Entri Populer
My heart feel...
This is my feeling
published on spotify : berjelajah dalam karya Sebuah tas tiba-tiba terlempar tepat di meja Lili. "Ya ampun, Andy. Kena...
"Ya ampun, Andy. Kenapa kamu
menggangguku! Aku hanya tidak sengaja merobek tasmu." ucap Yubi salah satu
teman sekelas Lili.
"Kamu pikir minta maaf
bisa mengubah tasku menjadi seperti semula? Kamu mudah mengatakan maaf. Sekarang cepat
ganti tasku!" teriak Andy salah satu teman Lili.
Andy sebenarnya adalah kakak
kelas mereka. Namun, nilai yang buruk membuatnya tidak bisa melanjutkan kelas
selanjutnya dan mengakibatkan dirinya tinggal kelas. Penampilannya juga biasa aja. Tidak ada hal yang menarik dari Andy. Ia selalu membuat masalah dan
mengganggu semua orang. Tidak ada yang mau berteman dengan dia.
"Andy! Bisakah kamu
berhenti menjadi anak kecil? Ini hanya sobekan kecil. Dan, aku tidak suka
sikapmu yang kasar itu. Pergi!" teriak Lili membuat Andy pergi dari kelas
dengan amarah yang terus mengepul sempurna di wajahnya.
"Terima kasih ya,
Lili." ucap Yubi senang sembari memeluk erat Lili.
Kedamaian kembali terukir
setelah Andy ke luar dari kelas. Lili penasaran dan memeriksa tas Andy. Sobekan
kecil seperti yang Lili bayangkan. Namun, kemarahan Andy seakan-akan
menggambarkan sebuah sobekan besar yang sudah melanda tasnya. Kenapa dia
terlalu berlebihan?
Saat Lili ke luar kelas, ia
menemui Andy yang terlihat menyendiri sembari memainkan dedaunan hijau yang
berjatuhan. Lili mengakui dia memang terlihat menyedihkan. Namun, tingkah
lakunya sudah melampaui batas. Kejadian mengerikan terjadi kembali hari ini.
Sebuah tonjokan keras Len
ajukan pada Andy. Kemarahan merenggut lelaki malang itu dan perkelahian pun
terjadi dengan hebat. Seorang guru menarik kerah keduanya dan membawa mereka ke
ruang kepala sekolah.
"Mengapa Andy selalu membuat
masalah? Bahkan orang sebaik Len saja dipukuli." ucap Yubi sembari melipat
tangannya dengan wajah terkejut.
"Bi, aku melihat Len
yang memulainya. Dan, sebenarnya aku yang seharusnya terkejut." ucap Lili
dengan wajah penuh kekhawatiran.
"Tunggu. Sejak kapan
kamu membela lelaki itu? Dia memarahiku di depan umum lho, Li. Kenapa kamu membelanya?"
Lili terdiam. Dia tidak
bermaksud membela Andy. Namun, mengapa semua orang seakan mengecap Andy sebagai
orang yang selalu bersalah? Ini tidak benar.
Kelas dimulai. Wajah memar
terlukis menyedihkan di wajah Andy. Lili tidak menyangka. Selama ia berada di
kelas 12 ini, ia duduk sebangku dengan lelaki malang itu.
Suara bisikan terdengar
bergema di seluruh ruangan.
"Sabar ya, Lili. Kamu
sangat tidak beruntung." ucap Yubi sembari tertawa mengejek.
Lili tidak mempedulikan
siapapun termasuk teman di sebelahnya. Ia fokus pada semua pembelajaran yang
diajarkan.
Kejadian menyebalkan kembali
terulang. Kini, Andy terlihat sedang merebut sesuatu dari teman di belakangnya.
"Andy! Bisakah kamu
diam!" teriak Lili membuat suasana kelas hening.
Andy memutuskan untuk ke luar
kelas dengan seenaknya. Kemarahan yang perlahan memudar membuat Lili dapat
kembali fokus belajar. Apa yang dilakukan Andy?
Tiba saatnya olahraga.
Andy lagi-lagi bertengkar
dengan Tia, teman sekelas Andy yang lain. Namun, pertengkaran ini lebih parah dari
sebelumnya.
