Entri Populer
My heart feel...
This is my feeling
“Mar! Damar!” panggil Paman saat aku sedang sibuk menambal ban motor pelanggan yang baru saja sampai di bengkel. ...
“Mar! Damar!”
panggil Paman saat aku sedang sibuk menambal ban motor pelanggan yang baru saja
sampai di bengkel.
Aku mengalihkan
mataku sembari tetap membiarkan tanganku mengotak-atik ban yang aku pegang.
Saat aku melihat
ke arahnya, Paman memintaku mendekat dengan gerakan tangan kirinya yang ia
biarkan terus bergerak sampai aku berada di sampingnya.
Dengan cepat, aku
meninggalkan pekerjaanku dan mendekatinya sembari mengusap kedua tanganku yang
kotor dengan kain yang ada di dekatku.
“Ada apa, Om?”
tanyaku penasaran dengan wajah Paman yang terlihat tidak nyaman akan sesuatu.
“Itu siapa sih?
Ada cewek lumayan cantik sih. Tapi, dia ke sini itu nggak mau beli barang.
Nggak mau servis motor juga,” keluh Paman setengah berbisik di telinga kiriku.
“Orang iseng kali,
Om,” balasku sekenanya karena merasa tidak tertarik dengan topiknya.
“Iseng gimana? Dia
nyariin kamu ternyata,” balasnya membuat mataku mendelik.
Mencariku? Siapa
dia? Setelah mendengar ucapan Paman, aku segera membasuh kedua tanganku dan
berjalan menuju ke gerbang depan bengkel. Sesampainya di sana, aku mendapatkan
tamparan kuat di pipi kananku.
“Gila ya, Mar? Aku
udah teleponin kamu bolak-balik tapi kamu nggak angkat? Aku udah lama banget
nungguin kamu di sini!” teriak Calya, temanku, dengan kedua alisnya yang sudah
bertaut dan dahinya yang sudah berkerut.
Aku hanya bisa
mendengus dan membuang tatapanku darinya.
“Ada perlu apa di
sini?” tanyaku tak mau basa-basi dengannya.
“Ada perlu apa?
Gitu caramu menyapa pacarmu ini? Ha-ha. Dulu, kamu nggak pernah kayak gini lho,
Mar. Kamu selalu memperlakukanku seperti seorang ratu,” ucapnya dengan tangan
kanannya yang menyibak rambut panjangnya yang menutupi pakaiannya.
“Itu dulu, Ya. Sekarang
sudah beda,” balasku kesal padanya.
“Memang ya. Kamu
memang laki-laki yang hanya manfaatin aku aja! Sama aja kayak laki-laki lain,”
ejeknya menuai tangan kananku yang segera aku usap di wajahku.
“Kita sudah putus,
Ya. Kita sudah putus,” jelasku berusaha menekan setiap kata yang kembali
mengingatkanku pada rasa sakit hati terhebatku saat itu.
Kini, ia terdiam.
Dia menatapku hingga lupa berkedip. Namun bukannya beranjak, dia masih saja
berdiri mematung di depanku dengan mulutnya yang masih setia untuk terus
terkatup.
Suasana yang
hening mengundangku untuk segera mengeluarkan ponsel yang ada di saku celanaku sembari
menghapus semua panggilan dari Calya di ponselku.
Setelah itu, aku
memesan taksi online supaya ia bisa segera pulang dan pergi dari
hadapanku.
“Aku udah pesen taksi.
Nggak usah bayar. Aku udah bayar lewat online,” ucapku sembari
membalikkan badanku dan meninggalkannya di belakangku.
“Kamu tega aku
pulang sendiri? Iya, Mar? Pacar macam apa kamu?” tanya Calya menuai amarah dari
dadaku yang aku tahan sejak tadi.
“Kamu- Huh. Kamu
pulang. Taksimu udah sampe,” ucapku merasa lega karena mobil yang aku pesan
sudah ada di belakangnya.
Aku kini berbalik
dan kembali dengan pekerjaanku. Aku tidak peduli mendengarnya berteriak
terus-menerus. Hal yang terpenting dan yang aku butuhkan adalah menjauh darinya
sejauh mungkin yang aku bisa. Aku juga berharap bahwa hari ini adalah kali
terakhirnya aku bertemu dengannya.
Saat sedang
berusaha menenangkan diri, tiba-tiba Paman berdiri di depanku.
“Kamu anter dia
pulang. Nggak baik ngebiarin cewek pulang sendirian, Mar,” ucap Paman yang
terlihat tidak terima dengan perlakuanku.
