminta oleh Septian.

            Selama resepsi, banyak sekali teman-temanku yang datang. Semua terkejut karena pernikahanku yang secepat ini.

            “Wah! Rere selamat ya! Semoga bisa menjadi keluarga yang bahagia ya”

            “Semoga menjadi keluarga yang samawa, sakinah, mawadah, warahmah”

            “Amin.” ucapku membuat semua temanku langsung saja mengajakku berfoto bersama.

            Beberapa dari mereka juga mengajakku bermain tik tok. Melihat tingkahku yang konyol, membuat Septian dan Devan hanya bisa tertawa terpingkal-pingkal di belakangku. Tak terasa hari semakin gelap. Tamu yang datang pun semakin banyak. Kakiku yang mulai pegal membuatku dan Septian memilih untuk tetap duduk.

            “Dev!” panggil Septian membuat Devan mendekati kami.

            “Makasih ya sudah membantuku dan Rere. Apakah kamu senang?” ucap Septian membuatku mengerutkan keningku.

            “Senang sekali, Mas. Terima kasih atas kesempatan ini.” balas Devan dengan wajah yang sangat bahagia.

            “Dengar, Dev. Meskipun aku menikah dengan Rere, kamu boleh menemuinya sesukamu. Aku tahu Rere adalah teman spesialmu kan? Aku tidak akan melarang hubungan persahabatan kalian.” ucap Septian membuatku kembali membisu.

            “Terima kasih, Mas. Kalau begitu aku pergi dulu.” ucap Devan sembari menyalami Septian dan juga aku.

            Aku tersenyum ke arahnya.

            “Jadilah perempuan yang baik untuk suamimu ya. Septian adalah lelaki yang baik buatmu.” bisik Devan membuatku tersenyum.

            “Terima kasih, Dev. Aku berharap kamu akan selalu bahagia.” ucapku membuat Devan tersenyum dan meninggalkan kami.

***

Keikhlasan terkadang tak mampu datang dengan mudah. Jalan penuh liku dan bebatuan yang tajam tak jarang membuat perasaan itu berubah menjadi perasaan yang menyakitkan. Namun, kamu harus percaya. Seseorang yang berani untuk ikhlas adalah orang yang siap untuk bahagia.

 

           




Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.
Powered By Blogger