Entri Populer
My heart feel...
This is my feeling
published on spotify : berjelajah dalam karya Suara tangisan yang terdengar secara tiba-tiba membuatku terkejut hingga hampi...
published on spotify : berjelajah dalam karya
Suara tangisan yang terdengar secara
tiba-tiba membuatku terkejut hingga hampir terjatuh di atas ranjangku. Aku pun
memutuskan untuk ke luar kamar dan mencari asal suara itu.
Kos yang lumayan lebar dengan teras
yang luas membuatku kesulitan untuk menemukan suara tangisan itu di salah satu
dari mereka. Pada akhirnya, aku menemukan
ruangan kamar di sudut kos dengan lampu remang-remang. Suara tangis itu semakin
keras.
“Tha? Kamu kenapa?” tanyaku sembari
melihatnya bersimbah air mata hingga bantalnya sangat basah.
“Aku pusing.” balasnya sembari terus meremas rambutnya dengan kuat hingga rontok.
“Bukannya kamu sudah membeli obat
tadi?” tanyaku sembari duduk di sampingnya.
“Hans sudah membelikannya untukku”
Hans adalah pacar Retha. Mereka
sudah berhubungan selama satu tahun.
“Syukurlah. Lalu, apa yang kamu
permasalahkan?”
“Besok kita ada tugas kan?
Aku tidak mampu mengerjakannya.”
“ Ya sudah. Kamu istirahat ya. Kamu bisa
menyalin tugasku nanti.”
Retha tiba-tiba saja memelukku.
Setelah memelukku, dia mengeluh lagi. Retha yang manja memaksaku untuk
mengerjakan tugas di kamarnya. Aku memutuskan untuk menurut dan mengukir
kata-kata di berbagai tugas yang harus kuselesaikan malam ini.
“Selesai!” ucapku lega dan menutup
semua buku yang ada di meja Retha.
Suara dengkuran aku dengar dari
Retha. Akuu menata semua bukunya yang kini sudah terisi oleh tulisan dan
meninggalkan ruangannya.
“A!” teriak Retha membuat seisi
kelas menatap ke arahnya.
Saat Alisa, teman satu kelasku,
memberikan hasil tugasku, aku pun tersenyum karena hasil tugasku sama dengan
tugas Retha yaitu A.
“Kamu pintar sekali”
Begitulah pujian yang Retha terus
terima hari ini. Ia juga menebarkan nilai bagusnya itu pada semua teman-temanku.
Alisa yang terlihat tidak berkeinginan untuk ikut berpartisipasi memilih untuk
duduk di sampingku.
“Ih! Keren dapet A.” puji
Alisa membuatku melihat tugasnya yang mendapatkan hasil yang sama denganku.
“Sombong banget dah! Baru
juga dapat A sekali. Retha sombong banget sih” ejek Alisa menuai senyuman simpul dariku.
“Aku yakin. Dia mendapat nilai itu
pasti bukan dari tangan bersihnya.” lanjut Alisa yang tiba-tiba saja menatapku
sebagai terdakwa.
Aku hanya diam saja sembari
menikmati aneka pujian yang Retha dapatkan tanpa henti.
Kegiatan perkuliahan yang cukup
padat ditambah dengan kegiatan mengajarku membuat tubuhku drop. Meskipun
tidak membuatku kehilangan kesadaran, aku kini sudah cukup kesakitan. Kehadiran
Stefan yang selalu ada tepat waktu tak membuatku kebingungan mencari
pertolongan. Setelah mengajar, Stefan menjemputku dan mengantarkanku ke klinik.
Badanku yang tiba-tiba saja panas dan menggigil membuatku merekatkan jaketku
supaya melilitku dengan semakin kuat. Tanpa basa-basi, aku mengambil sarung
tangan Stefan dan langsung aku pasang di kedua tanganku.
“Kamu harus minum obat. Aku akan
membelikanmu makan malam.” ucap Stefan seusai mengantarku menuju kosku.
Aku meminum obat itu sembari
menikmati penglihatanku yang tidak bisa terkendali. Seketika, penglihatanku melihat
ke atas. Seketika itu kemudian, penglihatanku melihat ke bawah, kanan, dan
kiri. Karena tak kuasa, aku pun memejamkan mata dan membaringkan tubuhku di
atas ranjang.
“Melan! Ada tamu!” ucap salah satu
temanku yang membuatku ke luar dari kamarku.
Stefan sudah datang dengan membawa
tahu telor kesukaanku. Awalnya aku ingin menyantap makanan itu bersamanya. Namun,
ia melarangku dan memaksaku untuk menyantap makanan yang ia bawa itu di kamarku.
