Entri Populer
My heart feel...
This is my feeling
published on spotify : Berjelajah dalam Karya "Gila! Tina cantik banget!" "Deketin, Mar! Kalian c...
"Gila! Tina cantik
banget!"
"Deketin, Mar!
Kalian cocok kok!"
Suara gaduh yang
terdengar membuatku menatap seorang lelaki yang memamerkan wajahnya yang merah
padam itu. Aku tersenyum dan melangkahkan kaki mendekat. Wajah yang semakin memerah
layaknya bunga mawar kini membuat tawa merekah di wajahku.
"Mengapa kamu
bisa semalu ini?"
"Huh.
Kamu terlalu cantik sih."
Tentu saja aku
langsung terperangah seakan-akan terbang ke angkasa yang tak berujung.
Laki-laki yang mampu menarik ekor mataku sejak awal bertemulah yang sekarang
berada di depanku dan memujiku.
Kegiatan sosial
yang menghiasi hari-hariku selama pengurungan sejuta umat di kediaman
mereka ini tak mampu membuatku gelisah dan mengeluh. Wajah manisnya tetap saja menyita
pikiran dan mataku. Meskipun, aku sudah berusaha untuk tidak mengacuhkannya.
Tentu saja, kedekatan
kami yang semakin dekat membuatku semakin jatuh hati padanya. Begitu pula
dengannya.
"Aku
mengantuk. Aku akan menghubungimu jika ada sesuatu yang terjadi padamu."
"Apakah kamu
hanya hadir ketika aku ada masalah?"
"Ya. Itu aku
lakukan agar aku bisa membantumu."
"Kamu tidak
perlu membantuku setiap saat. Aku sudah cukup senang menerima kabarmu. Berilah
kabar padaku saja. Itu sudah lebih dari cukup."
Ya. Kedekatan kami tak
berbuah baik. Kabar yang tak pernah tersiarkan dan terus pergi bagai kertas
yang tertiup angin kini terjadi pada hubunganki. Kegelisahanku ini
membuat tanganku mengetik cepat nama Callisa, sahabatku, dan langsung saja
meneleponnya.
“Apa yang terjadi padamu dan Markus?
Semua baik-baik saja kan?”
Saking rutinnya aku memberinya kabar
tentang hubunganku kini membuat Callisa sampai-sampai langsung mengetahui
tujuanku untuk menghubunginya.
“Dia lagi-lagi hilang kabar, Lis.
Dia bilang bahwa dia akan menghubungiku jika aku memiliki masalah. Namun, akankah
tetap ia terus seperti ini?”
“Aku baru saja bertemu dengannya. Dia
memang sangat jarang memegang ponselnya saat ia bersama teman-temannya. Ya, sepertimu. Ketika kamu sedang asik berbicara dan bersenang-senang dengan
teman-temanmu, kamu tidak akan fokus pada ponselmu saja kan?”
“Hmm. Benar juga.”
“Dia mengatakan bahwa dia hanya
memberi kabar di saat keadaanmu bahaya saja karena ia ingin memposisikan dirinya
sebagai pelindungmu. Ya. Ingatlah saja. Dia kan memang berada di bawahmu. Jadi,
tidak semua hal yang kamu pikirkan bisa ia terima karena perbedaan umurmu itu. Dengan
adanya perbedaan umur kalian, pasti ada juga perbedaan persepsi dan pikiran.”
“Kamu benar. Huh! Terima kasih,
Lis.”
Penanaman lahan di
pekarangan warga yang kami lakukan secara rutin membuatku semakin memiliki
banyak waktu untuk menatapnya dari kejauhan.
"Kenapa kamu
menatapku seperti itu? Kamu suka ya?"
"Ya.
Begitulah."
"Setelah ini,
aku ingin mengajakmu ke rumahku. Kamu mengerti kan sebuah hubungan akan
baik jika ada restu dari orang tua?"
"Aku tahu. Aku
mau!"
Matahari yang
perlahan terbenam membuat semua kegiatan terhentikan. Tatapan ajakan dari wajah
manisnya itu membuat langkahku bersemangat. Orang tuanya yang terlihat bahagia
melihatku membuatku semakin yakin pada Markus.
“Orang tuamu terlihat sangat bahagia
saat bertemu denganku. Apa aku benar?”
“He-he”
"Mar, kamu
harus datang ke rumahku besok"
"Kini, kamu
ingin memperkenalkanku pada orang tuamu juga?"
"Tentu saja."
"Baiklah. Aku
besok lusa akan datang bersama Christo."
Kepergiannya
membuatku sangat berbahagia. Aku segera menyiapkan segala sesuatu untuk
pertemuanku di hari esok.
