“Dasar jomblo.”             “Ngapain sih nggangguin Kamala terus!” Protes Aryo menatap perempuan bernama Salda itu di de...

Jomblo

/
0 Comments


 


            “Dasar jomblo.”
            “Ngapain sih nggangguin Kamala terus!” Protes Aryo menatap perempuan bernama Salda itu di dekatku.
            “Aku gak gangguin. Aku hanya jujur. Aku mengatakan kebenarannya kan?”
            Aku menarik lengan Aryo yang berkeringat sembari memaksanya untuk segera duduk di sampingku. 
            “Kamu kenapa diem sih, La?” 
            “Udahlah, Yo. Aku bodo amat sama dia.” Ucapku membiarkan tanganku memberikan air mineral untuk Aryo. 
            Aryo menurut. Ia duduk di sampingku sembari meneguk air mineralnya itu dengan berantakan. Ia membiarkan air yang ia minum membasahi semua mulut, pakaian, bahkan wajahnya. Matahari memang terasa sangat terik. Aku yakin dia melakukan itu agar ia tidak lagi tersengat udara siang yang menggerahkan. 
            “Aku mau main lagi.”
            Bola sepak yang menggelinding ke arahku membuatnya beranjak dan memainkannya lagi. Aku kembali sendirian. Ponsel yang aku lihat membuatku lantas menatap pesan yang berasal dari ibu Aryo. 
            “Apakah Aryo baik-baik saja?”
            “Aryo baik-baik saja, Bu.”
            “Jangan sampai ia terlalu lelah. Tolong marahi dia jika ia berolahraga terlalu keras.”
            Ribuan kali peringatan itu terekam di pikiranku. Aryo memang gemar berolahraga tetapi tidak dengan jantungnya. Ya. Jantung yang ada di raganya itu suka Aryo menghabiskan waktunya untuk hanya berdiam diri. Aku yakin. Dia tidak akan melakukan itu. 
            Minuman yang tiba-tiba membasahi pakaianku tak membuatku mendongak. Salda kini berdiri di depanku. 
            “Jangan jadi jomblo yang menyebalkan. Jadilah jomblo yang sewajarnya. Jomblo yang hanya bisa menikmati kesedihan, kesengsaraan, dan kesepian.”            
            Aku tak mengacuhkannya dan beralih menatap Aryo yang berhasil memenangkan permainannya. 
            Aryo kembali mendekatiku tepat waktu. Meskipun aku tahu bukan Aryo yang sengaja mendekatiku, tetapi jantungnya. Benar saja. Ia terlihat tersengal-sengal setelah berhasil mencetak skor di permainan futsalnya.
            “Kenapa, Yo? Capek?” Godaku membuat Aryo kembali merebut air mineral di tasku. 
            “Gila capek banget, La. Mataku udah burem aja. Aku kayak gak bisa main lagi.”
            “Ha-ha. Ya udah sih berhenti dulu.”
            “Kamu ngapain kesini lagi? Kamu yang mbasahin pakaian Kamala?” Aryo kembali tersulut emosi saat ia menatap pakaianku. 
            “Salda!” Teriakan mengerikan tiba-tiba terdengar dari kejauhan.
            Seorang lelaki bertubuh tinggi, berkulit cerah, dan berambut keriting memenuhi penglihatanku. Aku tahu. Ia adalah orang penting yang Salda punya. Salda tak menghiraukan Aryo. Ia kini pergi.
            Kaleng bekas yang Aryo tendang mengenai kepala Salda. Salda mengalihkan pandangan dengan wajah penuh amarah. 
            “Ha-ha. Usil banget sih!”      
            “Aku tahu, La. Kamu emang bodo amat tapi kamu sebenarnya kesel banget sama dia kan?”         
            Aku hanya tertawa sembari berulang kali memukul tangan Aryo dengan kesal. 
            “Kamu suka jomblo, La?”
            “Ha-ha. Pertanyaan macam apa itu?” 
            “Udah 18 tahun lho.”
            “Punya sahabat sebaik kamu udah cukup, Yo. Gak ada keinginan buat cari pacar dulu. Pacaran itu ribet.”
            “Emang kalau sama aku ribet?” 
            “Apaan sih, Yo!”
            Aryo berlari terbirit-birit saat melihatku terus mengejarnya. Pada akhirnya, ia menyerah dan kembali tersengal-sengal seperti semula.
            “Gila ya! Aku bisa mati kalau kamu terus ngejar aku, La!” 
            “Ha-ha. Makannya jangan macam-macam.”
            Dompet yang Aryo keluarkan melukiskan ekspresi congkak di wajahnya. Aku sadar bahwa uang yang ia bawa tidak sedikit. 
            “Apa tujuanmu pamer?” 
            “Aku traktir ya?”
