Entri Populer
My heart feel...
This is my feeling
“Arga!” Air mata yang deras ke luar dari mata Airana. Sosok Arga yang sedang asik bermain kelereng lantas meni...
“Arga!”
Air mata yang
deras ke luar dari mata Airana. Sosok Arga yang sedang asik bermain kelereng
lantas meninggalkan teman-temannya dan mendekati perempuan yang memiliki rambut
panjang berombak itu.
“Kenapa kamu
menangis, Ran?”
“Aku tidak punya
teman,”
Arga menatap
banyak teman Airana yang memilih untuk bermain di tempat lain dan meninggalkannya.
Sesegera mungkin, Arga kembali pada teman-temannya untuk meraih sepeda ontelnya
pergi.
“Ayo. Ikut
denganku,” ajak Arga tak menghentikan tangisan Airana.
Perlahan, kaki
kecil Airana menaiki sepeda Arga dan membuat kaki kecil Arga mengayuh sepeda
kecilnya menjauh.
“Arga. Kamu
membawa Airana pergi ke mana?”
“Ke tempat yang
Airana suka,”
Airana memilih
diam dan menerka-nerka tempat yang akan ia lihat. Sebuah taman bunga di kota
adalah destinasi akhir mereka. Semua orang tergila-gila pada apa aneka bunga
yang mereka lihat. Arga segera memarkirkan sepedanya dan lantas meninggalkan
Airana yang masih mematung di atas sepeda Arga.
“Arga, jangan
tinggalkan aku!”
“Aku akan kembali,”
Belum lama Arga
menjauh, kini, Airana sudah kesulitan menemukan raga Arga yang mengenakan topi
hitam yang dikenakannya 180 derajat. Karena lelah menunggu, Airana memilih
untuk turun dari sepeda Arga dan bersandar di sisi sepeda itu.
“Airana, tutup
matamu,”
Airana awalnya
bingung. Namun, karena paksaan Arga akhirnya dia menurut. Kini, ia membiarkan
Arga berdiri di hadapannya dengan membawa sesuatu di tangannya.
“Sekarang, buka
matamu,”
Airana membuka
mata bulatnya perlahan dan terkesiap melihat satu tangkai baby rose memenuhi
tangan kecil Arga.
“Cantik sekali!” teriak
Airana sembari menerima bunga pemberian Arga dan memeluknya.
“Arga tidak ingin
Airana sedih. Ini semua untuk Airana. Arga janji. Saat kita sudah besar nanti,
Arga akan menikah dengan Airana,”
“Kenapa Arga
menikahi Airana?”
“Agar Arga bisa
menjaga Airana dan terus memberi bunga ini untuk Airana. Besok Arga pindah ke
Medan. Tunggu, Arga pulang, ya,”
“Arga pergi?”
Arga diam dan
membuat Airana kembali menangis tersedu-sedu.
“Ayah bilang ada
masalah. Airana tidak perlu sedih. Arga pasti kembali,”
***
“Ran, aku pulang,”
Pesan yang telah dinantikan
bertahun-tahun pada akhirnya tiba di layar ponsel Airana. Bunga yang Arga beri
kini sudah semakin lebat dan bertumbuh banyak. Janji Arga di masa itu juga
tidak mampu terhapuskan dari benak Airana. Usia yang sudah menginjak umur 20
tahun adalah usia yang Airana yakini tepat untuk bisa menikahinya.
“Nak? Kamu tahu
kabar kepulangan Arga?” tanya ayah sembari berbicara dari balik pintu ruangan
Airana.
“Aku tahu, Yah.
Dia pasti kembali untuk menepati janjinya,”
Ayah tak menjawab.
Tiba-tiba, suara decitan pintu terdengar. Hal itu menyadarkanku bahwa ayah
masuk ke dalam ruanganku.
“Nak, janji itu
sudah terlalu lama dan kalian masih kecil,”
“Ayah, mengapa
terus mempermasalahkan ini? Arga tak mungkin mengingkari janjinya,”
“Dengar, Nak.
Manusia itu ibarat angin yang mudah berubah arah tiap waktu. Usia belasan
bukanlah usia yang benar-benar mengerti keseriusan sebuah pernikahan, Nak,”
Airana tak mau
mendengarkan dan memilih untuk mengecup pipi ayahnya.
“Ayah tidak perlu khawatir.
Semua akan baik-baik saja,”
Ayah tak lagi
berbicara dan mengelus kepala Airana dengan lembut. Namun, wajahnya terlihat
sedih. Ia terlalu takut melihat anak semata wayangnya itu kecewa.
