Entri Populer
My heart feel...
This is my feeling
published on spotify : Berjelajah dalam Karya “Piringan hitam itu masih ada kan? Dia tidak akan pergi secepat itu” ...
“Piringan hitam
itu masih ada kan? Dia tidak akan pergi secepat itu”
Selama berbulan
- bulan, awan berbentuk piring hitam itu terus meredupkan kota. Listrik dengan watt
yang besar pun tak bisa menerangi kota ini seutuhnya. Semua orang panik dengan
keadaan ini. Tak jarang berita tentang orang hilang meracuni akal seluruh
penduduk di kota ini. Akal yang tenang kini berubah menjadi kepanikan yang
berlebihan. Tentu saja. Berita itu semakin mengerikan ditambah terdapat banyak
orang yang menghilang ketika mereka ke luar dari zona nyamannya yaitu rumah.
Brak!
Suasana gelap
yang tercipta di dalam rumah tak kalah mengerikan dari piringan hitam itu. Aku
membuka pintu dan kembali melihat kedua orang tuaku beradu mulut dengan
berbekal “senjata" di tangan mereka.
Aku berusaha
untuk tenang sembari mencari waktu untuk menyapa ayahku yang terlihat banyak
mengalah dalam pertikaian ini.
“Yah, mau kopi?”
“Boleh, Nak.”
Secangkir kopi
hangat aku padukan dengan senyuman di bawah kumis tipisku membuat ayah perlahan
memperlihatkan senyumnya di balik jenggotnya yang lebat.
“Maaf ya,
Nak. Ayah tidak bisa membuatmu nyaman di rumah karena pertengkaran itu.”
“Tidak apa,
Yah. Aku sudah cukup bahagia bertemu dengan kalian.”
“Apa kabar
dengan istrimu?”
“Dia baik-baik
saja, Yah. Keluarga besarnya kini menemaninya.”
“Kamu tidak
ingin pulang menemui istrimu? Ayah pikir kamu lebih bahagia jika seperti itu.”
“Tidak, Yah.
Aku memilih untuk berada di samping Ayah sementara ini. Ya. Setidaknya sampai
piringan hitam itu menghilang.”
Ayah menegukkan
kopi sembari mengusap jenggotnya yang terlihat sedikit berantakan
karena lupa ia rapikan.
“Yah, ayah
tidak marah melihatku yang baru bisa menemui ayah saat ini?”
“Mengapa ayah
harus marah? Ayah mengerti kamu memiliki kesibukan, Nak.”
“Hmm.
Maaf, Yah.”
“Dengar.
Mungkin memang dulu kita pernah berada di situasi di mana Ayah terus menuntut
kamu untuk terus ada di samping Ayah. Namun, Ayah sadar itu adalah tindakan
yang salah. Ayah harus bisa mengerti kesibukanmu.”
Aku menatap
ayah yang tiba-tiba saja membersihkan sesuatu dari ekor matanya. Aku hanya
berharap itu bukanlah air mata.
“Piringan itu
hadir supaya aku bisa bertemu denganmu, Yah. Mungkin saja ini teguran agar aku
tetap mengingatmu meskipun aku sedang sibuk-sibuknya.”
“Ayah juga
merasa begitu. Piringan hitam itu memang datang membawa kekhawatiran banyak
orang. Namun, Ayah mampu mendapatkan hal baik dari kejadian alam itu.”
Percakapan yang
menarik memaksa mulutku untuk menyeruput kopi buatan tanganku. Angin yang
terasa berhembus kencang membuat kerah kemejaku aku rapatkan dan lengan
kemejaku aku biarkan memanjang menutupi seluruh tanganku.
Saat hendak bercakap, nada dering ponsel membuatku langsung memalingkan pandangan. Istriku. Ya. Dia meneleponku. Aku mengangkatnya sembari merasakan kelegaan yang luar biasa dari dalam lubuk hatiku yang sebenarnya sangat merindukannya. Permintaannya kemudian membuatku menjauhkan ponselku dari telingaku.
“Yah, istriku
ingin bicara dengan Ayah.”
Ayah menerima
ponselku dengan sumringah. Aku menatap ibu yang terlihat sibuk membersihkan
dapur. Perlahan, aku membiarkan ayah bercakap dengan istriku dan aku menyapa
Ibu.
“Aku bantu, Bu.”
Ibu hening dan
membiarkanku mengambil kain yang terus ia pegang.
“Ibu ingin apa?
Aku buatkan teh ya?”
Ibu tersenyum
dan mengangguk setuju dengan tawaranku.
Setelah selesai
mengaduk, secangkir teh aku berikan sembari memberikan kecupan di kening ibu.
Aku tak menyangka ibu langsung memelukku. Suara isak tangis ke luar dari mulutnya.
Aku mendekat sembari membiarkan ibu membasahi kemejaku dan terus mengusap pelan
rambut ibu dengan sabar.
“Ibu sangat
merindukanmu, Nak.”
Aku tidak
berani menatap wajahnya. Aku hanya tersenyum dan mengambil tempat duduk di
sebelahnya.
“Iya, Bu. Aku
juga merindukan Ibu. Itulah alasan kehadiranku di sini.”
“Maaf ya,
Nak. Kamu jarang sekali melihat Ibu dan Ayah akur.”
“Tidak apa, Bu.
Hal yang paling penting untukku adalah aku bisa bertemu dengan kalian.”
Ayah tiba-tiba
saja mendekat dan memberikan ponselku. Aku pun menatap ayah dengan berharap
ayah mau bercengkerama bersama denganku dan ibu. Aku merasa ayah paham dengan
maksudku dan membuatnya memindahkan kopi yang ada di terasnya ke dapur.
"Coba Ayah
duduk lebih dekat dengan Ibu"
Ayah tak ambil
pusing untuk ragu melakukannya. Ia langsung mendekatkan kursinya dan membuat
Ibu sedikit menjauhkan kursinya dari Ayah.
"Ibu.."
Aku berusaha
membujuk ibu agar ia bisa bertahan dengan tempat duduknya yang dekat dengan
ayah. Kini, Ibu menurut.
“Kalian adalah
pasangan paling serasi yang pernah aku lihat selama ini.”
Senyuman muncul
di wajah ayah tetapi tidak di wajah ibu. Ibu memilih diam dan melipat
tangannya.
“Maafkan aku ya,
Bu, Yah. Aku belum bisa menjadi anak yang baik untuk kalian. Kini, biarkan aku
memperbaiki semua yang sudah berlalu menjadi lebih baik. Apakah aku bisa, Bu,
Yah?”
Ibu dan ayah
mendiamkanku. Suara seruputan yang ayah pendengarkan membuatnya mulai angkat
bicara.
“Hmm.
Ayah malu denganmu, Nak. Kamu terlihat sangat berani menyesali kesalahanmu.
Berbeda dengan Ayah. Ayah bahkan selalu berusaha menutupi semuanya.”
“Ibu juga malu,
Nak. Ibu selalu menyalahkan Ayahmu padahal Ibu juga bersalah.”
Kejadian langka
ini membuatku nyaman menatap mereka. Tangan Ayah yang tiba-tiba memegang lembut
jari-jemari Ibu membuat Ibu langsung memeluk Ayah. Aku iri sekali sembari
berandai-andai memeluk istriku saat aku pulang nanti. Namun, apakah mungkin itu
terjadi?