“Saya baru menginjak enam bulan pernikahan udah punya anak. Apa kabar sama bu Kalila? Udah dua tahun pernikahan kok be...

Tuntutan Hidup

/
0 Comments

 


                “Saya baru menginjak enam bulan pernikahan udah punya anak. Apa kabar sama bu Kalila? Udah dua tahun pernikahan kok belum punya anak?” sindir bu Mayang, salah satu tetangga yang ada di seberang rumahku.

            Aku hanya tersenyum dan tetap fokus memilah-milah sayur-sayuran di gerobak sayur di dekatku. Dengan hati yang merasa gusar, aku berharap penjual sayur itu tidak ikut-ikutan mengomporiku.

            “Kok diem aja, Bu? Apa ucapan saya terlalu menyakitkan ya? Tapi, saya bicara sejujurnya lho,” tambahnya tetap membuatku berusaha tegar dan tak mendengarkan ledekannya.

            “Bu Mayang ini sukanya pamer ke sana ke sini. Untungnya apa sih, Bu? Kalau Ibu udah bisa punya anak, nggak seharusnya ngejekin bu Kalila kayak gini dong?” bela tukang sayur itu yang tiba-tiba melindungiku dari ejekan bu Mayang.

            “Kok Anda yang ngegas sih, Mas? Coba kamu pikir-pikir. Nanti kalau kamu punya istri, mau kayak bu Kalila? Punya istri yang nggak bisa menghasilkan keturunan?” tambah bu Mayang dengan nadanya yang semakin menggebu-gebu.

            “Ya. Saya nggak mau sih. Tapi, nggak baik kalau ngejekin bu Mayang terus!” balas tukang sayur itu mengundang seorang pria yang tiba-tiba merangkul lingkar perutku dari belakang.

            Aroma parfum yang sangat aku kenal. Tentu saja, karena aku yang menyemprotkan parfum itu. Kini, tanpa perlu harus menatap wajahnya, aku tahu pria yang memelukku ini adalah suamiku, Danu.

            “Selamat pagi, Bu Mayang,” sapa Danu dengan begitu ramah bersamaan dengan senyum manisnya yang muncul di wajanya.

            “Eh. Se-selamat pagi, Pak Danu,” balas bu Mayang yang tergesa-gesa dan seketika pergi dari hadapanku.

            “Bu Kalila beruntung lho punya suami seperti pak Danu. Saya doakan cepat dapat keturunan ya, Bu,” ucap tukang sayur itu dengan tangannya yang sudah penuh dengan dua kantong plastik bening berisi sayur-mayur dan beberapa rempah-rempah untukku.

            Aku hanya menjawabnya dengan tersenyum dan membiarkan Danu mengeluarkan uang dari dompetnya untuk membayar semua belanjaanku ini. Setelah selesai, ia memberikanku helm. Aku tak segera menerimanya. Perjalanan dari pasar ke rumah cukup dekat hanya menghabiskan waktu lima menit. Lalu, untuk apa harus menaiki motor?

            “Kita mau ke mana? Aku jalan kaki aja ya, Mas,” balasku yang masih tak mau menerima helm pemberiannya.

            “Aku mau ajak kamu jalan-jalan,” lanjutnya dengan mendekatkan wajahnya tepat di depan wajahku.

            “Nggak deh, Mas. Aku mau pulang,” balasku dengan suara yang bergetar.

            Aku tahu meskipun ia tidak tahu persis kejadian apa yang menimpaku tadi, ia sudah tahu keadaan hatiku saat ini. Motor yang sudah ia nyalakan tiba-tiba ia matikan dan langsung menggenggam tanganku.

            “Ya udah. Kita pulang dulu,” ucapnya dengan senyuman yang terus melekat di wajahnya.

            “Terus motormu?” tanyaku heran saat melihatnya yang sudah mengajakku menjauh dari pasar.

            Danu tidak menjawab. Ia tetap menggenggam tanganku dan memintaku untuk terus mengikuti langkah kakinya yang lebar. Aku kini menunduk. Mataku terasa sangat panas. Saat ia sudah membuka pintu depan rumah kami, aku segera melepaskan genggamannya dan berlari menuju ruanganku. Namun, bukannya aku segera sampai, ia tiba-tiba menahanku dan memelukku begitu erat.

            “Kenapa kamu diem selama ini? Aku ngerti sekarang. Ini kan penyebab kamu selalu sedih setiap kali pulang dari pasar?” tanyanya yang mulai menginterogasiku.

            Tanganku yang aku biarkan tak bisa bergerak karena pelukan Danu yang begitu kuat aku paksakan terlepas dan merangkul lingkar perutnya dengan lembut. Aku tidak bisa menjawab karena aku sudah hanyut dalam kesedihanku.

            “Kenapa kamu diem aja?” tanyanya lagi sembari mempererat pelukannya dan mengusap rambut panjangku.

            Aku segera menghapus air mataku dan melonggarkan pelukannya. Aku menatapnya yang tak lagi tersenyum seperti sebelumnya.

