“Ini semua berkat dewi fortuna”             Begitulah tanggapanku setiap aku berhasil menyelesaikan aktivitas di kampus ataupun di manap...

Fitri yang Baru

/
0 Comments

 

“Ini semua berkat dewi fortuna”

            Begitulah tanggapanku setiap aku berhasil menyelesaikan aktivitas di kampus ataupun di manapun aku berada. Mengapa aku menyebut dewi fortuna? Karena semua hal yang dipikir tidak mungkin dapat diselesaikan dengan mudah, tidak berlaku untukku. Aku bukanlah Fitri yang memiliki kekuatan super ataupun keajaiban apapun. Namun, aku adalah Fitri, orang biasa, yang selalu bersyukur akan keberuntungan yang menimpaku setiap hari. Apa kamu pernah merasakan keberuntungan yang sama sepertiku? Aku harap dewi fortuna juga mencintaimu sama seperti ia mencintaiku.

            “Fit, malam ini kamu harus segera membayar uang kos. Ibu kos sudah menagih tadi.”

            Keuangan. Itulah salah satu permasalahan paling mendasar dalam kehidupanku khususnya. Uang bagaikan burung  yang mudah sekali pergi lalu datang sewaktu-waktu. Butuh banyak keringat yang ke luar untuk mendapatkan selembar kertas yang terkadang membuat orang terlalu berpikiran duniawi itu. Namun, aku akui. Uang memanglah segalanya.

            “Baiklah”

            Aku ke luar kos untuk memeriksa saldo di rekeningku. Terakhir kali kuingat, aku menyisakan uang sebesar lima puluh ribu di sana. Meskipun sedikit, setidaknya aku bisa terlihat memegang uang saat ibu kos datang untuk menagihku.

            Saat hendak memeriksa saldo, tiba-tiba saja ponselku berbunyi. Aku mendiamkannya dan asik dengan tombol-tombol angka yang ada pada mesin berbentuk kotak ini. Uang sebesar lima juta rupiah terpampang nyata di layar berukuran besar di hadapanku ini.

            “Uang dari mana?”

            Setelah asik kebingungan dengan pikiranku sendiri, aku langsung saja mengambil uang itu dan menyimpannya dengan baik di dalam dompetku. Aku yang terus saja terkejut dengan hadirnya uang yang datang secara tiba-tiba membuat teman-teman yang menyapaku tak kusapa dengan baik. Aku teringat akan nada dering yang aku anggurin beberapa menit yang lalu. Aku menatap ponsel dan melihat nama saudaraku terparkir di layar ponselku.

            Aku ada rejeki. Tolong, kamu terima ya. Semangat kuliahnya, Dek!

            Misteri telah terpecahkan. Nyatanya, uang itu datang dari saudaraku di Lumajang. Apakah dewi fortuna memberitahu saudaraku bahwa aku sedang membutuhkan uang untuk membayar kos? Aku hanya tersenyum sembari mengelus dadaku.

            “Dewi fortuna.”

            Kepadatan jadwal lesku membuat tugasku terbengkalai. Aku baru saja menginjakkan kaki di kos pukul sebelas malam. Parahnya, aku sama sekali belum menyentuh tugas yang diberikan dosen beberapa hari yang lalu. Dengan berbekal nasi dan air putih, aku mengerjakan tugasku dengan santai. Mataku siap untuk tidak tidur hari ini. Ponsel yang terus berdering tak kuacuhkan. Tentu saja, ponsel itu berdering karena munculnya pesan dari teman-temanku yang friendtok aja alias ada di saat butuh saja. Saat ini, aku harus egois. Diriku lebih penting dari mereka. Dewi fortuna kembali membantuku dengan memperlancar kinerja otakku terhadap tugas yang aku kerjakan. Alhasil, tugasku selesai.

            Motor yang aku ajukan cukup cepat terpaksa aku lakukan karena melihat bahwa lima menit lagi kelas akan dimulai. Akibat begadang, aku menjadi sangat kacau. Motor yang aku parkir sembarangan membuat tukang parkir membantuku untuk merapikannya. Pintu kelas yang berisikan seluruh teman dan dosen yang sedang berucap panjang lebar ada di hadapanku. Perlahan, aku masuk sembari mengucapkan salam. Dosen itu hanya menatapku dan kembali mengajar seperti semula. Dewi fortuna kembali menolongku.  

