Entri Populer
My heart feel...
This is my feeling
“Dasar jomblo.” “Ngapain sih nggangguin Kamala terus!” Protes Aryo menatap perempuan bernama Salda itu di de...
“Dasar
jomblo.”
“Ngapain sih nggangguin
Kamala terus!” Protes Aryo menatap perempuan bernama Salda itu di dekatku.
“Aku gak gangguin. Aku hanya
jujur. Aku mengatakan kebenarannya kan?”
Aku menarik lengan Aryo yang
berkeringat sembari memaksanya untuk segera duduk di sampingku.
“Kamu kenapa diem sih,
La?”
“Udahlah, Yo. Aku bodo amat
sama dia.” Ucapku membiarkan tanganku memberikan air mineral untuk Aryo.
Aryo menurut. Ia duduk di sampingku
sembari meneguk air mineralnya itu dengan berantakan. Ia membiarkan air yang ia
minum membasahi semua mulut, pakaian, bahkan wajahnya. Matahari memang terasa
sangat terik. Aku yakin dia melakukan itu agar ia tidak lagi tersengat udara
siang yang menggerahkan.
“Aku mau main lagi.”
Bola sepak yang menggelinding
ke arahku membuatnya beranjak dan memainkannya lagi. Aku kembali sendirian.
Ponsel yang aku lihat membuatku lantas menatap pesan yang berasal dari ibu
Aryo.
“Apakah Aryo baik-baik
saja?”
“Aryo baik-baik saja, Bu.”
“Jangan sampai ia terlalu
lelah. Tolong marahi dia jika ia berolahraga terlalu keras.”
Ribuan kali peringatan itu
terekam di pikiranku. Aryo memang gemar berolahraga tetapi tidak dengan
jantungnya. Ya. Jantung yang ada di raganya itu suka Aryo menghabiskan waktunya
untuk hanya berdiam diri. Aku yakin. Dia tidak akan melakukan itu.
Minuman yang tiba-tiba
membasahi pakaianku tak membuatku mendongak. Salda kini berdiri di
depanku.
“Jangan jadi jomblo yang
menyebalkan. Jadilah jomblo yang sewajarnya. Jomblo yang hanya bisa menikmati
kesedihan, kesengsaraan, dan kesepian.”
Aku tak mengacuhkannya dan
beralih menatap Aryo yang berhasil memenangkan permainannya.
Aryo kembali mendekatiku tepat
waktu. Meskipun aku tahu bukan Aryo yang sengaja mendekatiku, tetapi
jantungnya. Benar saja. Ia terlihat tersengal-sengal setelah berhasil mencetak
skor di permainan futsalnya.
“Kenapa, Yo? Capek?” Godaku
membuat Aryo kembali merebut air mineral di tasku.
“Gila capek banget, La. Mataku
udah burem aja. Aku kayak gak bisa main lagi.”
“Ha-ha. Ya udah sih
berhenti dulu.”
“Kamu ngapain kesini lagi?
Kamu yang mbasahin pakaian Kamala?” Aryo kembali tersulut emosi saat ia menatap
pakaianku.
“Salda!” Teriakan mengerikan
tiba-tiba terdengar dari kejauhan.
Seorang lelaki bertubuh
tinggi, berkulit cerah, dan berambut keriting memenuhi penglihatanku. Aku tahu.
Ia adalah orang penting yang Salda punya. Salda tak menghiraukan Aryo. Ia kini
pergi.
Kaleng bekas yang Aryo tendang
mengenai kepala Salda. Salda mengalihkan pandangan dengan wajah penuh
amarah.
“Ha-ha. Usil banget sih!”
“Aku tahu, La. Kamu emang bodo
amat tapi kamu sebenarnya kesel banget sama dia kan?”
Aku hanya tertawa sembari
berulang kali memukul tangan Aryo dengan kesal.
“Kamu suka jomblo, La?”
“Ha-ha. Pertanyaan macam apa
itu?”
“Udah 18 tahun lho.”
“Punya sahabat sebaik kamu
udah cukup, Yo. Gak ada keinginan buat cari pacar dulu. Pacaran itu ribet.”
“Emang kalau sama aku ribet?”
“Apaan sih, Yo!”
Aryo berlari terbirit-birit
saat melihatku terus mengejarnya. Pada akhirnya, ia menyerah dan kembali
tersengal-sengal seperti semula.
“Gila ya! Aku bisa mati kalau
kamu terus ngejar aku, La!”
“Ha-ha. Makannya jangan
macam-macam.”
Dompet yang Aryo keluarkan
melukiskan ekspresi congkak di wajahnya. Aku sadar bahwa uang yang ia bawa
tidak sedikit.
