Entri Populer
My heart feel...
This is my feeling
“Saya baru menginjak enam bulan pernikahan udah punya anak. Apa kabar sama bu Kalila? Udah dua tahun pernikahan kok be...
“Saya baru
menginjak enam bulan pernikahan udah punya anak. Apa kabar sama bu Kalila? Udah
dua tahun pernikahan kok belum punya anak?” sindir bu Mayang, salah satu
tetangga yang ada di seberang rumahku.
Aku hanya tersenyum dan tetap fokus
memilah-milah sayur-sayuran di gerobak sayur di dekatku. Dengan hati yang
merasa gusar, aku berharap penjual sayur itu tidak ikut-ikutan mengomporiku.
“Kok diem aja, Bu? Apa ucapan saya
terlalu menyakitkan ya? Tapi, saya bicara sejujurnya lho,” tambahnya tetap
membuatku berusaha tegar dan tak mendengarkan ledekannya.
“Bu Mayang ini sukanya pamer ke sana
ke sini. Untungnya apa sih, Bu? Kalau Ibu udah bisa punya anak, nggak
seharusnya ngejekin bu Kalila kayak gini dong?” bela tukang sayur itu yang
tiba-tiba melindungiku dari ejekan bu Mayang.
“Kok Anda yang ngegas sih, Mas? Coba
kamu pikir-pikir. Nanti kalau kamu punya istri, mau kayak bu Kalila? Punya
istri yang nggak bisa menghasilkan keturunan?” tambah bu Mayang dengan nadanya
yang semakin menggebu-gebu.
“Ya. Saya nggak mau sih. Tapi, nggak
baik kalau ngejekin bu Mayang terus!” balas tukang sayur itu mengundang seorang
pria yang tiba-tiba merangkul lingkar perutku dari belakang.
Aroma parfum yang sangat aku kenal.
Tentu saja, karena aku yang menyemprotkan parfum itu. Kini, tanpa perlu harus
menatap wajahnya, aku tahu pria yang memelukku ini adalah suamiku, Danu.
“Selamat pagi, Bu Mayang,” sapa Danu
dengan begitu ramah bersamaan dengan senyum manisnya yang muncul di wajanya.
“Eh. Se-selamat pagi, Pak Danu,”
balas bu Mayang yang tergesa-gesa dan seketika pergi dari hadapanku.
“Bu Kalila beruntung lho punya suami
seperti pak Danu. Saya doakan cepat dapat keturunan ya, Bu,” ucap tukang sayur
itu dengan tangannya yang sudah penuh dengan dua kantong plastik bening berisi
sayur-mayur dan beberapa rempah-rempah untukku.
Aku hanya menjawabnya dengan
tersenyum dan membiarkan Danu mengeluarkan uang dari dompetnya untuk membayar
semua belanjaanku ini. Setelah selesai, ia memberikanku helm. Aku tak segera
menerimanya. Perjalanan dari pasar ke rumah cukup dekat hanya menghabiskan
waktu lima menit. Lalu, untuk apa harus menaiki motor?
“Kita mau ke mana? Aku jalan kaki
aja ya, Mas,” balasku yang masih tak mau menerima helm pemberiannya.
“Aku mau ajak kamu jalan-jalan,”
lanjutnya dengan mendekatkan wajahnya tepat di depan wajahku.
“Nggak deh, Mas. Aku mau pulang,”
balasku dengan suara yang bergetar.
Aku tahu meskipun ia tidak tahu
persis kejadian apa yang menimpaku tadi, ia sudah tahu keadaan hatiku saat ini.
Motor yang sudah ia nyalakan tiba-tiba ia matikan dan langsung menggenggam
tanganku.
“Ya udah. Kita pulang dulu,” ucapnya
dengan senyuman yang terus melekat di wajahnya.
“Terus motormu?” tanyaku heran saat
melihatnya yang sudah mengajakku menjauh dari pasar.
Danu tidak menjawab. Ia tetap
menggenggam tanganku dan memintaku untuk terus mengikuti langkah kakinya yang
lebar. Aku kini menunduk. Mataku terasa sangat panas. Saat ia sudah membuka
pintu depan rumah kami, aku segera melepaskan genggamannya dan berlari menuju
ruanganku. Namun, bukannya aku segera sampai, ia tiba-tiba menahanku dan memelukku
begitu erat.
“Kenapa kamu diem selama ini? Aku
ngerti sekarang. Ini kan penyebab kamu selalu sedih setiap kali pulang dari
pasar?” tanyanya yang mulai menginterogasiku.
Tanganku yang aku biarkan tak bisa
bergerak karena pelukan Danu yang begitu kuat aku paksakan terlepas dan
merangkul lingkar perutnya dengan lembut. Aku tidak bisa menjawab karena aku
sudah hanyut dalam kesedihanku.
“Kenapa kamu diem aja?” tanyanya
lagi sembari mempererat pelukannya dan mengusap rambut panjangku.
Aku segera menghapus air mataku dan
melonggarkan pelukannya. Aku menatapnya yang tak lagi tersenyum seperti
sebelumnya.