            “Kamu bukanlah orang yang pintar, Fit. Namun, mengapa nilaimu bisa selalu stabil?”

            “Ini semua karena dewi fortuna”

            Apalagi yang bisa aku katakan? Itulah kenyataannya.

            Putus. Putus adalah salah satu situasi yang sulit di mana kamu memaksakan sebuah perasaan yang hidup untuk mati. Ya. Aku sedang berada di situasi itu sekarang. Seorang pria yang terlihat sangat baik padaku ternyata bermuka dua. Dia bukanlah pria baik seperti yang aku bayangkan. Pria yang senang menumbuhkan perasaan cinta di banyak wanita. Itulah hobinya. Dewi fortuna tak diam dengan kejadian ini. Seorang pria yang pintar dengan dunia photoshop hadir dalam hidupku. Ya. Aku bahagia dengannya meskipun perbedaan umur kami lumayan jauh. Tentu saja, aku hanya berdoa semoga kami bisa sampai ke titik pernikahan.

            Itulah kisahku dengan dewi fortuna yang selalu menolongku tak lekang oleh waktu. Sampai semuanya berubah karena suatu penyakit yang melanda tubuhku…

            Suasana kekeluargaan berhasil aku rasakan setelah kepulanganku dari kota tempatku memperoleh ilmu. Suhu badan yang kurang stabil membuat badanku lemas di waktu yang tak pernah aku duga.

            Televisi yang sedang menemaniku tiba-tiba terganggu karena tubuhku yang kesemutan. Saat aku ingin berbincang dengan adikku, sesuatu hal yang mengejutkan terjadi.          

            “E..e..”

            Aku tak bisa berbicara. Secara tiba-tiba, aku lupa cara mengucapkan konsonan dengan baik. Tentu saja, keluargaku langsung mengajakku ke rumah sakit. Suasana rumah sakit yang ramai tak bisa aku dengar dengan baik. Suara nging yang mendominasi telingaku membuatku tak bisa memahami perkataan orang-orang di sekelilingku. Mataku yang terasa berat membuatku hanya bisa menatap keluargaku dengan ruang penglihatan yang sempit.

            Suatu virus yang melanda negara kami membuat dokter dengan mudahnya memvonisku. Ruang isolasi adalah tempatku sekarang. Tidak lama setelah mereka memvonisku, tiba-tiba aku dipindahkan ke ruang radiologi. Tes darah aku lakukan.

            “Darah dari mbak Fitri buruk”

            Ketus sekali caranya berbicara. Apakah dia tidak bisa memperhalus kabar itu supaya keluargaku tidak langsung patah hati? Aku baru saja sadar telingaku kembali bisa mengenal berbagai kata dengan baik.

            Sebuah hasil selanjutnya akan datang. Aku pun menunggu hasil itu di ruang isolasi. Keluargaku yang terlihat berkeringat membuatku merasa kasihan tetapi aku tidak bisa berbuat apa-apa.

            UGD.

Aneka pertanyaan meluncur cepat dari mulut para tenaga medis itu.

            “Mbak pernah pendarahan sebelumnya?”

            Pendarahan? Belum sempat aku menjawabnya, aku langsung merasakan degup jantungku yang ketakutan terdengar.

            “Tidak, Sus.”

            Perawat itu terus memutar otaknya untuk melontarkan pertanyaan lain sebagai bukti-bukti tambahan yang ia kombinasikan dengan hasil dari dokter.

            “Mbak, lihat. Tangan mbak itu putih sekali berbeda dengan saya. Di tangan mbak tidak ada darah.”

            Aku membuka telapak tanganku yang sangat pucat. Aku membandingkannya dengan tangan perawat di sebelahku. Tangannya tampak sangat segar. Apa yang terjadi padaku?

            “Hb saudara Fitri hanya 2. Untuk perempuan, normalnya 14 sampai 16.”

            Apa? dua? Aku tak menyangka bahwa Hbku serendah itu. Tentu saja, ketidaknormalanku ini membuatku harus menginap di rumah sakit selama lima hari. Di hari pertama, aku divonis anemia akut dan bronkitis kronis. Hal itu karena aku batuk terus menerus. Dua kantung darah masuk ke dalam tubuhku lewat jarum suntik yang entah seberapa besarnya.

