“Eh, Mel. Rei sama Anta kayak bapak sama anak ya?” bisik Tifa, teman sekelasku, dengan tatapannya yang langsung mengarah kep...

Perempuan Mungil

/
3 Comments

 

            “Eh, Mel. Rei sama Anta kayak bapak sama anak ya?” bisik Tifa, teman sekelasku, dengan tatapannya yang langsung mengarah kepadaku.

            “Iya tuh! Masa Anta yang setinggi itu suka sama cewek sependek Rei sih? Jelas-jelas, di kelas kita banyak banget cewek bak model yang setipe sama Anta. Aku, misalnya,” tambah Melodi dengan seenaknya menghakimi hubunganku dan Anta.

            Aku kini menatap Anta yang sedang duduk sebangku denganku. Dia sedang melamun sembari membersihkan lensa kaca matanya dengan iseng. Aku kini curiga. Apa dia pura-pura tidak dengar atau memang tidak dengar? Saat aku bertanya pada diriku sendiri, aku sontak melihat ke dua telinganya. Ia tidak sedang menggunakan earphone. Itu berarti, dia mendengar ejekan kedua temanku itu.

            “Ta, kamu nggak denger omongan mereka? Marahin dong!” bisikku mengundang Anta menatapku dengan wajahnya yang terlihat sangat mengantuk.

            “Ngapain dimarahin? Kenyataannya emang bener kok,” sahutnya sembari menguap dengan rongga mulut yang ia buka lebar selebar-lebarnya di hadapanku.

            “Kok malah belain mereka sih!” omelku tak terima sembari mencubit lengan kirinya.

            “Aduh! Iyalah. Kamu emang pendek. Masa aku bilang kamu tinggi banget kayak egrang? Nggak semakin tersinggung kamunya?” sahutnya ceplas-ceplos dengan tangan kanannya yang terus mengusap lengan kirinya yang terlihat sakit karena cubitan keras dariku.

            Aku mendengus. Aku kira Anta akan memarahi mereka dan membelaku di depan umum seperti di film-film. Nyatanya, dia malah mendukung teman-temanku. Tapi, setelah aku pikir-pikir, aku memang paling pendek di kelas. Meskipun pendek, aku imut kan? Tidak. Selama kami pacaran, Anta tidak pernah bilang aku imut. Itu berarti aku memang tidak imut sama sekali.

            “Ayo ke kantin,” ajaknya bersamaan dengan bel istirahat yang berbunyi.

            “Nggak ah!” tolakku mentah-mentah karena masih kesal pada sikapnya.

            “Ya udah. Aku beliin aja kalau gitu,” balasnya sembari merenggangkan tubuhnya dan menguap untuk yang kesekian kalinya.

            “Seragamnya dibenerin kenapa! Nanti dimarahin guru baru tahu rasa!” omelku melihat seragamnya yang keluar dari sabuknya dan terlihat kusut.

            “Bodo amat!” sahutnya sembari lantas menghilang dari kelas.

            Suasana kelas kini sepi. Hanya aku satu-satunya anak yang bertahan di dalam kelas. Di tengah kesuwunganku ini, aku meraih pensil yang ada di kotak pensil milik Anta dan menggambar figurku dan Anta di dalam selembar kertas yang aku siapkan. Aku mengingat-ingat jika aku berjalan di samping Anta. Semua perempuan di kelasku rata-rata sejajar dengan telinga Anta atau bahkan sama dengan tingginya. Sedangkan aku, aku kini menghela napas. Aku hanya sejajar dengan perutnya. Kini, aku semakin terpukul dan tidak melanjutkan gambaranku. Aku pendek sekali.

            “Rei?” sapa Anta yang membawa dua bungkus nasi di tangannya.

            “Tumben nggak makan sama temen-temen basketmu?” tanyaku curiga pada keanehannya yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya.

            “Bawel banget sih! Harusnya kamu seneng aku temenin makan di kelas!” omelnya kesal karena aku tidak menghargai niat baiknya.

            Aku memilih diam dan mengembalikan pensil Anta pada tempatnya.

            Kini, kami fokus makan nasi campur masing-masing. Saat sedang asik makan, teman-temanku satu per satu masuk ke dalam kelas.

            “Berduaan terus nih sama Anta,” ucap Tifa yang tiba-tiba mendekat.

