published on spotify : berjelajah dalam karya Cerita ini merupakan kombinasi dari cerita pendek yang berjudul 'Penulis', 'Pahit...

Jodoh

/
0 Comments

published on spotify : berjelajah dalam karya

Cerita ini merupakan kombinasi dari cerita pendek yang berjudul 'Penulis', 'Pahit' dan 'Kesempatan' yang dikombinasi menjadi satu cerita utuh yang dipersingkat. 


            “Apa maksud semua ini, Re?” tanya Devan dengan terkejut.

            “Aku harus memilih antara kamu atau orang tuaku.” jawabku membuat Devan mulai mengerti dengan permasalahan yang aku alami ini.

            “Oke. Apapun pilihanmu aku akan tetap menjadi support systemmu. Aku minta jangan pernah salahkan orang tuamu dalam semua ini. Begitu pula, jangan salahkan kedekatanmu dengan Septian.” ucap Devan sembari menatapku dengan sungguh-sungguh.

            Percakapan kami pun berakhir. Wajah sedih berhasil disembunyikan olehnya. Namun, aku tetap bisa menatap matanya yang terlihat berusaha sekuat mungkin untuk menegarkan hati.

***

“Re? Bagaimana keputusanmu?”

            Aku melihat ibu yang tiba-tiba saja menghampiriku.

            “Kenapa diam?” bantah Ibu saat menyadari bahwa pertanyaannya aku abaikan.

            “Aku akan segera mengambil keputusan, Bu. Tapi, tidak sekarang.” balasku dengan mata yang bergerak panik.

            Ibu pun mengerti dan segera meninggalkanku.

            Tok..tok..

            “Buka pintunya, Re!” perintah Ibu membuatku langsung melangkah menuju pintu keluar.

            Aku membuka pintu itu. Tak lama setelahnya, aku melihat kakak sepupuku langsung menyodorkan setangkai bunga chrysanthemum padaku. Aku tersenyum dan menerimanya dengan wajah ramah.

            “Maaf jika semua ini terasa terlalu cepat.” ucap Septian sembari perlahan duduk di teras rumahku.

            Aku hanya diam dan tertawa kecil.

            “Apa kamu baik-baik saja?” tanya Septian yang terlihat khawatir dengan keadaanku.

            “Jangan tanyakan hal itu di saat seperti ini.” bantahku membuatnya membisu.

            “Ayo kita main playstation.” ajak Septian membuatku mendadak good mood.

            Aku mempersilakannya masuk dan langsung mempersiapkan segala perlengkapan games yang aku punya.

Di tengah kami bermain playstation, Ibu menyuguhkan kami minuman hangat dan beberapa cemilan gurih, manis, dan pedas. Karena terlalu asik bermain bersama, aku lupa dengan perjodohan itu. Aku bercanda tawa seperti tidak terjadi apa-apa. Begitu pula Septian. Dia terlihat lebih santai dan heboh dari biasanya.

            Kami pun mulai bermain. Memang dewi fortuna kali ini berpihak padaku. Dua kali aku berhasil mengalahkan Septian. Kini, Septian kesal sembari menyantap beberapa camilan yang diberi Ibu. Aku tertawa sembari mengejeknya lagi.

            “Dek, aku pulang dulu ya.” ucap Septian sembari beranjak dan melihat jam sudah menunjukkan pukul dua belas siang.

            Aku mengangguk.

            “Maaf ya. Mas hanya bisa memberi bunga. Semua keuangan sudah mas berikan ke ibu untuk perjodohan kita.” ucap Septian membuatku terkejut dan kembali mengingat masalah itu.

            “Tidak apa-apa, Mas. Ini sudah cukup.” balasku membuat Septian pergi dengan motornya.

            Aku pun menutup pintu rumahku dan langsung berbaring di kamarku. Saat sedang asik bermain ponsel, aku tiba-tiba memiliki keinginan untuk membuka album fotoku. Sedari kecil, aku dan Septian memang sangat dekat. Saat aku memiliki masalah, aku selalu bertukar cerita dengannya. Meskipun aku tahu dia sedang ada masalah, aku tetap saja memaksanya untuk mendengarkan curhatanku. Meskipun demikian, Septian tidak menampilkan kekesalannya dan terus bersikap sabar padaku. Dia lulusan kedokteran di salah satu universitas ternama di Indonesia. Tidak. Bukan itu. Dia adalah kakak yang sangat baik bagiku. Namun, mengapa pada akhirnya ia akan menjadi calon suamiku?

            Kring..kring..

            Aku terkejut sembari langsung membuka ponselku. Devan. Dia meneleponku.

            “Re? Kamu mau pergi makan denganku nanti malam?”

            “Boleh.”

            Aku langsung menutup ponsel dan melihat ke arah jam yang masih menunjukkan pukul satu siang. Sembari menunggu, aku pun beristirahat selama tiga  jam tanpa terbangun.

            “Re? Devan ada di depan. Ayo bangun.” ucap Ibu membuatku langsung terbangun begitu saja dan bersih diri dengan cepat.

            Setelah siap, aku berjalan menuju ruang tamu dan menampilkan senyum senduku pada Devan.