"Li, Andy memarahi Tia. Dia sangat ketakutan." ucap Yubi sembari mendorong Lili perlahan
masuk dalam kerumunan.
"Andy!" teriak Lili
sembari menarik Tia.
"Kenapa sih kamu selalu
mengganggu ketentraman banyak orang! Kamu mau memamerkan kekuatanmu di semua
orang? Kamu mau mengalahkan semua orang dengan pukulan dan kata-katamu yang hebat itu? Apa itu
penting? Aku lelah terus memarahimu. Aku bahkan tidak bisa benar-benar tidak mempedulikanmu. Jika kamu melakukan kerusuhan ini lagi, aku akan benar-benar
tidak mempedulikanmu!" ucap Lili sembari pergi dari kerumunan itu.
Seluruh sorak-sorai terdengar
hebat selama pelajaran olahraga berlangsung. Semua teman tidak mempedulikan
keberadaan Andy. Lili bersembunyi di kamar mandi dan terus memandangi wajahnya
di cermin.
"Ah. Ini bukanlah
diriku. Aku sebenarnya takut memarahinya. Tapi kalau aku biarkan, dia akan
terus melakukan kerusuhan itu. Apa yang harus aku lakukan?" teriak Lili
dalam hati sembari membasuh wajahnya berulang kali.
Tiba-tiba, ia mendengar suara
tangisan. Lili berpikir bahwa ada semacam hantu atau arwah jahat yang akan
mengejutkannya. Namun, ia berusaha untuk tidak berpikiran seperti itu. Suara
itu berasal dari balkon sekolah. Suasana gelap dan hening membuat bulu kuduk
Lili perlahan berdiri.
Lili terkejut melihat Andy
yang berada di sana.
"Apa karena ucapanku dia
menangis? Aku tidak mau semua berakhir seperti ini." batin Lili sembari
perlahan mendekati Andy.
Ia terkejut melihat Andy yang
terus menangis sembari memeluk sesuatu. Lili berusaha untuk melihat barang itu.
Sebuah foto seorang wanita.
"Apakah itu ibunya? Aduh!"
Suara penuh kejutan ke luar
tanpa izin dari mulut Lili. Andy mengalihkan pandangan menuju Lili. Tatapan
penuh amarah membuat Lili tidak bisa berucap apa-apa.
Ia terus mendekati Lili
dengan wajah penuh kebencian. Lili sangat ketakutan sembari terus berusaha
melarikan diri. Ia tidak bisa pergi.
"Andy. A-aku minta
ma-af." ucap Lili dengan wajah penuh ketakutan.
Sebuah tarikan keras Andy
berikan pada rambut Lili.
Lili berteriak minta tolong.
Yubi datang dan cemas sembari
melihat keadaan Lili.
"Yubi! Tolong aku!"
teriak Lili membuat Yubi melarikan diri.
Dua orang teman Lili datang
sembari mengambil sebuah bola voli.
"Tolong aku!"
teriak Lili sembari terus merasakan kesakitan.
Mereka sama sekali tidak
menghiraukan keberadaan Lili. Ia sangat terkejut dengan apa yang dia lihat.
"Kamu payah! Tidak ada orang
yang mempedulikanmu." teriak Andy sembari melepas pelan rambut Lili dan
meninggalkannya.
Lili tidak menyangka akan
perbuatan teman-temannya itu.
Pagi menyapa dengan kehangatan
yang menawan. Lili terus melihat kotak pensilnya. Ia lagi-lagi kehilangan
seluruh alat tulisnya. Ini terjadi selama ia duduk dengan Andy. Lili yakin bahwa
Andy telah sengaja melakukan hal itu. Kekecewaannya terhadap seluruh
teman-temannya membuatnya malas memarahi lelaki itu.
Pelajaran kembali dimulai.
Andy duduk sembari kembali mencuri bolpen Lili.
"Tidak ada yang peduli
padaku." ucap Lili sembari menelungkupkan tubuhnya.
Ia merelakan bolpennya dicuri oleh Andy. Andy
terlihat bahagia sembari keluar kelas seperti biasa. Selama pelajaran
berlangsung, Lili tidak bisa menulis apapun di buku catatannya. Sungguh
menyedihkan.