“Kamu cepat sembuh ya. Telfon saja
jika kamu ingin makanan lagi.”
“Memangnya aku makan sebanyak apa?”
“Makanmu kan banyak, Yang”
“Ish! Tidak sebanyak kamu,
Mas.”
Di tengah aku menahan demamku ini, Stefan
masih sempat-sempatnya menggodaku. Namun, keringat dingin yang mengucur
membuatku bisa merasa lebih sehat dari sebelumnya. Setelah Stefan pergi, aku
langsung menyantap tahu telorku perlahan-lahan dan menelepon Retha.
“Halo?”
“Ret, apa kamu di kamar? Aku ingin
minta tolong.”
“Iya, Mel. Minta tolong apa?”
“Aku tidak bisa mengerjakan tugasku
hari ini. Apa aku boleh melihat tugasmu tiga nomor saja.”
Tit..tit..
Nada dering putus panggilan kami
tiba-tiba saja terdengar. Aku pun mencoba menghubunginya lagi. Setelah tiga
kali mencoba, dia tidak kunjung mengangkat ponselku. Aku pun memutuskan untuk
berjalan ke kamarnya. Setelah aku mengetuknya, tiba-tiba saja temanku menyahuti
ketukan pintuku.
“Retha pergi, Mel.” ucap salah satu
temanku membuatku menyernyitkan dahi.
“Aku baru saja meneleponnya dan dia
berkata bahwa dia ada di kamarnya.”
Saat aku berkata demikian, tiba-tiba
saja Retha ke luar kamar dan dengan cepat menutup pintu kamarnya lagi karena
melihat kehadiranku.
Aku mengangguk paham dan membuat
temanku itu langsung merangkulku.
“Maaf, Mel. Dia yang menyuruhku.”
bisiknya membuatku mengangguk.
Baiklah. Meskipun aku melakukannya
tanpa butuh balasan, aku kini membencinya.
Dengan sekuat tenaga, aku
mengerjakan tugas kuliahku hingga selesai. Tentu saja, akibat paksaanku ini
membuat tubuhku kembali sakit. Namun, aku bangga karena aku bisa menyelesaikan
tugasku dengan tangan bersih.
Demam yang aku rasakan membuatku insomnia. Aku ingin sekali menelepon Ibu. Namun, jam sudah menunjukkan pukul satu pagi. Aku yakin Ibu sudah tertidur. Aku pun memutuskan untuk mendengarkan podcast karya Mbak Vea, salah satu teman yang aku kenal selama perantauanku ini. Beruntungnya aku, podcast dari Mbak Vea bisa membuatku tertidur lelap.
Lulus dengan peringkat empat
membuatku bahagia. Stefan, mbak Vea, ibu, ayah, dan adik mengirimkanku pesan
selamat di ponsel. Bagiku, selain nilai yang bagus, dukungan mereka jauh lebih
berarti dari semua ini.
“Kamu jago banget, Ret!”
Pujian kembali Retha terima ketika
ia mendapatkan peringkat dua karena kelicikannya. Aku tak menatapnya dan sibuk
membalas pesan-pesan dari orang-orang yang menyayangiku.
“Selamat, Mel!” ucap Alisa yang
tiba-tiba saja memelukku.
“Kamu juga selamat ya dapat
peringkat satu” balasku membuatnya mengangguk.
“Semua kesuksesan kita ini pasti
terwujud karena dukungan dan doa-doa orang-orang yang tulus pada kita.” ucap
Alisa menuai senyuman dariku.
“Tenang saja, Mel. Retha bisa bangga
dengan peringkatnya dengan tangan kotornya. Namun, kamu harus bangga karena
kamu memiliki sesuatu yang Retha tidak punya.” ucap Alisa menuai tanya dariku.
“Apa itu?”
“Orang-orang yang tulus
mencintainya.” ucap Alisa membuatku prihatin pada Retha.
“Bagiku, angka mudah didapatkan.
Namun, orang-orang tulus tidak mudah didapatkan. Ibarat hadiah, kamu bisa
mendapatkan hadiah dalam jumlah yang besar setiap hari jika kamu merayakannya.
Namun, akankah kamu tetap mendapatkan hadiah-hadiah itu ketika kamu jatuh
miskin? Hadiah tuluslah yang bisa datang di suka dan dukamu. Itulah yang Retha
tidak miliki.”
Kini, aku sadar. Kebahagiaanku
bukanlah saat aku mendapatkan nilai sempurna. Namun, ketika aku memiliki
orang-orang yang mendukungku dengan tulus dan kebaikan hati.