            Restoran yang ramai membuatku sedikit canggung karena pakaianku yang tak berkesan sedikitpun. Aku menyembunyikan diri di balik tubuh Aryo yang memang lebih tinggi dariku. Aryo risih dan langsung menjauh. 
            “Kamu kenapa sih!”
            Tiba-tiba, tubuhku terpental dan terbanting ke arah tubuh Aryo. Jujur, aku terkejut. Wajah Salda dan pria berambut keriting itu ada di belakangku. 
            Aryo menahan lenganku dan berusaha melindungiku dari pertengkaran yang meresahkan banyak orang itu. 
            Semua orang berusaha melerai. Namun, Aryo diam. 
            “Yo.”
            Aku menatap Aryo cukup lama. Tapi, ia tetap tidak menurut. Pria itu kini menarik rambut Salda dengan lancang. Aku menggertak Aryo sembari lantas melihatnya yang langsung memisahkan kedua orang itu dengan kasar. Satpam pada akhirnya berhasil mengusir pria itu. 
Salda menatapku dengan matanya yang basah. 
            “Kamu puas?”
            Aku terdiam dan membalikkan tubuhku. 
            Langkah yang terdengar menjauh membuat mataku tidak bisa melihat Salda lagi. Aryo kembali mendekat dan menatapku dengan kesal. 
            “Kamu menyesal dengan apa yang kamu lakukan?”
            “Gak lah, Yo. Buat apa nyesel?” 
            Aryo tak mengacuhkanku. Pada akhirnya, kami bisa menyantap makanan dengan suasana yang baik-baik saja. 
            Suasana yang semakin gelap menyisakan kelelahan di wajah Aryo. 
            “Istirahatlah, Yo. Obatmu itu harus rutin kamu teguk setiap hari.”
            “Kenapa kamu khawatir? Kamu takut aku cepat pergi?” 
            “Aryo! Jangan bercanda terus dong!”
            “Iya-iya. Aku gak bakal cepet pergi. Buat kamu.”
Motor tua Aryo yang sudah berada di dekatku membuat lelaki ini langsung mengajakku dan melajukan kendaraannya.
            “Kamala!” Teriakan seorang perempuan yang terdengar membuatku memaksa Aryo untuk menghentikan motornya. 
            Aku mengalihkan pandanganku dan menatap Salda yang terus menangis di tepi jalan. 
            “Gak usah turun!” Ucap Aryo dengan tegas. 
            “Aku akan baik-baik saja, Yo.”
            Aku menuruni motor Aryo dan memberikan helmku padanya. Aryo mendengus kesal dan memarkirkan motornya di tepi jalan sambil terus menatapku dari kejauhan.
            “La, aku ingin kamu menutup mulut atas semua yang terjadi padaku hari ini.”
            Aku mengangguk pelan tanpa banyak menatapnya. 
            “Mengapa kamu terus menjadi jomblo yang menyebalkan? Mengapa kamu tidak pernah sedih ataupun menderita? Aku tidak suka!” 
            “Dia adalah salah satu alasanku menjadi jomblo yang menyebalkan. Aku bahagia di dekatnya.” Ucapku mengarahkan jari telunjukku pada Aryo yang terlihat bingung karena tingkahku. 
            “Dia bukanlah siapa-siapamu, La!" 
            “Seseorang tidak perlu menjadi siapa-siapa untuk membahagiakan orang lain.” Balasku dengan tegas padanya. 
            Salda pada akhirnya tutup mulut dan tetap menangis seorang diri. Aryo kelihatannya gemas karena aku tak segera kembali padanya. Ia kini menjemputku dan menarik tanganku untuk menjauh dari Salda. Tapi, Salda menahan Aryo. 
            “Kamu memang lelaki hebat, Yo. Kamu bisa membahagiakan seorang wanita. Bahkan, seorang dengan status pacar belum tentu bisa melakukannya.”
            Aryo tidak menanggapinya. Ia terus menarikku menjauh dan kembali mendekat pada motor tuanya. 
            “Apa yang dia katakan, La?”
            “Semuanya seperti yang kamu dengar.”
            Senyuman manis Aryo yang jarang tampak tiba-tiba membuatku sakit jantung. Debaran yang terlalu hebat mengubah warna wajahku. 
            “Ha-ha. Aku juga, La.”
            Aku tak paham dengan ucapannya. Kini, ia menatapku lamat-lamat dengan senyumannya. 
            “Kamulah yang membuatku juga bertahan menjadi jomblo yang menyebalkan”
            Kami tertawa lepas di sepanjang jalan. 

  



Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.
Powered By Blogger