Entri Populer
My heart feel...
This is my feeling
“Ini semua berkat dewi fortuna” Begitulah tanggapanku setiap aku berhasil menyelesaikan aktivitas di kampus ataupun di manap...
“Ini
semua berkat dewi fortuna”
Begitulah tanggapanku setiap aku berhasil
menyelesaikan aktivitas di kampus ataupun di manapun aku berada. Mengapa aku
menyebut dewi fortuna? Karena semua hal yang dipikir tidak mungkin dapat
diselesaikan dengan mudah, tidak berlaku untukku. Aku bukanlah Fitri yang
memiliki kekuatan super ataupun keajaiban apapun. Namun, aku adalah Fitri,
orang biasa, yang selalu bersyukur akan keberuntungan yang menimpaku setiap
hari. Apa kamu pernah merasakan keberuntungan yang sama sepertiku? Aku harap
dewi fortuna juga mencintaimu sama seperti ia mencintaiku.
“Fit, malam ini kamu harus segera
membayar uang kos. Ibu kos sudah menagih tadi.”
Keuangan. Itulah salah satu
permasalahan paling mendasar dalam kehidupanku khususnya. Uang bagaikan
burung yang mudah sekali pergi lalu
datang sewaktu-waktu. Butuh banyak keringat yang ke luar untuk mendapatkan selembar
kertas yang terkadang membuat orang terlalu berpikiran duniawi itu. Namun, aku
akui. Uang memanglah segalanya.
“Baiklah”
Aku ke luar kos untuk memeriksa
saldo di rekeningku. Terakhir kali kuingat, aku menyisakan uang sebesar lima
puluh ribu di sana. Meskipun sedikit, setidaknya aku bisa terlihat memegang
uang saat ibu kos datang untuk menagihku.
Saat hendak memeriksa saldo,
tiba-tiba saja ponselku berbunyi. Aku mendiamkannya dan asik dengan
tombol-tombol angka yang ada pada mesin berbentuk kotak ini. Uang sebesar lima
juta rupiah terpampang nyata di layar berukuran besar di hadapanku ini.
“Uang dari mana?”
Setelah asik kebingungan dengan
pikiranku sendiri, aku langsung saja mengambil uang itu dan menyimpannya dengan
baik di dalam dompetku. Aku yang terus saja terkejut dengan hadirnya uang yang
datang secara tiba-tiba membuat teman-teman yang menyapaku tak kusapa dengan
baik. Aku teringat akan nada dering yang aku anggurin beberapa menit yang lalu.
Aku menatap ponsel dan melihat nama saudaraku terparkir di layar ponselku.
Aku ada rejeki. Tolong, kamu
terima ya. Semangat kuliahnya, Dek!
Misteri telah terpecahkan. Nyatanya,
uang itu datang dari saudaraku di Lumajang. Apakah dewi fortuna memberitahu
saudaraku bahwa aku sedang membutuhkan uang untuk membayar kos? Aku hanya
tersenyum sembari mengelus dadaku.
“Dewi fortuna.”
Kepadatan jadwal lesku membuat
tugasku terbengkalai. Aku baru saja menginjakkan kaki di kos pukul sebelas
malam. Parahnya, aku sama sekali belum menyentuh tugas yang diberikan dosen
beberapa hari yang lalu. Dengan berbekal nasi dan air putih, aku mengerjakan
tugasku dengan santai. Mataku siap untuk tidak tidur hari ini. Ponsel yang
terus berdering tak kuacuhkan. Tentu saja, ponsel itu berdering karena
munculnya pesan dari teman-temanku yang friendtok aja alias ada di saat
butuh saja. Saat ini, aku harus egois. Diriku lebih penting dari mereka. Dewi
fortuna kembali membantuku dengan memperlancar kinerja otakku terhadap tugas
yang aku kerjakan. Alhasil, tugasku selesai.
Motor yang aku ajukan cukup cepat
terpaksa aku lakukan karena melihat bahwa lima menit lagi kelas akan dimulai. Akibat
begadang, aku menjadi sangat kacau. Motor yang aku parkir sembarangan membuat
tukang parkir membantuku untuk merapikannya. Pintu kelas yang berisikan seluruh
teman dan dosen yang sedang berucap panjang lebar ada di hadapanku. Perlahan,
aku masuk sembari mengucapkan salam. Dosen itu hanya menatapku dan kembali
mengajar seperti semula. Dewi fortuna kembali menolongku.
