Entri Populer
My heart feel...
This is my feeling
“Eh, Mel. Rei sama Anta kayak bapak sama anak ya?” bisik Tifa, teman sekelasku, dengan tatapannya yang langsung mengarah kep...
“Eh, Mel. Rei sama
Anta kayak bapak sama anak ya?” bisik Tifa, teman sekelasku, dengan tatapannya
yang langsung mengarah kepadaku.
“Iya tuh! Masa Anta
yang setinggi itu suka sama cewek sependek Rei sih? Jelas-jelas, di kelas kita banyak
banget cewek bak model yang setipe sama Anta. Aku, misalnya,” tambah Melodi
dengan seenaknya menghakimi hubunganku dan Anta.
Aku kini menatap
Anta yang sedang duduk sebangku denganku. Dia sedang melamun sembari membersihkan
lensa kaca matanya dengan iseng. Aku kini curiga. Apa dia pura-pura tidak
dengar atau memang tidak dengar? Saat aku bertanya pada diriku sendiri, aku
sontak melihat ke dua telinganya. Ia tidak sedang menggunakan earphone.
Itu berarti, dia mendengar ejekan kedua temanku itu.
“Ta, kamu nggak
denger omongan mereka? Marahin dong!” bisikku mengundang Anta menatapku dengan
wajahnya yang terlihat sangat mengantuk.
“Ngapain
dimarahin? Kenyataannya emang bener kok,” sahutnya sembari menguap dengan
rongga mulut yang ia buka lebar selebar-lebarnya di hadapanku.
“Kok malah belain
mereka sih!” omelku tak terima sembari mencubit lengan kirinya.
“Aduh! Iyalah.
Kamu emang pendek. Masa aku bilang kamu tinggi banget kayak egrang? Nggak semakin
tersinggung kamunya?” sahutnya ceplas-ceplos dengan tangan kanannya yang terus
mengusap lengan kirinya yang terlihat sakit karena cubitan keras dariku.
Aku mendengus. Aku
kira Anta akan memarahi mereka dan membelaku di depan umum seperti di
film-film. Nyatanya, dia malah mendukung teman-temanku. Tapi, setelah aku
pikir-pikir, aku memang paling pendek di kelas. Meskipun pendek, aku imut kan?
Tidak. Selama kami pacaran, Anta tidak pernah bilang aku imut. Itu berarti aku
memang tidak imut sama sekali.
“Ayo ke kantin,”
ajaknya bersamaan dengan bel istirahat yang berbunyi.
“Nggak ah!”
tolakku mentah-mentah karena masih kesal pada sikapnya.
“Ya udah. Aku
beliin aja kalau gitu,” balasnya sembari merenggangkan tubuhnya dan menguap
untuk yang kesekian kalinya.
“Seragamnya
dibenerin kenapa! Nanti dimarahin guru baru tahu rasa!” omelku melihat
seragamnya yang keluar dari sabuknya dan terlihat kusut.
“Bodo amat!”
sahutnya sembari lantas menghilang dari kelas.
Suasana kelas kini
sepi. Hanya aku satu-satunya anak yang bertahan di dalam kelas. Di tengah
kesuwunganku ini, aku meraih pensil yang ada di kotak pensil milik Anta dan
menggambar figurku dan Anta di dalam selembar kertas yang aku siapkan. Aku
mengingat-ingat jika aku berjalan di samping Anta. Semua perempuan di kelasku
rata-rata sejajar dengan telinga Anta atau bahkan sama dengan tingginya.
Sedangkan aku, aku kini menghela napas. Aku hanya sejajar dengan perutnya.
Kini, aku semakin terpukul dan tidak melanjutkan gambaranku. Aku pendek sekali.
“Rei?” sapa Anta
yang membawa dua bungkus nasi di tangannya.
“Tumben nggak
makan sama temen-temen basketmu?” tanyaku curiga pada keanehannya yang tidak
pernah ia lakukan sebelumnya.
“Bawel banget sih!
Harusnya kamu seneng aku temenin makan di kelas!” omelnya kesal karena aku
tidak menghargai niat baiknya.
Aku memilih diam
dan mengembalikan pensil Anta pada tempatnya.
Kini, kami fokus
makan nasi campur masing-masing. Saat sedang asik makan, teman-temanku satu per
satu masuk ke dalam kelas.
“Berduaan terus
nih sama Anta,” ucap Tifa yang tiba-tiba mendekat.
