“Arga!”             Air mata yang deras ke luar dari mata Airana. Sosok Arga yang sedang asik bermain kelereng lantas meni...

Angin yang Berubah Arah

/
0 Comments

 


            “Arga!”

            Air mata yang deras ke luar dari mata Airana. Sosok Arga yang sedang asik bermain kelereng lantas meninggalkan teman-temannya dan mendekati perempuan yang memiliki rambut panjang berombak itu.

            “Kenapa kamu menangis, Ran?”

            “Aku tidak punya teman,”

            Arga menatap banyak teman Airana yang memilih untuk bermain di tempat lain dan meninggalkannya. Sesegera mungkin, Arga kembali pada teman-temannya untuk meraih sepeda ontelnya pergi.

            “Ayo. Ikut denganku,” ajak Arga tak menghentikan tangisan Airana.

            Perlahan, kaki kecil Airana menaiki sepeda Arga dan membuat kaki kecil Arga mengayuh sepeda kecilnya menjauh.

            “Arga. Kamu membawa Airana pergi ke mana?”

            “Ke tempat yang Airana suka,”

            Airana memilih diam dan menerka-nerka tempat yang akan ia lihat. Sebuah taman bunga di kota adalah destinasi akhir mereka. Semua orang tergila-gila pada apa aneka bunga yang mereka lihat. Arga segera memarkirkan sepedanya dan lantas meninggalkan Airana yang masih mematung di atas sepeda Arga.

            “Arga, jangan tinggalkan aku!”

            “Aku akan kembali,”

            Belum lama Arga menjauh, kini, Airana sudah kesulitan menemukan raga Arga yang mengenakan topi hitam yang dikenakannya 180 derajat. Karena lelah menunggu, Airana memilih untuk turun dari sepeda Arga dan bersandar di sisi sepeda itu.

            “Airana, tutup matamu,”

            Airana awalnya bingung. Namun, karena paksaan Arga akhirnya dia menurut. Kini, ia membiarkan Arga berdiri di hadapannya dengan membawa sesuatu di tangannya.

            “Sekarang, buka matamu,”

            Airana membuka mata bulatnya perlahan dan terkesiap melihat satu tangkai baby rose memenuhi tangan kecil Arga.

            “Cantik sekali!” teriak Airana sembari menerima bunga pemberian Arga dan memeluknya.

            “Arga tidak ingin Airana sedih. Ini semua untuk Airana. Arga janji. Saat kita sudah besar nanti, Arga akan menikah dengan Airana,”

            “Kenapa Arga menikahi Airana?”

            “Agar Arga bisa menjaga Airana dan terus memberi bunga ini untuk Airana. Besok Arga pindah ke Medan. Tunggu, Arga pulang, ya,”

            “Arga pergi?”

            Arga diam dan membuat Airana kembali menangis tersedu-sedu.

            “Ayah bilang ada masalah. Airana tidak perlu sedih. Arga pasti kembali,”

***

            “Ran, aku pulang,”

            Pesan yang telah dinantikan bertahun-tahun pada akhirnya tiba di layar ponsel Airana. Bunga yang Arga beri kini sudah semakin lebat dan bertumbuh banyak. Janji Arga di masa itu juga tidak mampu terhapuskan dari benak Airana. Usia yang sudah menginjak umur 20 tahun adalah usia yang Airana yakini tepat untuk bisa menikahinya.

            “Nak? Kamu tahu kabar kepulangan Arga?” tanya ayah sembari berbicara dari balik pintu ruangan Airana.

            “Aku tahu, Yah. Dia pasti kembali untuk menepati janjinya,”

            Ayah tak menjawab. Tiba-tiba, suara decitan pintu terdengar. Hal itu menyadarkanku bahwa ayah masuk ke dalam ruanganku.

            “Nak, janji itu sudah terlalu lama dan kalian masih kecil,”

            “Ayah, mengapa terus mempermasalahkan ini? Arga tak mungkin mengingkari janjinya,”

            “Dengar, Nak. Manusia itu ibarat angin yang mudah berubah arah tiap waktu. Usia belasan bukanlah usia yang benar-benar mengerti keseriusan sebuah pernikahan, Nak,”

            Airana tak mau mendengarkan dan memilih untuk mengecup pipi ayahnya.

            “Ayah tidak perlu khawatir. Semua akan baik-baik saja,”

            Ayah tak lagi berbicara dan mengelus kepala Airana dengan lembut. Namun, wajahnya terlihat sedih. Ia terlalu takut melihat anak semata wayangnya itu kecewa.