Aku ingin
membantahnya. Namun, Paman tidak seharusnya menerima imbas amarah yang aku
pendam saat ini. Dengan berat hati, aku berdiam diri sembari berbalik dan
melihat Calya yang terlihat sedang mengusir sopir taksi yang sudah aku pesan.
Aku segera
mengambil helm cadangan yang ada di motorku dan memberikannya pada Calya yang
masih ngotot berdiri di depan bengkel.
“Aku anter,”
ucapku dengan nada dingin sembari memberikan helmku padanya.
“Kamu nganterin
aku pulang, Mar?” tanyanya yang tak segera menerima helmku.
Aku terdiam dan
tetap membiarkan tanganku memegang helm untuknya yang entah sampai kapan aku
lakukan. Karena suasana hening, pada akhirnya, Calya menundukkan kepalanya
padaku.
“Pakein,” ucapnya
dengan sikap manjanya yang masih menjadi ciri khasnya.
“Kamu pake
sendiri. Mau sampai kapan tergantung sama orang lain,” bantahku segera
menyerahkan helm ke arah tangan kirinya dan menyalakan motor buntutku di
belakangnya.
“Kasar banget sih!”
keluhnya yang tak aku pedulikan.
Setelah melihatnya
yang sudah duduk di atas motorku lewat spion yang ada di kiriku, tiba-tiba saja
tangannya merangkul lingkar perutku. Dengan posisi tangan kananku yang tangguh
memegang gas, tangan kiriku berusaha melepaskan pelukan Calya dari tubuhku.
“Ih, kok dilepas?”
keluhnya tak terima pada perilakuku.
“Aku kotor. Kaosku
belum aku ganti sejak kemarin,” ucapku bohong agar ia tidak lagi memelukku.
“Ih jorok banget!”
keluhnya yang tak memelukku lagi.
Di tengah
perjalanan, aku merasakan ponselku yang bergetar di saku kanan celanaku. Dengan
cepat, aku mengambilnya dan melihat nama paman ada di layar ponselku. Tanpa
basa-basi, aku mengangkatnya.
“Iya, Om?” tanyaku
dengan mata yang fokus pada rambu lalu lintas yang menunjukkan warna merah dan
mengerem motorku pelan.
“Kamu selesaiin
masalahmu sama cewek itu dulu ya? Om nggak maksa kamu buat balik cepet ke
bengkel. Om pengen semuanya beres dan kamu bisa fokus sama kerjaanmu lagi,”
ucap Paman dengan nadanya yang tak memiliki beban sedikitpun.
“Kerjaanku banyak,
Om. Gimana bisa nggak cepet balik?” protesku merasa sungkan pada Paman.
“Santai, Mar. Kan
ada banyak pegawai di sini. Lagian, kamu udah lembur kemarin. Anggep aja hari
ini cuti kerjamu,” ucap Paman yang tak bisa lagi aku debat.
Aku sebenarnya
tidak ingin berlama-lama dengan Calya. Namun, Paman sudah berkata demikian.
Semenjak kedua orang tuaku meninggal, Pamanlah yang menjagaku sampai sekarang.
Mau tidak mau aku harus menurutinya dan segera menyelesaikan masalahku dengan
Calya.
Tak lama kemudian,
aku sudah sampai di perumahan mewah Calya. Seperti biasa, ia hanya
memperbolehkanku berhenti di dekat pos satpam yang cukup jauh dari rumahnya.
“Huh, kenapa sih
harus pake pakaian kotor, Mar? Dari dulu lho. Besok anterin aku ke reunian
temen SMAku ya? Tapi, bisa kan pake baju yang lebih bersih?” ucapnya tak menuai
respon apapun dariku sembari menyerahkan helmnya padaku.
“Mar?” panggilnya
mengundangku untuk segera mematikan motorku dan turun dari motorku.
“Itu bukan tugasku
lagi,” jawabku cukup pedas karena tidak tahu harus memberitahunya dengan cara
apa.
“Apaan sih!”
omelnya tidak terima dengan ucapanku dan segera memegang tanganku.
“Tanganku kotor,”
ucapku berusaha benar-benar menjauh dari Calya.
Setelah aku
berucap demikian, ia segera melepaskan tanganku dan menyemprotnya dengan
disinfektan yang selalu ia sediakan di dompetnya.
“Kamu udah mutusin
aku di depan semua temanmu. Sekarang, kenapa kamu balik lagi?” tanyaku yang
sudah mulai tersulut emosi.