Bel pulang berbunyi. Lili
terkejut melihat Andy yang berdiri menyeramkan dengan membawa kardus di depan
gerbang sekolah. Suasana benar-benar lengang.
"Kamu mau mencuri apalagi!"
teriak Lili dengan jengkel.
"Li. Aku sedari awal memang iri dengan sifatmu yang disegani banyak orang. Banyak pujian kamu dapatkan. Aku bahkan tidak pernah mendapat pujian. Aku terkejut saat melihat ternyata kamu sebenarnya kesepian. Tidak ada teman yang mau membelamu di saat aku menyerangmu. Namun anehnya, kamu tetap membela mereka. Aku sedih dengan diriku sendiri. Keirianku itu berhasil terkalahkan oleh rasa keinginanku untuk berteman denganmu. Ya. Itulah caraku berteman denganmu lewat pencurian kecil yang aku lakukan. Aku berpikir dengan kamu membenciku, aku sudah berhasil masuk dalam memorimu. Ngomong-ngomong, selama kamu absen, aku sama sekali tidak berbuat rusuh pada teman-temanmu. Kamu tahu alasannya? Karena tidak ada yang memarahiku saat itu. Aku tahu kamu tidak pernah memarahi teman-temanmu yang lain selain aku. Dengan kamu memarahiku, aku merasa spesial." ucap Andy sembari menyodorkan kardus pada Lili.
"Ini semua alat tulismu.
Aku sengaja mencurinya karena semua alat tulismu rusak. Teman-temanmu sudah
memanfaatkan kebaikanmu dengan kejam. Mereka mematahkan penggarismu, merusak
tipe-xmu, mengotori pensilmu, dan memotong-motong penghapusmu. Tenang, aku sudah
memperbaikinya. Dan, bolpen ini adalah perbaikanku yang terakhir kali. Kabar
meninggal ibu memaksaku untuk pindah sekolah. Sekali lagi terima kasih,
Lili." lanjut Andy sembari menyodorkan bolpen milik Lili.
"Andy. Maafkan aku."
ucap Lili sembari mendekati Andy yang sudah siap dengan ranselnya.
Andy menatap Lili.
"Jujur, aku memang tidak
bisa benar-benar tidak mempedulikanmu. Jika kamu bertanya alasannya, aku pun
juga tidak tahu. Terima kasih sudah menjadi malaikat di belakangku selama ini, Ndy.
Maaf jika aku terus memarahimu dengan kasar." ucap Lili sembari terus
tersenyum pada Andy.
“Kamu tidak salah, Li. Kalaupun
itu tindakan yang tidak benar, bagiku tindakan itu adalah hadiah yang bisa aku
dapatkan dari orang lain selain keluargaku.” ucap Andy dengan wajah yang terus
tersenyum.
“Kamu akan ke mana?” tanya
Lili yang melihat sebuah mobil terparkir di depan gerbang sekolah.
“Pergi. Memulai semua ini
dari nol.”
“Apa kamu akan kembali?”
“Aku tidak tahu. Biarkan
waktu yang menjawab.”
“Meskipun kamu
tidak tahu kapan kamu akan kembali, aku akan menunggumu. Jika kita bertemu di masa
depan, berjanjilah satu hal padaku. " ucap Lili membuat Andy menyernyitkan
dahinya.
“Apa itu, Li?”
“Berjanjilah untuk tetap
menjadi Andy yang iseng dan baik seperti ini.”
Andy tertawa kecil dan
mengangguk semangat pada Lili.
"Lili. Terima
kasih." ucap Andy sembari mengalungkan sebuah liontin bertuliskan huruf 'L' di
leher Lili.
Lili sangat terkejut. Andy
sudah meninggalkan sekolah. Kardus penuh dengan kerja tangan Andy yang
tergeletak segera Lily angkut.
Biarkan pendengaranmu menilai
sesuatu dengan melata. Entah ia mengambil dari sisi kanan, kiri, atas, ataupun
bawah. Semua pemahaman yang terangkul, kelak dapat diputuskan dengan unggul.
Jangan menilai semua permasalahan dari satu pandangan saja sebelum semua hanya akan
menyisakan angan.
Bagus, Ra. Sederhana tapi ngena. Romantis terselubung, selalu jadi ciri khasmu.
BalasHapus