            Sinar mentari yang datang memperdengarkan kendaraan beroda empat yang berisik di depan rumah Airana. Arga benar-benar kembali. Airana yang lantas ke luar dari rumah tanpa berpamitan dengan ayahnya membuat ayahnya sangat cemas dan mencari Airana di seluruh ruangan di rumahnya.

            “Arga!” teriak Airana mengundang senyuman di keluarga Arga.

            “Airana? Kamu tambah cantik saja,” puji ibu dan ayah Arga pada Airana.

            Lelaki dengan hoodie hitam dan topi yang dikenakan 180 derajat membuat hati Airana berbunga-bunga. Kini, Arga menatap Airana dengan senyumannya yang tak berubah dari lima tahun yang lalu.

            “Hai,” sapa Arga sembari mendekati Airana.

            Dia begitu tinggi hingga Airana harus menatapnya dengan terus mendongak padanya. Dengan segera, Airana menarik Arga untuk mengajaknya pergi ke taman kota. Arga yang terlalu lelah dengan kantong matanya yang tebal berhasil ia sembunyikan dengan baik dari Airana.

            “Kamu ingat taman ini, Ga?”

            Arga mengangguk. Ponsel yang penuh dengan tanaman baby rose ditunjukkan Airana pada lelaki itu.

            Wow. Kamu benar-benar merawatnya?”

            “Iya, Ga. Aku tidak perlu jauh-jauh ke taman kota ini lagi untuk melihat baby rose kesukaanku.”

            Arga tersenyum tipis dan lantas duduk di salah satu kursi taman yang ia lihat.

            “Ga, apakah kamu mengingat suatu momen yang tak terlupakan di taman ini?”

            “Aku mengingat semuanya, Ran,”

            “Termasuk janjimu dulu padaku?”

            Arga menegakkan tubuhnya dan menatap Airana dengan serius.

            “Janji apa, Ran?”

            “Kamu akan menikahiku saat dewasa,” ucap Airana dengan senyuman yang berbinar-binar.

            “Ha-ha. Itu sudah sangat lama, Ran. Tunggu. Apakah kamu menyeriusi kata-kataku itu?”

            Airana menatap Arga dengan terkejut. Ia perlahan menggangguk dan terus menatap Arga yang terlihat tak benar-benar menyeriusi perkataanya.

            “Ha-ha. Ran, dengar. Itu sudah berlalu. Kita sudah tak bersama selama lima tahun. Anggap itu adalah hal lucu yang pernah aku ucapkan padamu dulu,”

            “Apa? Apakah kamu berpikir pernikahan itu lucu?”

            “Seorang laki-laki berumur lima belas tahun yang sudah berkata tentang pernikahan adalah hal terbodoh yang pernah aku lakukan dalam hidupku. Ha-ha. Maafkan aku, ya,"

            Arga tak berhenti tertawa dan terus mengusap kepala Airana. Wajah ceria yang awalnya terlihat kini memudar dari wajah Airana. Air mata perlahan menetes dari matanya tetapi Arga tidak menyadarinya. Arga sibuk menyentuh dada kirinya berulang kali.

            “Jadi, semua ini adalah kebohongan?”

            Arga mengangguk dan lantas terkejut melihat air mata yang sudah berderai deras di wajah Airana. Arga begitu panik dan sesegera mungkin mengusap air mata Airana. Namun, Airana menepis tangannya.

            “Kamu jahat, Ga! Aku sudah meninggalkan banyak hal untukmu! Aku selalu menantikanmu pulang untuk memenuhi janjimu dulu. Kamu benar-benar jahat!”

            “Ran. Dengar aku. Itu sudah berlalu,”

            “Aku selalu percaya bahwa kamu tidak akan pernah mengecewakanku dan mengikari janjimu. Namun ternyata, bukan hanya mengingkari tetapi kamu juga melupakan janjimu!”

            Arga beranjak dan menarap Airana yang lantas berlari dari hadapannya.

            “Ran, tunggu! Aku minta maaf,”

            Airana sudah berlari cukup jauh dari Arga. Melihat ini semua, Arga berusaha mengejar Airana. Saat ia menyadari bahwa langkahnya terlalu cepat, ia merasakan rasa sakit yang luar biasa di dada kirinya. Meskipun ia kesakitan, ia terus berusaha mengejar Airana hingga pada akhirnya semua terlihat gelap.

            Brak!

            Ayah terkejut melihat Airana yang tiba-tiba saja mengunci diri di kamarnya. Ayah berusaha mengetuk pintu ruangan Airana. Namun, ia hanya mendengar suara tangisannya. Seketika, ayah ke luar dari rumahnya dan mencari batang hidung Arga.

            “Tolong!”