            “Ayo berangkat.” ajaknya sembari mempersilakanku berjalan di depannya.

            Aku mengangguk. Aku pun langsung menaiki motornya dan menikmati perjalanan terakhirku dengan Devan.

            “Bagaimana kabarmu?” tanya Devan membuatku tersenyum.

            “Baik.” balasku.

            “Aku akan mengajakmu ke restoran mahal favoritku. Semoga kamu suka ya.” ucap Devan dengan bahagia.

            Aku tersenyum dan sesekali menunduk.

Sesampainya di restoran, aku terkesima dengan penampilan gedungnya. Begitu romantis dan klasik. Tidak sedikit orang menikmati santapan mereka di gedung ini. Ramainya pengunjung, membuat aku dan Devan kesulitan mencari tempat duduk. Beruntungnya, tidak jauh dari pandangan kami, kami menemukan tempat duduk yang masih kosong.

            “Kamu tidak apa-apa, Re?” ucap Devan setelah memesankan makanan untuk kami.

            “Van. Aku ingin berbicara soal perjodohanku waktu itu.” ucapku membuat Devan menatapku dengan serius.

            “Ah! Ya. Gimana?” balasnya dengan antusias.

            “Aku memilih orang tuaku, Van.” ucapku membuat Devan perlahan melotot dan kembali normal seperti sedia kala.

            “Aku menerima keputusanmu, Re. Meskipun sejujurnya, itu adalah hal yang aku takutkan selama ini.” ucap Devan dengan matanya yang tiba-tiba berkaca-kaca.

            Aku terdiam dan menyantap makananku dengan sangat lambat.

            “Re. Lihat aku. Kamu ingat kan? Aku pernah berkata apa padamu? Aku akan menghargai segala keputusanmu. Jadi, jika kamu memilih orang tuamu, aku akan menerimanya. Aku yakin itu adalah kebahagiaanmu.” ucap Devan sembari sesekali meminum minumannya.

            Aku terus menatap makananku dan enggan melihat wajahnya.

            “Re. Apa hadiah yang selalu aku berikan padamu?”

            “Mm. Bunga?”

            “Bukan.”

            “Lalu, apa?”

            “Perasaan. Apa aku benar?”

            Aku terdiam seakan ingin menangis. Namun, aku tetap bersikukuh untuk menyantap makanan yang ada di hadapanku saat ini.

            “Bagiku, hadiah yang selalu kamu berikan padaku adalah perasaanmu. Bagaimana bisa aku langsung membencimu karena kali ini kamu memberikan hadiah yang pahit? Perasaanku tidak main-main, Re. Tidak semudah itu aku membencimu karena kepahitan yang sesaat ini. Kamu pernah minum obat, Kan? Apakah kepahitan itu terus bersinggah di lidahmu selamanya?” tanya Devan membuatku langsung menggeleng. 

            “Kepahitan ini akan segera tergantikan oleh kebahagiaan, Re. Kebahagiaan untukmu dan aku. Meskipun sudah tidak sejalan, apa salah jika aku menyebutmu sahabat?” lanjut Devan membuatku perlahan menitikkan air mata.

            “Aku akan selalu mendukungmu bersama kakak sepupumu itu. Segala doa yang terbaik akan kurangkai dalam doaku untuk kami.” ucap Devan membuatku langsung menggenggam tangannya.

            Aku benar-benar beruntung pernah memiliki lelaki sebaik Devan. Malam pun sudah tiba, Devan mengantarku pulang dengan wajahnya yang sendu.

            “Terima kasih ya. Semoga kamu bahagia.” ucap Devan yang tidak mau membuka kaca helmnya dan pergi.

            “Aku terima perjodohan ini, Bu.”

***

      Aku pun segera membuka mata sembari melihat betapa berbedanya aku hari ini. Pakaian serba putih dengan berbagai aksesoris yang menghiasi jilbabku membuatku kembali tidak percaya pada momen ini.

            “Aduh!” ucap seseorang dari balik jendela.

            Aku pun terkejut melihat suara seorang lelaki yang tidak jauh dari ruanganku. Aku yang merasa penasaran memutuskan untuk keluar dan memeriksa sekitar.

            “Aduh! Sakit..sakit!” keluh seseorang yang terlihat sangat kesakitan.

            Aku yang masih saja berada di depan rumah membuat lelaki itu pada akhirnya berbalik badan.

            “Devan? Kamu sedang apa?” tanyaku membuat Devan terlihat kebingungan.

            “Nggak papa.” ucap Devan sembari mengusap matanya yang berair.

            Apakah Devan menangis?

            “Masuk sana. Acara mau dimulai kan?” ucap Devan sembari mempersilakanku masuk ke rumah.

            “Kamu tidak apa-apa, Van?” tanyaku membuat Devan tersenyum dan langsung berbalik badan.

            “Udah sana.” ucap Devan membuatku menurut dan memasuki rumah.

            Septian sudah terlihat siap dengan jas hitam yang membuatnya semakin tampan. Aku tersenyum melihatnya yang terus menatapku tanpa berkedip.