“Kamu bukanlah orang yang pintar,
Fit. Namun, mengapa nilaimu bisa selalu stabil?”
“Ini semua karena dewi fortuna”
Apalagi yang bisa aku katakan?
Itulah kenyataannya.
Putus. Putus adalah salah satu
situasi yang sulit di mana kamu memaksakan sebuah perasaan yang hidup untuk
mati. Ya. Aku sedang berada di situasi itu sekarang. Seorang pria yang terlihat
sangat baik padaku ternyata bermuka dua. Dia bukanlah pria baik seperti yang
aku bayangkan. Pria yang senang menumbuhkan perasaan cinta di banyak wanita.
Itulah hobinya. Dewi fortuna tak diam dengan kejadian ini. Seorang pria yang
pintar dengan dunia photoshop hadir dalam hidupku. Ya. Aku bahagia
dengannya meskipun perbedaan umur kami lumayan jauh. Tentu saja, aku hanya
berdoa semoga kami bisa sampai ke titik pernikahan.
Itulah kisahku dengan dewi fortuna
yang selalu menolongku tak lekang oleh waktu. Sampai semuanya berubah karena
suatu penyakit yang melanda tubuhku…
Suasana kekeluargaan berhasil aku
rasakan setelah kepulanganku dari kota tempatku memperoleh ilmu. Suhu badan
yang kurang stabil membuat badanku lemas di waktu yang tak pernah aku duga.
Televisi yang sedang menemaniku tiba-tiba
terganggu karena tubuhku yang kesemutan. Saat aku ingin berbincang dengan
adikku, sesuatu hal yang mengejutkan terjadi.
“E..e..”
Aku tak bisa berbicara. Secara
tiba-tiba, aku lupa cara mengucapkan konsonan dengan baik. Tentu saja,
keluargaku langsung mengajakku ke rumah sakit. Suasana rumah sakit yang ramai
tak bisa aku dengar dengan baik. Suara nging yang mendominasi telingaku
membuatku tak bisa memahami perkataan orang-orang di sekelilingku. Mataku yang
terasa berat membuatku hanya bisa menatap keluargaku dengan ruang penglihatan
yang sempit.
Suatu virus yang melanda negara kami
membuat dokter dengan mudahnya memvonisku. Ruang isolasi adalah tempatku
sekarang. Tidak lama setelah mereka memvonisku, tiba-tiba aku dipindahkan ke
ruang radiologi. Tes darah aku lakukan.
“Darah dari mbak Fitri buruk”
Ketus sekali caranya berbicara. Apakah
dia tidak bisa memperhalus kabar itu supaya keluargaku tidak langsung patah
hati? Aku baru saja sadar telingaku kembali bisa mengenal berbagai kata dengan
baik.
Sebuah hasil selanjutnya akan
datang. Aku pun menunggu hasil itu di ruang isolasi. Keluargaku yang terlihat
berkeringat membuatku merasa kasihan tetapi aku tidak bisa berbuat apa-apa.
UGD.
Aneka
pertanyaan meluncur cepat dari mulut para tenaga medis itu.
“Mbak pernah pendarahan sebelumnya?”
Pendarahan? Belum sempat aku
menjawabnya, aku langsung merasakan degup jantungku yang ketakutan terdengar.
“Tidak, Sus.”
Perawat itu terus memutar otaknya
untuk melontarkan pertanyaan lain sebagai bukti-bukti tambahan yang ia
kombinasikan dengan hasil dari dokter.
“Mbak, lihat. Tangan mbak itu putih
sekali berbeda dengan saya. Di tangan mbak tidak ada darah.”
Aku membuka telapak tanganku yang
sangat pucat. Aku membandingkannya dengan tangan perawat di sebelahku. Tangannya
tampak sangat segar. Apa yang terjadi padaku?
“Hb saudara Fitri hanya 2. Untuk
perempuan, normalnya 14 sampai 16.”
Apa? dua? Aku tak menyangka bahwa
Hbku serendah itu. Tentu saja, ketidaknormalanku ini membuatku harus menginap
di rumah sakit selama lima hari. Di hari pertama, aku divonis anemia akut dan
bronkitis kronis. Hal itu karena aku batuk terus menerus. Dua kantung darah
masuk ke dalam tubuhku lewat jarum suntik yang entah seberapa besarnya.