            “Iya nih. Rei nggak mau ke kantin jadinya aku yang nemenin di sini,” balas Anta yang sudah menyelesaikan makannya dan meminum air mineral milikku.

            “Jangan dihabisin, Ta!” omelku saat melihat Anta terus meneguk air mineralku hingga hampir habis.

            “Cowok setinggi Anta butuh banyak air daripada kamu,” ledek Melodi yang ikut-ikutan mengerumuniku.

            “Tuh bener,” balas Anta yang sama sekali tidak membelaku.

            Aku geram dan tetap memakan makananku.

            “Nanti sore, aku bakal ajakin kalian ke Jungleland Adventure. Kita coba main di Rumah Jalangkung. Bakal seru banget pasti kalau kalian ikut,” ucap Tifa sembari menatap wajahku dengan tatapan yang penuh maksud.

            “Ayo! Siapa takut!” teriakku kesal berusaha tidak terlihat lemah di hadapan Tifa.

            “Kamu ikut ya, Ta?” ajak Tifa menuai anggukan dari Anta.

            “Entar kita harus bawa kamera sih,” ucap Melodi pada Tifa sembari lantas meninggalkanku dan Anta.

            “Ngapain bawa kamera?” bisikku berbicara pada diriku sendiri.

            “Ngerekam kamu terus disebarin di website sekolah. Terus judul artikelnya ‘Reaksi Rei, siswa terpendek di kelas IPS dua, masuk ke wahana berhantu’," jelas Anta lantas membuat tanganku gemas untuk terus mencubitnya.

            “Aduh! Badannya emang kecil tapi kekuatannya kayak hulk!” ejek Anta yang terlihat kesakitan karena lengan kirinya terus kucubit.

            “Bodo amat!” teriakku terus menambah kekuatan cubitanku hingga Anta terus menjerit.

            Bel pulang sekolah pun berbunyi. Setelah menemani Anta ke UKS karena luka cubitanku di lengannya yang sampai mengeluarkan darah, Melodi dan Tifa datang dengan dua tiket yang ada di tangannya.

            “Aku udah beli tiket buat kalian. Satu untuk Rei. Satu untuk Anta,” ucap Melodi sembari memberikan tiket pada kami.

            “Berapa harganya?” tanya Anta lantas membuka dompetnya.

            “Nggak usah, Ta. Rei aja yang bayar. Kalau kamu gratis,” ucap Tifa memberikanku isyarat untuk segera mengeluarkan dompetku.

            “Berapa?” tanya Anta lagi sembari menghentikan tanganku yang hendak mengambil dompet di dalam tasku.

            “Nggak us-“ ucap Tifa yang dipotong begitu saja dengan Anta.

            “Kalau Rei harus bayar, aku juga harus bayar,” ucap Anta yang sudah siap mengeluarkan uang di dompetnya.

            “Dua ratus ribu,” balas Tifa kesal dan terus memberiku tatapan penuh kebencian.

            Anta lantas mengeluarkan uangnya dan memberikannya pada Tifa.

            “Kita langsung ketemuan di sana nanti,” ucap Anta lantas menarik tanganku menjauh dari kedua perempuan itu.

            “Rei kita pulang dulu ya? Rei? Lho Rei kamu di mana? Oh kamu di bawah. Maaf akunya ketinggian,” ledek Anta yang menunduk saat melihatku.

            “Sependek itu kah sampe nggak tahu aku di mana?” omelku kesal pada keisengannya.

            Anta tertawa terpingkal-pingkal sembari menyerahkan helm padaku.

            Di dalam perjalanan, Anta terus bersenandung dengan suaranya yang mirip dengan penyanyi Indonesia, Rizky Febian. Dengan berbekal tampangnya yang glowing, tinggi badan yang kayak tiang listrik, dan suaranya yang merdu, membuatku merasa tidak heran ketika melihat banyak perempuan berusaha menghancurkan hubunganku dengan Anta. Siapa perempuan yang tidak mau dengan Anta?

            “Jam tujuh aku jemput. Lho? Rei? Kamu di mana?” ucap Anta yang masih saja iseng dengan melihat ke arah angin di sampingnya.

            “Rese banget!” teriakku kembali mencubit lengannya tetapi gagal.

            “Da!” teriaknya dengan wajah penuh kebahagiaan karena berhasil lolos dari cubitanku.