“Iya nih. Rei
nggak mau ke kantin jadinya aku yang nemenin di sini,” balas Anta yang sudah
menyelesaikan makannya dan meminum air mineral milikku.
“Jangan dihabisin,
Ta!” omelku saat melihat Anta terus meneguk air mineralku hingga hampir habis.
“Cowok setinggi
Anta butuh banyak air daripada kamu,” ledek Melodi yang ikut-ikutan
mengerumuniku.
“Tuh bener,” balas
Anta yang sama sekali tidak membelaku.
Aku geram dan
tetap memakan makananku.
“Nanti sore, aku
bakal ajakin kalian ke Jungleland Adventure. Kita coba main di Rumah
Jalangkung. Bakal seru banget pasti kalau kalian ikut,” ucap Tifa sembari
menatap wajahku dengan tatapan yang penuh maksud.
“Ayo! Siapa takut!”
teriakku kesal berusaha tidak terlihat lemah di hadapan Tifa.
“Kamu ikut ya, Ta?”
ajak Tifa menuai anggukan dari Anta.
“Entar kita harus
bawa kamera sih,” ucap Melodi pada Tifa sembari lantas meninggalkanku dan Anta.
“Ngapain bawa
kamera?” bisikku berbicara pada diriku sendiri.
“Ngerekam kamu
terus disebarin di website sekolah. Terus judul artikelnya ‘Reaksi Rei, siswa
terpendek di kelas IPS dua, masuk ke wahana berhantu’," jelas Anta lantas
membuat tanganku gemas untuk terus mencubitnya.
“Aduh! Badannya
emang kecil tapi kekuatannya kayak hulk!” ejek Anta yang terlihat kesakitan
karena lengan kirinya terus kucubit.
“Bodo amat!”
teriakku terus menambah kekuatan cubitanku hingga Anta terus menjerit.
Bel pulang sekolah
pun berbunyi. Setelah menemani Anta ke UKS karena luka cubitanku di lengannya yang
sampai mengeluarkan darah, Melodi dan Tifa datang dengan dua tiket yang ada di
tangannya.
“Aku udah beli
tiket buat kalian. Satu untuk Rei. Satu untuk Anta,” ucap Melodi sembari
memberikan tiket pada kami.
“Berapa harganya?”
tanya Anta lantas membuka dompetnya.
“Nggak usah, Ta.
Rei aja yang bayar. Kalau kamu gratis,” ucap Tifa memberikanku isyarat untuk
segera mengeluarkan dompetku.
“Berapa?” tanya
Anta lagi sembari menghentikan tanganku yang hendak mengambil dompet di dalam
tasku.
“Nggak us-“ ucap
Tifa yang dipotong begitu saja dengan Anta.
“Kalau Rei harus
bayar, aku juga harus bayar,” ucap Anta yang sudah siap mengeluarkan uang di
dompetnya.
“Dua ratus ribu,”
balas Tifa kesal dan terus memberiku tatapan penuh kebencian.
Anta lantas
mengeluarkan uangnya dan memberikannya pada Tifa.
“Kita langsung ketemuan
di sana nanti,” ucap Anta lantas menarik tanganku menjauh dari kedua perempuan
itu.
“Rei kita pulang
dulu ya? Rei? Lho Rei kamu di mana? Oh kamu di bawah. Maaf akunya ketinggian,”
ledek Anta yang menunduk saat melihatku.
“Sependek itu kah
sampe nggak tahu aku di mana?” omelku kesal pada keisengannya.
Anta tertawa
terpingkal-pingkal sembari menyerahkan helm padaku.
Di dalam
perjalanan, Anta terus bersenandung dengan suaranya yang mirip dengan penyanyi
Indonesia, Rizky Febian. Dengan berbekal tampangnya yang glowing, tinggi
badan yang kayak tiang listrik, dan suaranya yang merdu, membuatku merasa tidak
heran ketika melihat banyak perempuan berusaha menghancurkan hubunganku dengan
Anta. Siapa perempuan yang tidak mau dengan Anta?
“Jam tujuh aku
jemput. Lho? Rei? Kamu di mana?” ucap Anta yang masih saja iseng dengan melihat
ke arah angin di sampingnya.
“Rese banget!”
teriakku kembali mencubit lengannya tetapi gagal.
“Da!” teriaknya
dengan wajah penuh kebahagiaan karena berhasil lolos dari cubitanku.
