Entri Populer
My heart feel...
This is my feeling
story request : Anonim “ Duh! Capek!” Keluhku sembari mencari tempat peristirahatan di persimpangan jalan seusai lari ...
story request : Anonim
“Duh! Capek!”
Keluhku sembari mencari tempat peristirahatan di persimpangan jalan seusai lari
pagi.
Air mineral yang
perlahan kugelontorkan ke dalam kerongkonganku tiba-tiba terganggu. Aku tersedak
hingga air mataku begitu pedih. Aku benar-benar terkejut melihat seorang lelaki
bertubuh jangkung tiba-tiba berlari tepat di depan mataku. Hampir saja aku
memarahinya. Namun, ini bukan semata-mata kesalahan lelaki itu. Siapa suruh
melamun di tepi jalan? Benar. Ini kesalahanku.
Setelah merasakan kerongkongan
yang terasa ringan, aku kini melangkahkan kakiku lebar-lebar untuk melanjutkan
lari pagiku. Kaki kecilku yang terkadang membuat banyak orang menyangka bahwa
aku adalah anak SMP membuat tubuhku bisa bergerak dengan lincah.
Brak!
Entah di mana fokusku, kini, aku merasakan tubuhku tergeletak lesu
di persimpangan yang sama di mana aku terkejut melihat lelaki itu. Tak
disangka, aku menabrak lelaki itu.
“Kamu baik-baik
saja?” Tanya laki-laki itu berusaha peduli meskipun matanya tak benar-benar
menunggu jawabanku.
Aku diam dan
berusaha untuk beranjak dengan usaha dan tenagaku seorang diri. Saat berhasil
berdiri tegap, lelaki itu menghilang. Earphone yang masih tergelantung
memaksaku untuk memainkan sebuah lagu hardcore. Aku tidak boleh hilang
fokus seperti ini. Kos yang sudah ada di depan mata memaksaku untuk segera
memasuki bangunan tua itu dengan tergesa-gesa.
“Flo? Kamu waras?”
Tanya teman satu kosku sembari menatapku dengan kebingungan.
“Apa maksudmu
waras? Tentu saja aku waras,”
“Baguslah. Kamu
terlihat begitu gugup,”
Aku tak
benar-benar mendengarkan ucapannya. Keringat yang sudah mengucur deras
memaksaku untuk mengusapnya dengan kertas tisu yang ada di dekatku.
“Mengapa aku
begitu gugup? Aku sama sekali tidak mengenalnya. Bahkan, ini adalah kali pertamanya
aku melihatnya,” Batinku sembari terus memukul pelan pelipisku dan mengalungkan
handukku yang begitu lebar menuju kamar mandi.
“Apakah kalian
pernah bertemu seorang lelaki bertubuh jangkung yang selalu mengenakan topi hitam?”
Tanya salah satu temanku saat aku membawa sepiring nasi ke meja makan.
“Iya. Entah aku
yang tidak terlalu memerhatikan sekitar atau memang ia sudah lama tinggal di sini,”
“Aku mendengar
bahwa dia memang orang baru. Itulah mengapa kita baru menemuinya sekarang,”
Aku terdiam dan
terus memasukkan beberapa sendok berisi nasi ke dalam mulutku. Aku berusaha tidak
mencari tahu tentang apa yang mereka bicarakan. Aku membuka ponselku dan
memutar salah satu channel youtube favoritku.
“Flo, apa kamu
bertemu dengan lelaki bertopi hitam itu saat lari pagi tadi?”
“Tidak,”
Aku beruntung.
Teman-temanku tidak menanyakan pertanyaan lain terkait lelaki misterius itu. Meskipun
mataku terfokus pada layar ponselku, aku mendengar mereka yang terus berbicara
tentang lelaki itu. Mengapa mereka begitu menyukai lelaki itu?
***
“Lari pagi lagi!”
Teriakku bersemangat sembari mengambil ancang-ancang dan melakukan peregangan
otot pada seluruh tubuhku.
Guk! Guk! Suara
anjing yang aku dengar perlahan mengejutkanku. Aku berusaha untuk berlari lebih
pelan dari sebelumnya. Suara itu nyatanya semakin dekat. Aku merasa anjing itu
kini sudah ada di belakangku. Aku pun memilih untuk berjalan dan memutar
musikku kencang-kencang.
