Entri Populer
My heart feel...
This is my feeling
Suara ambulans yang begitu kencang benar-benar membuatku terganggu. Semua manusia dengan wajah khawatir meskipun tertutup ...
Suara ambulans
yang begitu kencang benar-benar membuatku terganggu. Semua manusia dengan wajah
khawatir meskipun tertutup oleh masker membuatku dan keluargaku terpaksa ikut
campur.
“Mengapa mereka
berhenti di teras kita?” tanyaku tak menuai jawaban apapun dari ayah dan ibu.
“Dit! Mengapa kamu
terus mengurung diri di kamar? Lihat, ada ambulans di rumah kita. Tunggu.
Ambulans itu datang untuk Adit, Yah?” tanyaku yang merasakan panik karena perlahan
beberapa petugas kesehatan memasuki rumah kami dan menyemprotkan cairan memenuhi
kediaman kami.
“Silakan ikut kami
ke ambulans atas nama Indri, bu Rosa, dan pak Tius,”
Mataku membulat
dengan hebat. Kekhawatiran yang aku pikir menimpa adikku, Adit, nyatanya malah
tertuju padaku.
“Ibu tahu kamu
akan sangat terkejut, Ndri. Kita harus karantina,” ucap ibu sembari melangkah
mengikuti petugas kesehatan yang sudah memimpin jalan kami.
Ayah berdiri di
belakangku dan mengusap rambutku dengan begitu tenang.
“Tenanglah, Ndri.
Semua akan segera baik-baik saja,”
Air mataku
menetes. Apakah aku sedang sakit? Tangan ayah terus mengenggam kedua lenganku
dengan kuat. Wajahnya sedih tetapi ia berusaha terlihat kuat di depanku. Air
mata yang sudah turun dengan deras tak membuat ayah lelah untuk terus
mengusapnya dari wajahku.
Saat sudah berada
di ambulans, aku melihat Adit yang mengintipku. Seorang Adit yang tak pernah
menangis, kini, ia terlihat begitu sedih.
“Mbak Indri!”
teriaknya kemudian membuat air mataku semakin tumpah.
“Adit. Jaga
baik-baik ya di rumah. Ayah, Ibu, dan Kakakmu akan segera pulang,” ucap
ayah dengan bijak membuat Adit nekat hendak memasuki ambulans bersama dengan
kami.
Ayah berusaha
untuk menguatkan Adit dari jauh. Aku tak banyak menatap kedua lelaki hebat itu.
Aku hanya bisa menangis dan tidak menyangka bahwa virus mematikan yang selalu
aku hindari nyatanya malah sudah ada di dalam tubuhku.
Perjalanan yang
dilalui dengan begitu cepat, membuat kami sampai di bangunan putih yang
menakutkan. Ruangan karantina yang menampilkan banyak orang yang sedang tak
berdaya benar-benar tak pernah sekalipun aku bayangkan akan ada di hadapanku. Suara
tandu yang bergerak cepat terus mengejutkanku. Tiga ranjang yang sudah disiapkan
berdekatan mengundang tatapan kosong di mataku.
“Upayakan untuk
tetap mengikuti aturan yang diberikan dokter selama karantina. Untuk sementara,
Ibu, Bapak, dan Kakak, harus diisolasi selama empat belas hari ke depan,”
Ayah mengangguk
dan membiarkan dokter itu berlalu. Aku menatap ibu yang sama sedihnya
sepertiku. Tanganku perlahan aku rentangkan mendekat pada tangan ibu. Ibu
terkejut sembari perlahan tersenyum meskipun air mata membanjiri wajahnya.
Hidung yang terasa
begitu tidak nyaman membuatku perlahan kehilangan indera penciumanku. Makanan
yang ada di samping ranjangku sama sekali tidak memiliki bau apapun. Saat
menyantapnya, rasanya juga terasa hambar. Aku begitu paham bagaimana rasa dan
bau sebuah sop sayur. Namun, mengapa aku merasa asing dengan perasa dan
penciumanku ini? Batuk kering yang tiba-tiba melanda tenggorokanku ternyata
juga menimpa ayah dan ibu.
Tujuh hari yang
begitu menyiksa membuatku kehabisan air mata. Mataku yang menghitam dan menebal
sudah membuat semua orang tahu bahwa aku sudah lelah dengan penyakit ini.
Ponsel yang terus berdering setiap waktu perlahan aku raih. Wajah Raka muncul dalam
layar ponselku. Air mata mengucur kembali.
“Indri, kamu tidak
tidur teratur?”
Aku mengangguk
tanpa berucap apapun.
“Apakah yang kamu
rasakan, Ndri?”
“Semua inderaku
tak bekerja dengan baik, Ka. Aku takut,”
“Takut apa?”
“Aku takut tidak
selamat,” isakku kembali membuatku membuang air mataku untuk yang kesekian
kalinya.
“Aku mengajak Adit
untuk menginap di rumahku. Dia setiap hari sedih, Ndri,” ucap Raka yang mengarahkan
kameranya pada Adit yang meringkuk di atas sofa ruang keluarga Raka.
“Jika kamu putus
asa seperti ini, bagaimana dengan adikmu, Ndri? Siapa yang bisa menghiburnya?”