Di hari kedua, aku hanya melakukan
transfusi satu kantong darah saja. Di hari keempat, satu kantung trombosit
kembali meluncur dan masuk ke dalam tubuhku. Di hari kelima, tubuhku sudah
bersahabat dan aku bisa pulang dengan tenang.
Kepulanganku ini mendapatkan sorakan
dari keluargaku. Dibandingkan apapun, keluarga memanglah hadiah terbaik yang
aku punya. Aku menghabiskan waktu bersenang-senang di rumah meskipun tubuhku
terkadang masih saja terasa lemas. Akibat banyak suntikan yang melanda tanganku
membuat tanganku memiliki banyak tatto bekas suntikan. Panggilan dari
rumah sakit membuat degup jantungku ketakutan kembali.
Benar saja. Dua hari setelah aku
pulang dari rumah sakit, dokter kembali memanggilku untuk kontrol.
Sesampainya di rumah sakit, aku
diminta untuk berhadapan dengan mas-mas perawat yang akan membuat surat tentang
penyakitku.
“Mbak, sakit apa?”
“Ndak tau wes, Mas”
Kekesalanku pada penyakit yang tak
kunjung pasti membuatku malas berpikir. Mas-mas perawat itu memberikanku surat
yang kembali mengejutkanku.
Leukimia akut.
Ibu menangis kencang saat melihat
hasil ini. Aku memeluk ibu dengan sedih. Di mana dewi fortuna yang aku
banggakan selama ini? Mengapa di saat aku bertaruh nyawa dia tidak datang
menyelamatkanku? Ibu yang tidak terima memaksaku untuk bertemu dengan dokter
yang beberapa hari yang lalu merawatku.
“Dok! Saya kira hasil ini salah. Bukankah
anak saya menderita anemia?”
“Anak Ibu menderita leukimia. Kami
menyarankan anak Ibu untuk melakukan tes sum-sum di RS lain. Dengan tes sum-sum
itu, Ibu dan anak Ibu akan tahu tentang penyakit yang anak Ibu derita.”
Tes sum-sum? Apakah separah itu
penyakitku sampai-sampai tidak ada pengobatan sederhana yang bisa aku terima? Ibu
yang terus membantah pada dokter membuat perawat membawa kami ke luar dari
ruangan dokter itu. Ibu terus memelukku dengan tangisan yang membasahi kedua
pipinya.
“Kamu pasti sembuh, Nak.”
Itulah yang terus ke luar dari bibir
ibu. Namun, meskipun kondisiku sekarang darurat aku tetap percaya bahwa aku
akan sembuh.
“Tidak! Kamu tidak perlu menuruti
apa kata dokter! Aku tidak mengijinkanmu tes sum-sum!”
Masku langsung saja menolak
perkataan ibu yang sedang menjelaskan bahwa aku harus melakukan tes sum-sum di
RS lain yang jauh dari rumahku.
“Aku tahu pengobatan yang lebih
aman. Kakakmu pernah menderita penyakit syaraf dan bisa sembuh setelah menjalani
pengobatan herbal.”
Pengobatan herbal? Entahlah, kali
ini aku merasa lega setelah mendengar ada pengobatan alternatif lain yang bisa
aku jalani selain tes sum-sum. Kami pun berangkat untuk menemui dokter yang
bisa memberikanku pengobatan herbal. Aku berharap bahwa dewi fortuna bisa
membuatku menjauh dari penyakit mematikan itu. Namun, hasilnya tetap sama saja.
“Saudari Fitri memang terkena kanker
darah, Bu, Mas.”
Pupus sudah harapanku untuk menjauh
dari penyakit itu. Segala kepasrahan dan kesabaran aku timbun hari demi hari. Tentu
saja, pengobatan herbal adalah pengobatan yang aku pilih untuk memulihkan
penyakitku. Dampak dari pengobatan herbal itu sungguh tidak pernah aku
bayangkan. Tubuhku yang selalu lemas kini sudah bugar seperti seolah-olah aku
tidak pernah sakit sebelumnya. Wajahku yang sudah berseri dan cantik membuat
keluargaku terpaku menatapku. Fitri yang baru sudah terlahir kembali.