Pagi yang aku harap
berlalu dengan cepat kini benar-benar terwujud. Wajah manisnya kini muncul di
balik pintu. Aku sesegera mungkin mempertemukan mereka dengan ibuku. Namun, suasana
yang mencekam terjadi di antara aku dan Ibu.
"Siapa
dia?"
"Ini teman spesialku,
Bu. Namanya Markus."
"Hmm.
Ibu tidak suka."
"Mengapa
Bu?"
"Jangan
biarkan dia kemari lagi!"
"Ibu tidak
berhak berkata seperti itu. Ibu baru menemuinya hari ini kan?"
"Lihat saja
penampilannya. Sama sekali tidak mencerminkan anak yang baik"
"Bu. Jangan
lihat dia dari penampilannya!"
"Sudah. Ibu
tidak mau berdebat lagi. Jika kamu ingin berteman dengannya tidak mengapa.
Namun, jika kamu ingin menjalin hubungan serius dengannya, ibu tidak akan diam."
Aku sungguh kesal pada
sikap ibu. Perdebatan panjang membuat Markus dan Christo memilih untuk bertukar
cerita di teras. Minuman aku suguhkan manis. Aku beruntung mereka tidak
membicarakan apapun soal pertengkaranku dan ibu.
Malam yang panjang
membuatku tak merasakan bahwa mereka sudah harus pulang.
“Tin, aku ingin mundur.”
“Mengapa?”
“Aku dengar pertengkaranmu
dengan ibumu. Aku tidak berani menyangkal orang tua. Jika orang tua melarang,
pasti ada alasan logisnya kan?”
“Jangan mudah menyerah,
Mar! Aku di sini juga memperjuangkanmu kok.”
“Argh! Sudahlah.
Aku tidak bisa menyangkal jika ini semua tidak direstui oleh orang tuamu.”
Lagi-lagi ia hilang
kabar. Aku sangat kesal sembari panik dengan perubahan pikirannya yang sangat
cepat seperti ini. Ia memang pandai berpura-pura baik-baik saja di hadapanku.
Namun, saat sudah mengirim pesan ia bertingkah sangat aneh seperti ini.
Aku kembali menemuinya
untuk kegiatan penamaman bibit di pekarangan warga. Wajahnya yang lesu
tiba-tiba saja tersenyum sembari mendekatiku.
“Maafkan kecerobohanku.
Aku tidak ingin semua ini terlambat. Aku tarik semua perkataanku kemarin. Apa kamu mau
kembali lagi padaku?”
“Huh! Aku sangat
lega. Terima kasih, Mar. Aku mau.”
Sejak saat itu, hubunganku
kembali hangat. Perlahan namun pasti kehangatan itu membuatku bisa bertahan berminggu-minggu
dengannya.
Saat kembali
menanam di pemukiman warga, Markus bertingkah aneh. Wajah cueknya terlukis di
wajahnya. Aku gelisah.
"Markus kamu
kenapa?"
Tidak ada balasan
pesan darinya.
"Ceritakanlah
semuanya padaku. Aku akan mendengarkanmu"
Tidak ada balasan.
“Maaf aku tadi
sedang menelepon mantanku.”
Apa! Apa yang dia lakukan? Keringat mengucur deras
dari pelipisku. Aku langsung saja mengirimnya banyak pesan. Namun, ia memilih
untuk meneleponku. Saat aku menerima teleponnya ia langsung mematikannya.
“Aku kan sudah jujur. Mengapa kamu marah-marah seperti itu? Sudahlah. Aku
lelah denganmu!”
Aku sangat
bingung dengan perkataannya. Tuturan yang kubuat selembut mungkin tak
membuatnya mengerti bahwa aku tidak sedang marah dengannya. Aku benar-benar pusing tujuh
keliling. Bagaimana bisa dia melakukan itu di saat kami sedang menjalani
hubungan. Bukankah dia yang bilang bahwa dia akan kembali padaku karena takut
semua akan terlambat?
Pertemuan
yang awalnya sangat akrab dengan waktuku kini tidak lagi. Sangat sulit aku
menemuinya. Ditambah ketika organisasiku dibubarkan sementara. Pekerjaan yang
menyibukkannya membuatku sukar untuk menjumpainya. Ponsel yang menjadi andalanku
untuk menunggu kabarnya juga tidak tersiarkan dengan baik karena kesibukannya itu dan prioritasnya terhadap teman-temannya itu dibandingkan aku.
Saat kesal dengan
tingkahnya yang tidak ada kabar, aku terkejut mendengar notifikasi terdengar
lirih dari ponselku.
"Aku ingin
kita berhenti cukup sampai di sini."
Aku tercengang.
Sesaat ketika ingin membalasnya kembali, ia sama sekali tidak memberikanku
kesempatan untuk mengirimnya pesan.
