Entri Populer
My heart feel...
This is my feeling
foto : canva “Selamat ulang tahun, Sayang.” Ucap Daffa sembari mengecup dahiku dengan semua ketulusan cintanya padaku...
“Selamat ulang tahun, Sayang.” Ucap Daffa sembari mengecup dahiku dengan semua ketulusan cintanya padaku.
Aku tersenyum simpul dan membiarkan
tanganku melingkar di pinggangnya yang tidak terlalu lebar itu. Rangkaian bunga
yang menambah rasa manis di hari spesialku ini membuat senyumku terhenti. Tentu
saja. Itu semua karena orang yang memberikan rangkaian bunga ini bukanlah
Daffa.
“Selamat ulang tahun, Riana.”
Dia adalah Elvan, mantanku.
Penampilannya yang semakin nyaman dilihat mata membuat semua teman-temanku
tergila-gila padanya. Meskipun begitu, matanya tetap saja menatapku dan tidak
mempedulikan semua rayuan perempuan-perempuan itu.
“Apakah aku boleh bersalaman?”
Tangannya langsung ia dekatkan pada
tangan kananku. Aku meneguk ludahku dengan kesulitan dan menjabat tangannya
perlahan. Benar saja. Kini, ia tidak berniat untuk melepaskan tanganku. Daffa
yang memiliki pribadi emosional tentu saja langsung menarik paksa tangan Elvan
dariku. Semua cacian dan umpatan yang ia ajukan tak membuat Elvan marah sedikit
pun.
“Mengapa kamu marah? Aku hanya
rindu. Itu saja.”
“Jelas-jelas ada aku, pacarnya, di
sini! Kamu masih bisa berkata sesantai itu?”
“Selagi belum ada janur kuning yang
melengkung, untuk apa aku mematahkan harapanku dan mundur?”
Aku melirik Elvan yang memang
terlihat sangat menarik dibandingkan Daffa saat ini. Aku menepuk-nepukkan
dahiku dan mencubit lenganku berkali-kali. Aku tidak boleh mencintainya lagi.
Daffa mendekat dan menarikku ke depan pintu toilet dengan wajahnya yang tidak
bersahabat.
“Siapa dia, Ri?”
“Bukan siapa-siapa. Ayo kita
lanjutkan acaranya.” Aku berusaha untuk mengalihkan topik pembicaraan ini
tetapi Daffa memilih untuk menahan tubuhku.
“Siapa dia!”
“Mantanku.”
Decakan yang terdengar dari mulutnya
membuatku tak banyak berucap. Ia memukulkan tangannya di dinding dengan sangat
keras.
“Mengapa kamu tidak pernah cerita?”
“Untuk apa aku cerita? Itu hanya
masa lalu, Fa.”
“Lalu, jika itu hanya masa lalu.
Mengapa kamu terlihat begitu kagum padanya?”
Aku terkejut. Apakah wajah ini
terlihat begitu kagum pada Elvan sampai-sampai Daffa begitu paham dengan apa
yang aku rasakan saat ini? Aku menunduk dan perlahan memegang pundaknya yang
lebih tinggi dariku itu dengan lembut.
“Aku hanya kagum. Bukan, cinta.
Bedakan itu, Fa.”
Aku lega karena pada akhirnya
suasana hati Daffa luluh meskipun hati ini masih merasa gelisah. Saat kembali
di tempat yang sama, Elvan masih ada di sana. Senyuman khasnya yang tak
kusadari menggetarkan hatiku membuatku memilih untuk mengalihkan mataku pada
Daffa.
Sayangnya, aku benar-benar tidak
bisa mengalihkan pandanganku dari Elvan.
“Aku harus mengusirnya.”
Daffa terkejut melihatku yang
tiba-tiba saja pergi. Aku menarik tangan Elvan dengan kencang tanpa
mempedulikannya yang masih terlihat sedang berbincang dengan orang-orang di sekitarnya.
“Mengapa kamu datang lagi?”
“Aku rindu, Ri. Apa tidak boleh?”
“Siapa yang kamu rindukan?”
“Kamulah. Siapa lagi.”
Hembusan pelan yang aku ajukan
tiba-tiba saja membuat Elvan mendekatkan wajahnya tepat di depan wajahku.
Langkahku yang perlahan mundur kalah cepat dengan tangannya yang kini
mencengkeram dua lenganku hingga aku sulit bergerak.
“Aku mencintaimu, Ri. Aku tahu. Kamu
masih memiliki rasa yang sama denganku kan? Tatapan matamu tidak bisa
berbohong.”
Elakan yang hendak aku ucapkan, tiba-tiba
saja, memaksa mulutku untuk tertutup rapat-rapat.
“Kehadiran Daffa hanyalah pelarian
bagimu supaya cepat melupakan lelaki penghianat sepertiku kan?”
Aku menunduk. Aku tidak bisa
mengelak lagi. Itu semua benar adanya. Ekor mataku yang tiba-tiba terkejut
melihat sosok Daffa yang berdiri di sampingku tak membuat Elvan melepaskanku.
“Lepaskan dia! Pergi dari sini!”