            Di hari kedua, aku hanya melakukan transfusi satu kantong darah saja. Di hari keempat, satu kantung trombosit kembali meluncur dan masuk ke dalam tubuhku. Di hari kelima, tubuhku sudah bersahabat dan aku bisa pulang dengan tenang.

            Kepulanganku ini mendapatkan sorakan dari keluargaku. Dibandingkan apapun, keluarga memanglah hadiah terbaik yang aku punya. Aku menghabiskan waktu bersenang-senang di rumah meskipun tubuhku terkadang masih saja terasa lemas. Akibat banyak suntikan yang melanda tanganku membuat tanganku memiliki banyak tatto bekas suntikan. Panggilan dari rumah sakit membuat degup jantungku ketakutan kembali.

            Benar saja. Dua hari setelah aku pulang dari rumah sakit, dokter kembali memanggilku untuk kontrol.

            Sesampainya di rumah sakit, aku diminta untuk berhadapan dengan mas-mas perawat yang akan membuat surat tentang penyakitku.

            “Mbak, sakit apa?”

            “Ndak tau wes, Mas”

            Kekesalanku pada penyakit yang tak kunjung pasti membuatku malas berpikir. Mas-mas perawat itu memberikanku surat yang kembali mengejutkanku.

            Leukimia akut.

            Ibu menangis kencang saat melihat hasil ini. Aku memeluk ibu dengan sedih. Di mana dewi fortuna yang aku banggakan selama ini? Mengapa di saat aku bertaruh nyawa dia tidak datang menyelamatkanku? Ibu yang tidak terima memaksaku untuk bertemu dengan dokter yang beberapa hari yang lalu merawatku.

            “Dok! Saya kira hasil ini salah. Bukankah anak saya menderita anemia?”

            “Anak Ibu menderita leukimia. Kami menyarankan anak Ibu untuk melakukan tes sum-sum di RS lain. Dengan tes sum-sum itu, Ibu dan anak Ibu akan tahu tentang penyakit yang anak Ibu derita.”

            Tes sum-sum? Apakah separah itu penyakitku sampai-sampai tidak ada pengobatan sederhana yang bisa aku terima? Ibu yang terus membantah pada dokter membuat perawat membawa kami ke luar dari ruangan dokter itu. Ibu terus memelukku dengan tangisan yang membasahi kedua pipinya.

            “Kamu pasti sembuh, Nak.”

            Itulah yang terus ke luar dari bibir ibu. Namun, meskipun kondisiku sekarang darurat aku tetap percaya bahwa aku akan sembuh.

            “Tidak! Kamu tidak perlu menuruti apa kata dokter! Aku tidak mengijinkanmu tes sum-sum!”

            Masku langsung saja menolak perkataan ibu yang sedang menjelaskan bahwa aku harus melakukan tes sum-sum di RS lain yang jauh dari rumahku.

            “Aku tahu pengobatan yang lebih aman. Kakakmu pernah menderita penyakit syaraf dan bisa sembuh setelah menjalani pengobatan herbal.”

            Pengobatan herbal? Entahlah, kali ini aku merasa lega setelah mendengar ada pengobatan alternatif lain yang bisa aku jalani selain tes sum-sum. Kami pun berangkat untuk menemui dokter yang bisa memberikanku pengobatan herbal. Aku berharap bahwa dewi fortuna bisa membuatku menjauh dari penyakit mematikan itu. Namun, hasilnya tetap sama saja.

            “Saudari Fitri memang terkena kanker darah, Bu, Mas.”

            Pupus sudah harapanku untuk menjauh dari penyakit itu. Segala kepasrahan dan kesabaran aku timbun hari demi hari. Tentu saja, pengobatan herbal adalah pengobatan yang aku pilih untuk memulihkan penyakitku. Dampak dari pengobatan herbal itu sungguh tidak pernah aku bayangkan. Tubuhku yang selalu lemas kini sudah bugar seperti seolah-olah aku tidak pernah sakit sebelumnya. Wajahku yang sudah berseri dan cantik membuat keluargaku terpaku menatapku. Fitri yang baru sudah terlahir kembali.

            “Bu, aku ingin tes sum-sum.”