Pagi pun kembali
terlukis di bentangan langit semesta. Markas yang menjadikannya enggan untuk
pulang kini kudatangi.
"Markus. Apa
yang terjadi padamu? Aku tidak ingin kamu berkata seperti itu."
"Aku tidak mau
hubungan ini berlanjut. Ini semua karena orang tuaku tidak merestui hubungan
ini."
"Mengapa baru
sekarang? Mengapa baru sekarang kamu mengatakannya? Selama berhari-hari kamu memilih diam dan memendam
semua ini. Apa yang kamu lakukan?"
Kekesalanku membuat
tanganku memukul lengannya. Tak pernah kusangka ternyata pukulanku itu membuatnya
hampir terjatuh.
"Berhentilah
memukulku!"
Pukulan keras
tiba-tiba saja mengejutkanku. Wajah damainya kini menjadi sangat mengerikan.
"Aku ingin
kita tidak lagi sedekat ini dan berjalan seperti biasa. Paham! Terserah kamu
ingin menceritakan ini pada siapa! Aku tidak peduli! Berhentilah mengenalku
lagi. Pergi!"
Tangisan pecah
menetes di ekor mataku. Laki-laki. yang aku banggakan kini malah menyakitiku.
Suara telepon terdengar membisingkan telingaku. Seorang sahabatku mengajakku
untuk bertemu. Aku langsung saja beranjak dan menemuinya.
Semua cerita yang
aku alami aku limpahkan padanya. Setelah berkata demikian, Calissa tersenyum
padaku.
"Mengapa semua
lelaki selalu menyakitiku! Apa salahku, Lis?"
"Kamu percaya
nggak? Tidak semua lelaki melakukan kebodohan untuk menyakiti wanitanya karena
nafsu. Bisa jadi, mereka melakukan itu karena mereka terluka."
Aku menatapnya
dengan kebingungan.
"Mungkin saja
ada beberapa kesalahan yang membuatnya sakit hati dan melepaskanmu. Tentu ini
bukan hanya karena kamu memergokinya menelepon mantannya. Namun, adakah tingkah
lakumu yang mungkin terkesan mengikut campuri semua yang ia miliki? Entah itu
keluarga, teman, dan sahabatnya? Mungkin, dengan menyimpan nomor-nomor mereka
atau kurang menerapkan tindak tutur yang baik pada orang tuanya?"
Aku bingung dengan
perkataannya.
"Ingat Tin.
Sebesar apapun rasa sayangmu pada pasanganmu. Jangan sampai kamu terlalu
melebih batasanmu ya. Tentu saja. Kamu dan dia masih memiliki privasi
masing-masing. Di mana tidak semua hal bisa kamu ambil darinya. Mungkin dengan
menyimpan nomor kontak semua kerabatnya itu menurutmu baik. Namun, itu akan
menjadi masalah jika nyatanya itu sangat menganggunya."
"Bagaimana
kamu tahu? Aku memang menyimpan kontak mereka supaya aku mengenal siapa
keluarga dan teman-temannya. Semua itu hanya sebatas itu kok.
"Aku tahu,
Tin. Kamu tahu nggak ada sepatah kata bijak tentang kebaikan? Apa yang kamu anggap
baik tidak tentu akan dianggap baik pula oleh orang lain. Kamu tidak bisa menyamaratakan
niat baikmu itu dengan tanggapan orang menanggapi niatmu dengan baik. Itulah pentingnya
memahami persepsi lain dari suatu hal."
"Aku mengerti.
Mungkin, tingkahku itu bukan hanya mengganggu Markus. Namun, juga mengganggu
keluarga dan teman-temannya."
“Sudahlah. Berhenti menyalahkan
dirimu sendiri. Aku yakin dengan kejadian ini kamu bisa memperbaiki semuanya.
Namun, jangan sampai kamu jatuh ke lubang yang sama ya!”
“Terima kasih, Lis. Kamu memang
benar-benar baik.”
Kebahagiaan terukir
dalam hatiku dan Markus. Mungkin, inilah pintu yang harus aku buka. Di mana aku
harus bisa merenungi semua hal yang aku lakukan demi menjadi Tina yang lebih
baik lagi. Aku mengakui semua kesalahan itu dan tidak lagi memaksa orang lain
untuk menganggap niatku baik. Niat baik yang aku pikirkan bisa menguntungkan
mereka tidak menutup kemungkinan jika malah membuat mereka risih dan tersakiti. Apapun niat
baik yang ingin kamu lakukan tetaplah terbuka dengan segala resiko. Tidak hanya
kejahatan saja yang memiliki resiko kebaikan pun juga memilikinya. Berhati-hatilah
dalam bertindak sebelum seseorang kelak akan tersakiti karena tindakanmu itu.