“Tanyakan saja pada Riana. Apakah ia
benar-benar ingin aku pergi?”
Daffa menatapku dengan terkejut.
Mataku yang terus menunduk tak membuatku bisa melihat kedua wajah lelaki ini.
Aku memanglah perempuan yang tidak memiliki hati. Namun, aku akui. Keputusan
Elvan untuk mengakhiri hubungan ini memang meninggalkan kepahitan yang mendalam
di dalam hatiku. Kehadiran Daffa memanglah sebagai obat penyejukku bukan
sebagai pengganti Elvan.
“Apa yang dikatakan Elvan, Ri?”
“Maafkan aku, Fa. Kamu adalah obat penenang
untukku bukan pemilik hatiku.”
Matanya kini terbelalak. Elvan kini menarik
tubuhku mendekatinya. Aku tidak banyak bergerak dan mengikuti gerakan Elvan
yang kini benar-benar mendekatkanku dengan tubuhnya.
Dafa menatapku dengan wajahnya yang
terlihat sangat terkejut.
“Fa. Aku tidak pernah melarangmu
untuk membenciku. Rasa sakit yang Elvan berikan tak membuatku bisa melupakannya
dengan mudah. Aku memang masih mencintainya.”
Senyuman Elvan yang kini mendapatkan
pukulan keras dari Daffa membuat Elvan menyentuh pipinya dengan tatapan dinginnya.
Kepalan tangannya yang hendak memukul Daffa kembali ia tahan karena menatap
mataku. Elvan terlihat mengerti dan memilih pergi dari hadapanku. Wajah merah
yang terpampang di wajah Daffa tak membuatnya berkeinginan untuk menatapku.
“Aku minta maaf, Fa. Aku tidak ingin
berada di posisi ini.”
Daffa tetap saja diam dengan posisi
yang sama. Suasana sepi di dalam rumah membuatnya tiba-tiba masuk dan mengemasi
semua barang-barangnya. Aku perlahan menahan tangannya. Ia, pada akhirnya,
melihatku.
“Aku benci perempuan pembohong.”
Aku terdiam. Tubuhnya yang masih
sibuk berjalan ke kanan dan ke kiri untuk mengemasi semua barangnya tak
membuatku berkeinginan untuk menahannya lagi.
Hujan yang menerpa membuatnya tidak
bisa segera pergi dari rumahku. Teras yang sempit ia jadikan tempatnya melamun
dan mengumpat. Aku tahu. Kejujuran ini sangat menyakitkan hatinya. Aku terus memandang
tubuhnya dari jauh yang terus menarik kuat-kuat rambutnya dengan kasar. Ia juga
berulang kali menelungkupkan tubuhnya hingga rambutnya basah, terkena tetesan
air hujan. Aku tidak sanggup melihat kondisinya dan langsung berlari sembari
memeluknya.
“Maafkan aku, Fa.” Ucapku dengan air
mata yang langsung saja pecah tanpa kendali di wajahku.
“Aku terlalu mencintaimu. Aku memang
pantas merasa sesakit ini.”
Langit yang terlihat terang
benderang membuat Daffa langsung beranjak tanpa mengucapkan pamit padaku. Aku
tetap membiarkan tubuhku kedinginan dan dilanda oleh penyesalan.
Usapan lembut yang tiba-tiba melanda
di rambutku membuatku mendongak dengan wajahku yang sudah tak berbentuk.
“Aku tidak bisa benar-benar meninggalkanmu.
Apa aku boleh berjuang untuk membuatmu mencintaiku?”
“Aku sudah menyakitimu, Fa. Kamu lebih bahagia jika kamu pergi.”
“Aku ingin menjadi obat penenangmu
yang juga bisa membuatmu mencintaiku. Tidak hanya ada ketika kamu merasa takut
ataupun marah. Namun, ada ketika kamu merekahkan kebahagiaanmu. Meskipun, pada
akhirnya, tetap bukan aku alasan di balik senyumanmu itu.”
Air mata yang membanjiri wajahku terasa
begitu deras ketika melihat ketulusan yang begitu besar di mata Daffa.
“Maaf, Fa. Aku tidak bisa. Biarkan
aku menyakiti hatimu sebelum terlambat. Aku tidak pantas mendapatkan salah satu
dari kalian. Aku tidak akan kembali pada Elvan dan tidak akan bertahan
denganmu.”
Anggukan dengan senyuman lebar muncul
di wajah Daffa. Kecupan ia ajukan pada dahiku. Cukup lama. Setelah puas, ia melihat
wajahku.
“Ini bukan berarti aku tidak bisa
menemuimu kan?”
Senyuman muncul di bibirku.
“Kapanpun kamu bisa menemuiku.”
“Baiklah. Tunggu kejutan-kejutanku yang
akan datang. Aku akan kembali. Bukan hanya sebagai obat penenangmu tetapi
menjadi pemilik hatimu.”
Raga Daffa yang menghilang membuatku
perlahan berbisik.
“Aku menantikan perjuanganmu itu,
Fa. Aku akan selalu menantikannya.”