“Apa tujuanmu pamer?”
“Aku traktir ya?”
Restoran yang ramai membuatku
sedikit canggung karena pakaianku yang tak berkesan sedikitpun. Aku
menyembunyikan diri di balik tubuh Aryo yang memang lebih tinggi dariku. Aryo
risih dan langsung menjauh.
“Kamu kenapa sih!”
Tiba-tiba, tubuhku terpental
dan terbanting ke arah tubuh Aryo. Jujur, aku terkejut. Wajah Salda dan pria
berambut keriting itu ada di belakangku.
Aryo menahan lenganku dan
berusaha melindungiku dari pertengkaran yang meresahkan banyak orang itu.
Semua orang berusaha melerai.
Namun, Aryo diam.
“Yo.”
Aku menatap Aryo cukup lama.
Tapi, ia tetap tidak menurut. Pria itu kini menarik rambut Salda dengan
lancang. Aku menggertak Aryo sembari lantas melihatnya yang langsung memisahkan
kedua orang itu dengan kasar. Satpam pada akhirnya berhasil mengusir pria
itu.
Salda menatapku dengan matanya yang basah.
“Kamu puas?”
Aku terdiam dan membalikkan
tubuhku.
Langkah yang terdengar menjauh
membuat mataku tidak bisa melihat Salda lagi. Aryo kembali mendekat dan
menatapku dengan kesal.
“Kamu menyesal dengan apa yang
kamu lakukan?”
“Gak lah, Yo. Buat apa
nyesel?”
Aryo tak mengacuhkanku. Pada
akhirnya, kami bisa menyantap makanan dengan suasana yang baik-baik saja.
Suasana yang semakin gelap
menyisakan kelelahan di wajah Aryo.
“Istirahatlah, Yo. Obatmu itu
harus rutin kamu teguk setiap hari.”
“Kenapa kamu khawatir? Kamu
takut aku cepat pergi?”
“Aryo! Jangan bercanda terus
dong!”
“Iya-iya. Aku gak bakal cepet
pergi. Buat kamu.”
Motor tua Aryo yang sudah berada di dekatku membuat lelaki ini langsung
mengajakku dan melajukan kendaraannya.
“Kamala!” Teriakan seorang
perempuan yang terdengar membuatku memaksa Aryo untuk menghentikan
motornya.
Aku mengalihkan pandanganku
dan menatap Salda yang terus menangis di tepi jalan.
“Gak usah turun!” Ucap Aryo
dengan tegas.
“Aku akan baik-baik saja, Yo.”
Aku menuruni motor Aryo dan
memberikan helmku padanya. Aryo mendengus kesal dan memarkirkan motornya di
tepi jalan sambil terus menatapku dari kejauhan.
“La, aku ingin kamu menutup
mulut atas semua yang terjadi padaku hari ini.”
Aku mengangguk pelan tanpa
banyak menatapnya.
“Mengapa kamu terus menjadi
jomblo yang menyebalkan? Mengapa kamu tidak pernah sedih ataupun menderita? Aku
tidak suka!”
“Dia adalah salah satu
alasanku menjadi jomblo yang menyebalkan. Aku bahagia di dekatnya.” Ucapku
mengarahkan jari telunjukku pada Aryo yang terlihat bingung karena
tingkahku.
“Dia bukanlah siapa-siapamu,
La!"
“Seseorang tidak perlu menjadi
siapa-siapa untuk membahagiakan orang lain.” Balasku dengan tegas
padanya.
Salda pada akhirnya tutup
mulut dan tetap menangis seorang diri. Aryo kelihatannya gemas karena aku tak
segera kembali padanya. Ia kini menjemputku dan menarik tanganku untuk menjauh
dari Salda. Tapi, Salda menahan Aryo.
“Kamu memang lelaki hebat, Yo.
Kamu bisa membahagiakan seorang wanita. Bahkan, seorang dengan status pacar
belum tentu bisa melakukannya.”
Aryo tidak menanggapinya. Ia
terus menarikku menjauh dan kembali mendekat pada motor tuanya.
“Apa yang dia katakan, La?”
“Semuanya seperti yang kamu
dengar.”
Senyuman manis Aryo yang
jarang tampak tiba-tiba membuatku sakit jantung. Debaran yang terlalu hebat
mengubah warna wajahku.
“Ha-ha. Aku juga, La.”
Aku tak paham dengan
ucapannya. Kini, ia menatapku lamat-lamat dengan senyumannya.
“Kamulah yang membuatku juga
bertahan menjadi jomblo yang menyebalkan”
Kami tertawa lepas di
sepanjang jalan.