published on spotify : Berjelajah dalam Karya                “Ya! Ayo nanti makan di warung biasa!"             “Ayo...

Sampai Jumpa Kapan-kapan

/
0 Comments

            

published on spotify : Berjelajah dalam Karya

            “Ya! Ayo nanti makan di warung biasa!"
            “Ayo" 
            “Kenapa lemes, Ya? Gak kayak biasanya?" 
            “Ntar aku ceritain di sana aja, Jay."
            Ajay mengangguk. Kami pun berpamitan dengan teman-teman kami yang sedang asik menuai cerita satu sama lain sebelum kelulusan tiba. Setelah berpamitan, Ajay langsung saja mengajakku mendekati motornya dan wushh.
            Di dalam perjalanan, seperti biasa, Ajay banyak bercerita tentang kekonyolan-kekonyolan yang ia lihat sepanjang hari ini. Namun, tawa bahkan sangat sukar aku perdengarkan untuknya. Entahlah. Aku merasa seperti ada batu yang menghimpit kerongkonganku untuk berbicara apapun padanya. Kertas yang terus aku ingat. Ya. Kertas itulah yang menyebabkan aku membisu seperti ini. 
            “Hey, Ya. Kamu kenapa sih! Kesel aku kalau diem diem bae" 
            “Sabar aja sih! Nanti juga bakal tau kan." 
            Eh btw. Warungnya kan masih jauh kamu gak mau apa ngomong apa gitu sebelum kamu ngomong masalahmu nanti? Ya. Hal privasi yang hanya bisa didengarkan olehku." 
            “Apaan sih. Privasi privasi mbarang. Privasi opo to?" 
            “Haduh gini ini lho mesti. Kalau udah terlanjur bad mood diajak omong susah. Cewek cewek.
            “Lah kok malah nyalahin cewek sih. Privasi macam apa yang tergambarkan di pikiranmu itu wahai Ajay." 
            “Duh aku gilo! Gak jadi wes. Di warung aja ngomongnya
            “Hmm. Bad mood ya? Gitu kok nyalahin cewek. Anda kalau bad mood juga sama sukarnya jika diajak bicara."
            Beginilah kami. Suka sekali bertengkar kecil. Meskipun aku sudah menampilkan wajah bahagia, nyatanya aku tidak sebahagia itu. Warung yang biasanya tak memerlukan waktu yang panjang untuk ditempuh kini terasa lama sekali. Macet. Ya. Itu penyebabnya. 
            Akhirnya sampai juga, Bos. Panas! Mau duduk di mana?" 
            Tempat biasa aja, Jay." 
            Yakin pilih di situ? Bukannya kamu mau cerita?"
            Gak papa deh! Orang juga gak akan ada yang peduli kan sama ceritaku." 
            “Iya juga ya."
            Hmm. Kok malah iya-iya sih! Temennya badmood malah dibuat sebel" 

            Tanganku yang kini sudah tidak tahan memaksa telunjuk dan ibu jariku menghimpit kulit lengan Ajay dengan keras.
            “Aduh aduh sakit, Ya! Iya iya. Maaf. Udah sana duduk tambah panas aku lihat kamu marah."
            Aku langsung saja duduk di tempat biasaku dan Ajay makan di warung ini. Saking seringnya kemari, ibu penjual warung itu langsung saja menerima uang Ajay dan memberikan makanan yang biasa kami pesan. 
            “Jay aku ngomong serius sama kamu. Jangan ndagel ya."
            “Okedeh"
            “Kamu keterima di kampus ternama di Jakarta ya?" 
            Ajay melihatku dengan terkejut. 
            Kok tahu?" 
            Hmm. Aku nggak sengaja baca kertas ini. Kertas ini jatuh di bawah motormu kemarin. Selamat ya, Jay."
            “Kamu bilang selamat tapi wajahmu gak benar-benar menyelamatiku."
            “Ya mau gimana, Jay? Empat belas tahun kita berada di satu sekolah yang sama. Dan, setelah kelulusan besok, kita udah gak akan ketemu lagi." 
            Hmm. Itu yang bikin kamu bad mood sejak tadi?" 
            “Iya, Jay." 
            Semangkuk mie ayam tersajikan dengan lezat kini berada di hadapanku. Saking lezatnya, aku tetap saja memakannya meskipun rasanya ingin sekali menangis karena perpisahan ini. Ajay yang awalnya hanya nyengar-nyengir gak jelas kini memilih diam tanpa ekspresi. Dia memakan mie ayam dengan asal. 
            “Sudah terlalu lama kita berteman sampai-sampai kita tidak sadar kalau sudah
 empat belas tahun waktu berjalan" 