            Keinginanku untuk ingin terlihat 100 % sembuh muncul dari lubuk hatiku. Tentu saja, perdebatan terjadi. Mereka takut jika daya tahan tubuhku terganggu karena tes itu dan mengakibatkanku drop lagi. Namun, aku percaya. Tuhan dan dewi fortuna tidak akan diam saja melihatku berjalan di atas batu-batu tajam ini setiap hari. Sepanjang-panjangnya malam pasti akan ada pagi.

            Kami pun berangkat. Segala ujud doa terdengar berbisik dari mulut seluruh keluargaku. Doa yang bisa aku tanam dalam hati hanya satu.

            Semoga aku bisa sehat dan bisa kembali berbakti pada orang tuaku.

            Suasana rumah sakit yang tidak lagi mengerikan membuatku percaya diri menjalani tes sum-sum. Aneka penjelasan mengenai tes sum-sum diberikan oleh dokter. Beruntungnya aku, dokter yang menanganiku cukup ramah. Hal itu membuat jantungku berdegup dengan bahagia.

            “Apakah sudah siap?”

            “Siap”

            Itulah terakhir kalinya aku berucap sebelum bius menguasai tubuhku.

            Mataku yang berat kupaksa terbuka. Wajah berseri keluargaku membuat senyuman lemas muncul di wajahku.

            “Untuk hasilnya, akan saya beri info lewat ponsel”

            Badanku yang sedikit lemas akibat obat bius membuatku tersenyum senang karena aku tidak mengalami masalah apapun selama operasi. Dokter terus memuji tubuhku yang memiliki ketahanan yang hebat. Semua pengobatan berjalan mulus karena kondisi tubuhku yang sangat sehat. Apakah ini kabar baik?

            Beberapa minggu kemudian, dokter memanggil kami untuk datang ke rumah sakit. Sesuatu yang mengejutkan terjadi di sana.

            “Kanker darah yang melanda Fitri tidak saya temukan lagi di tubuh Fitri, Bu, Pak, Mas. Dengan ini, saya putuskan bahwa Fitri sudah pulih”

            Suara tangisan dari keluargaku memenuhi ruangan di rumah sakit ini. Dokter yang terus memelukku dan mengucapkan selamat membuat hati ini semakin bahagia. Air mata kebahagiaan terurai rapi di pipiku.

            Apakah dewi fortuna yang melakukannya? Kini, aku benar-benar percaya bahwa sepanjang-panjangnya malam pasti akan ada pagi. Serumit-rumitnya masalah pasti akan ada solusi.

            Sepulangnya aku dari rumah sakit, si lelaki pujaanku berdiam diri di depan rumah sembari menatapku.

            “Kini, Fitri sudah terlahir baru. Di mana dia memiliki kecantikan yang tidak bisa diukur dari taraf dunia tetapi dari taraf hati. Aku yakin semua ini terjadi karena ketaatanmu berdoa setiap hari, Fit. Aku bangga padamu.”

            Sebuah bunga tulip putih ia berikan padaku. Aku benar-benar bahagia. Jembatan yang hampir membawaku masuk ke jurang kini menjadi jembatan yang membawaku menuju kebahagiaan. Ya.  Kebahagiaan yang tidak bisa diukur dari taraf dunia. Kebahagiaan ketika melihat keluargaku tidak menangis, perekonomian lancar, dan ketaatan mereka pada agamanya yang semakin kuat. Terima kasih, dewi fortuna.

            Aku tidak akan melupakan kejadian ini. Aku akan terus mengingat momen ini sebagai kekuatanku di saat aku jatuh di masa depan.

            “Fitri tidak panjang umur. Mbak Fitri sudah meninggal”

Semua hal indah yang diharapkan memang tak selamanya berakhir bahagia. Tentu saja, Fitri memang terlahir baru dan terlepas dari penyakitnya itu. Kini, Fitri tak lagi merasakan kesakitan yang ia derita selama ini. Entah, seberapa banyak waktu yang telah ia tempuh untuk melawan penyakit yang mencelakakannya ini. Semoga kamu bahagia di surga ya Fit. Semua sahabat, pacar, keluarga, dan teman-temanmu akan selalu menyayangimu dari bumi ini

           




Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.
Powered By Blogger