Aku memang ingin
lari pagi tetapi bukan lari dari kejaran anjing.
Saat sedikit
menunduk, aku melihat sepasang sepatu melewatiku. Aku perlahan mendongak. Aku
bertemu lelaki bertopi hitam itu lagi? Aku sadar. Anjing yang terasa begitu
dekat denganku adalah anjing kepunyaannya. Dari kejauhan, mereka terlihat
sama-sama mengerikannya.
Aku perlahan
melambatkan lajuku agar tidak terkesan mengejar mereka. Hembusan napas yang
begitu berat aku ajukan. Mengapa aku terus bertemu dengannya di persimpangan
jalan itu? Apakah tidak ada jalan lain agar kami tidak bertemu lagi?
Aku pun memilih
untuk berputar arah. Banyak jalan yang belum aku eksplor selama ini.
Mungkin, dengan begitu aku tidak perlu bertemu dengan lelaki itu.
“Mbak! Berhenti!”
Teriak seseorang dari kejauhan.
Aku perlahan menoleh
dan terkejut melihat anjing yang tadi aku lihat kini mengejarku. Aku lantas
memilih untuk jongkok dan melindungi kepalaku dengan kedua tanganku. Aku tidak
ingin habis dimakan oleh anjing yang menakutkan itu.
“Mbak tidak
apa-apa?” Tanya seseorang sembari berusaha membuka kedua tanganku.
“Aku sudah
mengikatnya kembali. Kamu tidak perlu khawatir,”
Aku perlahan
membuka kedua tanganku dan mendongak. Aku berdecak. Mengapa aku masih bertemu
dengan lelaki ini? Ia bahkan kini melihatku dengan begitu khawatir.
“Tunggu. Apa kita
pernah bertemu sebelumnya?” Tanyanya sembari berusaha menajamkan kedua matanya
untuk menatapku.
“Tidak. Anda salah
orang. Permisi,” Ucapku ketus sembari berlari mendahuluinya.
Ini benar-benar memalukan.
Bagaimana bisa aku bertemu dengannya lagi meskipun aku sudah mengambil jalan lain?
Aku selalu ketakutan dan gugup setiap kali berpas-pasan dengannya.
Brak!
“Flo? Kamu kenapa?” Tanya teman kosku dengan wajah khawatir.
“Ha? Tidak
apa-apa. Pintunya terdorong angin tadi,” Balasku berusaha mengalihkan kepanikanku.
“Mengapa wajahmu
terlihat aneh setiap kali kamu pulang dari jogging?”
“Aku kelelahan.
Hari ini aku berlari sangat jauh,” Balasku sembari lantas bersih diri dan berbaring
di atas ranjangku.
Di dalam kamarku,
aku mendengar teman-temanku yang masih membicarakan lelaki bertopi hitam itu. Kini,
aku sadar. Banyak perempuan yang menggilainya. Karena kepanikan yang berlebihan
membuat tubuhku teramat letih. Pada akhirnya, aku terlelap.
***
“Flo? Mengapa kamu
masih berbaring? Kamu tidak lari pagi?”
“Oh, ya.
Aku sedang bersiap,”
Langit yang
terlihat mendung membuatku bertekad untuk berkeliling dalam waktu yang tidak
lama. Aku ke luar dari kos dengan begitu berhati-hati. Mataku berkeliling
sembari memastikan bahwa tidak ada siapapun selain aku yang berlari di pagi
ini. Lima menit berlalu, kini, aku percaya bahwa aku benar-benar sendirian. Suasana
yang dingin dan semilir angin yang menepuk wajahku membuatku bisa berlari pagi
dengan begitu tenang.
Saat sedang bersenang-senang
dalam lamunan, aku terkejut melihat jalan yang aku ambil. Mengapa aku kembali
berjalan menuju persimpangan ini? Air hujan yang tiba-tiba menetes memaksaku
untuk berteduh di dekat persimpangan itu. Hujan yang semakin deras nyatanya mengurungku
cukup lama di gazebo kecil ini.
“Gila! Deres
banget!” Ucap seseorang yang tiba-tiba berdiri di sampingku.