            Saat Anta sudah benar-benar hilang dari pandanganku, aku segera masuk dan bergegas bersih diri sembari memilih pakaian yang pantas untukku nanti. Ibu dan ayah yang belum pulang dari kerja membuatku sedikit kerepotan mengabari mereka. Dengan berbekal ponsel dan chat, ibu dan ayah mengijinkanku. Meskipun diijinkan, mereka tetap memberikanku patokan jam malam.

            Jam sudah menunjukkan pukul tujuh. Ketukan pintu terdengar di pintu dekat ruang tamuku.

            “Wow!” ucap Anta yang terlihat terkejut melihatku.

            Aku tersenyum dan merasa sangat percaya diri dengan penampilanku yang memakai blouse dan rok selutut.

            “Anakku cantik sekali,” ledeknya kembali menyulut emosiku.

            “Aku bukan anakmu!” teriakku membuatku kembali berhasil mencubit lengan kanannya.

            “Aduh! Masa semua lenganku dicubiti sih!” keluhnya kembali merasa kesakitan dan perlahan berjalan menjauh dari pintu rumahku.

            “Emang sakit banget cubitanku, Ta?” tanyaku yang ikut-ikutan resek seperti dia.

            “Menurutmu?” ucapnya yang terlihat kesal padaku.

            Aku tertawa terbahak-bahak sembari memutar kunci di pintu rumahku dan menaiki motor vespanya.

            Tak butuh waktu yang lama untuk kami sampai ke Jungleland. Itu karena Anta memilih jalan tikus untuk sampai ke sana.

            “Hai, Anta,” sapa Melodi dengan pakaian kecenya bersanding dengan Tifa yang juga tidak kalah kecenya dari Melodi.

            Anta tersenyum sembari melepas jaketnya dan meletakkan di atas bahuku.

            “Dingin, Rei. Kamu pake jaketku,” ucap Anta sembari mengusap kedua lengannya yang biru berulang kali.

            “Lenganmu kenapa, Ta? Ini pasti gara-gara Rei,” tuduh Melodi yang tiba-tiba mendekati Anta dengan wajahnya yang begitu khawatir.

            “Emang,” balas Anta sembari terus berjalan menuju loket masuk.

            “Satu tiket dewasa satu tiket anak-anak,” ucap penjaga loket itu menuai tawa dari Anta, Tifa, dan Melodi.

            “Saya bukan anak-anak, Pak!” protesku sembari menyerahkan tiket orang dewasa yang sudah aku tunjukkan padanya.

            “Oh, maaf, Dek eh Mbak,” balas petugas loket itu yang tertawa diam-diam bersama teman-temannya.

            “Pake tiket anak-anak aja, Pak. Ada diskon, kan, ya?” tanya Anta yang tiba-tiba memiliki ide gila di otaknya.

            Aku mendelik dan melihat petugas itu mengembalikan beberapa lembar uang pada Anta.

            “Resek banget!” teriakku sembari masuk ke dalam Jungleland dan meninggalkan mereka.

            Lariku yang tidak begitu cepat tentu saja bisa disusul oleh kaki panjang Anta.

            “Makasih ya udah balikin uangku. Nikmat mana yang bisa didustakan bisa dapet kejutan diskon. Rei baik deh!” ledek Anta yang tiba-tiba mencubit kedua pipiku.

            Wahana Rumah Jalangkung sudah ada di depan mata. Antrean yang panjang membuatku hanya bisa menatap punggung orang-orang di depanku. Sedangkan, Anta, Melodi, dan Tifa, bisa mengedarkan pandangan dan melihat hal lain selain punggung.

            “Mau aku gendong?” tanya Anta yang tiba-tiba menatapku.

            “Nggak mau!” teriakku kesal mengundangnya tertawa lagi.

            Saat bosan melihat punggung orang-orang di depanku, aku iseng melihat wajah Anta, Melodi, dan Tifa. Saat aku menatap Anta, ia terlihat biasa saja. Meskipun tidak melihat wajahnya, aku tahu Anta sama sekali tidak takut masuk ke wahana ini. Namun, saat aku melihat ke arah Tifa dan Melodi, aku mulai tertawa puas.

            “Kok keringetan? Di sini dingin banget lho,” sindirku saat melihat Tifa mulai keringat dingin karena ketakutan.

            “Emang kamu berani masuk ke wahana ini? Paling juga nanti nangis kayak bayi,” ejek Melodi yang kesal karena tahu bahwa aku sadar dia sedang sangat ketakutan.