Saat Anta sudah
benar-benar hilang dari pandanganku, aku segera masuk dan bergegas bersih diri
sembari memilih pakaian yang pantas untukku nanti. Ibu dan ayah yang belum
pulang dari kerja membuatku sedikit kerepotan mengabari mereka. Dengan berbekal
ponsel dan chat, ibu dan ayah mengijinkanku. Meskipun diijinkan, mereka
tetap memberikanku patokan jam malam.
Jam sudah
menunjukkan pukul tujuh. Ketukan pintu terdengar di pintu dekat ruang tamuku.
“Wow!” ucap Anta
yang terlihat terkejut melihatku.
Aku tersenyum dan
merasa sangat percaya diri dengan penampilanku yang memakai blouse dan
rok selutut.
“Anakku cantik sekali,”
ledeknya kembali menyulut emosiku.
“Aku bukan anakmu!”
teriakku membuatku kembali berhasil mencubit lengan kanannya.
“Aduh! Masa semua
lenganku dicubiti sih!” keluhnya kembali merasa kesakitan dan perlahan berjalan
menjauh dari pintu rumahku.
“Emang sakit
banget cubitanku, Ta?” tanyaku yang ikut-ikutan resek seperti dia.
“Menurutmu?”
ucapnya yang terlihat kesal padaku.
Aku tertawa
terbahak-bahak sembari memutar kunci di pintu rumahku dan menaiki motor
vespanya.
Tak butuh waktu
yang lama untuk kami sampai ke Jungleland. Itu karena Anta memilih jalan tikus
untuk sampai ke sana.
“Hai, Anta,” sapa
Melodi dengan pakaian kecenya bersanding dengan Tifa yang juga tidak kalah
kecenya dari Melodi.
Anta tersenyum
sembari melepas jaketnya dan meletakkan di atas bahuku.
“Dingin, Rei. Kamu
pake jaketku,” ucap Anta sembari mengusap kedua lengannya yang biru berulang
kali.
“Lenganmu kenapa,
Ta? Ini pasti gara-gara Rei,” tuduh Melodi yang tiba-tiba mendekati Anta dengan
wajahnya yang begitu khawatir.
“Emang,” balas
Anta sembari terus berjalan menuju loket masuk.
“Satu tiket dewasa
satu tiket anak-anak,” ucap penjaga loket itu menuai tawa dari Anta, Tifa, dan
Melodi.
“Saya bukan
anak-anak, Pak!” protesku sembari menyerahkan tiket orang dewasa yang sudah aku
tunjukkan padanya.
“Oh, maaf, Dek eh
Mbak,” balas petugas loket itu yang tertawa diam-diam bersama teman-temannya.
“Pake tiket
anak-anak aja, Pak. Ada diskon, kan, ya?” tanya Anta yang tiba-tiba memiliki
ide gila di otaknya.
Aku mendelik dan
melihat petugas itu mengembalikan beberapa lembar uang pada Anta.
“Resek banget!”
teriakku sembari masuk ke dalam Jungleland dan meninggalkan mereka.
Lariku yang tidak
begitu cepat tentu saja bisa disusul oleh kaki panjang Anta.
“Makasih ya udah
balikin uangku. Nikmat mana yang bisa didustakan bisa dapet kejutan diskon. Rei
baik deh!” ledek Anta yang tiba-tiba mencubit kedua pipiku.
Wahana Rumah
Jalangkung sudah ada di depan mata. Antrean yang panjang membuatku hanya bisa
menatap punggung orang-orang di depanku. Sedangkan, Anta, Melodi, dan Tifa,
bisa mengedarkan pandangan dan melihat hal lain selain punggung.
“Mau aku gendong?”
tanya Anta yang tiba-tiba menatapku.
“Nggak mau!”
teriakku kesal mengundangnya tertawa lagi.
Saat bosan melihat
punggung orang-orang di depanku, aku iseng melihat wajah Anta, Melodi, dan
Tifa. Saat aku menatap Anta, ia terlihat biasa saja. Meskipun tidak melihat wajahnya,
aku tahu Anta sama sekali tidak takut masuk ke wahana ini. Namun, saat aku
melihat ke arah Tifa dan Melodi, aku mulai tertawa puas.
“Kok keringetan?
Di sini dingin banget lho,” sindirku saat melihat Tifa mulai keringat dingin
karena ketakutan.