Aku terdiam. Napas
yang terasa tidak begitu nyaman membuatku kembali menangis. Raka tiba-tiba
menatapku dengan begitu dalam.
“Kamu harus
sembuh. Aku akan selalu ada di belakangmu, Ndri. Saat kamu merasa sakit, jangan
pernah takut untuk menyampaikan padaku. Kamu harus sembuh demi dirimu sendiri,
Adit, dan aku,” ucap Raka dengan begitu tegas.
Aku tak segera
mengangguk. Namun, aku hanya menatap kosong wajahnya.
“Kamu tidak perlu
menjawab sekarang, Ndri. Kamu harus istirahat yang cukup dan makan yang
teratur. Itu kan yang terus kamu sampaikan jika aku terlalu giat
bekerja? Kini, giliranku yang berkata begitu. Kamu juga harus menurut,”
Aku kini berani
mengangguk. Aku menatap Raka yang terus tersenyum begitu tulus padaku. Aku
perlahan mendekatkan bibirku pada layar ponselku.
“Aku mencintaimu,
Ka,”
“Aku jauh lebih
mencintaimu, Ndri,”
**
Empat belas
hari berlalu
“Ndri, apa kamu
mau memijat pundak Ayah? Pundak Ayah terasa sangat pegal karena terlalu sering
berbaring,”
“Iya, Yah,” ucapku
sembari beranjak dan mendekati ranjang ayah.
Aku perlahan
memijat pundak ayah dan menepuk-nepuknya berulang kali. Ayah terlihat begitu nyaman
dengan pijatan kecilku yang sebenarnya tidak terasa apapun di pundaknya yang kokoh
itu.
“Setelah kamu
selesai memijat Ayahmu, Ibu yang akan memijatmu, Ndri,” ucap ibu membuatku
tersenyum karena ibu benar-benar tahu jika tubuhku kini pegal.
“Wah! Badan
Ayah seperti baru lagi! Terima kasih, Ndri. Kamu sepertinya cocok menjadi
tukang pijat. Mmm.. tukang pijat pribadi Ayah,” goda ayah mengundang
tawa di wajahku dan ibu.
Seorang dokter
tiba-tiba mendatangiku saat aku sedang nyaman dipijat oleh ibu.
“Selamat pagi,”
Ayah dan ibu menjawab
sapaan dari dokter.
“Setelah melewati
tes terakhir, Ibu, Bapak, dan Kakak, sudah bisa pulang hari ini,”
Mataku terbelalak.
Apakah keajaiban ini benar-benar terjadi? Apakah aku benar-benar bisa sembuh?
Wajah ayah dan ibu sama senangnya denganku.
“Selamat ya,”
ucap dokter itu dengan matanya yang terlihat begitu bahagia.
Ayah mengucapkan
ungkapan terima kasih berulang kali. Ibu juga melakukan hal yang sama. Ponsel
yang menarik perhatianku membuatku ingin menyebarkan momen mengejutkan ini pada
Raka dan Adit. Namun, aku mengurungkan niatku dan memilih untuk tidak
mengungkapkannya.
“Ayo kita pulang,”
ajak ibu sembari merangkul tanganku dan ayah.
Dalam perjalanan,
aku terus menyaksikan banyak teman-temanku yang tak henti-hentinya mengucapkan
banyak doa padaku dan keluargaku. Aku tersenyum dan tak berniat membalas pesan
mereka.
Rumah yang sudah
begitu lama aku tinggalkan mengingatkanku bahwa Adit tidak ada di dalam.
“Di mana Adit?
Mengapa rumah ini kosong?” tanya ayah dengan kebingungan.
“Adit ada di rumah
Raka, Yah. Adit terlalu sedih,”
“Jemput dia, Ndri,”
“Iya, Yah,”
Setelah bersih
diri dan menyantap beberapa suapan nasi yang tersisa, aku mengambil tasku dan
membawa semua surat-surat pentingku ke dalam tasku.
“Mbak Indri?” ucap
seseorang dari balik jendela.
Aku belum sempat
melihat siapa yang berucap. Namun, ia lantas menghilang dan tiba-tiba membuka
pintu di depanku dengan terburu-buru. Adit. Ia kini memelukku dengan begitu
erat. Setelah memelukku, ia lantas memeluk ayah dan ibu.
Setelah melihat
Adit menjauh dariku, aku terkejut melihat Raka dan beberapa tetangga hadir di
balik pintuku. Aku perlahan ke luar dan terkejut melihat barang yang Raka bawa
untukku.
“Aku bangga sama
kamu, Ndri. Kamu bisa sembuh dan melawan semua ketakutanmu. Kamu mungkin udah
biasa nerima bunga dariku. Tapi, asal
kamu tahu, Ndri. Ini adalah rangkaian yang kubuat dengan tanganku sendiri. Sedikit
berantakan tapi aku pikir pantas aku berikan padamu,” ucap Raka sembari
malu-malu dan menggaruk-nggaruk kepalanya.
“Pasti aku terima,
Ka. Terima kasih banyak,”
Semua tetangga mengucapkan
selamat padaku dan satu keluargaku. Meskipun semua tahu apa yang terjadi padaku
dan keluargaku, tak sedikit teman-teman sebayaku yang masih saja tak mengenakan
pelindung hidung dan mulut di wajah mereka.