Sinar mentari yang
datang memperdengarkan kendaraan beroda empat yang berisik di depan rumah
Airana. Arga benar-benar kembali. Airana yang lantas ke luar dari rumah tanpa
berpamitan dengan ayahnya membuat ayahnya sangat cemas dan mencari Airana di
seluruh ruangan di rumahnya.
“Arga!” teriak
Airana mengundang senyuman di keluarga Arga.
“Airana? Kamu
tambah cantik saja,” puji ibu dan ayah Arga pada Airana.
Lelaki dengan hoodie
hitam dan topi yang dikenakan 180 derajat membuat hati Airana berbunga-bunga.
Kini, Arga menatap Airana dengan senyumannya yang tak berubah dari lima tahun
yang lalu.
“Hai,” sapa Arga sembari
mendekati Airana.
Dia begitu tinggi
hingga Airana harus menatapnya dengan terus mendongak padanya. Dengan segera,
Airana menarik Arga untuk mengajaknya pergi ke taman kota. Arga yang terlalu
lelah dengan kantong matanya yang tebal berhasil ia sembunyikan dengan baik
dari Airana.
“Kamu ingat taman
ini, Ga?”
Arga mengangguk.
Ponsel yang penuh dengan tanaman baby rose ditunjukkan Airana pada
lelaki itu.
“Wow. Kamu
benar-benar merawatnya?”
“Iya, Ga. Aku
tidak perlu jauh-jauh ke taman kota ini lagi untuk melihat baby rose
kesukaanku.”
Arga tersenyum
tipis dan lantas duduk di salah satu kursi taman yang ia lihat.
“Ga, apakah kamu
mengingat suatu momen yang tak terlupakan di taman ini?”
“Aku mengingat semuanya,
Ran,”
“Termasuk janjimu
dulu padaku?”
Arga menegakkan
tubuhnya dan menatap Airana dengan serius.
“Janji apa, Ran?”
“Kamu akan
menikahiku saat dewasa,” ucap Airana dengan senyuman yang berbinar-binar.
“Ha-ha. Itu sudah
sangat lama, Ran. Tunggu. Apakah kamu menyeriusi kata-kataku itu?”
Airana menatap
Arga dengan terkejut. Ia perlahan menggangguk dan terus menatap Arga yang
terlihat tak benar-benar menyeriusi perkataanya.
“Ha-ha. Ran,
dengar. Itu sudah berlalu. Kita sudah tak bersama selama lima tahun. Anggap itu
adalah hal lucu yang pernah aku ucapkan padamu dulu,”
“Apa? Apakah kamu
berpikir pernikahan itu lucu?”
“Seorang laki-laki
berumur lima belas tahun yang sudah berkata tentang pernikahan adalah hal
terbodoh yang pernah aku lakukan dalam hidupku. Ha-ha. Maafkan aku, ya,"
Arga tak berhenti
tertawa dan terus mengusap kepala Airana. Wajah ceria yang awalnya terlihat
kini memudar dari wajah Airana. Air mata perlahan menetes dari matanya tetapi
Arga tidak menyadarinya. Arga sibuk menyentuh dada kirinya berulang kali.
“Jadi, semua ini
adalah kebohongan?”
Arga mengangguk
dan lantas terkejut melihat air mata yang sudah berderai deras di wajah Airana.
Arga begitu panik dan sesegera mungkin mengusap air mata Airana. Namun, Airana
menepis tangannya.
“Kamu jahat, Ga!
Aku sudah meninggalkan banyak hal untukmu! Aku selalu menantikanmu pulang untuk
memenuhi janjimu dulu. Kamu benar-benar jahat!”
“Ran. Dengar aku.
Itu sudah berlalu,”
“Aku selalu percaya
bahwa kamu tidak akan pernah mengecewakanku dan mengikari janjimu. Namun
ternyata, bukan hanya mengingkari tetapi kamu juga melupakan janjimu!”
Arga beranjak dan
menarap Airana yang lantas berlari dari hadapannya.
“Ran, tunggu! Aku
minta maaf,”
Airana sudah
berlari cukup jauh dari Arga. Melihat ini semua, Arga berusaha mengejar Airana.
Saat ia menyadari bahwa langkahnya terlalu cepat, ia merasakan rasa sakit yang
luar biasa di dada kirinya. Meskipun ia kesakitan, ia terus berusaha mengejar
Airana hingga pada akhirnya semua terlihat gelap.
Brak!
Ayah terkejut
melihat Airana yang tiba-tiba saja mengunci diri di kamarnya. Ayah berusaha
mengetuk pintu ruangan Airana. Namun, ia hanya mendengar suara tangisannya.
Seketika, ayah ke luar dari rumahnya dan mencari batang hidung Arga.