            Suara pria yang terlihat panik mengundang rasa empati ayah sehingga berniat untuk mendekati mereka.

            “Ada apa, Pak?” tanya ayah yang berusaha tenang.

            “Ada anak laki-laki yang pingsan dekat taman kota, Pak.”

            Ayah begitu terkejut. Ia lantas berlari dan mendatangi lokasi.

            “Arga?” ucap ayah yang begitu terkejut dan sesegera mungkin menelepon ambulans.

            Ayah terus menatap wajah Arga yang begitu pucat. Suara ambulans yang sudah hadir membuat semua tenaga kesehatan segera mengangkat tubuh Arga dan membiarkan ayah ikut masuk dan duduk di samping Arga.

            Seorang dokter berusaha untuk memberikannya setrum kejut pada daerah dadanya. Nyatanya, jantung Arga kini berhenti. Ayah tak segera mengabarkan berita buruk ini pada orang tua Arga. Namun, melihat kondisi Arga yang begitu memilukan, membuat ayah pada akhirnya menghubungi keluarga Arga. Saat hendak menelepon, tiba-tiba Arga terbangun.

            “Om, tolong. Jangan beritahu orang tua saya,”

            Ayah tak banyak menjawab dan terus berusaha membantu agar Arga segera mendapatkan perawatan yang baik.

***

            “Arga jahat!”

            Airana tak berhenti mengumpat dan terus menangis atas realita yang ia terima. Setelah lelah menangis, Airana meninggalkan ruangannya.

            “Ayah aku ingin memberitahukan sesuatu,”

            Suasana sepi yang ada membuat Airana sadar bahwa ayahnya pergi.

            “Ayah?”

            Ia berusaha mencari ayah dengan berkeliling dan memasuki ruangan-ruangan di dalam rumah. Namun, ia tidak menemukan ayah dimanapun. Ponsel yang Airana bawa lantas mengarahkan pandangannya pada nomor milik ayah.

            Kriek!

            Saat hendak menelepon ayah, Airana mendengar suara pintu yang terbuka.

            “Ayah dari mana-” tanya Airana yang terjeda karena menatap Arga dengan wajah yang begitu pucat berjalan sempoyongan di samping ayah.

            “Arga? Kamu kenapa?” tanya Airana yang begitu panik.

            Ha-ha. Sakit jantungku kumat,”

            “Sakit jantung?”

            Arga tersenyum sembari perlahan duduk di sofa ruang tamu Airana.

            “Nak, jangan marah terhadap Arga atas apa yang pernah ia ucapkan dulu. Jangan biarkan satu kesalahan membuat pertemanan kalian hancur. Setiap kali kamu berbuat salah, Arga selalu memaafkanmu. Apa kamu bisa melakukan itu pada Arga?”

            Airana terlihat bimbang. Wajah pucat yang Arga paksa segar membuat Airana mencubit lengan Arga dengan keras.

            Ah sakit!”

            “Bersikaplah apa adanya. Jika masih sakit, jangan pura-pura kuat!”

            Ha-ha aku tidak ingin kamu mengasihaniku,”

            “Aku minta maaf, Ga,”

            “Kamu tidak bersalah sedikitpun, Ran,”

            “Aku sudah membuat penyakitmu kambuh. Mengapa kamu mudah memaafkanku?”

            “Sederhana. Aku tak pernah bisa marah padamu. Itu alasannya,”

            Airana menatap Arga dengan penuh perhatian. Wajah pucat Arga yang masih ada membuat ayah terus menawarkannya untuk menyantap sesuatu.

            “Kamu mau memaafkan dia, Nak?”

            Airana segera mengangguk dan melingkarkan jari kelingkingnya pada kelingking Arga.   

            “Kamu memang anak yang baik, Nak,” ucap ayah lantas membuat Airana langsung memeluk ayah.

***

            "Terima kasih atas hari itu, Ga. Parahnya aku baru mengetahui penyakitmu setelah kita dewasa. He-he. Aku tahu kamu akan selalu menjadi malaikat pelindungku meskipun kita sudah berbeda tempat. Semoga kamu bahagia dengan jantung yang tak akan pernah sakit lagi, Ga. Salam kelingking,"

            Bunga tabur yang tak pernah lupa Airana tebarkan terus ia lakukan tanpa bosan. Bukan akhir yang  ia inginkan tetapi semua sudah terbayarkan. Sahabat sesempurna Arga tak akan pernah mengecewakannya. Arga tersenyum di balik nisan dan lantas pergi bersama dengan angin.

            Arga memang pergi tetapi ia tidak pernah meninggalkan Airana.



Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.
Powered By Blogger