            “Aku bukan istri yang sempurna, Mas,” ucapku sesenggukan karena ucapanku sendiri.

            Setelah aku berucap, aku melihat Danu yang tiba-tiba mengecup dahiku. Tidak sebentar tetapi sangatlah lama. Saat melihatnya yang sedang sibuk mengecup dahiku, aku melihat jakunnya yang bergerak ke atas dan ke bawah seakan sedang menangis. Urat lehernya juga terlihat begitu jelas. Aku panik. Dengan spontan, aku mendorongnya menjauh untuk melihat kondisinya tetapi ia tetap bertahan dengan pelukannya.

            “Siapa yang bilang kamu bukan istri yang sempurna? Siapa?” tanyanya yang kini menatap mataku dengan matanya yang sudah memerah.

            “Kamu nggak pernah iri sama tetangga kita, Mas? Mereka udah bisa bahagia dengan kehadiran anak yang lucu dan menggemaskan. Aku tahu nggak ada suami yang ingin punya istri yang nggak bisa ngasih keturunan,” tambahku kembali sesenggukan karena merasa benar-benar tidak pantas untuknya.

            Saat aku berucap demikian, ia tersenyum. Jarinya perlahan mengusap air mataku dan kemudian aku merasakan kecupannya yang lembut ke arah kedua mataku.

            “Aku udah tahu sejak awal tentang kondisimu. Asal kamu tahu, justru itu yang bikin aku percaya diri untuk nikah sama kamu,” jelasnya yang mulai tersenyum melihatku.

            Aku tetap tidak mau menerima perkataannya. Aku tahu saat ia sedang bekerja atau jauh dariku ia pasti akan berpikiran mengapa aku tidak bisa memiliki istri yang sempurna? Ia berucap seperti itu sekarang karena kasihan padaku.

            “Nggak, Mas. Nggak ada laki-laki yang pingin punya istri kayak aku. Maaf kalau aku selama ini egois dengan mempertahankan kamu sebagai suamiku,” aduku kembali menangis karena ucapanku sendiri.

            Danu kini tak berbuat apapun padaku. Di tengah kesibukanku untuk terus mengusap air mataku yang tak kunjung berhenti, aku melihatnya yang terus tersenyum padaku.

            “Aku nggak maksa kamu percaya sama kata-kataku. Yang jelas aku nggak pernah menyesali pernikahan kita. Karena bagiku, nilai perempuan nggak hanya sebatas kondisi rahimnya tapi lebih besar daripada itu,” jelasnya yang tak pernah lelah mengusap air mataku yang tak kunjung habis di wajahku.

            Mendengarnya berkata semanis itu, aku kembali menangis. Kini, ia membiarkanku menangis di kemeja putihnya. Ia benar-benar pandai membuatku terus percaya diri menjadi istrinya. Saat tangisku mereda, ia melonggarkan pelukannya dan menatapku.

            “Kita jalan-jalan ya?” ajaknya lagi dengan jarinya yang membantuku untuk membersihkan air mataku.

            Aku menatapnya tersenyum dan mengangguk padanya.

            Setelah aku berhenti menangis, ia mempersilakanku untuk mengganti pakaianku. Aku tidak suka berlama-lama di cermin. Alhasil, aku hanya menggunakan bedak dan lipstick tipis saja untuk memperindah wajahku. Pakaian yang aku pakai adalah blouse dan rok panjang sederhana. Rok panjang yang hanya sebatas mata kaki. Ini karena Danu sangat suka melihatku memakai rok panjang. Untuk rambutku, aku biarkan terurai begitu saja.

            Tak lama setelah itu, aku segera keluar dari kamarku dan melihat wajah Danu yang berbinar-binar saat melihat penampilanku.

            “Kamu selalu cantik,” pujinya yang selalu sama setiap harinya.

            Aku tersenyum dan bersiap untuk pergi bersamanya.

            “Kita mau ke mana?” tanyaku dengan tanganku yang sudah menggenggam tangannya dan berjalan menuju motornya.

            “Mmm. Bukan tempat mewah sebenernya. Tapi, cocok buat kamu biar semakin percaya kalau aku nggak pernah minder punya istri kayak kamu,” ucapnya menuai pertanyaan dan rasa penasaran yang besar di dalam hatiku.

            Meskipun penasaran, aku tidak berniat mengganggunya dengan melontarkan banyak pertanyaan sepanjang jalan. Tak membutuhkan waktu lama bagi kami sampai ke tempat yang dituju Danu. Kini, kami berhenti di sebuah kantor 'gift box' yang merupakan salah satu bisnis keluarga kami.

            “Yuk masuk,” ajaknya sembari memutar kunci pintu kantor dan mengajakku masuk.

            Aku mengikutinya dan terheran-heran dengan apa maksudnya mengajakku ke kantor di hari libur seperti ini.