“Aku bukan istri yang sempurna, Mas,”
ucapku sesenggukan karena ucapanku sendiri.
Setelah aku berucap, aku melihat
Danu yang tiba-tiba mengecup dahiku. Tidak sebentar tetapi sangatlah lama. Saat
melihatnya yang sedang sibuk mengecup dahiku, aku melihat jakunnya yang
bergerak ke atas dan ke bawah seakan sedang menangis. Urat lehernya juga
terlihat begitu jelas. Aku panik. Dengan spontan, aku mendorongnya menjauh
untuk melihat kondisinya tetapi ia tetap bertahan dengan pelukannya.
“Siapa yang bilang kamu bukan istri
yang sempurna? Siapa?” tanyanya yang kini menatap mataku dengan matanya yang
sudah memerah.
“Kamu nggak pernah iri sama tetangga
kita, Mas? Mereka udah bisa bahagia dengan kehadiran anak yang lucu dan
menggemaskan. Aku tahu nggak ada suami yang ingin punya istri yang nggak bisa ngasih
keturunan,” tambahku kembali sesenggukan karena merasa benar-benar tidak pantas
untuknya.
Saat aku berucap demikian, ia
tersenyum. Jarinya perlahan mengusap air mataku dan kemudian aku merasakan
kecupannya yang lembut ke arah kedua mataku.
“Aku udah tahu sejak awal tentang
kondisimu. Asal kamu tahu, justru itu yang bikin aku percaya diri untuk nikah
sama kamu,” jelasnya yang mulai tersenyum melihatku.
Aku tetap tidak mau menerima
perkataannya. Aku tahu saat ia sedang bekerja atau jauh dariku ia pasti akan
berpikiran mengapa aku tidak bisa memiliki istri yang sempurna? Ia berucap
seperti itu sekarang karena kasihan padaku.
“Nggak, Mas. Nggak ada laki-laki
yang pingin punya istri kayak aku. Maaf kalau aku selama ini egois dengan
mempertahankan kamu sebagai suamiku,” aduku kembali menangis karena ucapanku
sendiri.
Danu kini tak berbuat apapun padaku.
Di tengah kesibukanku untuk terus mengusap air mataku yang tak kunjung
berhenti, aku melihatnya yang terus tersenyum padaku.
“Aku nggak maksa kamu percaya sama kata-kataku.
Yang jelas aku nggak pernah menyesali pernikahan kita. Karena bagiku, nilai
perempuan nggak hanya sebatas kondisi rahimnya tapi lebih besar daripada itu,”
jelasnya yang tak pernah lelah mengusap air mataku yang tak kunjung habis di
wajahku.
Mendengarnya berkata semanis itu,
aku kembali menangis. Kini, ia membiarkanku menangis di kemeja putihnya. Ia
benar-benar pandai membuatku terus percaya diri menjadi istrinya. Saat tangisku
mereda, ia melonggarkan pelukannya dan menatapku.
“Kita jalan-jalan ya?” ajaknya lagi
dengan jarinya yang membantuku untuk membersihkan air mataku.
Aku menatapnya tersenyum dan
mengangguk padanya.
Setelah aku berhenti menangis, ia
mempersilakanku untuk mengganti pakaianku. Aku tidak suka berlama-lama di
cermin. Alhasil, aku hanya menggunakan bedak dan lipstick tipis saja
untuk memperindah wajahku. Pakaian yang aku pakai adalah blouse dan rok
panjang sederhana. Rok panjang yang hanya sebatas mata kaki. Ini karena Danu
sangat suka melihatku memakai rok panjang. Untuk rambutku, aku biarkan terurai
begitu saja.
Tak lama setelah itu, aku segera
keluar dari kamarku dan melihat wajah Danu yang berbinar-binar saat melihat
penampilanku.
“Kamu selalu cantik,” pujinya yang
selalu sama setiap harinya.
Aku tersenyum dan bersiap untuk
pergi bersamanya.
“Kita mau ke mana?” tanyaku dengan
tanganku yang sudah menggenggam tangannya dan berjalan menuju motornya.
“Mmm. Bukan tempat mewah sebenernya.
Tapi, cocok buat kamu biar semakin percaya kalau aku nggak pernah minder punya
istri kayak kamu,” ucapnya menuai pertanyaan dan rasa penasaran yang besar di
dalam hatiku.
Meskipun penasaran, aku tidak
berniat mengganggunya dengan melontarkan banyak pertanyaan sepanjang jalan. Tak
membutuhkan waktu lama bagi kami sampai ke tempat yang dituju Danu. Kini, kami
berhenti di sebuah kantor 'gift box' yang merupakan salah satu bisnis keluarga
kami.
“Yuk masuk,” ajaknya sembari memutar
kunci pintu kantor dan mengajakku masuk.
Aku mengikutinya dan terheran-heran
dengan apa maksudnya mengajakku ke kantor di hari libur seperti ini.