            “Apalagi dia sependek itu. Pasti sembunyi di belakang kita nanti,” tambah Tifa yang juga menyindirku dengan nadanya yang pedas.

            “Kamu kok bisa sependek ini sih, Rei? Kamu kelainan?” ejek Melodi tanpa sungkan padaku.

            Aku sudah biasa menerima banyak ejekan. Namun, ejekan Melodi kali ini benar-benar sudah kelewatan. Ditambah, aku melihat Tifa yang sedang mengarahkan kameranya padaku. Saat aku ingin mengambil kameranya, tiba-tiba Anta merebut kamera Tifa dan menghapus beberapa foto dan video di dalamnya.

            “Ta! Ini privasiku!” omel Tifa yang panik karena galeri fotonya sedang dibuka oleh Anta.

            Aku melihat keduanya dan membiarkan Anta berbuat sesuatu padanya.

            “Oke. Dugaanku benar. Kamu ngajak kita cuman untuk kontenmu?” tanya Anta sembari mengembalikan kamera milik Tifa.

            Saat Anta bertanya, keduanya saling berpandangan dan saling menyenggol satu sama lain.

            “Aku memang sering ngejekin Rei. Tapi, bukan berarti kalian bisa seenaknya bilang dia kelainan. Dia normal. Lebih normal dari kalian!” teriak Anta membuatku terkejut karena baru pertama kali melihatnya semarah ini.

            “Kita nggak ada maksud untuk bilang kayak gitu,” bela Melodi sembari menenangkan Tifa yang menangis karena bentakan dari Anta.

            “Terus?” tanya Anta dengan tatapannya yang semakin mengerikan.

            “Kamu seharusnya pilih cewek yang sepadan,” terang Melodi yang menahan tangis karena juga merasa ketakutan.

            “Kamu siapa? Ibuku? Kakakku? Keluargaku tidak mempermasalahkan ini. Kenapa kalian mempermasalahkannya?” tanya Anta yang terus membantah semua perkataan kedua perempuan idola semua laki-laki di sekolahku itu.

            Melodi kini ikut menangis. Meskipun menangis, mereka tetap menatapku dengan penuh kebencian.

            “Kamu boleh ejek Rei sepuasmu. Tapi, inget. Kalau kalian sampai kelewatan batas, aku nggak peduli cewek atau cowok, berurusan sama aku,” ancam Anta memintaku segera keluar dari antrean wahana Rumah Jalangkung dan menjauh dari mereka.

            Aku mengikuti langkahnya yang tiba-tiba mengarah pada stan minuman dingin di depanku.

            Anta membeli dua minuman dingin yang ia minum sekaligus sampai-sampai ia memegang kepalanya.           

            “Aduh! Dingin banget!” keluhnya menekan kedua pelipisnya sembari membuang gelasnya yang sudah tak ada isinya.

            “Makasih, Ta,” ucapku tersenyum padanya.

            “Kok aku denger sesuatu ya? Kok mendadak ngeri sih? Mbak, siapa ya yang ngomong sama saya?” goda Anta yang bertanya pada penjual jus di depannya sembari tertawa menatapku.

            “Anta!” teriakku mencubit dua lengannya sekaligus.

            “Aduh! Ha-ha” ucapnya sembari tertawa terbahak-bahak sekaligus kesakitan karena aku mencubit lukanya yang belum sembuh.

            Jujur, Anta tidak ada bedanya dengan teman-temanku yang lain. Ia juga suka mengejekku karena pendek. Tapi, dia selalu berusaha untuk ada di sampingku. Aku memang selalu kesal padanya selama ini. Meskipun begitu, aku merasa bahwa dia selalu punya cara untuk melindungiku.

            Hal itu membuatku tidak pernah mengutuk tinggi badanku yang sangat minim ini. Meskipun terus diejek oleh banyak orang, aku tetap tidak peduli karena aku punya seseorang yang terus menjaga dan mencintaiku, Anta.






3 komentar:

  1. Berasa kenal sama yang request. Hehehehe. Makasi Mbak Gia karena udah menghadirkan cerita yang membangkitkan moodku. Sukses selalu. 🤗🙂

    BalasHapus
    Balasan
    1. Whattt??? Ini related sama kamu Sell?

      Hapus
    2. wihh relate kahh? Makasih udahh baca yaa sella dan jee

      Hapus

Diberdayakan oleh Blogger.
Powered By Blogger