“Tolong!”
Suara pria yang
terlihat panik mengundang rasa empati ayah sehingga berniat untuk mendekati
mereka.
“Ada apa, Pak?”
tanya ayah yang berusaha tenang.
“Ada anak
laki-laki yang pingsan dekat taman kota, Pak.”
Ayah begitu
terkejut. Ia lantas berlari dan mendatangi lokasi.
“Arga?” ucap ayah
yang begitu terkejut dan sesegera mungkin menelepon ambulans.
Ayah terus menatap
wajah Arga yang begitu pucat. Suara ambulans yang sudah hadir membuat semua
tenaga kesehatan segera mengangkat tubuh Arga dan membiarkan ayah ikut masuk
dan duduk di samping Arga.
Seorang dokter
berusaha untuk memberikannya setrum kejut pada daerah dadanya. Nyatanya,
jantung Arga kini berhenti. Ayah tak segera mengabarkan berita buruk ini pada
orang tua Arga. Namun, melihat kondisi Arga yang begitu memilukan, membuat ayah
pada akhirnya menghubungi keluarga Arga. Saat hendak menelepon, tiba-tiba Arga
terbangun.
“Om, tolong.
Jangan beritahu orang tua saya,”
Ayah tak banyak
menjawab dan terus berusaha membantu agar Arga segera mendapatkan perawatan
yang baik.
***
“Arga jahat!”
Airana tak
berhenti mengumpat dan terus menangis atas realita yang ia terima. Setelah
lelah menangis, Airana meninggalkan ruangannya.
“Ayah aku ingin
memberitahukan sesuatu,”
Suasana sepi yang
ada membuat Airana sadar bahwa ayahnya pergi.
“Ayah?”
Ia berusaha
mencari ayah dengan berkeliling dan memasuki ruangan-ruangan di dalam rumah. Namun,
ia tidak menemukan ayah dimanapun. Ponsel yang Airana bawa lantas mengarahkan
pandangannya pada nomor milik ayah.
Kriek!
Saat hendak menelepon
ayah, Airana mendengar suara pintu yang terbuka.
“Ayah dari mana-” tanya
Airana yang terjeda karena menatap Arga dengan wajah yang begitu pucat berjalan
sempoyongan di samping ayah.
“Arga? Kamu
kenapa?” tanya Airana yang begitu panik.
“Ha-ha.
Sakit jantungku kumat,”
“Sakit jantung?”
Arga tersenyum
sembari perlahan duduk di sofa ruang tamu Airana.
“Nak, jangan marah
terhadap Arga atas apa yang pernah ia ucapkan dulu. Jangan biarkan satu
kesalahan membuat pertemanan kalian hancur. Setiap kali kamu berbuat salah,
Arga selalu memaafkanmu. Apa kamu bisa melakukan itu pada Arga?”
Airana terlihat
bimbang. Wajah pucat yang Arga paksa segar membuat Airana mencubit lengan Arga
dengan keras.
“Ah sakit!”
“Bersikaplah apa
adanya. Jika masih sakit, jangan pura-pura kuat!”
“Ha-ha aku
tidak ingin kamu mengasihaniku,”
“Aku minta maaf, Ga,”
“Kamu tidak
bersalah sedikitpun, Ran,”
“Aku sudah membuat
penyakitmu kambuh. Mengapa kamu mudah memaafkanku?”
“Sederhana. Aku
tak pernah bisa marah padamu. Itu alasannya,”
Airana menatap
Arga dengan penuh perhatian. Wajah pucat Arga yang masih ada membuat ayah terus
menawarkannya untuk menyantap sesuatu.
“Kamu mau
memaafkan dia, Nak?”
Airana segera
mengangguk dan melingkarkan jari kelingkingnya pada kelingking Arga.
“Kamu memang anak
yang baik, Nak,” ucap ayah lantas membuat Airana langsung memeluk ayah.
***
"Terima kasih
atas hari itu, Ga. Parahnya aku baru mengetahui penyakitmu setelah kita dewasa.
He-he. Aku tahu kamu akan selalu menjadi malaikat pelindungku meskipun
kita sudah berbeda tempat. Semoga kamu bahagia dengan jantung yang tak akan
pernah sakit lagi, Ga. Salam kelingking,"
Bunga tabur yang
tak pernah lupa Airana tebarkan terus ia lakukan tanpa bosan. Bukan akhir
yang ia inginkan tetapi semua sudah
terbayarkan. Sahabat sesempurna Arga tak akan pernah mengecewakannya. Arga
tersenyum di balik nisan dan lantas pergi bersama dengan angin.
Arga memang pergi
tetapi ia tidak pernah meninggalkan Airana.