Aku terkejut. Ekor
mataku berhasil menangkap raga lelaki bertopi hitam itu. Kini, aku tidak bisa
melarikan diri seperti biasanya. Tak banyak hal yang bisa aku lakukan. Aku hanya
memainkan ponselku dan berdiri sedikit menjauh darinya. Aku berusaha untuk
tetap tenang meskipun mataku terus bergerak panik.
“Lho, Mbak?
Mbak yang dikejar anjing saya kemarin, ya?”
Aku menggeleng.
Lelaki itu terlihat begitu bingung dan masih menatapku.
“Apakah kamu yang
minum air mineral di persimpangan ini sampai tersedak?”
Aku menggeleng
lagi. Hujan yang semakin deras benar-benar memberikannya kesempatan untuk terus
menginterogasiku.
“Aku Firhan,”
Saat sudah tak
menatapnya, tiba-tiba lelaki itu mengulurkan tangannya dan mengajakku untuk
berkenalan. Perlahan, aku menjabat tangannya.
“Siapa namamu?”
“Flo,” Balasku
singkat membuat lelaki itu menggangguk paham.
“Hujan ini tidak
akan kunjung reda. Apakah rumahmu dekat dari sini?” Tanya Firhan sembari
terlihat sedang mencari sesuatu di sekitarnya.
“Dekat,”
“Ayo. Aku antar
kamu pulang,” Ajak Firhan yang tiba-tiba membentangkan jaketnya padaku.
“Tidak. Aku
menunggu hingga reda saja,”
“Kamu benar-benar
ingin menunggu hingga reda?” Tanya Firhan sembari mengulurkan jari telunjuknya
pada kakiku.
Hujan yang begitu
deras membanjiri kompleks perumahan ini. Aku lantas panik dan melepas kedua sepatuku
dan membiarkan kakiku berdiri tanpa alas kaki.
“Jadi? Kamu mau ikut
pulang bersamaku? Percayalah. Jaket ini cukup tebal,” Ajak Firhan yang terlihat
pantang menyerah untuk terus membujukku.
“Baiklah,”
Aku kini mengalah
dan berteduh di bawah jaket Firhan. Kami berlari bersama. Kakinya yang begitu
lebar membuatku kewalahan dan tak jarang aku tertinggal jauh. Bukannya
mengeluh, Firhan malah tertawa dan berusaha mengimbangi langkah kecilku. Aku
salah sangka. Lelaki ini tidak semenakutkan apa yang aku pikirkan.
Pada akhirnya, aku
sudah sampai kos. Ia lantas memeras jaketnya dan melepas topi hitamnya yang
basah. Payung yang masih aku letakkan di depan kos memberikanku ide untuk meminjamkannya
pada Firhan. Setidaknya, itu bisa membalas kebaikannya hari ini.
“Bawa payungku,”
Ucapku membuat Firhan tersenyum dan mengangguk.
“Terima kasih,
Flo. Aku akan segera mengembalikannya,”
Aku mengangguk dan
membiarkannya pergi. Namun, ia tidak segera pergi. Ia kembali mendekat dengan
wajahnya yang terlihat sangat basah.
“Aku tunggu kamu
di persimpangan besok,”
Aku tersenyum dan
melihatnya pergi dari hadapanku. Baiklah. Mulai hari ini, aku akan terus
mendapatkan cerita setiap kali aku lari pagi di persimpangan itu. Aku akan
terus menantikan kejutannya.
“Flo! Kamu sedang
bersiap apa? Kamu kini malah tertidur!”
Aku terkejut dan
lantas membuka mataku lebar-lebar. Mimpi apa itu? Mimpi macam apa? Lelaki itu
benar-benar membuatku mabuk kepayang. Aku beruntung aku belum benar-benar mengenalnya.
“Flo! Ada tamu
yang mencarimu!”
Mata yang terasa
begitu berat membuatku melangkah dengan malas. Aku beranjak dan membuka pintu
itu dengan gemetar.
“Aku mengembalikan
payungmu. Terima kasih, Flo,”
Tunggu. Apakah aku
benar-benar sudah mengenalnya? Atau ini hanya mimpi belaka?