“Emang kamu berani
masuk ke wahana ini? Paling juga nanti nangis kayak bayi,” ejek Melodi yang
kesal karena tahu bahwa aku sadar dia sedang sangat ketakutan.
“Apalagi dia
sependek itu. Pasti sembunyi di belakang kita nanti,” tambah Tifa yang juga
menyindirku dengan nadanya yang pedas.
“Kamu kok bisa
sependek ini sih, Rei? Kamu kelainan?” ejek Melodi tanpa sungkan padaku.
Aku sudah biasa
menerima banyak ejekan. Namun, ejekan Melodi kali ini benar-benar sudah
kelewatan. Ditambah, aku melihat Tifa yang sedang mengarahkan kameranya padaku.
Saat aku ingin mengambil kameranya, tiba-tiba Anta merebut kamera Tifa dan
menghapus beberapa foto dan video di dalamnya.
“Ta! Ini
privasiku!” omel Tifa yang panik karena galeri fotonya sedang dibuka oleh Anta.
Aku melihat
keduanya dan membiarkan Anta berbuat sesuatu padanya.
“Oke. Dugaanku
benar. Kamu ngajak kita cuman untuk kontenmu?” tanya Anta sembari mengembalikan
kamera milik Tifa.
Saat Anta
bertanya, keduanya saling berpandangan dan saling menyenggol satu sama lain.
“Aku memang sering
ngejekin Rei. Tapi, bukan berarti kalian bisa seenaknya bilang dia kelainan.
Dia normal. Lebih normal dari kalian!” teriak Anta membuatku terkejut karena
baru pertama kali melihatnya semarah ini.
“Kita nggak ada
maksud untuk bilang kayak gitu,” bela Melodi sembari menenangkan Tifa yang
menangis karena bentakan dari Anta.
“Terus?” tanya
Anta dengan tatapannya yang semakin mengerikan.
“Kamu seharusnya
pilih cewek yang sepadan,” terang Melodi yang menahan tangis karena juga merasa
ketakutan.
“Kamu siapa?
Ibuku? Kakakku? Keluargaku tidak mempermasalahkan ini. Kenapa kalian
mempermasalahkannya?” tanya Anta yang terus membantah semua perkataan kedua
perempuan idola semua laki-laki di sekolahku itu.
Melodi kini ikut
menangis. Meskipun menangis, mereka tetap menatapku dengan penuh kebencian.
“Kamu boleh ejek
Rei sepuasmu. Tapi, inget. Kalau kalian sampai kelewatan batas, aku nggak
peduli cewek atau cowok, berurusan sama aku,” ancam Anta memintaku segera
keluar dari antrean wahana Rumah Jalangkung dan menjauh dari mereka.
Aku mengikuti
langkahnya yang tiba-tiba mengarah pada stan minuman dingin di depanku.
Anta membeli dua
minuman dingin yang ia minum sekaligus sampai-sampai ia memegang kepalanya.
“Aduh! Dingin banget!”
keluhnya menekan kedua pelipisnya sembari membuang gelasnya yang sudah tak ada
isinya.
“Makasih, Ta,”
ucapku tersenyum padanya.
“Kok aku denger
sesuatu ya? Kok mendadak ngeri sih? Mbak, siapa ya yang ngomong sama saya?”
goda Anta yang bertanya pada penjual jus di depannya sembari tertawa menatapku.
“Anta!” teriakku
mencubit dua lengannya sekaligus.
“Aduh! Ha-ha”
ucapnya sembari tertawa terbahak-bahak sekaligus kesakitan karena aku mencubit
lukanya yang belum sembuh.
Jujur, Anta tidak
ada bedanya dengan teman-temanku yang lain. Ia juga suka mengejekku karena
pendek. Tapi, dia selalu berusaha untuk ada di sampingku. Aku memang selalu
kesal padanya selama ini. Meskipun begitu, aku merasa bahwa dia selalu punya
cara untuk melindungiku.
Hal itu membuatku
tidak pernah mengutuk tinggi badanku yang sangat minim ini. Meskipun terus
diejek oleh banyak orang, aku tetap tidak peduli karena aku punya seseorang
yang terus menjaga dan mencintaiku, Anta.
Berasa kenal sama yang request. Hehehehe. Makasi Mbak Gia karena udah menghadirkan cerita yang membangkitkan moodku. Sukses selalu. 🤗🙂
BalasHapusWhattt??? Ini related sama kamu Sell?
Hapuswihh relate kahh? Makasih udahh baca yaa sella dan jee
Hapus