“Bu, aku ingin tes sum-sum.”
Keinginanku untuk ingin terlihat 100
% sembuh muncul dari lubuk hatiku. Tentu saja, perdebatan terjadi. Mereka takut
jika daya tahan tubuhku terganggu karena tes itu dan mengakibatkanku drop lagi.
Namun, aku percaya. Tuhan dan dewi fortuna tidak akan diam saja melihatku
berjalan di atas batu-batu tajam ini setiap hari. Sepanjang-panjangnya malam
pasti akan ada pagi.
Kami pun berangkat. Segala ujud doa
terdengar berbisik dari mulut seluruh keluargaku. Doa yang bisa aku tanam dalam
hati hanya satu.
Semoga aku bisa sehat dan bisa kembali
berbakti pada orang tuaku.
Suasana rumah sakit yang tidak lagi
mengerikan membuatku percaya diri menjalani tes sum-sum. Aneka penjelasan
mengenai tes sum-sum diberikan oleh dokter. Beruntungnya aku, dokter yang
menanganiku cukup ramah. Hal itu membuat jantungku berdegup dengan bahagia.
“Apakah sudah siap?”
“Siap”
Itulah terakhir kalinya aku berucap
sebelum bius menguasai tubuhku.
Mataku yang berat kupaksa terbuka. Wajah
berseri keluargaku membuat senyuman lemas muncul di wajahku.
“Untuk hasilnya, akan saya beri info
lewat ponsel”
Badanku yang sedikit lemas akibat obat
bius membuatku tersenyum senang karena aku tidak mengalami masalah apapun
selama operasi. Dokter terus memuji tubuhku yang memiliki ketahanan yang hebat.
Semua pengobatan berjalan mulus karena kondisi tubuhku yang sangat sehat. Apakah
ini kabar baik?
Beberapa minggu kemudian, dokter
memanggil kami untuk datang ke rumah sakit. Sesuatu yang mengejutkan terjadi di
sana.
“Kanker darah yang melanda Fitri
tidak saya temukan lagi di tubuh Fitri, Bu, Pak, Mas. Dengan ini, saya putuskan
bahwa Fitri sudah pulih”
Suara tangisan dari keluargaku
memenuhi ruangan di rumah sakit ini. Dokter yang terus memelukku dan
mengucapkan selamat membuat hati ini semakin bahagia. Air mata kebahagiaan
terurai rapi di pipiku.
Apakah dewi fortuna yang
melakukannya? Kini, aku benar-benar percaya bahwa sepanjang-panjangnya malam
pasti akan ada pagi. Serumit-rumitnya masalah pasti akan ada solusi.
Sepulangnya aku dari rumah sakit, si
lelaki pujaanku berdiam diri di depan rumah sembari menatapku.
“Kini, Fitri sudah terlahir baru. Di
mana dia memiliki kecantikan yang tidak bisa diukur dari taraf dunia tetapi
dari taraf hati. Aku yakin semua ini terjadi karena ketaatanmu berdoa setiap
hari, Fit. Aku bangga padamu.”
Sebuah bunga tulip putih ia berikan
padaku. Aku benar-benar bahagia. Jembatan yang hampir membawaku masuk ke jurang
kini menjadi jembatan yang membawaku menuju kebahagiaan. Ya. Kebahagiaan yang tidak bisa diukur dari taraf
dunia. Kebahagiaan ketika melihat keluargaku tidak menangis, perekonomian
lancar, dan ketaatan mereka pada agamanya yang semakin kuat. Terima kasih, dewi
fortuna.
Aku tidak akan melupakan kejadian
ini. Aku akan terus mengingat momen ini sebagai kekuatanku di saat aku jatuh di
masa depan.
“Fitri tidak panjang umur. Mbak
Fitri sudah meninggal”
Semua hal indah yang diharapkan memang tak selamanya berakhir bahagia. Tentu saja, Fitri memang terlahir baru dan terlepas dari penyakitnya itu. Kini, Fitri tak lagi merasakan kesakitan yang ia derita selama ini. Entah, seberapa banyak waktu yang telah ia tempuh untuk melawan penyakit yang mencelakakannya ini. Semoga kamu bahagia di surga ya Fit. Semua sahabat, pacar, keluarga, dan teman-temanmu akan selalu menyayangimu dari bumi ini