            “Eh, tadi kamu melihat Devan di luar?” tanya Septian membuatku terkejut.

            “Kamu mengundang Devan?” tanyaku membuat Septian mengangguk dan beranjak untuk pergi ke teras.

            Aku tidak menyangka. Septian memberikan tempat duduk untuk Devan tepat di samping kananku. Apakah dia sadar bahwa perlakuannya ini bisa membuat Devan sakit hati?

“Sah!”

            Tibanya aku di penghujung acara. Ibaratkan seekor kupu-kupu aku bukanlah Rere yang masih saja berada di dalam kepompong. Namun, kini aku menjadi seekor kupu-kupu yang memiliki dua sayap dan bersiap untuk menjelajahi dunia dengan dua sayap itu. Ya. Dua sayap itu adalah aku dan Septian.

            Septian terlihat sangat bahagia dan terus tersenyum padaku. Namun, hal itu tentu berbeda dengan Devan. Sepanjang acara, Devan sibuk menunduk ataupun bermain ponsel. Aku tahu ini adalah situasi yang sulit untuknya.

            “Dev! Ayo foto bersama!” teriak Septian membuatku langsung menarik tangannya.

            “Septian tolong jangan berlebihan! Kamu tahu kan bagaimana perasaan Devan?” protesku membuat Devan membantahku.

            “Tidak kok, Re. Aku senang hati melakukannya.” ucap Devan sembari langsung berdiri di sampingku dan bersiap untuk berfoto.

            Betapa kuatnya lelaki itu meskipun aku sudah menyakitinya berulang kali.

            “Dev! Apa kamu mau membantuku untuk menjadi fotografer selama resepsi? Temanku berhalangan hadir.” ucap Septian membuatku menarik tangannya lagi.

            “Septian! Minta tolonglah ke orang lain jangan Devan.” ucapku membuat Devan kembali membantahku.

            “Mas. Apa aku boleh berbicara dengan Rere sebentar?” tanya Devan yang tiba-tiba saja melirik ke arahku dengan garang.

            “Tentu saja.” ucap Septian membiarkanku pergi dengan Devan.

            Kami pun memilih taman untuk tempat kami bercengkerama. Devan terus menatapku dengan jengkel tanpa berucap apa-apa.

“Kamu kenapa sih, Re?” protesnya membuatku terkejut.

            “Aku?”

            “Kamu masih meragukan keikhlasanku terhadap hubunganmu dengan Septian?” protes Devan sembari memperlihatkan wajah penuh amarahnya.

            “Bukan seperti itu, Dev. Aku hanya saja tidak tega jika kamu harus melihat kebersamaanku dengan Septian terus-menerus.” ucapku membuat Devan menghela napasnya.

            “Aku paham maksud baikmu, Re. Tapi tolong. Jangan pedulikan perasaanku ini. Aku sekarang adalah temanmu bukan pacarmu atau bahkan pasanganmu. Biarkan aku menikmati momen ini meskipun aku tersakiti. Apakah kamu bisa membantuku untuk itu?” ucap Devan dengan mata yang tiba-tiba berkaca-kaca.

            Aku pun langsung mengangguk dan membiarkan Devan melakukan apa yang diminta oleh Septian.  Selama resepsi, banyak sekali teman-temanku yang datang. Semua terkejut karena pernikahanku yang secepat ini.

Beberapa dari mereka juga mengajakku bermain tik tok. Melihat tingkahku yang konyol, membuat Septian dan Devan hanya bisa tertawa terpingkal-pingkal. Tak terasa hari semakin gelap. Tamu yang datang pun semakin banyak. Kakiku yang mulai pegal membuatku dan Septian memilih untuk tetap duduk.

            “Dev!” panggil Septian membuat Devan mendekati kami.

            “Makasih ya sudah membantuku dan Rere. Apakah kamu senang?” ucap Septian membuatku mengerutkan keningku.

            “Senang sekali, Mas. Terima kasih atas kesempatan ini.” balas Devan dengan wajah yang sangat bahagia.

            “Dengar, Dev. Meskipun aku menikah dengan Rere, kamu boleh menemuinya sesukamu. Aku tahu Rere adalah teman spesialmu kan? Aku tidak akan melarang hubungan persahabatan kalian.” ucap Septian membuatku kembali membisu.

            “Terima kasih, Mas. Kalau begitu aku pergi dulu.” ucap Devan sembari menyalami Septian dan juga aku.

            Aku tersenyum ke arahnya.

            “Jadilah perempuan yang baik untuk suamimu ya. Septian adalah lelaki yang baik buatmu.” bisik Devan membuatku tersenyum.

            “Terima kasih, Dev. Aku berharap kamu akan selalu bahagia.” ucapku membuat Devan tersenyum dan meninggalkan kami.

***

Keikhlasan terkadang tak mampu datang dengan mudah. Jalan penuh liku dan bebatuan yang tajam tak jarang membuat perasaan itu berubah menjadi perasaan yang menyakitkan. Namun, kamu harus percaya. Seseorang yang berani untuk ikhlas adalah orang yang siap untuk bahagia.

 




Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.
Powered By Blogger