***
“Eh, Ya. Kamu kok
bisa sih pacaran sama Ketua HMJ keren itu?” tanya teman Calya yang tak sengaja
aku dengar saat aku sedang mempersiapkan rapat bersama salah satu temanku.
“Udah nggak kok,”
jawab Calya membuatku terbelalak dan menghentikan aktivitasku.
“Eh masa? Bukannya
kalian tadi masih naik motor bareng?” tanya teman Calya dengan nada suaranya
yang masih berusaha mencari tahu.
“Aku pikir-pikir dia
udah nggak sekeren dulu lagi. Lagian, habis ini dia bakal lengser dari ketua
HMJ kan?” tanya Calya membuatku terus meremas laporan berisi seratus halaman
yang aku pegang.
“Gila sih. Kamu
suka dia karena jabatannya? Denger-denger masa jabatannya diperpanjang sampe
semester depan karena dosen-dosen pada suka sama kinerjanya. Eh btw, Ya. Kenapa
sih kamu nggak ngenalin Damar ke orang tuamu? Udah punya kerjaan, aktivis
kampus, pinter, bisa beliin kamu apa aja lagi,” tanya teman Calya yang masih aku
dengarkan dengan tubuhku yang langsung menduduki kursi kayu di dekatku dengan
kasar.
“Kerjaan apa sih?
Dia itu cuman anak bengkel. Setiap hari ketemuan habis pulang ngampus
ngelihatin dia kotor banget. Malu lah bawa dia ke perumahanku. Semua tetanggaku
pada pake jas terus wangi lagi. Kalau aku bawa Damar, bisa-bisa aku diejekin
sana-sini,” jelas Calya yang cukup membuatku sakit hati atas perkatannya itu.
Tidak ada yang
bisa aku lakukan. Aku tidak mungkin marah tidak jelas dengan melempar semua
barang di sekitarku sekarang. Tidak. Itu bukan tindakan yang baik.
“Bangsat!”
teriakku kecil berusaha melampiaskan rasa sakit hatiku yang sudah tidak bisa
aku tahan.
“Mar?” tanya salah
satu temanku yang tak kusadari sedari tadi memperhatikanku.
“Sori. Kita pindah
ruangan ya?” pintaku membuatnya langsung mengangguk dan mengemasi barang-barang
di sekitarnya.
Saat aku ke luar
dari ruangan, aku melihat Calya masih sedang bersama dengan temannya. Namun,
aku melihat dia sedang menunjukkan seorang laki-laki di ponselnya. Laki-laki
itu adalah salah satu duta kampus yang cukup terkenal karena ketampanan dan
ketajirannya. Aku kenal laki-laki itu. Dia bernama Dito.
“Sekarang kamu
suka sama cowok ini?” tanya teman Calya yang masih setia aku dengarkan.
“Iya dong. Beda
banget sama Damar kan? Jauh! Lagian aku udah deket beberapa hari ini sama dia.
Sepulang kuliah nanti, aku bakal dijemput dia,” jelas Calya menuai gelengan
kepala dariku karena merasa tidak percaya dengan apa yang ia perbuat.
“Tega banget
sumpah! Damar yang sesayang itu dan setulus itu ke kamu, kamu sia-siain gitu
aja?” bantah teman Calya yang terus mendesak Calya untuk tetap bertahan
denganku.
“Damar itu kayak
cowok lain. Paling dia juga udah punya pendamping cadangan kalau aku mutusin
dia, kan?” tuduh Calya kembali membuatku sakit hati karena perkataannya.
Cukup. Aku tidak
bisa mendengarnya lagi. Aku kini melangkahkan kakiku tegap menuju ruangan lain
dan berusaha bersikap profesional di depan semua anggota yang sudah hadir. Lima
menit sebelum rapat, aku memeriksa ponselku dan profil Calya tidak bisa aku
lihat. Aku pun segera memeriksa info kontaknya. Nyatanya, ia sudah memblokirku.
***
“Kamu tahu dari
mana, Mar?” tanya Calya yang kini melihatku seperti ketika ia bertemu dengan
dosen killer-nya.
“Kamu ngomong itu
di dekat ruang rapatku,” jelasku berusaha tetap tenang dan menahan rasa kesalku
lagi.
Calya kini
menyibakkan rambutnya dan menatap ke kanan dan ke kiri seakan meminta bantuan
seseorang untuk membelanya.
“Bukannya kamu udah
deket sama Dito, anak keren itu? Kenapa tiba-tiba muncul lagi di depanku
sekarang?” tanyaku berusaha mencari topik lain agar dia tidak merasa tertekan.