            “Iya, Jay. Kita terlalu bersenang-senang sampai-sampai kita gak ngerasa bahwa cepat atau lambat kita akan ke luar dari zona nyaman itu." 
            Zona nyaman. Ya. Aku selalu nyaman jika satu sekolah dengan Ajay selama ini. Bukan hanya karena kami berteman tetapi juga karena dia bisa berperan sebagai kakak dan penjagaku selama ini. Tak jarang dia menyelamatkanku ketika aku diperlakukan tidak adil oleh teman-temanku. Dengan mengingat semua itu, aku jadi semakin ragu untuk melepasnya jauh dan sulit menerima kenyataan bahwa kelak aku tidak akan sering menemuinya lagi atau bahkan tidak akan pernah bertemu dengannya lagi. 
            Eh, Ya. Kita ini seperti air laut sekarang. Berembun menjadi awan dan meneteskan air hujan di tempat yang berbeda tetapi tetap berada di langit yang sama. Kita masih bisa berteman kok meskipun hmm tidak seindah ini." 
            Ajay terdiam. Mangkoknya yang terlihat habis membuatnya menyandarkan tubuhnya dengan wajah yang terlihat berpikir keras. 
            “Apapun yang terjadi nanti, aku ingin berterima kasih karena kamu sudah memberikan kesan yang luar biasa pada pertemanan ini, Jay. Kamu sudah selalu ada, melindungiku, menjagaku, dan terkadang juga menjadi kakakku di saat aku ada masalah. Ya. Semua hal baik itulah yang membuatku sukar melepasmu."
            “Memangnya aku sebaik itu? Kamu alay!" 
            Hmm. Jay, tolong seriuslah sebentar." 
            Oh oke oke. Maaf." 
            Suasana hening yang terlukis membuatku menghabiskan mie ayamku dengan cepat. Mangkok yang sudah tak bersisa membuat Ajay tiba-tiba saja beranjak dan menarikku. 
            “Kita cari tempat lain."
            Aku mengikuti langkahnya yang nyatanya menghadirkanku pada sebuah taman yang terlihat sepi. Ia memilih sebuah gazebo di bawah pohon beringin untuk tempat kami bertukar cerita. Terlihat horor sebenarnya. Namun, aku tidak berpikir macam-macam. 
            “Sehebat-hebatnya manusia mengukir semua kejadian yang indah di dunia, tidak akan bisa mengalahkan takdir yang tidak merestui kebahagiaannya."
            “Kamu benar, Jay."
            “Aku juga tidak memiliki kekuatan apapun supaya kita terus menerus bersama sampai kapanpun. Kelak, kamu juga akan memiliki duniamu sendiri begitu pun aku." 
            “Di mana akan ada saatnya kita gak saling bicara ya, Jay." 
            “Benar. Kenapa sakit ya?" 
            “Itulah yang aku rasakan sejak tadi, Jay." 
            “Saat kelulusan besok, datanglah lebih awal. Kita habiskan waktu bersama di sekolah dengan leluasa." 
            “Aku setuju, Jay." 
            “Kamu jangan berdandan terlalu cantik besok. Bisa-bisa aku malah terkesima bukannya menghabiskan waktu denganmu" 
            “Apaan sih? Kita ini sedang serius, Jay. Kenapa kamu masih sempat-sempatnya bercanda sih?" 
            “Jika aku terus membiarkan suasana ini tegang, aku yakin sebentar lagi kamu menangis." 
            Aku terkejut. Dia memang benar. Sedari tadi, aku berusaha untuk menahan air mataku agar tidak membasahi wajahku agar tidak menuai hujatan yang pasti keluar dari mulutnya. Namun, ternyata dia mengetahui itu. Meskipun sudah terciduk, aku masih memiliki banyak kekuatan untuk menahan air mata ini. 
            “Aku akui memang sedih jika takdir tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan, Ya. Tapi, mau gimana pun takdir hadir juga karena memang dialah yang mengatur alur hidup kita. Tergantung kita sekarang. Apakah kita bisa menerima atau tidak. Aku akan bahagia jika kamu bahagia, Ya. Bahagia karena menerima kebahagiaanku dan begitu pula aku. Aku akan bahagia menerima kebahagiaanmu. "
            Uh. Iya, Jay. Aku harus bisa lebih dewasa untuk menerima semua takdir yang menyimpang dari ekspetasiku. Selamat ya. Semoga kamu sukses di kota metropolitan itu."
            “Begitu pula dengan kamu. Semoga kamu sukses di kota ini."