            “Dulu, aku cuman cowok yang nggak punya pekerjaan yang jelas. Meskipun nggak punya kerjaan yang jelas, kamu tetep bangga dan nggak pernah capek buat nyemangatin aku. Hingga suatu hari, aku punya mimpi untuk punya bisnis sendiri. Hatiku bilang ke aku kalau aku harus ngelibatin kamu di bisnis gift box ini. Aku emang berulang kali gagal dalam berbisnis selama ini. Tapi, lihat apa yang kamu lakuin?” jelasnya sembari berjalan mengelilingi kantor dengan terus menatapku.

            “Ini juga karena campur tanganmu, Mas,” ucapku tak mau terbuai dengan pujiannya.

            “Nggak. Ini semua karena kamu. Kekonsistenanmu, kegigihanmu, dan keuletanmu. Semua sifatmu itu yang membuat salah satu bisnisku berkembang sesukses ini,” tambahnya membuatku tersenyum tipis dan melihat ke sekeliling kantor ini.

            “Apa sifat itu dimiliki bu Mayang ataupun tetangga-tetangga kita? Enggak. Kamu adalah kamu. Mereka adalah mereka. Kamu dengan segala kelebihan yang kamu punya. Begitu pun mereka, mereka dengan segala kelebihan yang mereka punya. Perempuan nggak punya batasan, Sayang. Mereka memiliki dunia yang sangat luas bukan hanya sebatas pada tiga tuntutan hidup. Melahirkan, berdandan, dan memasak,” jelasnya menuai mataku yang terus menatapnya tanpa berkedip.

            “Ada orang bilang aku nggak bahagia karena kamu nggak bisa memberikanku keturunan. Aku nggak peduli. Karena kebahagiaanku adalah ketika kamu senyum dan memamerkan semua kesuksesanmu. Aku nggak suka lihat kamu sedih. Kalau kamu nggak nyaman dengan perlakuan bu Mayang, aku bisa memberinya penjelasan supaya kamu nggak mikir aneh-aneh lagi,” lanjutnya sembari mendekatiku dan menarik sebuah kursi untuk ia duduki.

            Aku menggeleng dan tetap melihatnya dengan haru. Lagi-lagi, air mataku keluar dari ekor mataku.

            “Kamu seperti ayah, Mas. Ayah juga selalu bilang kalau perempuan nggak memiliki batas. Perempuan bisa melakukan apa yang mereka mau,” balasku menuai senyum yang muncul di wajahnya.

            “Aku bersyukur. Meskipun ayah udah nggak ada, aku bisa merasa ada ayah di dekatku sekarang lewat kamu,” lanjutku menuai pelukan darinya.

            “Jangan pernah berpikiran bahwa aku malu punya istri kayak kamu. Kamu adalah awal dan akhir. Kalau dihubungkan dengan salah satu lagu favoritku, kamu adalah nyali terakhirku,” ucapnya yang membuatku gemas sehingga tangan kiriku memukul lengan kanannya pelan.

            “Sekarang, kamu percaya?” tanyanya menuai anggukan dariku.

            “Aku percaya, Mas,” balasku membuat kami berdua tersenyum dan kembali berpelukan.

            Saat aku membiarkan Danu menata beberapa barang yang kurang enak dipandang mata, ekor mataku menatap seorang wanita yang berdiri tak jauh dari kantorku. Aku menatapnya dari kejauhan nyatanya wanita itu adalah bu Mayang. Aku heran mengapa dia ada di seberang kantorku. Awalnya, aku pikir dia sedang memata-mataiku. Tapi, sesuatu yang buruk terjadi. Aku melihat suaminya sedang memarahinya habis-habisan di pinggir jalan. Ia juga berulang kali menampar suaminya. Sepertinya, mereka sedang ada masalah.

            Tidak lama setelah itu, aku melihat ada perempuan muda berdiri di sebelah suaminya. Aku khawatir pada keadaan bu Mayang yang sedang mengandung. Hal itu membuatku segera memanggil Danu untuk membantu mereka. Namun, sebelum meminta bantuan Danu, aku yakin dia tidak mau mencampuri urusan orang lain.

            Kedatangan perempuan muda itu membuat suaminya pergi meninggalkan bu Mayang seorang diri. Aku ingin sekali mendekatinya. Tapi, aku mengurungkan niatku.

            “Mas,” panggilku saat melihat Danu sudah selesai dengan pekerjaannya.

            “Setelah bu Mayang lahiran, kita kasih gift box buat dia ya? Kalau emang takut modalnya berantakan, nanti aku beli,” ucapku membuatnya tersenyum lagi.

            “Lakuin apapun yang kamu mau. Nggak usah bingung masalah modal,” balasnya membuatku tersenyum.

            Di tengah kegusaranku karena ketidaksempurnaanku sebagai seorang istri, aku bersyukur karena bisa membantu Danu mengembangkan salah satu bisnisnya hingga sebesar ini. Mengenai apa yang terjadi dengan bu Mayang, aku tidak berhak berkata apapun. Hal yang paling penting adalah aku bahagia memiliki suami yang benar-benar mendukungku dan menyadarkanku bahwa perempuan tidak memiliki batasan apapun untuk mengejar apa yang dia mau.



Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.
Powered By Blogger