“Dia ngilang,”
balasnya dengan nada patah-patah tanpa mau menatapku.
Aku kini mengerti.
Saat dia tidak mendapatkan apa yang dia mau, ia kembali berlari ke padaku.
Sayangnya, aku bukan laki-laki yang mau terus menjadi pemain cadangan yang bisa
digantikan seenaknya.
“Mar, aku masih
butuh kamu,” ucap Calya yang aku dengar dengan hatiku yang sudah mati rasa
untuknya.
Aku menatapnya sekilas
dan memperbaiki posisi berdiriku menghadapnya. Aku perlahan tersenyum.
“Kamu udah hilang
selama lima bulan. Ke mana?” tanyaku berusaha terlihat tenang di depannya.
Calya terdiam. Ia
terlihat berusaha mencari alasan untuk menjawabku. Namun, sepertinya ia tidak
bisa menjawabku.
“Sebelum aku
pergi, aku mau bilang sesuatu. Jangan sampai karena kamu mendambakan pria
idaman, kamu kehilangan laki-laki yang tulus sayang sama kamu,” ucapku perlahan
merasa lega karena semua unek-unek yang aku pendam pada akhirnya tersampaikan
padanya.
Calya menatapku
dengan matanya yang membulat. Karena sudah merasa tidak ada yang perlu
dibicarakan, aku kembali menaiki motorku. Dengan cepat, aku meninggalkannya dan
perlahan ke luar dari perumahan mewahnya itu.
“Damar! Jangan
tinggalin aku!” teriaknya yang tiba-tiba terdengar dari kejauhan.
Alih-alih aku
berhenti dan menatapnya, kini aku memilih untuk tetap pergi dan melupakannya.
Di tengah
perjalanan, aku merasakan mataku yang tiba-tiba terasa pedas. Iya. Hanya
sebatas pedas. Ini karena aku sudah lelah menangisinya selama dua bulan lamanya
saat itu.
Karena dirasa
waktuku masih cukup untuk kembali ke bengkel, aku pada akhirnya memutar
kemudiku menuju ke bengkel.
“Mar?” sapa Paman
yang sedang bercengkerama dengan salah satu pelanggan yang duduk di dekatnya.
“Aku kerja lagi,
Om,” ucapku bergegas masuk ke dalam bengkel dan memeriksa mataku di cermin.
Kedua mataku
terlihat begitu merah. Urat yang ada di pelipisku juga terlihat. Napasku juga
terdengar sangat berat. Aku benci mengingat rasa sakit hati itu. Di tengah
kesibukanku memperhatikan kondisi wajahku, aku melihat Calya yang masih
menghubungiku lewat ponselku. Dengan berat hati, aku segera memblokirnya.
“Mar? Kamu nggak
papa?” tanya Paman yang tiba-tiba berdiri di dekatku.
Aku tersenyum
sembari mengambil beberapa perkakas yang digunakan. Namun, Paman menahanku.
“Kamu laki-laki
yang sangat tulus, Mar. Om doakan kelak kamu menemukan perempuan yang cocok,”
ucap Paman yang merasakan kesedihanku.
Aku tertawa.
“Apaan sih, Om.
Kalaupun nggak ada perempuan lain, aku nggak masalah. Setidaknya, aku bisa
bantuin Om di bengkel ini. Ya. Anggap aja sebagai balas budiku karena Om mau
ngerawat aku sampe sekarang,” ucapku berusaha melupakan rasa sakit hati yang
masih menyesakkan dadaku hingga sekarang.
“Om, aku boleh
minta tolong?” tanyaku saat melihat Om sudah bisa tersenyum karena perkataanku.
“Kalau ada
perempuan itu lagi, tolong bilang kalau aku udah nggak kerja di sini,” ucapku
menuai tatapan tanpa kedip dari Om.
Tak lama kemudian,
ia mengangguk. Setelah berucap demikian, Paman melipir dan kembali berbincang
dengan pelanggannya. Sedangkan aku, aku sibuk mengerjakan pekerjaanku yang
sempat aku tinggal beberapa jam lamanya tadi.
Jika ditanya,
masihkah aku memikirkan Calya? Selama ini aku terus memikirkan dia. Tapi, aku
tidak menginginkannya lagi. Tidak akan ada lagi sambungan kisah di antara aku
dan Calya. Semua sudah berakhir. Ceritaku akan kembali tertulis saat aku bisa
bertemu dengan perempuan lain, selain Calya.