            Hari yang terasa panjang seakan berhasil mengobati luka yang kini tak menyakitiku dengan hebat seperti sebelumnya. Aku memang harus menerima semua ini dengan lapang dada. Tentu saja setelah mendengarku selesai bercerita. Ajay kini melawak di depanku. Ia berusaha membuatku tak berlarut dalam kesedihan yang ada dalam ragaku. Tentu saja. Karena bakatnya itu, aku bisa kembali bahagia. 
            Suasana wisuda yang terlihat sepi tidak mengejutkanku. Ini memang rencanaku dan Ajay yang memutuskan untuk berangkat pagi-pagi supaya bisa menghabiskan waktu terakhir di sekolah. Benar saja. Ia tiba-tiba saja muncul di belakangku. 
            Wih! Tampan sekali Anda!" 
            “Ha-ha. Jelas. Selama ini aku memang tampan kan?" 
            Aku terkekeh-kekeh. Kami pun langsung saja duduk di kantin sembari menatap lapangan dengan tatapan kosong. 
            "Kamu siap, Ya?" 
            Aku melihat ke arahnya.        
            “Aku harus siap." 
            “Kamu benar." 
            “Kini, mengapa kamu yang tidak percaya diri, Jay?"
            “Aku juga bingung, Ya. Kemarin aku merasa diriku baik-baik saja. Tapi, sekarang aku tidak merasakan hal yang sama."
            “Apa yang kamu khawatirkan, Jay?" 
            “Ya. Entahlah. Berpisah denganmu dan teman-teman mungkin? Ternyata memang berat meninggalkan sesuatu yang berharga demi meraih masa depan." 
            “Kamu sendiri yang bilang kalau kita harus menerima kan? Yang terpenting sekarang kita harus fokus dengan masa depan kita nanti. Perihal kita akan bertemu atau tidak, itu biarkan takdir yang merencanakannya."
            “Baiklah. Aku akan survei ke Jakarta besok. Jadi, setelah wisuda aku dan keluargaku akan berangkat."
            “Sukses ya, Jay. Apa kamu juga akan tinggal di sana?" 
            “Terima kasih, Ya. Benar."
            “Jangan terlena dengan perempuan-perempuan kece di sana." 
            “Ha-ha aku tidak bisa janji dapat menepatinya."
            “Dasar!" 
            Acara pun dimulai. Semua siswa dengan wajah yang glowing meramaikan lapangan. Satu persatu nama dipanggil untuk menerima penghargaan kelulusan. Ajay. Dia kini dipanggil. Dia tidak hanya mendapatkan penghargaan kelulusan saja tetapi juga penghargaan lain karena dia mendapatkan peringkat pertama di kelasnya dan juga penghargaan sebagai siswa teraktif di sekolah. Aku benar-benar bangga padanya. Setelah namanya dipanggil, tak lama setelah itu, namaku dipanggil. Suara musik yang menggelora tak membuatku lupa pada suara teriakan khas Ajay. Benar saja. Ia kini berteriak menyorakiku. Semua teman-temannya membantu Ajay untuk meramaikan suasana. Aku malu sekali. Aku berusaha secepat mungkin turun dari panggung dan meliriknya dengan kesal. 
            Aku dan Ajay tidak menghabiskan waktu bersama setelah prosesi wisuda. Aku membiarkannya bersenang-senang dengan teman-temannya yang lain. Aku pun begitu. Aku menghabiskan waktuku dengan teman-temanku. Saat sudah menghabiskan waktu lama dengan mereka, tiba-tiba saja Ajay memanggilku untuk mendekatinya di gerbang. Aku pun mendekatinya. 
            “Aku pamit ya, Ya. Terima kasih atas kenangan ini. Hmm. Jangan marah ya karena tadi aku menyorakimu. Ha-ha." 
            “Aku kesal tapi tidak apa. Hati-hati, Jay."
            “Sampai berjumpa kapan-kapan." 
            “Ha-ha. Iya. Sampai berjumpa kapan-kapan."

            Hari itu memang benar-benar hari terakhir aku bisa bertemu dengannya. Meskipun begitu, kami masih bertukar kabar di ponsel. Namun, aku tidak begitu memaksanya untuk membalas pesanku dengan cepat. Aku kini sadar. Kesibukan akan merenggut semua waktu luangku untuk bertukar kabar dengannya. Aku harus siap dan semoga takdir baik bisa mempertemukan kami lagi. Suatu saat nanti. 




Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.
Powered By Blogger