“Dulu, aku cuman cowok yang nggak
punya pekerjaan yang jelas. Meskipun nggak punya kerjaan yang jelas, kamu tetep
bangga dan nggak pernah capek buat nyemangatin aku. Hingga suatu hari, aku
punya mimpi untuk punya bisnis sendiri. Hatiku bilang ke aku kalau aku harus
ngelibatin kamu di bisnis gift box ini. Aku emang berulang kali gagal dalam
berbisnis selama ini. Tapi, lihat apa yang kamu lakuin?” jelasnya sembari
berjalan mengelilingi kantor dengan terus menatapku.
“Ini juga karena campur tanganmu,
Mas,” ucapku tak mau terbuai dengan pujiannya.
“Nggak. Ini semua karena kamu.
Kekonsistenanmu, kegigihanmu, dan keuletanmu. Semua sifatmu itu yang membuat
salah satu bisnisku berkembang sesukses ini,” tambahnya membuatku tersenyum
tipis dan melihat ke sekeliling kantor ini.
“Apa sifat itu dimiliki bu Mayang
ataupun tetangga-tetangga kita? Enggak. Kamu adalah kamu. Mereka adalah mereka.
Kamu dengan segala kelebihan yang kamu punya. Begitu pun mereka, mereka dengan
segala kelebihan yang mereka punya. Perempuan nggak punya batasan, Sayang.
Mereka memiliki dunia yang sangat luas bukan hanya sebatas pada tiga tuntutan
hidup. Melahirkan, berdandan, dan memasak,” jelasnya menuai mataku yang terus
menatapnya tanpa berkedip.
“Ada orang bilang aku nggak bahagia
karena kamu nggak bisa memberikanku keturunan. Aku nggak peduli. Karena
kebahagiaanku adalah ketika kamu senyum dan memamerkan semua kesuksesanmu. Aku
nggak suka lihat kamu sedih. Kalau kamu nggak nyaman dengan perlakuan bu Mayang,
aku bisa memberinya penjelasan supaya kamu nggak mikir aneh-aneh lagi,”
lanjutnya sembari mendekatiku dan menarik sebuah kursi untuk ia duduki.
Aku menggeleng dan tetap melihatnya
dengan haru. Lagi-lagi, air mataku keluar dari ekor mataku.
“Kamu seperti ayah, Mas. Ayah juga
selalu bilang kalau perempuan nggak memiliki batas. Perempuan bisa melakukan
apa yang mereka mau,” balasku menuai senyum yang muncul di wajahnya.
“Aku bersyukur. Meskipun ayah udah
nggak ada, aku bisa merasa ada ayah di dekatku sekarang lewat kamu,” lanjutku
menuai pelukan darinya.
“Jangan pernah berpikiran bahwa aku
malu punya istri kayak kamu. Kamu adalah awal dan akhir. Kalau dihubungkan
dengan salah satu lagu favoritku, kamu adalah nyali terakhirku,” ucapnya yang
membuatku gemas sehingga tangan kiriku memukul lengan kanannya pelan.
“Sekarang, kamu
percaya?” tanyanya menuai anggukan dariku.
“Aku percaya, Mas,”
balasku membuat kami berdua tersenyum dan kembali berpelukan.
Saat aku
membiarkan Danu menata beberapa barang yang kurang enak dipandang mata, ekor
mataku menatap seorang wanita yang berdiri tak jauh dari kantorku. Aku
menatapnya dari kejauhan nyatanya wanita itu adalah bu Mayang. Aku heran
mengapa dia ada di seberang kantorku. Awalnya, aku pikir dia sedang memata-mataiku.
Tapi, sesuatu yang buruk terjadi. Aku melihat suaminya sedang memarahinya
habis-habisan di pinggir jalan. Ia juga berulang kali menampar suaminya.
Sepertinya, mereka sedang ada masalah.
Tidak lama setelah
itu, aku melihat ada perempuan muda berdiri di sebelah suaminya. Aku khawatir
pada keadaan bu Mayang yang sedang mengandung. Hal itu membuatku segera
memanggil Danu untuk membantu mereka. Namun, sebelum meminta bantuan Danu, aku
yakin dia tidak mau mencampuri urusan orang lain.
Kedatangan
perempuan muda itu membuat suaminya pergi meninggalkan bu Mayang seorang diri.
Aku ingin sekali mendekatinya. Tapi, aku mengurungkan niatku.
“Mas,” panggilku
saat melihat Danu sudah selesai dengan pekerjaannya.
“Setelah bu Mayang
lahiran, kita kasih gift box buat dia ya? Kalau emang takut modalnya
berantakan, nanti aku beli,” ucapku membuatnya tersenyum lagi.
“Lakuin apapun
yang kamu mau. Nggak usah bingung masalah modal,” balasnya membuatku tersenyum.
Di tengah kegusaranku karena
ketidaksempurnaanku sebagai seorang istri, aku bersyukur karena bisa membantu
Danu mengembangkan salah satu bisnisnya hingga sebesar ini. Mengenai apa yang
terjadi dengan bu Mayang, aku tidak berhak berkata apapun. Hal yang paling
penting adalah aku bahagia memiliki suami yang benar-benar mendukungku dan
menyadarkanku bahwa perempuan tidak memiliki batasan apapun untuk mengejar apa
yang dia mau.